
"Tuan apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja"
ucap sang pengawal saat mereka dalam perjalanan
" tidak,kita langsung kerumah saja,panggil dokter kanita,katakan aku terkena tembakan dan juga ada temanku yang terluka"
Titah juna langsung mendapat anggukan dari pengawalnya,juna menatap wajah miya yang masih pingsan di pangkuannya.
Sesampainya dikediamannya,juna langsung keluar dari dalam mobil menggendong miya
semua pelayan menyambut kedatangan mereka
karena pengawal pribadi juna mengabari kalau tuan mereka terluka.
Saat juna keluar,beberapa pelayan wanita menghampiri juna dan mengambil miya dari tangan juna
" bawa dia kekamarku !" perintah juna
para pelayan mengerjap,seakan tak percaya baru kali ini tuannya,mengizinkan orang lain tidur di ranjangnya,
dan kemudian mereka mengangguk saja.
Setelah mengganti pakaian miya dan membersihkan tubuhnya,para pelayan pamit keluar dari kamar juna
dan tak berapa lama kemudian,dokter Kanita datang dengan dua suster kepercayaannya
Juna memberi saran agar dokter kanita memeriksa keadaan miya saja,dan dia di rawat oleh dua suster kanita saja.
" Bagaimana keadaannya?" tanya juna,kini tangannya sudah hampir selesai di perban oleh suster,setelah peluru yang bersarang di tangannya di keluarkan
"Sepertinya dia baru saja mendapat tekanan batin yang sangat hebat," jawab kanita seraya menghampiri juna
__ADS_1
" Beruntung dia seorang wanita yang sangat kuat,bukan saja pisik tapi mintalnya,
hampir sembilan puluh persen,orang yang mendapat tekanan batin seperti dia,akan berakibat patal,dia bisa gila bahkan mengakhiri hidupnya"
Juna berdiri menghampiri miya dan menatap tubuhmya yang terbaring lemah,
"apa yang harus di lakukan,agar dia bisa normal kembali?" ucap juna menatap lekat tubuh miya yang tak berdaya
" buat dia selalu bahagia agar perlahan dia bisa melupakan rasa traumanya,jangan sesekali membuatnya mengingat sesuatu berkaitan dengan masa lalunya"
Juna mengernyitkan keningnya,
" dia bahkan mengurus perusahaan yang berkaitan dengan masa lalunya" ucap juna
kanita tersenyum dan mendekati juna
" sudah ku bilang dia wanita hebat,mintalnya sangat kuat," jawab kanita ikut memandangi miya
" dia ketakutan saat melihat ku terluka,apa ada kaetannya dengan kematian andre?"
" mungkin saja,apa kamu tidak bertanya,bagaimana sahabatmu itu meninggal?" tanya kanita
Juna menggeleng,dan keduanyapun diam dengan pemikiran mereka masing- masing.
Semalaman Juna tidak bisa memejamkan matanya,
Miya seringkali mengigau dan berteriak ketakutan
dan juna selalu mencuba menenagkannya
dan saat jam enam pagi,juna baru bisa memejamkan matanya dengan tenang.
__ADS_1
Miya membuka matanya perlahan,miya mengerjapkan matanya saat merasakan berat di perutnya, lengan juna melingkar erat di bagian perut hingga pinggangnya
Miya menoleh ke arah juna yang tidur tengkurap di sampingnya,miya mencuba mengingat- ngingat kejadian tadi malam,dan dia pun sadar,kalau lengan andre yang di perban adalah terkena tembakan tadi malam,
Miya tidak tega memindah tangan juna,hingga akhirnya ia pun mencuba beringsut menggeser tubuhnya kesamping,namun gagal akhirnya juna terbangun juga.
" Kau sudah bangun?" tanya juna dengan suara serak
miya mengernyit heran dengan lingkar mata juna yang sedikit bengkak
" apa kamu tidak tidur tadi malam?" tanya miya
juna duduk,dan miya baru sadar kalau juna telanjang setengah dada,.
Miya memalingkan wajahnya karena risih dengan pemandangan di depan matanya,
juna tersenyum melihat tingkah miya yang terlihat polos
" kau sangat nakal tadi malam,kamu tidak bisa membiarkan aku tidur semenitpun" bisik juna sambil mencundongkan tubuhnya
sontak miya memalingkan wajahnya kepada juna,dan kalau saja juna tidak mengingat pesan dokter kanita
mungkin juna sudah ******* bibir mungil yang sangat dekat dengan bibirnya itu.
Miya meraba tubuhnya,benar saja kemana bajunya tadi malam,dan.....
" apa kau yang mengganti bajuku?" selidik miya
juna beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi
" kau belum halal untukku,nanti kalau sudah halal akan ku gantikan tiap hari,bahkan juga melepaskannya tiap malam"goda juna,seraya menutup pintu kamar mandi
__ADS_1
Ingin sekali miya melempar bantal kearah juna,namun telat pria itu sudah menghilang di balik pintu.
Dan juna tertawa dengan suara tertahan didalam kamar mandi,bahkan ia dapat membayangkan wajah kesal gadis cantik itu.