Tak Ingin Berpisah

Tak Ingin Berpisah
Bab 6 -- Let Me Go


__ADS_3

"Karena kejujuran yang aku katakan tidak hanya akan menghancurkan hatiku tapi juga hatinya. Aku tak mau dia juga merasakan sakit yang aku rasakan saat mengetahui faktanya." Ucap Zefanya pilu.


Dokter Sandra menghela napas dan kembali mengulang penjelasan dengan sabar dengan harapan Zefanya menuruti sarannya. "Tapi satu - satunya cara untuk keluar dari tempat ini adalah ijin dari suamimu, Nyonya. Dan cara untuk mendapatkan ijin itu adalah dengan berkata jujur. Katakan semuanya kepada Tuan Halley."


Zefanya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri, kesal luar biasa. Tak seorang pun berada di pihaknya. Bahkan Dokter Sandra yang selama ini mendampinginya pun tidak.


"Aku akan menyewa pengacara untuk membebaskanku dari tempat ini, sekaligus mengurus perceraian kami." ujar Zefanya bersikeras pada keinginannya untuk berpisah dengan Ezra.


Mendengar ucapan Zefanya yang bernada mengancam, Dokter Sandra mengerutkan keningnya. "Anda bisa saja menyewa seorang pengacara, Nyonya. Tapi perlu anda ketahui, suami anda bukan orang sembarangan. Apa anda yakin bisa menemukan pengacara yang sehebat pengacara suami anda?"


"Arrgh!" geram Zefanya.


Kalau menuruti keinginan hatinya, Zefanya pasti sudah mencekik Dokter Sandra karena terlalu marah. Atau setidaknya, dia ingin membanting semua barang di ruangan ini hingga hancur berkeping - keping. Seperti dirinya yang hancur saat mendengar kenyataan yang tak ingin di dengarnya.


Zefanya menundukkan kepala dengan raut wajah yang muram. Belum juga dirinya bertempur, kekalahan sudah menghadang langkahnya. Zefanya benci pada kenyataan bahwa semua yang dikatakan oleh Dokter Sandra tentang Harry adalah benar.


"Aku ingin sendiri, Dokter." bisiknya putus asa. Percuma dia memohon, hingga lidahnya kering pun Dokter Sandra tak akan pernah mengabulkannya.


"Baiklah. Besok kita bicara lagi." Ucap Dokter Sandra sambil menepuk bahu Zefanya. "Anda tahu Suster Yoana akan menjaga anda malam ini kan? Anda bisa memanggilnya apabila sewaktu - waktu anda membutuhkannya."


Hati Zefanya yang sedang sensitif mendadak saja terasa pilu. Dia mulai menangis tersedu - sedu sampai - sampai bahunya terguncang. "Bisakah anda memberiku obat supaya tidurku nyenyak, Dok?"


Entah untuk keberapa kalinya, Dokter Sandra lagi - lagi menghela napas dan berkata. "Dari hasil observasiku, anda tidak memerlukan obat - obatan lagi."


"Bagaimana kalau mimpi buruk itu kembali datang menghantuiku?"


"Tidak ada yang bisa anda lakukan selain menghadapinya. Percayalah pada saya. Dan saat anda berhasil mengatasi ketakutan itu, maka tidurmu akan nyenyak tanpa obat - obatan apa pun." jawab Dokter Sandra sambil merapikan selimut Zefanya. "Selamat tidur, Nyonya Halley."


Untuk pertama kalinya dalam hidup, Zefanya membenci sebutan Nyonya Halley. Panggilan yang dulu sangat diidam - idamkan olehnya. Sejak dia duduk di bangku SMA hingga lulus universitas. Benar - benar tidak adil. Zefanya menunggu bertahun - tahun untuk resmi menyandang status Nyonya Halley, istri satu - satunya Ezra Halley. Dan baru saja impiannya terwujud, dengan kejam mereka harus dipisahkan oleh kenyataan pahit. Zefanya terus meratapi nasibnya.


"Nyonya?"


Zefanya terlonjak kaget mendengar suara Suster Yoana yang masuk untuk menemaninya. Ezra benar - benar tak mau melepaskannya. Selalu saja ada seseorang yang mendampingi dirinya selama dua puluh empat jam.

__ADS_1


"Apakah anda ingin makan?"


Bagaikan api yang disiram bensin, kemarahan Zefanya langsung tersulut dan meledak.


