
"Assalamualaikum Nai..." Nabil masuk kedalam kamar, melihat Naira yang tengah berbaring memunggungi pintu, sehingga dia tak melihat Nabil masuk.
"Eh, Bil, kamu udah pulang? Darimana aja? Aku khawatir, gak biasanya kamu dan Ayah pergi berduaan lama banget.." Naira hampir meneteskan air matanya.
Bagaimana tidak, belahan jiwanya pergi gak ada kabar, walaupun pergi dengan Ayahnya, tapi tetep aja Naira khawatir teramat sangat. Sejak dari tadi dia masih bisa mengelabui orang-orang disekitarnya dengan memasang ekspresi baik-baik aja. Tapi ketika dia masuk ke dalam kamar, perasaan gelisah muncul, ada takut, sedih bercampur jadi satu. Dan pikiran itu tak lepas dari suaminya, Nabil.
"Maaf ya Nai, Aku buat kamu khawatir.."
Naira menganggguk, "Tapi emang nya kamu darimana?" tanya Naira lagi.
"Aku dari rumah sakit Nai, sama Ayah." Jawab Nabil pelan.
"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi sama kamu Bil? kepala kamu sakit lagi?" Naira panik.
"Tenang donk sayang, Aku gapapa kok, udah cek ke dokter juga," kata Nabil menenangkan Naira.
"Kamu gak bohong kan?" selidik Naira.
"Ya ampun. ngapain Aku bohong sama Istei aku sendiri? kalo kamu gak percaya tanya aja sama Ayah.."
"Ya udah, Aku percaya sama Kamu," Naira memeluk Nabil erat, seolah sedang menyalurkan rasa khawatir yang tadi hinggap di hatinya pada Nabil, dan dengan perlahan rasa itu menghilang karena hangatnya pelukan Nabil.
"Jadi, ada yang mau kamu ceritain sama Aku gak?" Naira mendongak menatap Nabil, dan Nabil mengangguk. "Apa?"
"Janji kamu jangan marah ya.." tawar Nabil.
"Aku janji" Naira memberikan kelingkingnya untuk di lilit dengan kelingking Nabil. Kayak anak kecil, pikir Nabil.
"Semenjak Aku gak amnesia lagi, Aku ngerasain sakit kepala luar biasa kalo tengah malem Nai.."
"Kok Aku gak pernah tau? kenapa kamu gak bilang?" Naira melepaskan pelukan Nabil.
"Janji gak marah..."
"Oh iya lupa, silahkan lanjut lagi." Naira kembali kedalam dekapan Nabil yang menghangatkan hatinya.
"Aku gak mungkin buat kamu khawatir, jadi Aku gak bangunin kamu. Aku cuma melepaskan sakit kepala ku di kamar mandi biar kamu gak terbangun. Jadi tadi Aku cerita sama Ayah, setelah jemput Onty, makanya kami pergi kerumah sakit,"
"Terus apa kata dokter?"
__ADS_1
"Aku jalani pemeriksaan yang gak sebentar. makanya Aku lama pulang nya, disana Ayah terlihat kalut sekali, takut terjadi apa-apa sama menantu kesayangannya,"
"Ya iyalah, orang mantunya cuma satu."
"hahahaha" celetukan Naira membuat Nabil tertawa. "Aku juga mikirnya Aku ada apa-apa dengan kepala ku, tapi kata dokter gak ada kerusakan, itu cuma efek samping aja, habis minum obat dan istirahat cukup akan membaik kok"
"Kamu yakin kan yank?" Naira masih merasa takut, takut akan kehilangan Nabil lagi.
"Iya, Yakin, dokter yang bilang. Ayah juga tau kok."
"Alhamdulillah kalo gitu, Aku seneng dengernya."
"Iya, yang penting kita banyakin doanya supaya Allah bener-bener kasih Aku kesembuhan, Aku minta sama kamu doain suami kamu ya, biar bisa menemanimu sampai tua.."
Naira tersipu mendengar ucapan Nabil. "Amiiinnnn"
Nabil memang tidak bohong, perihal sakit kepalanya, memang sakit sekali, tapi ketika mereka cek ke dokter tadi, dokter bilang gapapa, cuma harus rutin minum obat dan istirahat cukup untuk meminimalisir kerja otak. Nabil sangat bersyukur karena dia masih di beri kesempatan untuk terus mendampingi Naira.
