Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 44 : Memenuhi Keinginan Jendral Zhang Ye!


__ADS_3

Kematian


Sebuah takdir penuh dengan kesedihan


Ketika dia hadir dan menyapa


Semua orang akan merasa kehilangan


Perasaan menjadi tak berdaya


Hati merasa penuh luka


Jiwa terasa hampa


Hanya ada kesedihan


Hanya ada duka


Tetesan air mata terus mengalir


Sebagai saksi jiwa yang merana


(By:Fanisa/xiaochan520)


...*****...


Mereka semua meminum obat itu. Permaisuri Zhang Lin juga tak lupa meminumkan rebusan obat itu untuk kaisar.


"Sayang, minumlah. Aku membuatnya khusus untukmu. Jika kamu sudah lebih baik. Aku mohon bangunlah." ucap Zhang Lin lembut sambil memeluk erat suaminya yang terbaring dengan lemah.


Malam itu, tubuh kaisar Fang Yi mulai menampakkan kondisi yang lebih baik. Permaisuri sangat senang, dia terus menjaga suaminya sepanjang malam.


Esok paginya, kaisar Fang Yi siuman. Secara perlahan-lahan dia membuka matanya dan mencari sosok wanita yang sangat dicintainya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" ucap permaisuri Zhang Lin.


"Hm, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" ucap kaisar Fang Yi yang masih khawatir dengan keadaan istrinya.


"Tenang saja aku sudah lebih baik. Yang mulia juga harus istirahat, karena besok jenazah jendral Zhang Ye akan sampai di gerbang istana. Kita harus memenuhi janji kita untuk menyambut kedatangan jendral Zhang Ye." ucap Zhang Lin yang mencoba tetap tenang dan kuat.

__ADS_1


"Anak-anak kalian semua kembali ke kamar kalian masing-masing dan beristirahatlah. Biarkan Niang yang menjaga yang mulia malam ini." ucap permaisuri Zhang Lin dengan lembut.


Ketiga anaknya kembali ke kamar mereka dan beristirahat. Bagaimanapun selama beberapa hari ini, ketiga anaknya terus menjaga kedua orang tua mereka dengan perasaan khawatir. Namun malam ini semua orang dapat tidur dengan nyenyak dan bisa menyiapkan diri untuk hari esok.


...*****...


Pagi itu tak nampak sinar matahari yang menerangi istana. Langit terlihat sangat mendung, matahari tertutup oleh awan yang gelap, udara terasa dingin dan angin bergerak dengan sangat kencang hingga membuat semua orang tidak bisa berdiri dengan tegap.


Cuaca hari itu seperti menandakan akan turun hujan, namun gejala alam ini sepertinya sangat aneh. Langit terlihat sangat gelap, namun sepintas terlihat awan kembar yang menutupi cahaya bulan di pagi hari. Membuat semua orang yang melihatnya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Suasana semakin terasa menyedihkan, ketika pasukan dari perbatasan utara terlihat. Pasukan dari perbatasan utara mengantarkan jenazah jendral Zhang Ye. Terlihat di tengah pasukan ada pasukan beberapa orang yang membawa peti mati berwarna hitam dengan pedang milik jendral Zhang Ye di atas peti mati itu.


Permaisuri Zhang Lin melihat peti mati ayahnya, tubuhnya mulai gemetar dan kakinya terasa tak berdaya, membuat tubuhnya terasa ingin jatuh. Kaisar Fang Yi yang melihat kondisi istrinya langsung sigap membantu menahan tubuh istrinya agar tetap berdiri tegap.


"Sayang." bisik kaisar Fang Yi lembut.


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." ucap permaisuri Zhang Lin pelan.


Pasukan itu semakin dekat dan ketika sampai di depan gerbang istana, pasukan meletakkan peti mati itu tepat di hadapan permaisuri Zhang Lin dan keluarga. Permaisuri Zhang Lin melangkahkan kakinya dengan lemas dibantu oleh suaminya. Dia berdiri di hadapan peti mati itu.


Dia membuka peti mati itu dan melihat sosok ayahnya yang sangat dicintainya sudah terbaring tenang dengan senyuman indah di wajahnya.


"Ayah.. Ayah.." bisik pelan Zhang Lin sambil menyentuh tangan jendral Zhang Ye yang sudah dingin dan pucat.


"Ini putrimu ayah. Aku disini. Lihatlah aku sudah menyambutmu di depan gerbang istana." ucap Zhang Lin sambil memegang erat tangan jendral Zhang Ye dan menaruh tangan itu di wajah Zhang Lin.


"Ayah, lihat aku. Aku disini ayah. Aku disini ayah." ucap lirih permaisuri Zhang Lin dengan isak tangis semakin kencang.


Melihat kondisi permaisuri Zhang Lin yang mulai tak terkendali, kaisar Fang Yi menarik tubuh istrinya dan menjauhkan dari jenazah ayahnya.


"Jendral Chu, bawa jenazah jendral Zhang Ye ke dalam. Letakkan jenazah dengan baik." perintah kaisar Fang Yi tegas sambil membawa istrinya mengikuti jenazah jendral Zhang Ye dari belakang bersama ketiga anaknya.