"TIDAK!" bentak Zefanya kasar. Lupa sudah semua sopan santun dan etika yang telah dipelajarinya sejak kecil.


Menyadari pasiennya sedang dalam kondisi frustasi, suster Yoana dengan sabar kembali bertanya, "Bagaimana dengan minuman?"


"Aku tidak membutuhkan apa pun kecuali obat penenang. Aku ingin tidur tapi kesulitan untuk memejamkan mata." keluh Zefanya memelas, berharap suster Yoana kasihan dan memberinya sebutir saja.


"Maaf, Nyonya. Dokter Sandra berpesan kalau anda sudah tidak membutuhkan obat apa pun. "Segelas cokelat hangat bisa membantumu relax dan bisa membuatmu mengantuk. Apa perlu aku membuatnya untuk anda?"


"Tidak, terima kasih. Kalau kamu tidak bisa memberiku obat tidur, maka tutup saja mulutmu. Jangan menawarkan apa pun padaku." sambar Zefanya penuh emosi.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Pencet bel kapan pun anda membutuhkan, saya siap kapan pun. Selamat tidur."


Mendengar ucapan selamat tidur, Zefanya semakin sensitif. "Aku tak mungkin bisa tidur!" sergahnya.


"Aku benci televisi."


"Anda bisa membaca novel favorit anda, suami anda membawa beberapa di dalam lemari."


"Aku sedang tidak mood membaca. Kenapa kalian mengurungku disini? Aku benar - benar tidak betah disini, sumpek. Aku mau keluar dari sini, ingin melihat dunia luar." cecar Zefanya.


"Besok akan ada orang lain yang menjenguk anda, Nyonya. Kalian bisa berbincang - bincang sejenak untuk melepas penatmu."


"Aku tak bisa menunggu sampai besok!" teriak Zefanya, mulai histeris.


"Dokter Sandra! Dokter Sandra!" panggil Zefanya sekeras yang dia bisa. "Aku tak bisa menunggu sampai besok! Atau aku akan gila. Dokter Sandra!" pekik Zefanya.


"Tenanglah, Nyonya. Dokter Sandra sedang ada di ruangannya di lantai tiga. Dia tak akan mendengar teriakan anda."


"Kalau begitu, katakan padanya aku ingin bertemu. Sekarang juga!" Perintah Zefanya.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Sebaiknya Nyonya menenangkan diri dulu sebentar. Saya akan memanggil Dokter Sandra untuk anda.


Bukannya tenang, Zefanya semakin gelisah. Dia berjalan mondar mandir di kamarnya hingga Dokter Sandra masuk ke dalam ruangan.


" Suster Yoana melapor kalau anda saat ini sedang sangat gelisah. Belum pernah dia melihat anda dalam kondisi seperti ini. Apa alasannya seperti yang ada dalam pikiranku?"


Zefanya berhenti mondar mandir, mengangkat dagunya dan memandang doktermya dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Dokter... Aku harus keluar dari sini atau aku akan gila. Kenapa kalian semua tega terhadapku?"


"Aku tahu cara untuk menghadapi suamimu."


"Bagaimana caranya?"


"Berani!"


"Berani?"


"Ya. Berani berbicara empat maya dengan suamimu dan katakan terus terang padanya kalau anda sudah tidak mau lagi hidup bersamanya." Ucap Dokter Sandra tegas.


"Apa?" desis Zefanya putus asa, emosinya lenyap seketika dan nyalinya ciut.


"Kalau aku jadi suamimu, aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri kalau istrinya ternyata sudah tidak mencintai dirinya. Dan dia akan percaya kalau anda bisa mengatakan dengan tegas bahwa tak ada perasaan yang tersisa untuknya."


Zefanya menggigit bibirnya keras - keras. Rasanya sakit, sama seperti hatinya.


"Saat akan menikah, kalian memutuskannya bersama, maka saat ingin berpisah pun kalian harus sama - sama sepakat. Bicaralah pada suamimu, dia akan melepaskanmu asalkan alasanmu tepat."


"Ya." lirih Zefanya dengan hati yang hancur.


"Setelah Tuan Halley setuju, maka anda bisa pergi bersama rahasia yang anda simpan rapat - rapat."


Seperti ada palu raksasa memukul keras, tepat di ulu hati Zefanya. Dokter Sandra tahu kalau dirinya menyimpan rahasia. Zefanya memucat.

__ADS_1


__ADS_2