Di kamar lain, Rizal dan Hana sedang berdiskusi masalah Nabil. Seperti yang Hana pikirkan, memang ada masalah yang tengah di atasi suaminya. Hana bersyukur saat mengetahui kondisi Nabil yang bisa di bilang aman.
"Apa kita sebaiknya kasih tau Mas Surya dan Mbak Iren Mas?" Tanya Hana pada Rizal.
"Kalo gitu ada baiknya kamu kasih tau mas Surya aja, biar gimana pun dia ayah kandung nya, jadi kalo terjadi apa-apa dia juga bisa antisipasi Mas.."
"Iya, kamu bener sayang.. ya udah, yuk kita istirahat.." Hana mengangguk dan mulai memejamkan matanya dalam pelukan sang suami.
........................
Pagi ini, setelah semua pergi dengan kegiatan masing-masing, sekarang waktunya para wanita terjun ke dapur untuk membuat hidangan berbuka puasa, Ada Hana, Lida, Naira, Yunda juga ada.
Yunda ikut gabung karna katanya mau belajar masak, biar suaminya kelak betah di rumah. Tentu saja alasan itu membuat mereka yang ada disitu tersenyum penuh arti.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Yuyun pada ketiga orang yang menatapnya dengan senyum yang bisa di bilang.... gimana yah., susah jelasinnya.
"Kayaknya ada yang beneran mau nikah muda ni" celetuk Naira.
"Kakak apaan sih... jangan di godain terus Aku nya, malu..."
"Kan gapapa, sekali-kali juga."
__ADS_1
Setelah itu hening, dengan mereka melakukan kegiatannya masing-masing.
"Oh iya, Bunda Na, Yun boleh gak undang pak Gama?" tanya Yunda tiba-tiba. Sontak pertanyaan nya membuat tiga wanita yang sedang asik dengan peralatan dapur menatapnya tajam.
"Kamu mau undang pak Gama? yakin? beneran?" Naira memberondong pertanyaan
"Ish kakak apa sih, Aku kan tanya Bunda Na,," Yunda mengerucutkan bibirnya.
"Boleh donk sayang, tapi apa kamu udah siap?" tanya Hana.
"Siap apa?"
"Siap di berondong pertanyaan sama Bapakmu Yunda..." ini Lida yang ngomong loh.
"Iya Bunda, Yun siap kok," jawabnya acuh
"Memangnya apa sih hubungan kalian kak? kok kamu undang pak guru mu itu di acara keluarga? jangan-jangan memang ada sesuatu ya?? tanya Lida lagi.
"Emang gak boleh ya Bund?"
"Bukan gak boleh, kamu itu masih kecil Yunda.. masih SMP, mungkin perasaan mu sama pak gurumu itu cuma cinta monyet doank kali ah." Lida menjelaskan.
"Kak Nai udah nikah aja" kata Yunda lagi.
"Setidaknya dia berada di tingkat 2 SMA walaupun masih kelas 1."
"Iya deh, tapi boleh gak undang pak guru Yun??"
"Boleh sayang..."Hana mengelus rambut Yunda.
"Makasih Bunda Na.."
"Iya sayang.."
Setelah percakapan sengit, mereka kembali membuat hidangan buka puasa. Mereka mengerjakannya sambil sesekali bercanda, membuat siapapun yang melihat adegan mereka menjadi sangat iri. Akur dan kompak, dua kata yang bisa kita sematkan pada hubungan empat orang di dapur itu.
Tak banyak yang di masak mereka, Hana menyarankan agar mereka membuat Mie ayam bakso. Nasi juga ada dengan lauk Ayam goreng tepung sama tumis kangkung.
Lainnya hanya kue dan buah-buahan yang bisa di santap sebelum maupun sesudah mereka makan makanan berat.
__ADS_1
Yunda juga sudah menghubungi pak Gurunya untuk datang ke alamat yang sudah Yunda kirimkan, dengan senang hati pak Gama menerima tawaran itu, karena bagaimanapun juga, Gama hanyalah anak kos di kota baru, dia menjadi Guru pun masih terbilang baru, karen dia di tempatkan di sekolah Yunda, yang berada di luar kota tempat tinggalnya.