
"Kamu gak bantu Bunda buat kue Nai?" Tanya Nabil ketika mereka sedang duduk di pinggir kolam renang.
"Berat..." Jawab Naira sambil menghela nafas.
Nabil yang gak ngeh dengan jawaban Naira lantas melirik kearahnya, "Maksud nya??"
"Berat Bil. Aku puasa gampang ke goda nya. Lagian Bunda juga ngerti kok, dulu tuh asal disuruh bantuin buat kue pas puasa Akunya malah buka puasa saking gak tahannya cium aroma kue Bunda." Jelas Naira sambil mengingat kenangan yang dulu-dulu.
"Kayak anak kecil." Ledek Nabil.
"Gak tau juga kenapa begini kok, Emang gak bisa Aku nya, gimana donk.?"
"Ya udah gak gimana-gimana, tapi kan kasian Bunda buat kue jadi sendiri."
"Ada Bik Imah tu yang bantu Bunda." Naira menunjuk Bik Imah yang tengah menggiling adonan kue yang siap di cetak dengan muncung nya.
"Ya udah deh, Aku kesana dulu. mau bantu Bunda." Nabil beranjak dari sisi Naira dan pergi ke tempat sang Bunda yang sedang membakar kue di oven.
"Iya, eh, tapi Aku ikut deh, sekalian mau belajar." Naira beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
"Katanya berat?! Ya udah Aku aja, nanti kamu gak akan sanggup.."
"E elehhhh,,, cem dilan kamu tuh,,"
"Dikit...."
Mereka pun menghampiri Hana yang sedang membuat kue. Naira berlari ke kamar nya sehingga membuat Nabil bingung, tapi Hana yang mengetahui kelakuan anak gadisnya hanya geleng-geleng kepala saja.
Naira kembali dengan masker menutupi hidung dan mulut nya, Nabil mengangkat sebelah alisnya sembari kedua tangan yang tadi nya sedang mencetak kue berhenti, pandangan matanya seolah-olah bertanya "Kamu ngapain?"
Naira yang tau arti pandangan Nabil hanya menjawab santai, "Ini tuh salah satu pencegahan supaya Aku gak khilaf" kata Naira singkat, padat dan jelas.
Nabil hanya cengengesan melihat Naira seperti itu dan melanjutkan mencetak kue. Mereka bekerja dengan riang gembira, sampai adonan yang mereka cetak habis tak bersisa.
"Allahhu Akbar.... Allahu Akbar..... Allahu Akbar... La... Illaha Illallahu Wallahu Akbar... Allahu Akbar walillahil Hamdu"
Begitulah suara takbir menggema di seluruh penjuru dunia, mengingat hari ini adalah hari raya idul fitri, hari dimana manusia kembali fitrah.
Subuh keluarga Naira sudah bangun, dan bersiap, di meja makan sudah tersedia lontong sayur, daging rendang, opor ayam, sambel ati, dan masih ada beberapa hidangan lainnya.
__ADS_1
Setelah menunaikan sholat subuh berjamaah, mereka masih harus bersiap-siap untuk sholat berjamaah di masjid terdekat, karena masih dalam masa pandemik, mereka di wajibkan untuk memakai masker.
Naira dan Nabil pergi kerumah Surya dan Iren untuk sungkeman, meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah mereka buat pada orang tuanya,
Rasa yang haru, suasana yang baru buat mereka, ada juga terselip kesedihan diantara kegembiraan. Mereka masih bisa menjalani ibadah dengan khusyuk, tapi di lain sisi banyak orang-orang yang tidak bisa menikmatinya.
Setelah mereka bersalam-salaman, mereka berkunjung kerumah kerabat yang dekat-dekat saja, rumah tetangga, yang gak keluar dari kota tempat mereka tinggal.
Lain Nabil-Naira, lain pula jadwal Yunda-Gama. Saat ini, Gama tengah berada di kampung halamannya, bersama ibu nya yang sedang menikmati lontong sayur khas buatan sang ibu.
"Kamu betah disana le?" Le itu sebutan anak laki-laki dalam bahasa jawa.
"Insyaallah betah bu, apalagi muridnya ramah-ramah, oh iya, ada yang mau Gamanceritain ke Ibu "
"Cerita apa?" Tanya Ibu penasaran.
"Tentang salah satu siswi Gama"
"Apa itu?" tanya Ibu nya penasaran.
__ADS_1
Gama menceritakan awal pertemuannya dengan Yunda, sampai dia di undang ke rumah orang tuanya, bahkan saat dia juga di tawari beasiswa dari pak Eko.
Ibu nya sangat senang mendengar penjelasan sang anak danendukung penuh leputusannya jika itu memang yang terbaik buat masa depan anaknya.