TAKDIR CINTA NAIRA

TAKDIR CINTA NAIRA
Rumah Mertua


__ADS_3

"Assalamualaikum...." Naira dan Nabil mengucapkan salam berbarengan. Kini mereka berdua sudah berada di rumah papa dan mama Nabil, ya itu Surya dan Iren. Sedangkan Hana dan Rizal tengah berada di rumah orang tua nya.


"Waalaikum salam..." Terdengar jawaban dari dalam rumah. Rupanya mbok Nah yang membukakan pintu.


"Eh, Aden dan Non Naira,, silahkan masuk," Pinta Mbok Nah.


"Kok sepi Mbok? Mama mana? Papa juga?" tanya Nabil yang heran karena suasana rumahnya sangat sepi.


"Ada, Tuan dan Nyonya masih di kamar, tadi baru siap masak-masak Den,, Sebentar Mbok panggilin dulu ya,"


Nabil dan Naira duduk di ruang tamu menunggu Papa dan Mama nya keluar.


"Assalamualaikum... Anak mantu mama?" Iren yang baru keluar dari kamar langsung menyambut kedua anak menantu nya yang paling di sayangi nya.


"Waalaikum salam Ma.." Jawab keduanya sambil mencium tangan Iren.


"Papa mana Ma?" Tanya Nabil yang belum melihat Papa nya.


"Ada, masih di kamar, tadi mama buru-buru kemari, karena kata Mbok Nah kamu udah sampe.


"Mah, ini Nai bawakan Mama masakan," Naira menyerahkan satu rakit rantang yang berisi masakan yang selesai dia masak bersama Hana.

__ADS_1


"Uwaaaahhh,, apa ini? Kamu masak Nai?" tanya Iren antusias.


"Iya Ma, tapi masih di ajarin sama Bunda,," Jawab Naira malu-malu.


"Gapapa, yang penting Mama senang, mantu Mama pinter masak, walaupun baru belajar." Iren sangat antusias sekali dengan masakan Naira.


"Ya udah yuk kita ke meja makan, sekalian makan siang juga, kalian belum makan kan? ayuk ayuk..." Iren menarik lengan Naira dengan lembut, meninggalkan Nabil yang masih berdiri mematung.


"Kan gitu.. Kalo udah ada Naira pasti Aku di lupain deh," kesel Nabil.


"Beda lah, Nai ini kesayangan Mama, kan sayang kan?" Iren meminta persetujuan Naira, sedangkan Naira hanya tersenyum saja menanggapi candaan suami dan mertua nya.


"Gapapa, marah aja kamu. Ntar gak Mama siapin makan siang. Yuk Nai kita makan.."


Iren berjalan dengan semangat nya menggandeng tangan Naira. Bahkan ia sempat lupa sesaat kalo dia tengah lemah karena penyakit lama nya. Kedua anak nya adalah obat yang paling manjur yang pernah Iren rasakan saat ini dan mungkin untuk kedepannya. Kehadiran mereka di rumah ini membuat suasana bahagia. dan itu bisa menyehatkan jiwa nya, menurut nya.


"Eh, mantu Papa udah dateng. Waaah,, makan enak nih Ma?" Surya yang tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Iren.


"Iya Pa, mantu Mama yang masak. Pasti enak deh ini ya kan Pa?" Iren menambahkan...


"Iya deh,, yang punya Mantu.... anak nya sendiri di lupain..." Nabil pura-pura merajuk.

__ADS_1


"Eh, ada anak Papa juga rupanya,, gak nampak tadi Papa, saking gembiranya dibawakan masakan sama Mantu.."


"Anggap aja Nabil ngontrak disini Pah, semerdeka kalian aja deh.."


"Ulu ulu ulu.... Anak mamah merujak nih yeee..." ejek Iren


"Merajuk kali Mah,," kata Papa.


"Ha.. iya itu maksud Mama"..


"Ayah sama Bunda mu gak kemari Nai?" tanya Surya,


"Enggak Pah, Ayah sama Bunda kerumah Nenek, katanya mau munjung juga."


"Oh, iya lah, kan mereka masih punya ayah sama Ibu ya,,"


"Sama sama Papa gak ke tempat Oma?" Tanya Nabil sambil mengunyah makanan.


"Ntar aja mau deket lebaran baru kita mudik, sama kamu juga ya Nai," tunjuk Iren pada Naira,


"Iya Ma..."

__ADS_1


__ADS_2