TAKDIR CINTA PERTAMAKU

TAKDIR CINTA PERTAMAKU
63


__ADS_3

Hari ini Juna Meminta kepada pengawal pribadinya untuk mengawasi mereka dari belakang dengan mobil lain,sementara juna dan miya satu mobil bersama,.


"boleh ku tanyakan sesuatu?", tanya juna seraya melirik ke arah miya di sampingnya


" Tanyakan saja", jawab miya


" Apa kau punya musuh?",tanya juna lagi


" tentu saja aku punya",jawab miya


" siapa dia?",tanya juna penasaran


" bukan kah orangnya bersamaku saat ini", jawab miya


sinis


Juna tertawa geli di buatnya


"ayulah, aku serius", ucap juna sungguh- sungguh


"dan aku sama sekali tidak bercanda",jawab miya


tatapan matanya tajam mengarah pada juna.


Memang benar adanya mereka sebenarnya adalah dua perusahaan yang tengah memperebutkan saham yang sangat berharga,tapi entah kenapa keduanya malah terjebak dalam situasi yang membuat mereka selalu saja bersama.


" Lalu siapa wanita bercadar yang begitu berniat ingin membunuhmu?", tanya juna penuh selidik


Miya memalingkan wajahnya,otaknya pun kini tengah berpikir siapa sebenarnya,yang ingin mencelakainya dua kali dalam satu malam itu.


Tiba- tiba miya teringat sesuatu,dengan cepat ia berbalik dan memeriksa pergelangan tangan juna


gerakan miya yang begitu cepat,membuat juna mengaduh merasakan nyeri di pergelangan tangannya.


"Maaf," ucap miya,


Juna menghentikan mobilnya,rasa nyeri membuatnya tak bisa berkonsentrasi


" maafkan aku,aku tidak sengaja",ucap miya lagi merasa sangat bersalah


" tidak apa- apa, hanya terasa sedikit nyeri" ucap juna


" bisa gantikan aku menyetir sebentar", pinta juna


Miya mengangguk,dan merekapun bertukar posisi


juna menyandar seraya memegangi tangannya


"aku dan andre sudah sangat lama tidak bertemu,dunia kami tidaklah jauh berbeda,"


ucap juna bercerita


Sementara miya diam saja menyimak setiap yang di ucapkan juna


"kami merintis usaha yang sama sewaktu di london


dan dia pulang ke indonesia satu tahun yang lalu,

__ADS_1


terakhir saat dia balik ke london pernah bercerita tentang seorang gadis,dan aku rasa itu adalah kamu,"


ucap juna seraya melirik ke arah miya,senyum manis terukir di wajah pria tampan itu


"Dia bilang kalian terlibat suatu komplik yang membuat haris terluka,dan dia terpaksa meninggalkan gadis itu",


" kita hampir sampai"ucap miya memotong cerita juna yang membuatnya terasa sulit untuk bernafas


miya menyeka air matanya,saat ia memarkirkan mobil juna,.


Juna menangkap pergelangan tangan miya,mencegah miya untuk keluar dari dalam mobil


"ada apa sebenarnya,apa semua ada hubungannya dengan kematian andre?".


Miya tidak ingin menjawab,hatinya benar-benar terasa sakit sekarang.


" miy..!!!," panggil juna pelan,


miya tidak ingin menoleh pada juna,


hanya isak tangis yang terdengar lirih darinya.


Juna bergegas keluar dari dalam mobilnya,


miya mendongak saat pintu mobil di sebelahnya di buka oleh juna,belum hilang rasa keterkejutannya tiba- tiba saja juna mengangkat tubuhnya dari dalam mobil,


miya meronta sekuat tenaga,namun juna tidak menghiraukannya sama sekali,bahkan rasa sakit di pergelangannya pun tak di hiraukannya.


