
"Kak Nai udah balik sekolah lagi? Dan tongkat kakak udah gak pake lagi?" Teriak Rere yang saking senangnya sedikit melompat-lompat saat Naira baru datang ke sekolah.
"Kamu kenapa sih kok heboh banget? Aku gapapa, Alhamdulillah udh gak pake tongkat lagi.." Naira menjelaskan keadaan nya pada Rere. "Eh, tapi kok kamu duduk disana? kok gak sama Aku lagi?" tanya Naira ketika melihat Rere duduk bersama Naufal.
"Emh... Anu kak,, hehehe..."
Rere senyum-senyum sendiri
"ooo.. kayak nya Aku ketinggalan berita ini ya setelah beberapa hari cuti..." Naira menaik turunkan alisnya.
"Ehehehe... Eh Kak Nabil mana? Gak dateng sama dia kak?" Rere berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Bisa aja kamu ngeles nya Re..." Rere hanya cengengesan melihat Naira.
Mereka tertawa bersama, tak lama Nabil datang dan duduk di samping Naira. Dan itu membuat Rere dan Naufal saling cie cie melihat Naira dan Nabil saling tersipu-sipu.
"Kayaknya mereka udah jadian deh yank,," kata Naufal pada Rere.
"Heeum... Kayak nya sih iya, dari tadi Aku liat tuh ada kembang-kembang di sekeliling mereka," timpal Rere pula.
Tak lama mereka menggibah kan Naira dan Nabil, Guru Bahasa Indonesia pun masuk kelas guna mengisi materi jam pertama.
Tema pelajaran kali ini adalah Puisi, jadi masing-masing siswa di haruskan membuat 1 puisi untuk di presentasikan di depan kelas. Tema puisi mereka bebas.
Waktu yang di berikan untuk membuat puisi adalah 1 jam. Maka mereka bergegas mencari inspirasi, karena Guru Bahasa indonesia nya baik, maka mereka di bebaskan keluar kelas untuk mencari inspirasi.
Tiba saat mereka presentasi, karena penampilan peserta di pilih secara acak, Bu Agnes sudah membuat gulungan kertas kecil untuk di bagikan kepada mereka semua, di dalam kertas tersebut sudah berisi nomor undian untuk urutan tampil.
Giliran pertama jatuh pada Nabil, maka dia pun maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil karya nya.
"Silahkan Nabil, bacakan puisi kamu di depan kelas,," kata Bu Agnes mempersilahkan Nabil. Nabil mengangguk dan teman-teman sekelas nya diam mendengarkan puisi Nabil.
*Kamu...
Kamu bagai matahari yang menyinari alam,,
Cahayamu memberikan kehangatan...
Warna mu memancarkan ketegasan...
__ADS_1
Kamu tak mudah di gapai..
Kamu...
Kamu yang selalu ada...
Bagaikan Air yang selalu memberikan kesegaran saat dahaga melanda...
Yang memberikan kehidupan.
Kamu
Kamu yang sangat berarti untukku,
Kamu yang selalu bersinar dalam pandanganku,
Kamu yang menuntun saat aku tsrsesat
Ketika Aku tak ingin kembali dan kehilangan arah,
Kamu...
Kamu selalu jadi penuntunku.
Pujaan hati*..
Prok prok prok.... Puisi Nabil mendapat tepukan tangan yang meriah dari semua teman sekelasnya. Bahkan Bu Agnes saja sampai geleng-geleng kepala.
"Kamu lagi jatuh cinta ya Bil?" Tanya bu Agnes di sela-sela tawanya.
Nabil hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bu Agnes. "Waah, nampaknya tebakan Ibu benar?" tanya Bu Agnes lagi.
"Bener bu, Kak Nabil sih jatuh cinta nya sama Kak Naira tuh, yang duduk di sampingnya.." teriak Rere dari arah belakang.
Blush...
Muka Naira merah merona, entah dia tersipu karena puisi Nabil, ataukah dia malu karena mendapatkan ciee ciee dari temen sekelas nya, yang pasti sekarang Naira ingin menenggelamkan wajah nya ke dalam laci meja supaya rona merah di wajah nya tak kelihatan oleh yang lain.
Satu persatu sudah menampilkan puisi mereka, kini giliran Naira yang mendapat kertas bertuliskan nomor 15 yang maju kedepan.
__ADS_1
"Waah, kayak nya bakal ada balasan puisi Nabil tadi ini ya..." kata Bu Agnes menggoda muridnya.. sontak saja mereka sekelas langsuk bersorak sorai untuk Naira..
*Dia
Dia tak tampan dan juga cantik
Dia tak kaya
Siapakah dia?
Dia,,
Selalu ada saat susah, senang dan bahagia
Menangis dan tertawa bersama,
sang surya pun tersenyum melihat kita
Dia...
Seseorang yang berharga..
Tak ternilai dengan Harta...
tak akan tergantikan dengan apapun
Ku menyayangi nya lebih dari saudara
Dia
Sahabat setia
diamana pun dia berada,,
Kita sahabat selamanya*...
Prok prok prok... kembali suara tepuk tangan memenuhi ruangan kelas. "Saya kira kamu akan membalas puisi Nabil,," kekeh bu Agnes meledek Naira.
"Memang nya Nabil aja yang berkesempatan di buatin puisi sama saya bu??
__ADS_1
Mereka semua tertawa mendengar penuturan Naira, dan selanjut nya mereka terus mempresentasikan sesuai nomor di kertas sampai jam Bahasa Indoneaia usai.
✏️✏️ Green nulis puisi nya dadakan ya, jadi kalo gak nyambung mon maap. Green mesti tulis dalam kurun waktu 5 menit.😁