
Miya melirik juna yang sedari tadi menatapnya,
karena kesal dan sedikit grugi di perhatikan......!
" awwww....,"pekik Juna,
Miya sengaja sedikit menekan di titik luka juna,
melihat juna yang terlunjak kaget dan sedikit mengerang kesakitan,
Miya menggigit bibirnya menahan tawa
" sakit miy,"ucap Juna
Miya tidak menyahut ia hanya diam dan pokos membersihkan luka juna.
setelah cukup bersih,miya kembali membalut luka Juna dengan perban.
" sekarang sudah selesai,dan bersiaplah..!, bukan kah hari ini kau ada rapat !?," ucap miya sambil membuang perban kotor ketempat sampah
Miya melirik juna yang sedikit kesusahan memakai kemeja,
" biar ku bantu," ucap miya seraya memasangkan kemeja juna dari belakang,
seketika darah juna berdesir,entah mengapa setiap sentuhan yang di berikan miya membuatnya selalu merasakan sesuatu yang berbeda.
" maaf" ucap miya,ketika mereka saling berhadapan,miya membantu memasangkan kancing kemeja juna,
Juna berdehem sesaat menetralkan jantungnya yang kian berdegup kencang
" kenapa kau minta maaf?",
" tidak ada,lupakan saja", ucap miya kembali,
pikirannya kacau entah mengapa ia memikirkan siapa wanita bercadar yang ingin mencelakainya.
__ADS_1
" Ayo..!!!", ajak juna,
Miya menggeleng,membuat juna mengernyit heran
" Aku bukan lagi presdir di perusahaan wijaya,aku bukan siapa- siapa sekarang,tugasku sudah selesai" ucap miya,menjawab rasa penasaran juna
" Sejak kapan?," tanya juna
" sejak kemarin,"
" aku senang,setidaknya,bisa menebus sedikit rasa bersalahku" ucap miya seraya tersenyum kecut
juna memperhatikan wajah pucat gadis itu, walaupun berusaha tegar,juna dapat melihat air mata yang tertahan di mata gadis itu.
"Sekarang apa rencanamu?," tanya juna penasaran,tiba- tiba saja ia teringat ucapan tiyas kalau miya akan meninggalkan kota ini,
" Aku ingin melihat pernikahan sahabatku hari ini," jawab miya santai
" dan.!?," imbuh juna
" dan.....!" ucapan miya terhenti,
Miya memalingkan wajahnya,menyangkal perasaannya sendiri,
Juna mencegat langkah miya saat gadis itu hendak melangkah menjauh,
sunyi tak ada suara di ruangan itu,
Juna meraih pundak gadis itu,dan membalikkan tubuhnya untuk mereka saling berhadapan
"jangan menyalahkan dirimu atas semuanya,bukankah semua sudah takdir jalan hidup masing- masing" ucap juna
miya tertegun menatap manik mata pria tampan itu
"tanpa adanya kamu ataupun tidak,andre akan tetap tiada" ucap juna lagi
__ADS_1
miya menitikkan air matanya,menangis hanya itu yang bisa mewakili perasaannya saat ini
Juna memeluk tubuh miya yang bergetar,juna memeluknya erat,memberi tumpuan untuk gadis itu meluapkan semua kesedihannya.
" Jangan selalu menyalahkan kesalahan hanya kepadamu miy" bisik juna.
miya tidak menjawab,ia memeluk pria itu semakin erat dan menangis sejadi- jadinya.
Juna mengangkat tangannya saat pengawal hendak memberi tahukan kalau rapat akan segera di mulai.
Setelah miya cukup tenang,juna melepaskan pekukannya,
" apa sekarang lebih baik?" tanya juna
miya mengangguk pelan
juna menggiring miya untuk maduk kedalam kamar pribadinya di ruangan itu
" tunggu di sini,aku akan segera kembali" ucap juna yang kembali mendapat anggukan dari miya.
Juna meninggalkan untuk menghadiri rapat pentingnya.
Seperginya juna,miya menatap sekeliling kamar itu
kamar yang indah dan rapi,tak banyak barang di sana dan hanya beberapa foto yang terpajang rapih,dan tatapan miya terpokos pada bingkai foto yang terpajang di nangkas.......!!!!
maaf telat offnya
tiba- tiba saja otak buat bikin cerita beku....
huaaaaaaaaa ππππ
__ADS_1
kasih vote dong sayyyyyyyyy
biar incer......kaya semangka di blindirππππππ