Sesaat juna berbalik kepada para pengawalnya


Dan setelahnya,mereka sibuk dengan pengunduran jadwal pekerjaan presdir mereka.


Sementara itu,juna melepaskan gendongan saat mereka berada didalam lifh khusus untuknya.


miya mendengis kesal saat juna melepaskannya


" kau bisa menurunkan aku tadi,aku bisa jalan sendiri",


gerutu miya kesal


juna memegangi tangan miya saat lifh terbuka dan juna berjalan menuju ruangannya ,


miya hanya pasrah mengikuri juna,karena tangannya begitu erat di pegangi juna.


" lepaskan tanganku,aku malu seperti ini" ucap miya yang jadi pusat perhatian para staf dan karyawan juna


" kau dengar aku" teriak miya,


juna membuka pintu ruangannya dan setelah mereka masuk juna menguncinya


" apa yang kau lakukan" ucap miya panik saat mengetahui pintu ruangan itu terkunci


Juna menarik tubuh miya hingga menyandar di pintu, dan mengunci tubuh miya dengan kedua tangannya


" apa yang kau lakukan?", miya kembali mengulang pertanyaannya,juna menakuti miya dengan berpura- pura hendak menciumnya,miya yang tidak dapat menghindar hanya bisa memalingkan wajahnya dari pria itu,.


Dan kemudian juna berucap

__ADS_1


" Tidak ada,aku hanya sedikit terganggu dengan mulut cerewetmu itu", ucap juna,dan berbalik menuju sofa,miya menghela nafasnya yang sedari tadi terasa mencekiknya,akibat ulah juna yang tiba- tiba ingin menciumnya.


" Bisa kau gantikan perbanku",pinta juna seraya melepaskan kemejanya


terlihat perban itu penuh dengan darah,bahkan sedikit mengenai kemeja juna


Miya yang sempat kesal,karena di katai mulut cerewet akhirnya menurut saat melihat juna yang sedikit kesulitan membuka kemejanya


" biar ku bantu" ucap miya,dan membantu juna untuk


membuka kemejanya.


Saat melihat darah,tangan miya gemetaran dan tubuhnya seketika berkeringat,


melihat perubahan miya,juna menggenggam tangan miya


" jangan takut," ucap juna meyakinkan


" pergilah,dan menjauhlah,aku akan lakukan sendiri" ucap juna,dan berdiri untuk melangkah pergi kekamar yang ada di ruangan itu


namun miya menghentikan juna


" tidak apa,aku akan membantumu",


" kau yakin",ucap juna mencuba meyakinkan


miya mengangguk,walau sedikit ragu


"obat dan perbannya ada di sana !", tunjuk juna


miya mengangguk dan pergi mengambil obat dan perbannya.


Setelah mengambil obat,miya meletakkannya di atas meja,


" apa kau yakin" ,ulang juna saat melihat miya sedikit ragu untuk membuka perbannya


" biarkan aku bernafas sebentar" omel miya dan juna tertawa di buatnya,miya menatap kesal pada juna yang menertawakannya


Dengan perlahan miya membuka perban di tangan juna,sementara juna tersenyum melihat pergerakan demi pergerakan miya,hati juna sedikit lega perlahan namun pasti gadis itu sudah mulai berani dengan yang sangat di takutinya


Saat perban sudah habis terlepas,juna menghentikan tangan miya yang ingin menyingkirkan perban di mata lukanya


" biar aku lakukan sendiri,aku takut tidak sanggup melihatnya", cegah juna


miya mendengos kesal,


" aku tidak sepenakut itu" gerutu miya kesal


dan setelah perdebatan kecil,akhirnya juna pun mengalah.


Miya meminta air hangat pada seorang OB di kantor itu,dan setelah air hangat ia terima,dengan perlahan dan hati- hati miya menyingkirkan perban di mata luka juna.


author


bersambung dulu ya.....


like x kurang kenceng,kencengin dong biar author semangat nerusinnya😁😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2