TAKDIR CINTA NAIRA

TAKDIR CINTA NAIRA
Bangga


__ADS_3

Bangga...


Itulah yang dirasakan Naira. Kenapa? Apalagi yang bisa buat Naira merasa bangga kalo bukan masakan pertamanya yang di puji-puji sama mertua nya, bahkan gak tanggung-tanggung malah mujinya.


Jadi. dalam perjalanan pulang, tak lepas senyum yang terpatri di wajah Naira. Membuat Nabil yang berjalan di samping nya merasa merinding disco sendiri.


"Kamu tuh kenapa sih? daritadi senyum-senyum mulu, Aku takut nih." Nabil menyilang kan kedua tangan nya di depan dada.


"Kamu apaan sih, kan Aku lagi seneng aja, soal nya Mama sama Papa suka masakan Aku.."


"Jadi gitu aja bangga??"


"Lah, iya donk, emangnya Kamu gak seneng masakan istrimu di puji-puji gitu?" Naira cemberut.


"Ya seneng lah, kamu kan Istri tercantik dan terpintar ku. .." Nabil mencubit kedua pipi Naira.


"Sakit tau Bil..." Naira melepaskan tangan Nabil dari pipi chubby nya.


Masih nerada di pinggir jalan, kegiatan mereka berdua tak lepas dari pandangan dua orang yang sedang lewat, dan membuat keduanya kagum, tapi lebih ke curiga.


"Ekhemmm..." Naufal menghentikan sepeda motor nya tepat di samping Nabil dan Naira.

__ADS_1


Sontak itu membuat mereka terkejut dan salah tingkah karena kepergok sedang bermesraan di pinggir jalan.


"Hayooo... Kak Nai ya... udah mulai nih nampakin kemesraan nya di depan umum... bukan muhrim loh Pegang-pegang..." Rere menimpali.


Jujur aja Naira malu luar biasa di bilang seperti itu, sehingga menimbulkan semburat merah di pipinya.


"Kamu apaan sih Re.. kalian juga bukan muhrim tapi boncengan." kata Naira malu-malu.


"Ehehehe... oh iya, Kakak dari mana?" Rere mengalihkan topik.


"Dari rumah merrua donk, habis munjung." Kata Naira semangat. "Kalian dari mana juga?" tanyanya lagi pada Rere yang membawa rantang. tapi sepertinya kosong.


"Ehehehe... ini kak, dari rumah calon mertua.." Rere menjawab dengan malu-malu.


"Ah, bisa aja Lu," Naufal tak kalah malu dengan Rere.


"Ini rumah kak Nabil?" tanya Rere menunjuk rumah di belakang mereka,


"Iya, baru aja kami mau pulang kerumah Naira.." jawab Nabil.


"Naik apa??" Rere bingung.

__ADS_1


"Jalan kaki aja.."


"Hah??"


"Tuh, rumah Naira, mau naek motor pun percuma kan, tok deket juga." tunjuk Nabil pada Rumah di seberang jalan.


"Lah?! Ini sih pacar lima langkah nama nya..." celetuk Rere sambil menganga.


"Ya udah yuk, gak enak ngobrol di pinggir jalan, mending mampir dulu kerumah Aku. Ayah sama Bunda ku juga lagi kerumah nenek, Yuk.." Naira menarik tangan Rere, sehingga Rere hanya bisa pasrah di bawa Naira kerumahnya, dan Naufal serta Nabil hanya mengikuti mereka dari belakang dengan menggunakan motor.


"Rumah kakak besar yah.." Rere mengagumi keindahan dan kemegahan rumah Naira dengan rahang yang hampir jatuh.


"Kamu norak deh yank..." kata Naufal pada Rere.


"Biarin lah, emang bener kok" Rere masih terpesona dengan keadaan rumah Naira.


"Kalian udah makan?" Tanya Naira,


"Udah sih tadii, tapi laper lagi..." Rere nyengir kuda tanpa dosa.


"Kamu nih maluhmaluin tau." lengan Rere di senggol sama Naufal.

__ADS_1


"Biarin lah, yang penting makan,," jawaban Rere membuat mereka berempat malah tertawa riang.


Naira sangat senang ketika dia bisa menjamu tamu, apalagi itu temannya, semenjak dia di turunkan di kelas 1, Rere lah yang paling akrab dengan nya.


__ADS_2