
Seorang bayi perempuan mengguncang jiwa Zefanya. Perasaan cemburu menggelegak dari dalam batin wanita muda itu. Sejak awal dirinya memang sangat posesif terhadap Ezra. Beruntungnya, selama ini Ezra terbukti selalu berhasil menjaga diri dengan baik dan tetap setia. Namun kini kecewa itu melanda Zefanya, begitu dalam dan menyakitkan. Merasa dikhianati.
Apalagi Ezra menolak keras perceraian mereka. Untuk apa Ezra repot - repot membawanya kembali ke mansion kalau ternyata dia sudah punya wanita lain? Dan yang lebih parah adalah ada seorang anak di kehidupan baru Ezra. Meski menginginkan perceraian, tetap saja hati Zefanya hancur. Dia patah hati.
Kaki Zefanya terasa lemas. Tak ingin tubuhnya merosot ke bawah, cepat - cepat dia meraih apa pun yang ada di dekatnya untuk berpegangan. Ternyata box bayi dengan kualitas terbaik dan desain yang exclusive. Ezra benar - benar memberikan segalanya untuk bayi itu. Hati Zefanya seperti dicubit.
Andai saja diperbolehkan, tentu dia mau mempunyai putera puteri yang lucu bersama Ezra. Laki - laki itu sangat penyayang, sudah pasti anak - anak mereka sangat bahagia.
'Apa yang mendorong Ezra untuk memaksanya tinggal bersama selama satu bulan? Sementara ada seorang wanita dan bayi kecil yang menunggu perceraian mereka?'
"Nyonya, anda tidak apa - apa?" tanya pengasuh bayi sambil terus menimang anak asuhnya yang belum berhenti meraung. Tapi dia melihat kalau Nyonya muda di hadapannya sedang tidak baik - baik saja, dia memandang mereka dengan tatapan aneh.
"Tidak. Tidak apa - apa." elak Zefanya dengan terbata - bata.
Dia memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat wajah bayi yang terus mengingatkannya pada Ezra, cinta pertama dan terakhirnya. Seandainya saja situasi mereka berbeda, bisa jadi anak ini adalah anaknya. Puteri mereka, buah cinta Ezra dan Zefanya.
Segenap tenaga Zefanya mengumpulkan kekuatan untuk berbalik badan dan kembali ke kamar. Emosi membuat Zefanya melupakan tata krama yang dipelajarinya selama ini. Tanpa bicara apa pun pada pengasuh bayi, Zefanya keluar kamar dengan gerakan yang kasar.
"Ups! Kamu disini, Ma Moitie? Aku mencarimu." sapa Ezra.
Zefanya hampir saja terjerembab ke belakang karena bertabrakan dengan tubuh Ezra yang tinggi besar. Dengan sigap Ezra meraih tubuh Zefanya dan menyangganya, tak membiarkan istrinya itu jatuh.
Hati yang terbakar cemburu membuat Zefanya menyentakkan tangan Ezra dengan kasar. Dia tak mau bersentuhan dengan suaminya. Suaminya itu hanya bisa menghela napas dan memilih untuk mengalah.
__ADS_1
"Ternyata banyak sekali hal yang aku lewatkan selama di rumah sakit." ketus Zefanya setengah berbisik, berharap si pengasuh tidak mendengar percakapan mereka. Meskipun dalam kondisi marah, dia tidak ingin mempermalukan Ezra di depan pelayan atau pun anak buahnya.
"Itu sudah pasti. Waktu terus berlalu, semua hal terjadi begitu saja tanpa bisa aku hentikan." jawab Ezra dengan tenang.
Hati wanita memang tak mudah dimengerti, ketenangan Ezra membuat dada Zefanya terasa sakit. Padahal dia yang memulai dengan memberikan surat cerai, tapi dia sendiri yang menghakimi Ezra. Lebih parahnya lagi, llidah Zefanya tidak bisa dikontrol, kalimat yang keluar dari mulutnya terkesan menyudutkan Ezra. Otaknya juga terang - terangan menuduh Ezra telah melanggar janji setia mereka.
Sementara Zefanya sedang berperang batin, berusaha memahami apa yang sedang terjadi disini. Bergumul dengan perasaan sakit karena melihat suaminya sudah memiliki wanita lain. Ezra tanpa rasa bersalah menghampiri pengasuh bayinya.
