
Miya terus memegangi tangan andre saat ia di larikan keruang operasi " ku mohon bertahanlah" ucap miya lirih,dan pegangan tangannya pun terlepas saat soster mencegahnya di depan pintu ruang operasi," tenanglah mba biarkan kami mengerjakan tugas kami,mba tunggu saja di luar !" ucap suster itu,dan kemudian bergegas menutup pintu ruang operasi itu,dan lampu operasipun menyala.
Miya terus menatap pintu ruang operasi,rasa cemas terus menyelimuti perasaannya,
bahkan bajunya yang kini berlumuran darahpun tak di hiraukannya,.
Miya datang bersama tiyas,ketempat andre dan widya berada,setelah mendapat kabar haris terluka dan di bawa kerumah sakit,walaupun andre memenangkan pertarungan, hati miya tidak bisa tenang,apa lagi saat ia tau andre tidak ingin di temani anak buahnya,
dan benar saja, saat miya dan tiyas datang, andre sudah terkulai dan tak bergerak lagi,
Tiyas menghampiri miya dan menyodorkan sebotol minuman air meneral untuknya,namun miya menggeleng,rasa khawatirnya mengalahkan rasa lelah dan hausnya.
" ka miya minumlah,kaka sangat lelahkan?" bujuk tiyas
miya menggeleng dan tersenyum,terlihat matanya yang sembab dan garis bekas air mata yang mengering di pipinya
" kaka baek- baek saja,ti " jawab miya serak
miya mendongak ke atas lampu merah yang masih menyala di atas pintu ruang operasi itu
" sudah dua jam,tapi tidak ada satupun dokter yang keluar memberi kabar "
Tiyas duduk di samping miya,dan meraih tangan calon kaka iparnya itu,miya menoleh pada tiyas
" yakinlah,kak andre pasti kuat,dan kaka juga harus kuat disini demi kak andre "
__ADS_1
tiyas mencoba memberi semangat
dan sekali lagi ia menyodorkan minumannya,
dan kali ini miya mau menerimanya.
Namun belum sempat miya meminumnya,
tiba- tiba ruang operasi terbuka,
dengan serta merta miya berdiri dan menghambur ke arah dokter,
" bagaimana?" tanya miya cemas
dokter itu membuka masker dan penutup kepalanya
" peluru yang menembus dada pak andre sangat dalam,dan bahkan hampir mengenai jantungnya dan sebagian pembuluh darah kecilnya pecah akibat tembakan itu"
dokter menghentikan bicaranya saat melihat miya yang mundur selangkah,dokter itu menepuk bahu miya
" kami sudah berusaha semaksimal mungkin,kesembuhan pak andre hanya mungkin tiga puluh persin,maafkan kami nona miya"
ucap dokter itu dan berlalu pergi,rasa bersalahnya tidak bisa memberi kabar bahagia,membuatnya tidak bisa berlama- lama menghadapi keluarga pasein.
Miya lunglai dan bersimpuh terduduk di lantai,
__ADS_1
kata- kata terakhir dokter seakan mengambil seluruh tenaganya,tatapan miya kedepan namun dengan tatapan kosong,
sementara tiyas hanya mematung di tempatnya
kaka yang selama ini menjaga dan menyayanginya
kini harus bertarung dengan nyawanya sendiri,.
Dengan di papah pengawal andre,miya bangkit dan menuju ruangan andre yang tengah terbaring koma,dengan beberapa selang bantuan pernapasan di mulut dan hidungnya.
pengawal andre mendudukkan miya di samping andre,dan setelah itu ia pergi keluar untuk kembali berjaga dari luar,sementara tiyas yang jatuh pingsan segera di berikan perawatan di ruangan laen.
Miya menyentuh tangan andre,dan menyatukan jemarinya dengan jemari andre.
miya terdiam menangis tanpa bersuara menatap cinta pertamanya yang kini entah sampai kapan bisa bertahan ,miya menciumi punggung tangan dan telapak tangan andre,menuangkan segala rasa,entah rasa sakit atau takut akan kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya
" jangan pergi" bisik miya di sela tangisnya"
"jangan biarkan aku menanggung semua rasa bersalahku sendirian,"
" komohon "
miya menatap andre yang tak bergerak sedikitpun,hanya ada suara mesin yang kini menupang detak jantung dan pernafasannya kini.
author
__ADS_1
maaf ya up nya lama,
sempat down,karena karya author ga ada kemajuan heehehe egois ya autornya,maaf ya say😚😚😚😚😚