
Cinta
Satu kata penuh makna
Semua berkorban untuk kata ini
Logika tak terpakai
Hanya hati yang bermain
Semua demi kata ini
Suka dan duka menyatu
Demi cinta yang tak kasat mata
~By:Fanisa/xiaochan520~
...*****...
"Besok kita akan pergi menuju ke istana kerajaan Xiao. Kita akan mengunjungi kaisar Xiao San dan menghadiri pernikahan mereka." ucap Zhang Lin kepada semua anak-anaknya.
"Asik." ucap ketiga anaknya sambil melompat-lompat kegirangan. Bianzi juga tersenyum indah saat mendengarkan nama kaisar Xiao San.
"Sepertinya putri kecilku tidak sabar ingin bertemu dengan paman kaisar Xiao San ya?" ucap Zhang Lin sambil mencubit lembut pipi Bianzi.
Semua keluarga di istana kerajaan Fang sudah mulai mempersiapkan perlengkapan selama di perjalanan. Kaisar Fang Yi membawa permaisuri Zhang Lin, Jian, Jiantou, dan Fang Qiu serta membawa ribuan pengawal bersama mereka yaitu pasukan yang sudah terlatih dalam penjagaan. Sedangkan istana dijaga oleh kasim kepercayaan bernama kasim Wen dan jendral besar Zhang Ye. Semua sudah disiapkan dengan sempurna.
"Baobei, qpakah baju untuk kaisar Xiao San dan permaisuri Zheng Fei sudah dibawa?" ucap Zhang Lin sedikit ragu.
Zhang Lin sendirilah yang menjahit pakaian khusus untuk calon pengantin sebagai tanda rasa bahagia atas pernikahan mereka. Zhang Lin bekerja keras selama beberapa bulan untuk mendesain dan menjahitnya. Dia menjahit pakaian pengantin itu dengan tulus. Pakaian pengantin yang terlihat sangat indah dan mewah.
"Sudah diperiksa. Semua sudah terbawa dengan aman." ucap Kaisar Fang Yi yakin.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang" ucap Zhang Lin.
"Semua pasukan bersiap. Kita jalan!" ucap kaisar Fang Yi memerintahkan kepada semua pasukan. Semua mulai berangkat menuju ke istana kerajaan Xiao.
__ADS_1
Perjalanan sangat panjang. Terkadang mereka beristirahat, karena putra dan putri mereka yang gelisah karena terlalu lama di dalam kereta kuda.
Tak terasa sudah lima hari melakukan perjalanan.
"Sayang, bisakah kita berhenti dahulu? putri Bianzi sangat gelisah, sepertinya dia tidak nyaman di dalam kereta." pinta Zhang Lin kepada kaisar Fang Yi.
"Baiklah. Semua pasukan berhenti disini. Kita bermalam disini. Pasang tenda untuk permaisuri dan para pangeran dan putri." perintah kaisar Fang Yi dengan lantang.
Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di tempat itu dan mendirikan tenda di tengah hutan yang sedikit seram. Hutan ini terasa sangat tenang namun sangat mencurigakan.
Kaisar Fang Yi, permaisuri Zhang Lin dan putri Bianzi tidur di dalam satu tenda. Sedangkan Jian dan Jiantou tidur di dalam tenda yang lain, namun semua tenda dilindungi oleh para penjaga istana.
Malam semakin larut, namun putri Bianzi tetap gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak. Zhang Lin merasa seperti ada yang menganggu putri kecilnya.
"Sayang, kamu tidurlah. Aku mau bawa putri Bianzi ke luar sebentar." ucap permaisuri Zhang Lin sambil menyelimuti kaisar Fang Yi yang sudah memejamkan matanya.
"Hmm, jangan lama-lama di luar. Jika putri kita sudah tenang, bawa masuk kembali. Udara di luar sangat dingin." ucap kaisar Fang Yi dengan lembut.
Zhang Lin membawa putrinya ke luar. Semua biasa saja dan terasa sangat sunyi. Udara tengah malam terasa dingin, namun terasa ada yang janggal. Zhang Lin memeriksa sekeliling tenda. Semua terasa tenang namun Zhang Lin masih merasa ada yang aneh dan sedikit mencurigakan.
Zhang Lin terus memantau sambil menggendong bayinya. Zhang Lin terus berkeliling sambil menghangatkan putri Bianzi dalam pelukannya. Merasa putrinya sudah tertidur nyenyak, Zhang Lin kembali ke tendanya, dia menidurkan di samping kaisar Fang Yi.
Zhang Lin terkejut dan membangunkan suaminya untuk menjaga putrinya. Zhang Lin berlari menghampiri tenda anaknya dan Zhang Lin terkejut melihat seorang pria bertopeng hitam sudah menodongkan pisau ke leher putri Jiantou.
"Siapa kalian? lepaskan putriku! Jangan sampai aku membunuh kalian semua." ancam Zhang Lin dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.
"Hahaha.. Selangkah lagi kau langkahkan kakimu kesini. Aku akan menggorok leher putrimu yang sangat cantik ini." ancam pria bertopeng hitam itu.
Zhang Lin diam tak bergerak. Jian terus menatap ibunya. Mereka saling memberi kode untuk menyelamatkan Jiantou. Ketika pria bertopeng hitam itu lengah, Zhang Lin melemparkan belati ke arah tangan pria bertopeng hitam yang sedang memegang pedang. Belati itu tepat mengenai tangan pria bertopeng hitam itu dan pedangnya jatuh terlepas dari tangannya karena sakit terkena belati yang dilemparkan oleh Zhang Lin. Akhirnya Jiantou terlepas dari ancaman dan segera melarikan diri.
