TAKDIR CINTA NAIRA

TAKDIR CINTA NAIRA
Bubar


__ADS_3

"Loh, Pak Gama udah dateng?" tany Yunda saat melihat empat orang lelaki tampan masuk kedalam rumah dari pintu belakang.


"Udah, terimakasih kamu udah mengundang saya, saya jadi kenal sama orang-orang hebat seperti Ayah dan Ayahwa kamu." Jawab Gama pada Yunda.


Menurut Gama, Yunda adalah sosok perempuan yang manis, kulit putih, hidung mancung, wajah oval, hampir sama seperti pak Eko, pantas lah Yunda punya banyak kelebihan, toh bapak nya juga begitu.


Saat ini temen-temen Naira udah pada dateng, temen sekelas nya dan juga ada temen nya yang sudah duduk di bangku kelas XII, mereka tak luput dari undangan Naira.


"Assalamualaikum Nai, apa kabar?" Nuke yang berjalan bersisian dengan Fitri memeluk Naira, rasanya udah lama sekali mereka tak bertemu.


"Alhamdulillah Aku baik Nuk,," naira membalas pelukan Nuke.


"Ish, Aku ikutan juga donk,, kok kalian aja sih. Aku kan juga mau di manjah manjah..." Fitri menimpali, jadi lah mereka bertiga berpelukan kaya teletubbies.


Anak anak lain yang melihat keakraban mereka tersenyum dan tak dapat di pungkiri juga merasa iri, memiliki sosok sahabat seperti mereka itu.


"Assalamualaikum Bos..." Kata Delon dan Rian bersamaan, mereka menyalami Nabil.


"Waalaikum salam,, sehat Bro?" kata Nabil pada mereka berdua saat melakukan salam ala pria.


"Alhamdulillah kami sehat, cuma kantong aja yang agak jebol,," jawab Rian asal.


"Emangnya kenapa?" Tanya Naira penasaran.


"Lah iya, ni si nyonya Fitri, asik ngajak buka puasa di luar terus.." bibirnya manyun.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu gak ikhlas yank? Ya udah, besok kita buka puasa di rumah masing-masing ajah. Toh kemarin-kemarin juga kamu yang nguber-nguber Aku ngajak makan di luar terus.." Jawab Nuke sewot.


"Udah udah, kalian ini, urusan rumah tangga jangan di bawa ke rumah orang, malu, mending yok kesana, tuh udah disiapin es teh manis sama Bunda Na." Delon menengahi perdebatan sepasang kekasih itu.


Sungguh Naira rindu dengan mereka, tanpa terasa tatapan Naira kosong, mengingat kejadian dimana dia kehilangan beberapa temannya, seandainya... Ah, sudahlah, Naira tak ingin mengingat hal itu, Naira masih agak trauma dan merasa bersalah.


"Udah, jangan di pikir kali, nanti kamu sakit, yuk kesana, masak tuan rumah sedih sih," Nabil menepuk pundak Naira dan mrngajaknya berkumpul dengan teman yang lain.


Acara buka puasa bersama berjalan dengan lancar, setelah sebelumnya mereka melaksanakan sholat maghrib bareng yang di pimpin oleh Kakek Naira, sekarang mereka menikmati hidangan utama yang udah di masak oleh Naira dan Bundanya, gak lupa pula Onty serta Yunda.


Setelah makan, mereka berbincang-bincang seperti mereka adalah keluarga besar. Tak ada yang di beda-bedakan disini, semuanya sama, keluarga Naira sangat menghargai anak-anak itu. Mereka berasa seperti dirumah sendiri, walaupun baru pertama bertemu, tapi keluarga Naira sudah menganggap mereka seperti anak-anak mereka sendiri.


Selagi mereka berbincang, Yunda yang melihat tumpukan piring kotor merasa risih dan berlalu meninggalkan mereka, menuju ke dapur untuk mencuci piring. Gama pamit pada pak Eko untuk ke toilet, sekeluarnya dari kamar mandi, dia melihat Yunda yang tengah asik mencuxi piring sendirian.


