TAKDIR CINTA NAIRA

TAKDIR CINTA NAIRA
Gamania Sugandi


__ADS_3

Hari beranjak sore ketika Naira en de geng selesai memasak makanan untuk buka puasa bareng.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, selesai memasak, mereka menunaikan sholat ashar dulu, setelah itu barulah mereka akan menyusun hidangannya.


Ruang tamu yang luas itu, yang biasanya berisi sofa besar dan panjang, kini berubah jadi lesehan beralaskan tikar, menambah kesan keakraban dalam pandangan.


Ada dua tempat yang di tata, meski masih dalam satu ruangan, tetapi itu harus di bagi untuk perempuan dan laki-laki. Rizal gak mau anak-anak remaja saling berbaur di satu tempat sedangkan mereka sudah pada baligh.


Ada satu lagi tempat untuk para orang tua, jadi total ada 3 tempat. Semua sudah di bawah standar pengawasan Rizal si tuan rumah.


Memang sih kesannya berlebihan, tapi ini untuk kebaikan bersama, Rizal dan Eko juga sudah menata ruang keluarga yang cukup luas itu untuk sholat Maghrib berjamaah.


Bisa di bilang persiapan mereka luar biasa mendekati sempurna, para kakek dan nenek Naira juga sudah berkumpul.


Ting nong.....


Suara bel berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Ketika pintu di buka, seseorang yang bisa di bilang tampan sedang berdiri di depan pintu, Hana yangelihat nya menautkan alis seolah bertanya, siapa ya??


Kalo kurir kenapa gak bawa barang? yang di bawa malah kantong plastik berisi buah jeruk. Kalo temen Naira kok ya agak tuaan ya, tampilannya juga gak kayak anak SMA, dari segi pakaian Hana juga bisa melihat kalo pria di depannya ini pasti seseorang yang bekerja, pakaian nya rapi, menarik.


"Maaf, cari siapa ya?"


"Assalamualaikum Buk, bener ini alamat xxx?" Tanya orang asing itu


"Iya Bener, anda cari siapa disini?" tanya Hana bingung, pasalnya alamat rumahnya bener alamat Hana.


"Maaf Buk, Saya di undang ke rumah ini sama siswi saya, nama nya Ayunda.."


"Ohhh. jadi ini pak Gama? Guru nya Yunda?" Hana heboh sendiri.


"Eh, anu, iya Buk,," jawab Gama Gugup.

__ADS_1


Ya, ternyata yang datang pertama adalah Gamania Sugandi, guru di SMA nya Yunda, guru favorit dan guru yang emmm.... mungkin di taksir sama Yunda kali ya..


"Jangan sungkan, panggil saya Bunda Na, kaya Yunda panggil saya, Saya kakak nya Bunda Yunda,,"


"Oh, eh, iya Bu..Bunda" Gama semakin gugup saja, di ramahin sama Hana.


"Silahkan masuk pak guru..." tawar Hana ramah. Hana menunjukkan kemana Gama harus berada. Hana membawa Gama ke taman belakang, meninggalkan Gama dengan Rizal, Eko dan Nabil. Sedangkan Hana pamit ke dalam untuk mempersiapka. buka puasa.


Gama semakin canggung di lihatin sama tiga lelaki yang kadar ketampanannya jauh di bandingkan dengan Gama, tapi kalau Gama sudah jadi bagian dari keluarga mereka ya bisa dibilang sebanding lah tampannya.


Gama gugup, canggung sekaligus malu. "Se...selamat sore pak.." Gama yang dari gugup malah jadi gagap.


"Kamu siapa ya?" Tanya Rizal. "Kamu temennya Naira?" Rizal udah tau ada Nabil disitu kenapa tanya ke Gama? seharusnya kan tau kalo Nabil aja gak negur, pastilah bukan temen Nabil, karna Nabil sendiri pun gak kenal.


"Maaf, Saya guru matematika Ayunda. Saya di undang oleh Ayunda untuk berbuka puasa disini." Jawab Gama memberanikan diri.


"Oh, jadi kamu guru itu?"selidik Eko


"Ya? mm... guru apa ya pak?" tanya Gama kurang paham.


