TAKDIR CINTA NAIRA

TAKDIR CINTA NAIRA
Pingsan


__ADS_3

Suasana buka bersama di rumah Surya berjalan dengan baik, mereka saling bercanda dan tertawa, sampai mereka akan melaksanakan sholat tarawih di rumah Surya yang di imami oleh Rizal.


Dalam hati Hana sungguh takjub dengan orang yang menjadi imam di depan. Selain dia mampu menjadi imam diri nya dan anak nya, dia juga mampu menjadi imam untuk orang lain


Memang Hana gak salah menikah sama Rizal. Tapi bukan berarti Hana juga menyesal pernah menikah dengan Surya. Hanya aja Hana merasa dengan pernikahannya dengan Surya telah mendatangkan pelajaran hidup padanya.


Mungkin sudah takdir pernikahan mereka, hingga dia bisa menikah dengan Rizal, sungguh Hana bahagia, mendapatkan suami yang tampan, keren, berwawasan luas, bahkan bisa dibilang ilmu agamanya juga gak cetek.


Selagi yang lain pada melaksanakan tarawih, Naira memilih kembali ke meja makan, kembali mengambil sayur mayur dan menuangkan bunbu pecel nya. Kebetulan juga ada ikan gurame goreng disitu. Kalo biasanya orang makan pecel lele, sekarang Naira mencoba Pecel gurame.


Rasanya juga gak kalah dengan lele, enak, batin Naira. Setelah kenyang menyantap makanan yang ada di piring nya hingga tandas, Naira bergegas untuk membereskan meja makan, lalu menaruh semua piring kotor di wetafel untuk di cuci nya.


Memang Naira adalah anak kesayangan Rizal dan Hana, dia juga anak satu-satunya mereka, tapi itu tak membuat Naira gak tinggi hati untuk bisa cuci piring. Dengan telaten dan perlahan dia mencuci sambil mendendangkan sholawat.


Bukan gak biasa Naira menyanyikan lagu dangdut saat cuci piring, tapi saat ini waktunya gak tepat, masak orang lagi sholat Naira malah dangdutan? Kan gak lucu..

__ADS_1


Selesai mencuci piring dan menata kembali piring-piring itu dalam rak, Naira menaiki tangga menuju kamar nya dan Nabil jika menginap disitu.


Sesampainya di kamar, Naira membuka Hp nya, ternyata ada pesan dari Rere.


Rere


Kak, bubar yuks...


18.30


"Assalamualaikum..."


Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Nabil yang terlihat sangat mempesona dengan balutan kain sarung dan baju koko, tak ketinggalan peci hitam yang bertengger tampat di kepalanya.


"Waalaikum salam, Udah selesai taraweh nya?" Naira mengambil tangan kanan Nabil dan mencium punggung tangan nya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Bil?" Tanya Naira khawatir, sebab sepertinya Nabil tengah merasakan sakit kepala.


"Bil... Nabil..." Naira coba menggoyangkan tangan Nabil, tapi Nabil malah pingsan.


Naira panik dan langsung berlari keluar kamar memanggil para orang tua.


"Kenapa Nai? Ada apa?" Tanya Hana bingung.


"Nabil, Mah. Pa, cepet, Nabil pingsang" Naira menjelaskan dengan terengah-engah.


Cepat-cepat mereka menuju kamar anak nya, setelah masuk, mereka mendapati Nabil yang tengah tergeletak tak sadarkan diri di atas rempat tidur. Lalu Surya dan Rizal langsung membopongnya menuju mobil untuk di bawa kerumah sakit.


Jangan tanyakan kondisi Iren, mendengar anaknya pingsan aja dia sudah menangis tersedu-sedu, apalagi dia melihat langsung anaknya yang terbaring lemah dengan jarum infus yang tertancap di tangan kanannya.


"Anak kita kenapa Pa?" Tanya Iren oada Surya sambil menangis.

__ADS_1


"Tenang ya Ma, masih di periksa dokter." Jawab Surya menenangkan istrinya. Padahal dalam hati nya juga dia sebenernya sangat takut terjadi hal yang berbahaya pada Nabil..


__ADS_2