"Eh, bapak disana aja, ngapain bantuin saya, ini kerjaan perempuan pak," jawab Yunda yang malu luar biasa.


"Kamu kira saya gak bisa cuci piring?" Tanya Gama ketus.


"Kan saya gak bilang bapak gak bisa cuci piring. Saya cuma bapak minta duduk di dapan aja, ngapain repot-repot ngotorin baju baoak buat cuci piring.."


"Saya emang niat bantu kamu. kenapa kamu larang, seharusnya kamu berterimakasih sama saya, karna saya mau bantu kamu."


"Terserah bapak aja deh. Semerdekanya bapak aja. Dikasih *** malah nyolot."


Hening, gerutuan Yunda tak di gubris sama Gama. Kalo ada yang tanya kenapa kok Gama jadi galak ya? emang ternyata itu sidmfat Gama, gak di kelas atau pun di luar jam sekolah, Gama palig gak suka di Bantah untuk hal yang di kerjakannya, apalagi niatnya cuma bantuin cuci piring. Bukannya Gama gak mampu. tapi cuci piring sudah menjadi kegiatan sehari-harinya. Apalgi sekarang Gama anak kos.

__ADS_1


Meninggalkan mereka yang sedang cuci piring, ternyata di ruang tamu, Rizal sedang memberikan ceramah pada anak-anak, mengrnai masa depan mereka yang masih panjang. Rizal memberikan wejangan-wejangan pada mereka yang sebentar lagi ikut ujian kelulusan, dan memotivasi anakhanak yang masih berada di kelas sebelas.


Setelah Rizal, giliran pak Eko pula, dan mereka yang duduk merasa seperti mereka sedang berkuliah, berstatus mahasiswa, padahal status mereka masih lah anak SMA.


Banyak bekal yang mereka dapatkan setelah acara bubar di rumah Naira. Apalagi ada pak Eko yang siap memberikan beasiswa full pada anak-anak yang memiliki niat juang untuk kuliah dengan nilai yang bagus. Jadilah mereka semua termotivasi dengan ucapan Rizal dan Eko.


Begitupun juga Naira dan Nabil yang termotivasi untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Jika memikirkan pendidikan dan jurusan apa yang akan di pilih, sepertinya Nabil dan Naira akan berpisah kampus, karena mereka memiliki minat dan hobi yang berbeda. Bahkan Nabil juga ingin kuliah ke luar negeri. Tapi Naira lebih memilih untuk kuliah di dalam negeri.


Ah, ngapain cepat kali di pikirin, tok masih lama juga, pikir mereka berdua. Tapi, siapkah Naira jika harus berpisah dengan Nabil? dan apakah Nabil juga sanggup berjauhan dengan sang istri? Mari kita pikirkan itu nanti. yang penting sekarang, mereka berdua masih sama-sama duduk di bangku kelas XI. Masih ada waktu setahun buat mereka memantapkan hati.


"Alhamdulillah ya Nai, niat kita udah terlaksana..." Kata Nabil setelah keluar dari kamar mandi.


"Iya Bil, tapi saat Aku liat Nuke dan kawan-kawan, Aku masih teringat sama kejadian dulu, rasanya gak pernah ilang dari ingatanku," Naira meneteskan air mata kesedihan.


"Ya udah, ikhlaskan Nai, gak baik kamu masih berpikiran menyalahkan dirimu sendiri," Nabil menasehati sambil memeluk Naira. "Yang terpenting sekarang, kita jalani kedepannya, yang lalu sebagai pembelajaran buat kita ya," Tambahnya.


"Iya Bil, Aku berusaha Ikhlas untuk mereka,"Jawab Naira seadanya.


"Sekarang ayok tidur, besok masih harus sahur." Ajak Nabil.


"Tapi kepala kamu gimana? masih sakit?" tanya Naira khawatir.


"Enggak, semenjak minum obat gak pernah kumat lagi kok," Jawab Nabil sambil menggeleng.


Naira merasa lega dalam hati.. Alhamdulillah ucapnya..

__ADS_1


__ADS_2