"Saya baru di angkat jadi Guru honorer pak di sekolah Yunda, Saya juga di pindah tugaskan disini,"


"Memang nya kamu asal mana?"


"Saya dari kota sebelah pak, disini saya kos, jadi ketika Yunda mengundang saya, saya iyakan, saya kira acara teman sekolah nya,,"


"Mmm... Kenalkan, saya Rizal, Ayahwa Yunda, ini Eko, Ayah nya Yunda dan itu anak saya Nabil." Rizal memperkenalkan satu persatu diantara mereka.


"Gamania Sugandi... Guru matematika nya Yunda"


Tak butuh waktu lama untuk mereka mengakrabkan diri, Gama bisa masuk dalam pembicaraan mereka, dan mereka juga welcome pada Gama. Seperti nya Eko juga tertarik untuk menjadikan Gama sebagai menantunya.

__ADS_1


Dari perkenalan diri Gama tadi, Eko tau bahwa Gama adalah salah satu mahasiswa nya di kampus beberapa tahun lalu. Gama pun tak menyangka jika dia bisa bertemu langsung dengan Dosen legendaris yang selalu membuat kaum hawa memuja, padahal dia sudah mempunyai istri dan juga anak.


Gama berusia 24 Tahun, belum terlalu tua untuk Yunda, tapi dia sudah dewasa. Poin pertama Gama lulus sebagai calon mantu idaman Eko.


Gak ada yang tau isi hati Eko, walaupun dia gak setuju nikah muda, tapi Eko juga gak bisa melepaskan seseorang yang bagus akhlak dan prilakunya seperti Gama ini.


Selain itu, Gama ternyata juga menduduki posisi Cumlaude sewaktu wisuda, makanya Gama langsung mengajukan lamaran menjadi guru honorer ketika sekolah tersebut membuka lowongan. Suatu keberuntungan buat Gama, seka6ki daftar langsung di terima.


Tak segan-segan, Eko langsung menawarinya untuk melanjutkan S2 nya, Gama sampai bingung di buat orang tua dari muridnya ini, kenapa beliau baik sekali padanya, padahal dia juga baru pertama kali ketemu sama pak Eko ini.


"Kamu jangan sungkan-sungkan sama saya. Aya serius mau bantu kamu, kalau kamu mau melanjutkan pendidikan kamu, kamu bisa daftar jadi dosen di kampus saya, dan pastinya kehidupan kamu akan lebih terjamin. Bukannya saya meremehkan guru, tapi jika ada kesempatan yang lebih baik, kenapa gak di coba.." Jelas Eko panjang kali lebar hingga jadi luas.


"Terimakasih pak, atas tawaran Bapak, saya akan pikirkan dan bicarakan pada ibu saya, bagaimana pun cuma beliau yang saya punya saat ini. jadi saya akan meminta saran ibu saya dulu."


Pas, Gama penyayang, juga menghormati orang tua, Poin dua sudah dalam genggaman, Gama sudah berhasil melewati 2 tes dari Eko.


"Baiklah kalau begitu, nanti kalau kamu sudah dapat jawaban dari ibumu, segera hubungi saya, lewat Yunda juga gapapa."


"Baik Pak, terimakasih sekali lagi."


"Kamu itu gak usah sungkan-sungkan, jangan panggil saya bapak, panggil aja Ayah, Sama kaya Yunda."


"Eh,, Pak, eh Maksud saya Yah, apa itu gak terlalu berlebihan ya? sepertinya saya kurang pantas.." Gama merendah.


"Gak pantas apanya? bentar lagi kamu jadi mantu saya, jadi kamu harus memantaskan diri.."


"Eee?? maksud Bapak?"


"Saya gak maksud apa-apa, Saya hanya kagum sama kamu karna Kamu punya semangat juang yang tinggi, saya kira kamu pasti akan mampu menjadi pribadi yang sukses,"


"Insyaallah saya akan berusaha yang terbaik Pak, eh Yah.."

__ADS_1


Sungguh Gama tak menyangka kalau keluarga ini sangat baik dan ramah, sepertinya Gama akan betah jika menjadi bagian dari keluarga ini...


eee??? Gama ngarep ni..


__ADS_2