Pria bertopeng hitam itu mengambil pedangnya kembali dan mulai menyerang Zhang Lin. Pria bertopeng itu terus menyerang secara beruntun dan tak memberikan sela kepada Zhang Lin untuk membalas serangan. Zhang Lin terus melawan pria bertopeng hitam itu. Dia tidak mau mengalah, emosinya sangat tidak terkendali. Dia terus membalas serangan pria bertopeng hitam itu.
Zhang Lin memainkan pedangnya melawan pria bertopeng hitam itu, dia terus membalas serangan, dia terus mengayunkan pedang tajamnya. Semakin lama dia bertarung dengan pria bertopeng hitam itu, semakin besar amarah yang dikeluarkan oleh Zhang Lin. Zhang Lin terus menerus menyerang, hingga akhirnya pria bertopeng hitam itu terkena pedang Zhang Lin di bagian tangan kanan, kemudian goresan kedua terkena di bagian kaki kirinya dan terakhir mengenai dadanya. Emosi terus tersulut di hati Zhang Lin.
"Aku sudah bilang jangan melukai anak-anakku." bentak Zhang Lin lantang dan langsung menusukkan pedang itu ke perut pria bertopeng itu.
"Baobei!" Saat Zhang Lin masih mengatur napasnya, terdengar suara teriakan dari tenda kaisar Fang Yi.
__ADS_1
Zhang Lin bersama si kembar menghampiri tenda suaminya. Ternyata suami dan putri kecilnya sudah diikat dan dikepung oleh banyak pria bertopeng hitam.
"Kalian semua brengsek. Kalian semua pecundang. Kalau berani lawan aku. Jangan main keroyokan." teriak Zhang Lin semakin mendidih darahnya.
"Hahaha. Lebih baik kau lepaskan pedangmu atau nyawa anak dan suamimu tidak akan selamat." ancam pemimpin pria bertopeng hitam itu.
Zhang Lin sangat khawatir dengan nyawa suami dan anaknya. Zhang Lin melepaskan senjatanya dan menyerahkan diri. Akhirnya semua pasukan bertopeng itu mengikat seluruh keluarga kerajaan Fang. Mereka mulai memukul kaisar Fang Yi dengan kejam. Mereka memukul wajah dan perut kaisar Fang Yi. Tidak hanya itu, si kembar Jian dan Jiantou juga turut dipukul dan membuat mereka muntah darah. Zhang Lin terus melihat perlakuan kejam mereka ke suami dan anak-anaknya. Emosi Zhang Lin semakin tidak terkendali.
"Aku bilang jangan sakiti anak-anak dan suamiku." teriak Zhang Lin dengan keras.
"Hahaha. Apa yang bisa kamu lakukan?" ucap pria bertopeng itu sambil memukul perut suaminya.
Zhang Lin tak bisa lagi menahan itu semua. Semua energi dikeluarkan dan ikatan itu terlepas. Zhang Lin mulai menyerang pria bertopeng hitam itu satu persatu. Semua diruntuhkan dan dibunuh dengan kejam tanpa tersisa satu pun dari mereka yang selamat.
"Aku bilang jangan lukai anak-anak dan suamiku. Apa kau tidak mendengarkanku? Hah?" ucap Zhang Lin sambil menusuk pedangnya ke dada pemimpin pasukan pria bertopeng.
Zhang Lin terus menyerang tanpa rasa iba. Semua diserang hingga Zhang Lin kehilangan semua energinya. Keluarganya yang diikat semua dilepaskan.
"Apa kalian baik-baik saja?" ucap Zhang Lin penuh kecemasan.
"Niang..." teriak Zhang Lin ke arah anaknya. Namun semua sudah terlambat, tiba-tiba secara mendadak pria bertopeng hitam itu menusuk perut Zhang Lin dan dia langsung tersungkur jatuh dengan banyak darah yang keluar.
Pengawal istana yang melihat langsung menusuk pria bertopeng itu. Semua akhirnya mati tanpa ada yang tersisa.
"Niang. Niang." panggil ketiga anaknya dengan isak tangis yang semakin keras.
"Niang baik-baik saja. Bisakah kalian keluar dulu. Jian bawa adik-adikmu" ucap Zhang Lin dengan tenang sambil memegang lukanya yang terus mengeluarkan darah.
"Sayang bawa aku ke ranjang." ucap Zhang Lin sambil menahan sakit akibat tusukan itu.
"Sayang. Baobei. permaisuri" panggil kaisar Fang Yi saat melihat Zhang Lin tak bereaksi.
"Sayang. Apa kau mendengar suaraku?" panggil kaisar Fang Yi dengan panik.
Kaisar Fang Yi terus memantau pemeriksaan yang dilakukan oleh tabib istana. Dia terus melihat saat tabib istana membalut luka permaisuri dengan hati-hati. Luka tusuk itu, luka itu terlihat sangat dalam, sehingga membuat kaisar Fang Yi mengerutkan dahinya, karena tak tega melihat istrinya yang sedang terluka karena melindungi mereka.
"Bagaimana dengan permaisuriku? apakah dia baik-baik saja?" tanya kaisar Fang Yi yang sangat cemas karena melihat Zhang Lin masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
...~Bersambung~...