Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 16 : Aku Sedikit Bermain Dengan Perasaannya! (Part 1)


__ADS_3

Kebahagiaan berasal dari kesabaran...


Keharmonisan berasal dari kepercayaan...


Cinta nan indah telah hadir...


Kasih sayang kan indah telah terukir...


Surya telah mampu menampakkan cahayanya...


Bulan telah menerima cintanya...


Takdir bahagia telah terbentang...


Meniti kebahagiaan hakiki...


~By:Fanisa/xiaochan520~


*****


Hari itu diumumkan kematian kaisar Fang Zhao. Semua merasakan kesedihan yang mendalam. Seluruh kerajaan Fang berkabung atas kematian kaisar Fang Zhao. Pangeran Fang Yi sangat terpukul dengan kejadian ini. Pangeran Fang Yi meminta waktu untuk menunda hari penobatannya sebagai kaisar yang baru. Dia mengurung dirinya di dalam kamar dan tak mau menemui siapapun termasuk istri dan anak-anaknya. Saat ini di hatinya hanya dipenuhi penyesalan, kesedihan dan goresan luka yang sangat besar.


"Maaf. Maafkan anakmu. Maafkan aku ayah. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan memenuhi semua keinginanmu." ucap pangeran Fang Yi penuh isak tangis.


"Sayang. Suamiku. Sudah dua bulan ayah kaisar pergi. Bisakah kau membukakan pintu ini untuk kami? apakah kau tidak ingin bertemu kami?" ucap Zhang Lin penuh kekecewaan.


Tok.. Tok.. Tok..


"Suamiku, apakah kau mendengarkan aku bicara? bisakah kau membuka pintu kamarmu?" ucap Zhang memanggil pangeran Fang Yi lagi.


Namun tak ada tanda-tanda pintu itu dibuka. Zhang Lin memahami perasaan suaminya. Namun dia juga kecewa dengan suaminya yang terlarut dengan kesedihannya tanpa memikirkan perasaan anak-anak dan istrinya yang masih ada di dekatnya.


"Baiklah jika kamu tidak mau membukanya. Aku tidak akan pernah memintamu lagi membuka pintu ini" teriak Zhang Lin dengan nada merajuk.


Pangeran Fang Yi tetap diam seribu bahasa. Tak ada respon apapun. Dia benar-benar masuk ke dalam dunia kesedihan. Zhang Lin tidak tinggal diam, dia membuat sebuah rencana bersama anak-anaknya. Mereka bertiga membuat rencana tanpa sepengetahuan orang istana. Mereka ingin pangeran Fang Yi benar-benar bangkit dari kesedihannya dan bahagia kembali. Seminggu sudah berlalu. Tidak ada satupun orang terkasihnya datang ke kamarnya. Baik itu Zhang Lin maupun si kembar. Hingga pangeran Fang Yi mulai cemas dan sadar akan sikapnya yang sudah membuat Zhang Lin merajuk.


"Pelayan.. Pelayan.. Panggil istriku kesini" perintah pangeran Fang Yi.

__ADS_1


Setelah cukup lama menunggu, pelayan itu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Perasaan pangeran Fang Yi semakin cemas. Akhirnya pelayan itu datang dan berkata:


"Lapor pangeran Fang Yi, hamba tidak menemukan keberadaan putri Zhang Lin dan anak-anaknya. Mereka tidak ada di kediamannya. Hamba sudah mencari ke seluruh istana dan tidak ada tanda keberadaanya. Hamba mencari di kamar anak-anak, tetapi tetap sama, kamarnya kosong." ucap pelayan istana dengan panik.


"Apa? Cepat panggil Qiang De kesini!" perintah pangeran Fang Yi kembali.


Setelah cukup lama menunggu pengawal rahasia itu.


"Lapor yang mulia. Hamba disini. Apakah ada perintah untuk hamba yang mulia?" tanya Qiang De dengan tegas.


"Dimana putri Zhang Lin?" tanya pangeran Fang Yi dengan cemas.


"Jawab yang mulia. Putri Zhang Lin menyuruh hamba menjaga yang mulia. Karena putri Zhang Lin bersama anak-anaknya pergi berkunjung ke tempat kediaman jendral Zhang Ye." ucap pengawal itu.


"Lalu kapan mereka akan kembali?" tanya pangeran Fang Yi terkejut.


"Jawab yang mulia. Hamba tidak tahu yang mulia. Tapi putri Zhang Lin sempat berbicara dengan anak-anak bahwa dia akan pergi dari istana dan takkan kembali." ucap pengawal itu dengan pelan.


"Apa? dia tidak akan kembali? apa istriku marah kepadaku?" teriak pangeran Fang Yi semakin cemas.


"Cepat siapkan semuanya untukku. Aku akan menjemput istri dan anak-anakku" perintah pangeran Fang Yi kepada pelayan.


