Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 34 -- Piknik


__ADS_3

"Anak - anak senang sekali kalau diajak berjalan - jalan naik mobil. Aku akan mengajak mereka ke tempat yang lebih menyenangkan. Bagaimana menurutmu?"


Ezra memang pintar, dia sengaja tidak menyinggung masalah di kamar anak - anak kemarin. Pagi itu, langit belum begitu terang saat Ezra mengajak mereka pergi keluar naik mobilnya.


"Aku tak tahu apa kesukaan mereka saat ini, asalkan mereka nyaman aku tak keberatan." jawab Zefanya dengan jujur.


Dari kaca mobil, dia bisa melihat si kembar tampak gembira dengan perjalanan ini. Mereka berdua duduk diatas kursi khusus bayi di belakang, Ezra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Louis dan Louisa asyik berceloteh sambil menggigit - gigit mainan yang diberikan oleh Zefanya. Sesekali kepala kecilnya melongok keluar jendela dan memekik senang. Mungkin saja mereka senang melihat pohon - pohon berkejaran.


"Mau kemana kita, Ez?"


"Sesuai kesepakatan kita, maka kita akan menghabiskan dua puluh enam hari sisanya dengan terus bersama." jawab Ezra dengan senyum puas.


Zefanya tercengang. "Apa kamu benar - benar tidak mau memberitahuku?" tanya Zefanya, tanpa sengaja menggunakan mode merajuk yang biasa dipakainya setiap kali ingin tahu rahasia Ezra.


Ezra tertawa. "Bukan kejutan namanya kalau aku memberitahumu sekarang."


"Terserah kamu sajalah. Yang penting jangan membuat mereka kedinginan."


Zefanya menoleh ke belakang dan membetulkan topi sweater anak - anaknya supaya hangat. Tubuh si kembar terbungkus celana terusan yang menyatu dengan penutup kaki, sehingga hanya wajah - wajah mungil mereka yang akan tampak. Untuk berjaga - jaga, Zefanya sudah menyiapkan baju ganti serta pakaian hangat lainnya di tas mereka.


"Tenang saja, tempatnya tidak jauh dari sini. Tidak sampai satu jam perjalanan maka kita akan sampai disana."


Zefanya mengernyitkan dahinya, tidak sampai satu jam perjalanan? Tapi belum sempat berpikir lebih lanjut, salah satu anaknya sudah berteriak di kursi mereka. Perhatian Zefanya segera teralihkan, sepanjang perjalanan mama muda itu disibukkan dengan mengurus anak - anak mereka.

__ADS_1


Sebentar memberi mereka snack, sesaat berikutnya mengganti diapers. Beberapa kali Zefanya menimang, menggendong atau sesekali menimang mereka setiap kali mulai bosan. Dia mengajak mereka berbicara secara bergantian. Sesekali dia menunjuk keluar jendela memperlihatkan pemandangan yang mereka lewati. Diluar, matahari sudah mulai menyingsing.


Dari sudut matanya, Ezra bisa melihat kesibukan Zefanya. Gadis kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi seorang mama muda dan tampaknya dia menikmati perannya dalam mengurus anak. Tanpa sadar Ezra menggelengkan kepala, bagaimana mungkin wanita yang terlihat sedang menikmati kebersamaan mereka ini malah meminta cerai. Sungguh tidak dapat dipercaya.


Ezra menghentikan mobilnya di dekat sebuah garis pantai. Zefanya, dengan si kembar berada di pangkuannya, terperangah melihat keindahan pantai yang tertangkap matanya. Matahari baru saja terbit di batas cakrawala. Terang, cerah dan bercahaya.


Melihat ekspresi takjub Zefanya, Ezra mengusap kepala wanitanya dengan sayang.


"Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita pergi ke pantai." ucap Ezra kemudian. Dia mematikan mesin dan keluar dari mobil, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk istri dan anak - anaknya.


"Ayo, turun. Kita akan sarapan disana." Ezra menunjuk sebuah spot dengan dagunya. Zefanya menoleh ke arah yang ditunjuk Ezra, ada sebuah tempat yang lebih mirip dengan gasebo yang tak jauh dari mobil mereka berhenti.


Ezra mengambil ransel dari bagasi mobil dan mencangklongnya, lalu mengambil Louisa dari pangkuan Zefanya.


