Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 39 -- To Get Her Heart Back


__ADS_3

Mendapatkan Hatinya Kembali


"Kita berdua akan di lantai yang sama. Kalau kamu ingin tinggal di lantai ini, maka aku juga akan pindah ke lantai yang sama!" potong Ezra sambil menahan emosi. Dia dengan mudah membaca jalan pikiran Zefanya yang terus berusaha memperlebar jarak mereka.


"Tapi itu akan merepotkanmu."


"Tidak ada yang merasa direpotkan." tegas Ezra lagi. "Silahkan pilih kamar mana yang ingin kamu pakai dan aku yang akan mengambil sisanya. Aku masih memegang janjiku untuk tidak satu kamar denganmu."


"Tapi, Ezra... " protes Zefanya panik sambil menggelengkan kepala.


Otaknya berpikir cepat untuk menolak, tapi gagal. Tak ada satu pun alasan yang masuk akal untuk menolak Ezra memilih lantai yang sama. Kacau sudah, rencana awalnya tidak seperti ini


"Auntie Laura dan Louise... "


"Mereka bisa menggunakan lantai dua sesuka mereka, berapa lama pun yang kamu mau. Aku sama sekali tidak keberatan."


Sekali lagi Ezra memotong kalimat Zefanya sebelum istrinya itu sempat menyelesaikan kata - katanya. Dia sama sekali tak mau mendengar alasan apa pun. Ezra menatap dalam - dalam kepada Zefanya. Tatapan yang lembut tapi tegas, sama seperti dulu saat Ezra memberi pengertian pada Zefanya yang sedang bandel - bandelnya.


"Anak - anak adalah tanggung jawab orang tua, Ma Moitie. Bukan tanggung jawab salah satu dari mereka. Mereka adalah anak - anak kita, tanggung jawab kita berdua. Oleh karena itu, kita yang akan mengurus mereka bersama dan bergantian bangun kapan pun mereka membutuhkan orang tuanya."


Zefanya masih terlihat bimbang dan Ezra berusaha meyakinkannya.


"Suara mereka akan terpantau di layar monitor sehingga kita bisa mengetahui apakah mereka menangis atau tidur. Semua akan aman, jangan mengkhawatirkan apa pun. Ini juga bisa melatih kemandirian mereka."


Ezra mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian merangkul bahu Zefanya dan membimbingnya keluar dari kamar anak - anak.

__ADS_1


"Sekarang mereka sudah tidur. Bagaimana kalau aku membantumu memindah barang - barangmu turun ke bawah?"


Sekali lagi Zefanya tercekat, ketulusan Ezra membuatnya malu karena terus menjaga jarak. Kebaikan pria itu membuatnya ikut terluka karena setelah ini dia akan kembali menyakiti laki - laki yang dicintainya itu.


"Aku... , s-sebenarnya aku sudah... memindahkan barang - barangku ke kamar ini." Zefanya berkata jujur dengan perasaan berat. Dia tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya pada Ezra. Wajahnya merah padam menahan tangis.


Ezra termangu. Matanya memancarkan sorot patah hati dan kecewa. Entah sudah berapa kali wanita ini menggoreskan luka di hatinya, namun tetap saja suaranya lembut saat berkata, "Kalau begitu, aku akan memindahkan barang - barangku. Yuk, ikut aku. Kita bisa berbenah sambil ngobrol."


Tangan Ezra menggenggam lembut jemari Zefanya dan mengajaknya ke lantai dua, tempat dimana kamar Ezra berada. Zefanya tak bisa menolak, dengan hati menangis dia mengikuti Ezra hingga ke kamar suaminya.


"Aku akan mengajak kalian pergi ke pulau besok. Bersiap - siaplah." ucap Ezra sambil membereskan barang. Dia sengaja tidak menanyakan pendapat Zefanya, karena tahu istrinya pasti akan menolak demi menghindarinya. Kata - katanya kali ini lebih berupa pemberitahuan, sisa waktu tidak banyak Ezra harus segera memenangkan kembali hati Zefanya.


Lagi - lagi Ezra tak memberi kesempatan pada Zefanya untuk berbicara.