Saat ini segala urusan negara masih diserahkan orang kepercayaan pangeran. Pangeran Fang Yi memberikan surat kuasa untuk mewakilinya mengurus istana selama dia belum dinobatkan sebagai kaisar baru. Setelah peristiwa menyedihkan itu, ketenangan di istana akhirnya kembali lagi. Mereka hidup secara damai. Meskipun masih banyak para pejabat yang belum diusut untuk kasus korupsi dan penindasan rakyat. Para pelaku yang telah meracuni kaisar dan pangeran Fang Yi yang sampai saat ini belum terungkap. Setidaknya ada masa-masa tenang untuk pangeran Fang Yi hidup tenang dan damai.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju ke kediaman jendral Zhang Ye. Akhirnya pangeran Fang Yi tiba. Namun dia tak melihat tanda-tanda keberadaan istri dan anak-anaknya.


"Hormat yang mulia" sapa jendral Zhang Ye.


"Salam Jendral Zhang Ye. Bagaimana kabarmu?" tanya pangeran Fang Yi sambil melihat-lihat mencari istri dan anak-anaknya.


"Hamba baik yang mulia. Apakah ada sesuatu yang terjadi, sehingga membuat yang mulia berkunjung ke kediaman hamba?" tanya Jendral Zhang Ye dengan lembut.


"Jendral Zhang Ye, apakah anak-anak dan istriku berada disini?" ucap pangeran Fang Yi tanpa basa-basi.


"Ya mereka ada disini yang mulia. Namun yang mulia sepertinya harus bekerja keras membawa mereka kembali. Karena sepertinya mereka tidak ingin kembali ke istana" ucap Jendral Zhang Ye dengan nada pasrah.


"Apa? apakah mereka masih merajuk? apakah mereka benar-benar marah kepadaku jendral" tanya pangeran Fang Yi ketakutan.

__ADS_1


"Apakah yang mulia ingin bantuan hamba?" ucap jendral Zhang Ye sedikit menggoda.


"Hahaha. Apakah jendral bisa membantuku? aku akan melakukan apa saja untuk membawa mereka kembali." ucap pangeran Fang sambil tertawa bahagia.


"Dengarkan yang mulia. Anak hamba paling senang diberikan perhatian yang romantis. Pangeran Fang Yi bisa merebut hatinya kembali dengan memberikan berbagai kejutan yang romantis. Sedangkan untuk cucu-cucu hamba berikan senjata kesukaan mereka dan ajak mereka untuk melakukan kegiatan yang mereka suka" ucap jendral Zhang Ye menjelaskan secara rinci.


"Apakah hanya itu?" tanya pangeran Fang Yi.


"Ya hanya itu. Namun itu tidak mudah yang mulia" ucap jendral Zhang Ye sedikit meremehkan.


"Hahaha.. Aku yakin aku bisa melakukannya" tawa pangeran Fang Yi memecah kecanggungan di antara mertua dan menantunya itu.


Pangeran Fang Yi tidak langsung menemui istri dan anak-anaknya. Dia menyusun rencana untuk merayu istrinya agar mau kembali ke istana. Sepanjang malam dia memikirkan cara yang akan dilakukan nanti.


Di lain tempat, Zhang Lin memperhatikan suaminya yang sedang bekerja keras berpikir. Zhang Lin hanya tersenyum tipis, dia senang bisa membuat suaminya mulai melupakan kesedihannya dan sedikit menghukumnya dengan memainkan perasaannya.


"Aku ingin tau sampai dimana kamu akan berusaha untuk membujukku, sayang." senyum tipis Zhang Lin bahagia.


"Ibu.. Ibu.." panggil Jian sambil memeluk Zhang Lin.


"Ssttt.. Jangan keras-keras. Nanti Ayah tau kita sedang memperhatikannya" bisik Zhang Lin sambil mengedipkan matanya.


"Apakah Ayah ada di kamar itu? bolehkah aku menemuinya?" ucap Jian dengan memelas.


"Apakah kamu masih ingat dengan perjanjian kita sayang. Tolong bersabar ya agar Ayah bisa melupakan kesedihannya. Kita harus membuat Ayah bahagia. Apakah kamu paham?" tanya Zhang Lin tersenyum..


Jian hanya menganggukkan kepalanya. Dia paham dan dia akan membantu ibunya menjalankan rencana mereka.


"Baiklah sekarang kita tidur. Ibu yakin besok Ayah akan menemui kita" ucap Zhang Lin dan menggendong Jian menuju kamarnya.


Zhang Lin benar-benar berharap rencana ini akan berhasil. Dan mereka bisa bahagia kembali dengan keluarga kecil mereka.


*****


Esok harinya..


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


"Istriku sayang, apakah kamu ada di dalam? sayang bisakah kamu membuka pintunya" ucap pangeran Fang Yi sambil terus mengetuk pintu kamar Zhang Lin.


~Bersambung~


__ADS_2