
Tidak Ada Yang Lebih Baik.
"Ya! Aku tahu. Kamu memintaku tidur dan meninggalkan ruangan ini kan?" sergah Ezra cepat. Dia harus tahu diri kalau tidak ingin merasa sakit hati lagi karena diusir oleh Zefanya. "Baiklah! Aku akan menuruti keinginanmu."
Ezra berbalik badan dan mengakhiri percakapan mereka. Saat punggung Ezra menghilang dari pintu, Zefanya merasa aneh. Seharusnya dia merasa lega karena Ezra memilih tidur di kamar yang lain, tapi yang terjadi adalah perasaan bersalah terus menghimpitnya. Sepanjang malam dia kembali menimbang - nimbang tentang perceraiannya. Memberitahu Ezra tentang hal yang sesungguhnya dan bercerai sama - sama buruknya.
Fajar menyingsing, badai sudah reda dan langit mulai terang. Namun perang di hati Zefanya belum juga reda dan pikirannya masih belum bisa memutuskan apa yang terbaik. Ezra terbangun dan mendapati kantong mata Zefanya terlihat jelas.
Mendapati wajah kuyu Zefanya, Ezra langsung memutuskan dengan cepat.
"Sarapan dulu. Setelah itu kita akan langsung pulang sekarang. Sampai di mansion nanti kamu harus langsung tidur." tegas Ezra. Dia sudah menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka berdua.
Kali ini Zefanya tidak mendebat Ezra, matanya terasa berat dan tubuhnya seakan melayang karena kurang tidur. Di mansion banyak pelayan yang akan membantu Ezra untuk menjaga si kembar meski Zefanya percaya kemampuan Ezra menjaga kedua anak mereka tak perlu diragukan lagi. Dari cara menggendong, mengganti pakaian dan diapers yang cekatan, bahkan saat membersihkan kotoran kedua anaknya pun Ezra tidak menampakkan raut wajah jijik. Zefanya benar - benar angkat topi terhadap suaminya. Baginya, Ezra adalah sosok yang sempurna.
Beruntung si kembar tidur sepanjang perjalanan, lalu Zefanya memejamkan mata dan menyusun lagi rencananya. Ezra memang menyuruhnya beristirahat, tapi dia bisa menyuruh pelayan untuk menjalankan rencananya.
Mengetahui anak - anaknya tidur di kamar terpisah membuat Zefanya ingin mengubah susunan kamar - kamar itu. Dia ingin mereka semua berada di dalam satu kamar, tanpa Ezra tentunya. Memang terdengar egois, tapi setidaknya ada anak - anak di antara mereka selama sisa waktu perjanjian. Lagipula, dia ingin anak - anaknya seperti dia dan kakaknya dulu. Mereka tidur bersama sampai Louise berusia sekitar empat tahun dan memasuki usia sekolah.
__ADS_1
Rencana tersembunyi lainnya adalah dengan meletakkan kedua anaknya di satu kamar maka akan ada satu kamar untuk dipakai lebih leluasa oleh Louise dan anaknya. Kemudian Auntie Laura juga bisa menginap di kamar lainnya. Semakin ramai mansion ini, semakin baik pula bagi Zefanya. Dirinya tidak perlu terus menerus berinteraksi berdua saja. Setidaknya dia hanya perlu bertahan sebentar menunggu hari ke tiga puluh berlalu. Rencana demi rencana tersusun rapi di kepala Zefanya, hingga dia tertidur dan Ezra menggendongnya ke kamar.
Dua jam kemudian, Zefanya terbangun. Dia mendapati si kembar sudah berganti pakaian dan berbau wangi sabun. Pelayan mengatakan kalau Ezra sudah memandikan mereka dan kini tuannya itu ada di ruang kerja.
Usai mengisi perutnya dengan camilan, Zefanya mencari kepala pelayan. Wanita itu sedang menyedot debu di karpet sementara seorang pelayan lain sedang mengelap kaca jendela.
"Joan, aku ingin sedikit mengubah suasana disini. Apakah bisa?" tanya Zefanya pada kepala pelayan. Wanita paruh baya ini sudah bekerja di tempat ini sejak Ezra masih kecil dan dia bertanggung jawab atas setiap sudut mansion keluarga Halley.
Joan menatap heran pada Zefanya. "Tentu saja bisa, Nyonya. Kenapa tidak?" Dia hanyalah kepala pelayan, apa pun keinginan Nyonya rumah tentu harus dipatuhi. Apalagi Ezra pernah mengatakan kepadanya kalau Zefanya berhak melakukan perubahan dimana pun yang dia anggap perlu.