Tempat yang mirip gasebo itu ternyata cukup nyaman, ada atap untuk berteduh sementara mereka bisa duduk sambil menikmati pemandangan laut di depan. Ezra mengeluarkan makanan dari tasnya. Juru masak sudah menyiapkan roast meat, keju cheddar, roti lapis, scotch eggs, potongan buah, scones dan beberapa macam makanan lainnya yang mampu menerbitkan air liur.


Ezra meletakkan Louisa di lantai kayu, lalu mengambilkan sepiring penuh makanan untuk Zefanya, kemudian dia mengambil Louis supaya istrinya bisa menikmati makanan dengan tenang. Zefanya makan sambil melayangkan pandangan ke mana pun yang bisa dilihatnya. Ezra benar - benar tahu seleranya, dia suka sekali suasana di tepi pantai seperti ini. Makan disini membuat selera makannya naik dua kali lipat, dia melahap apa pun yang tersedia di piringnya.


"Besar sekali bonus yang kau berikan pada kedua pengasuh itu semalam, Ez." kata Zefanya memecah keheningan. "Aku yakin, mereka sangat senang menerimanya."


Ezra meletakkan Louis di samping Louisa, dia membiarkan mereka berguling - guling di lantai. Setelah memastikan semua aman, Ezra mengambil sepotong roti lapis dan menggigitnya. Beberapa saat dia menikmati makanannya tanpa merespon ucapan Zefanya.


"Mereka sudah sangat berjasa dalam merawat putera dan puteriku selama kamu sakit. Jasanya tidak dapat diukur dengan uang. Tapi demi kebaikan kita semua, mereka terpaksa harus mencari pekerjaan lain. Mereka sudah terlalu dekat dengan si kembar, terutama Meilissa dengan Louisa."

__ADS_1


Zefanya mengangguk. "Aku sangat setuju. Kedekatan itulah yang membuatku iri dengan mereka." lirih Zefanya dengan mata berkaca - kaca. "Tapi mau bagaimana lagi? Si kembar begitu menggemaskan, siapa pun akan jatuh cinta pada mereka."


Ezra mengusap kepala anak - anaknya satu per satu. "Ya. Mereka benar - benar yang terbaik. Dan apa kamu tahu? Aku merasa kalau aku adalah laki - laki yang paling beruntung bisa menjadi ayah mereka. Akan lebih beruntung lagi kalau keluarga ini tetap seperti ini untuk selamanya."


Zefanya tersentak. Sesaat dia tidak bisa berkata - kata, matanya menatap jauh ke laut lepas sana. Angin laut berhembus, terasa asin tapi juga segar. Udara mulai menghangat dengan sinar matahari yang terang. Suasana seperti ini seharusnya indah tapi harus segera berhenti.


"Ezra... "


"Ya?"


"Tadi pagi aku menghubungi Kakakku Louise. Aku harap kamu tidak keberatan."


"Kenapa harus keberatan? Kamu bebas melakukan apa pun di rumahmu sendiri." sahut Ezra cepat, sengaja memberi penekanan pada kata rumahmu sendiri supaya Zefanya ingat kalau mereka masih sebuah keluarga.


Pesan terselubung Zefanya tersampaikan, dia menghembuskan napas perlahan. Dia mengepalkan tangan, menguatkan diri untuk sekali lagi mengatakan keinginannya.


"Maksudku, aku sudah lama tidak bertemu dengannya dan juga keponakanku. Aku merindukan mereka, jadi... aku mengundang mereka untuk menginap di mansion." Ucap Zefanya lagi dengan hati - hati.


Dia tahu kalau keinginannya ini termasuk keterlaluan. Dia yang meminta sebuah perceraian, tapi dia masih saja mengundang saudaranya datang ke mansion. Bukankah ini sama saja memanfaatkan kebaikan Ezra?


Menutupi kegugupannya, Zefanya mengambil satu potong buah dan menggigitnya perlahan. Mulutnya mengunyah potongan buah yang ada di mulut, tapi matanya diam - diam melirik ke arah Ezra menunggu reaksi dari suaminya itu.


Raut wajah Ezra terlihat datar, tak terbaca...

__ADS_1


__ADS_2