"Lissa, kamu bisa beristirahat sekarang. Biar aku yang menangani puteri kecilku ini. Nanti aku akan memanggilmu saat dibutuhkan."
"Baik, Sir. Saya sudah menyiapkan segala kebutuhannya di atas meja sana."
Pengasuh bernama Lissa itu menyerahkan bayi perempuan yang digendongnya dengan wajah khawatir. Anak asuhnya masih terus meraung - raung.
Ezra menggerakkan kepala, memberi kode supaya Lissa meninggalkan mereka bertiga disini. Pengasuh itu pun mengangguk patuh dan meninggalkan ruangan.
Zefanya melebarkan mata saat melihat bagaimana si bayi itu langsung diam berada dalam pelukan Ezra. Anak perempuan kecil itu menyurukkan kepalanya di bahu Ezra, terlihat manja dan nyaman. Sementara itu Ezra menatap putrinya dengan mata yang bersinar, tatapan penuh cinta. Caranya membelai punggung bayi, kecupan - kecupan kecil pada kening, pipi dan rambut bayi itu, jelas sekali Ezra sangat mencintainya.
Sesuatu dari dalam diri Zefanya meluap, menggelegak. "Siapa dia, Ez?" tanya Zefanya tak suka.
Nada suaranya terdengar kasar, terasa sekali kemarahan di dalamnya. Ezra tak menjawab. Raut wajahnya datar dan menatap wanitanya itu dalam - dalam. Beberapa saat kemudian laki - laki itu mengeluarkan suaranya yang rendah dan dalam.
"Namanya mirip dengan kakakmu, Louisa Halley. Puteri kecilku ini bernama Louisa Halley, lahir bulan Maret! Jadi usianya lima bulan, hampir enam bulan."
__ADS_1
"OH!"
Zefanya tak dapat berkata - kata lagi ketika mendengar nama keluarga Ezra disematkan kepada bayi itu. Dugaannya seratus persen benar, bayi perempuan itu adalah anak kandung Ezra. Dada Zefanya terasa sesak seperti kehabisan udara.
"Apa pendapatmu tentang gadis kecilku ini?" tanya Ezra dengan bangga.
Ya Tuhan! Sesaat Zefanya hanya bisa tergugu, sebelum akhirnya dia berhasil menemukan kembali suaranya.
"Can- cantik... Anak yang manis." sahut Zefanya dengan suara bergetar.
"Cantik seperti Mamanya. Satu - satunya wanita yang paling aku cintai, dan selamanya." Ucap Ezra sambil mengecupi gemas pipi bayi yang bulat itu.
Zefanya menundukkan kepala. Siapa sangka pernyataan Ezra yang blak - blakan itu menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya. Bayangan rekan wanita Ezra, kenalan dan semua wanita yang jauh lebih dewasa darinya mulai bermunculan di kepalanya. Matanya mulai terasa panas. Salah satu dari wanita cantik itu akhirnya berhasil mendapatkan suaminya.
Menyadari dirinya tidak boleh menangis di depan Ezra, Zefanya berusaha melayangkan senyum terbaiknya. Sayangnya dia gagal, hanya senyum kecut yang bisa dia tampilkan di hadapan Ezra.
"Kamu tahu kan kalau aku tidak suka anak kecil? Sebaiknya aku kembali ke kamar dan beristirahat." ucap Zefanya mengingkari keinginan hati sendiri.
Sebagai seorang istri yang mencintai suami, tentu saja Zefanya ingin memiliki buah hati dari Ezra. Namun nampaknya takdir berkata lain. Jangankan mempunyai anak, mereka bersatu saja sudah merupakan dosa besar.
Tanpa menunggu respon Ezra, Zefanya langsung berbalik badan. Dia berlari sekencang yang dia bisa menuju kamarnya di lantai dua.
Di belakangnya, Ezra menatap punggung Zefanya dengan perasaan campur aduk. Sedih dan bahagia menjadi satu. Sedih karena istrinya belum mengingat bagian terpenting dalam hidupnya. Tapi hati Ezra juga bahagia. Kemarahan Zefanya diartikannya sebagai rasa cemburu. Ternyata wanitanya itu masih sama, pencemburu dan penuh emosi.
__ADS_1
'Kekanak - kanakan.' gumam Ezra dengan senyum penuh kemenangan.