"Sebutkan saja apa yang harus kami lakukan untuk anda, Nyonya." pinta Joan dengan sopan.
"Saya senang anda sudah kembali, Nyonya. Semoga saja kehidupan Tuan Ezra kembali normal, saya sangat sedih melihatnya hancur saat kecelakaan menimpa anda, Nyonya. Tidak ada yang bisa menggantikan ibu kandung, sebaik apa pun pengasuh merawat mereka." ucap Joan dengan penuh haru.
Zefanya tersenyum tipis. Dia dapat meraba kemana arah pembicaraan Joan. Wanita berambut abu itu sangat menyayangi Ezra dan jelas - jelas tidak suka saat mendapati Zefanya tidur terpisah dari Ezra. Tapi dia hanya menahan diri karena posisinya hanyalah seorang kepala pelayan. Zefanya tak sanggup membayangkan bagaiamana terkejutnya Joan kalau tahu dia dan Ezra sebenarnya adalah kakak beradik. Kepala pelayan yang setia ini tentu ikut kecewa saat tahu kalau tuan besar yang dihormatinya telah tidak setia pada istrinya.
'Oh, Tuhan! Aku benar - benar tak sanggup mengungkap rahasia ini.' batin Zefanya sambil memandang Joan dan beberapa pelayan yang sedang bekerja memindahkan barang - barang milik si kembar.
__ADS_1
Menjelang malam, urusan memindahkan kamar akhirnya beres. Zefanya menghela napas lega melihat si kembar berada dalam satu kamar. Dengan begini, ikatan batin di antara kedua anaknya juga ikut terjalin dengan baik seperti bayi - bayi kembar lainnya. Dia juga sudah selesai memberi mereka s-u-s-u dan mengganti pakaian mereka dengan baju tidur. Kini dia menyelimuti si kembar sambil menepuk - nepuk punggung mereka.
"Tidurlah yang nyenyak kesayanganku, cintaku. Mama sangat mencintai kalian." bisiknya lembut.
Dua pasang mata bening mengikuti setiap gerakan Zefanya. Tatapan polos mereka, senyum manis dan ocehan - ocehan yang keluar dari mulut mereka membuat perasaan Zefanya membuncah. Rasanya tidak percaya kalau dia pernah melahirkan kedua anak lucu ini, benar - benar seperti sebuah keajaiban.
"Tidakkah kamu berpikiran sama denganku, Zie? Mereka benar - benar sempurna, keajaiban dalam hidupku, hidup kita." ucap Ezra tahu - tahu sudah ada di belakang Zefanya.
Zefanya terhenyak. Ezra seakan - akan bisa membaca pikirannnya. Tapi dari dulu memang begitu, mereka benar - benar satu pikiran.
"Ezra." panggil Zefanya gugup. "Aku ingin mereka tidur di dalam satu kamar supaya ikatan mereka lebih dekat satu dengan yang lainnya. Maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya. Andaikata kamu tak setuju, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula besok."
"Tidak. Tidak masalah, Ma Moitie. Kamu adalah ibunya. Kamu tahu yang terbaik untuk mereka. Dulu aku dan adikku tidak pernah satu kamar sehingga kami tidak dekat. Idemu bagus juga." Ezra menyetujui pemikiran Zefanya tanpa pikir panjang. Mansion mereka sangat besar sehingga kamar satu dengan yang lain berjauhan, apalagi ada lantai satu dan dua yang semakin memberi jarak para penghuninya.
Senang karena Ezra mau memahami keinginannya, Zefanya menceritakan tentang rencananya mengenai kamar kosong yang tidak dipakai olehnya dan Louisa. Tanpa sadar Zefanya bersemangat saat bercerita soal rencana tinggal Auntie Laura dan Louise serta anaknya.
Ezra mendengarkan dengan seksama, sorot matanya makin lama makin gelap. Tatapannya tertuju ke mulut Zefanya hingga jantung wanita muda itu mulai berdegup tak teratur.
__ADS_1
"J-jadi... supaya aku dekat dengan anakmu, aku ingin... "
"Kita berdua akan di lantai yang sama. Kalau kamu ingin tinggal di lantai ini, maka aku juga akan pindah ke lantai yang sama!" potong Ezra sambil menahan emosi. Dia dengan mudah membaca jalan pikiran Zefanya untuk kembali memperlebar jarak mereka.