"Louise akan datang dua hari lagi. Kamu tahu kan kalau dia tidak suka pergi di alam terbuka? Selagi ada kesempatan, mari kita bersenang - senang bersama anak - anak. Apa kamu tidak ingin melihat mereka bahagia?"


Zefanya hanya bisa mend-e-sah dalam hati.


'Bisakah kamu hentikan semua kebaikanmu ini, Ez? Apapun yang sedang kamu usahakan akan sia - sia karena terbentur takdir. Pernikahan ini adalah sebuah kesalahan. Dunia akan mengecam kita!'


Demi menyembunyikan tangannya yang gemetar, Zefanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans dan mulai mengikuti langkah Ezra yang berjalan ke lorong menuju lantai satu.


"Bagaimana kalau besok kita bicara ulang soal rencana ke pulau, Ez? Saat ini aku merasa lelah sekali dan ingin tidur." jawab Zefanya akhirnya. Nada suaranya terdengar tak bersemangat.


Ezra berhenti sejenak dan mengamati wajah Zefanya.

__ADS_1


"O'iya. Baiklah, aku mengerti. Semalaman kamu kurang tidur karena badai dan juga menjaga anak - anak. Sekarang tidurlah. Jangan pikirkan apa pun, aku yang akan mengawasi anak - anak malam ini."


Mereka tiba di lantai satu dan menuju kamar Zefanya. Ezra membukakan pintu kamar Zefanya supaya istrinya itu bisa segera beristirahat. Tak ingin mendapatkan ciuman selamat malam, Zefanya buru - buru berjalan melewati Ezra.


"Ups!"


Sebuah kesalahan terjadi. Ezra mundur saat Zefanya buru - buru menerobos masuk ke kamar, sayangnya lengan Ezra bersentuhan dengan d-a-d-a Zefanya. Sesaat mereka berdua membeku. Ada yang berkobar di dalam hati masing - masing. Darah Zefanya terasa berdesir. Di hadapannya Ezra berdiri tegak dengan mata berkilat seakan menahan sesuatu yang menggelegak di dalam dirinya. Dia adalah pria normal tapi harus menahan diri untuk tak menyentuh wanitanya.


Tak berani menatap mata Ezra, Zefanya masuk ke kamar dan langsung mengambil ponsel dari atas meja. Pelayan sudah memindahkan barang - barangnya ke kamar ini ketika mereka sedang berada di kamar Ezra. Di belakangnya, Ezra menatap punggung Zefanya dengan tatapan penuh rindu dan mendamba.


Sambil bergidik ngeri, Zefanya mengusap layar ponsel dan memilih nomer seseorang yang sangat dia nantikan kedatangannya.


"Louise?"


"... "


"Kami baik- baik saja dan sangat menantikan kedatanganmu dan keponakanku."


Zefanya langsung menyapa kakak perempuannya dengan antusias yang berlebihan. Kemudian dia langsung bercerita anak - anaknya tanpa peduli tatapan sakit hati Ezra dari balik punggungnya.


Laki - laki itu berdiri di ambang pintu sambil mengepalkan tangannya, mengamati Zefanya yang terlihat sengaja berlama - lama menelepon Louise sambil memunggunginya.


Hal yang sama terjadi pada Zefanya, dia merasa waktu berjalan begitu lambat hingga terdengar suara langkah Ezra menjauh.


Bunyi langkah Ezra menimbulkan efek luar biasa di hati dan jiwa Zefanya. Beban perasaannya terangkat tapi di saat bersamaan jantungnya terasa bagai dipukul oleh sebuah palu godam. Sesak! Benar - benar menyakitkan saat kita harus dengan sengaja mengusir laki - laki yang sangat kita cintai lalu menutup diri dan menjauhi cintanya.

__ADS_1


Perasaan - perasaan aneh semakin berkecamuk, mengacaukan pikiran Zefanya. Ketakutan mulai merambati hatinya, akankah Ezra membalas setiap sakit hati yang sudah digoreskan oleh dirinya?


Satu hal yang pasti, Zefanya tidak berani pergi bersama Ezra ke pulau besok. Dengan atau tanpa anak - anak, sama - sama berbahaya. Apapun bisa terjadi di pulau kecil yang jauh dari keramaian. Zefanya sama sekali tidak berani mengambil resiko.


__ADS_2