Ketiga cucu jendral Zhang Ye menangis tersedu-sedu, mereka sangat kehilangan sosok kakek yang luar biasa terutama Fang Qiu yang merasakan kasih sayang jendral Zhang Ye yang sangat tulus, dia menganggap Fang Qiu seperti cucu kandungnya sendiri, dia tidak pernah membedakan cucunya satu sama lain.


Permaisuri berada di altar bersama dengan kaisar, mereka berdiri dengan penuh kesedihan untuk melakukan kremasi terhadap tubuh jendral Zhang Ye. Zhang Lin bersama dengan kaisar Fang Yi melemparkan api ke tumpukan kayu jenazah jendral Zhang Ye.


"Selamat jalan ayah. Aku akan selalu menyayangimu." ucap permaisuri Zhang Lin menitikkan air mata kesedihan.


"Jendral Zhang Ye aku berjanji akan melindungi putri dan keempat cucumu hingga aku tutup usia." ucap kaisar Fang Yi yang sangat menyayat hati.

__ADS_1


Permaisuri Zhang Lin terus menatap sedih kremasi jenazah ayahnya, dia menunggu hingga api pembakaran itu padam. Tiba-tiba cuaca semakin menakutkan, awan kembar yang menutupi cahaya bulan itu mulai menjadi gelap dan menurunkan hujan deras. Semua orang tetap berada di tempatnya menunggu kremasi jendral Zhang Ye selesai.


Di detik terakhir api pembakaran itu akan padam, permaisuri Zhang Lin tak bisa menahan lagi dan dia berteriak dengan sangat kencang hingga membuat dia memuntahkan darah hitam.


"Ayahhhh" teriak permaisuri Zhang Lin sangat histeris.


"Sayang, aku mohon tenanglah. Aku mohon kendalikan dirimu." ucap kaisar Fang Yi yang terus berusaha memeluk istrinya agar lebih tenang.


"Ayah.. Ayah ini putrimu ayah. Ayah jangan pergi. Ini putrimu ayah, aku masih membutuhkanmu ayah." teriak Zhang Lin menyesakkan dada hingga dia memuntahkan darah untuk kedua kalinya.


Muntah terakhir itu membuat seluruh tubuh permaisuri Zhang Lin semakin lemah. Jantungnya berdetak kencang, napasnya sesak tak terarah dan pada akhirnya matanya tertutup di detik terakhir api pembakaran itu padam.


Permaisuri Zhang Lin terjatuh, tubuhnya kaku dan napasnya berhenti. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari permaisuri Zhang Lin.


Kaisar Fang Yi mencoba membangunkan istrinya, dia membangunkan istrinya berulang kali, namun tak ada respon. Dia sangat ketakutan, dia mencoba mengecek nadi dan detak jantungnya. Kaisar Fang Yi terdiam kaku, saat tak mendengar pergerakan nadi atau detak jantung istrinya.


"Sayang aku mohon bangunlah. Sayang aku mohon bangunlah." teriak kaisar Fang Yi mencoba membangunkan istrinya.


"Zhang Lin aku mohon bangun. Zhang Lin aku mohon bangunlah." teriak kaisar Fang Yi semakin panik. Dia berusaha memberikan pertolongan pertama dan ternyata semua itu sia-sia.


Kaisar Fang Yi tak percaya. Dia berteriak dengan lantang yang membuat semua orang ketakutan.


"Zhang Lin!" teriak kaisar Fang Yi sangat sedih.


Jiantou mencoba mengecek tubuh ibunya dan dia juga sangat terkejut. Jiantou menangis kencang, dia menepuk-nepuk dadanya, ini terasa sangat sesak.


"Permaisuri sudah meninggal." ucap lirih Jiantou ke semua orang.


"Apa yang kau katakan? katakan sekali lagi. Permaisuri kenapa?" bentak Jian kepada adiknya.


"Ge, permaisuri sudah meninggal. Dia sudah meninggal." ucap Jiantou menegaskan sekali lagi.


Mendengar ucapan adiknya, Jian sangat terkejut dan akhirnya terjatuh lemah. Kakinya tak mampu melangkah dan bibirnya seperti terkunci tak mampu berkata apa-apa.


Jian hanya menangis dan menatap lirih ke tubuh ibunya. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya, tubuhnya kaku.


"Ibu permaisuri..!" teriak si kembar bersama-sama tak berdaya.


Pada akhirnya permaisuri Zhang Lin meninggal bersamaan dengan kremasi jendral Zhang Ye. Pada akhirnya dia menyusul ayahnya menuju nirwana.

__ADS_1


Hujan menjadi saksi kesedihan di istana Fang. Langit pun ikut bersedih dengan kematian jendral Zhang Ye dan permaisuri Zhang Lin. Semua orang disana menangis dengan penuh kesedihan. Hari itu menjadi hari duka kematian sosok terhebat di kerajaan Fang.


...~Bersambung~...


__ADS_2