
Kematian
Sebuah takdir penuh dengan kesedihan
Ketika dia hadir dan menyapa
Semua orang akan merasa kehilangan
Perasaan menjadi tak berdaya
Hati merasa penuh luka
Jiwa terasa hampa
Hanya ada kesedihan
Hanya ada duka
Tetesan air mata terus mengalir
Sebagai saksi jiwa yang merana
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
"Ge, permaisuri sudah meninggal. Dia sudah meninggal." ucap Jiantou menegaskan sekali lagi.
Mendengar ucapan adiknya, Jian sangat terkejut dan akhirnya terjatuh lemah. Kakinya tak mampu melangkah dan bibirnya seperti terkunci tak mampu berkata apa-apa.
Jian hanya menangis dan menatap lirih ke tubuh ibunya. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya, tubuhnya kaku.
"Ibu permaisuri..!" teriak si kembar bersama-sama tak berdaya.
Pada akhirnya permaisuri Zhang Lin meninggal bersamaan dengan kremasi jendral Zhang Ye. Pada akhirnya dia menyusul ayahnya menuju nirwana.
Hujan menjadi saksi kesedihan di istana Fang. Langit pun ikut bersedih dengan kematian jendral Zhang Ye dan permaisuri Zhang Lin. Semua orang disana menangis dengan penuh kesedihan. Hari itu menjadi hari duka kematian sosok terhebat di kerajaan Fang.
"Ayah kaisar sadarlah. Kita bawa tubuh permaisuri ke dalam istana." ucap Jian pelan sambil menggoyangkan tubuh kaisar Fang Yi.
__ADS_1
"Ayah kaisar aku mohon sadarlah. Hujan semakin deras. Kita bawa tubuh permaisuri dulu ke dalam istana." ucap Jian sekali lagi mencoba menyadarkan kaisar Fang Yi dari lamunannya.
"Paman jendral Chu, tolong bantu selesaikan kremasi kakek jendral Zhang Ye dan bawa abunya ke dalam istana." ucap Jian kepada Chu Hongli sambil menggendong tubuh permaisuri Zhang Lin.
"Jiantou, tolong bantu ayah kaisar dan bawa ke dalam istana sekarang. Lihatlah sepertinya langit sangat bersedih, hujan ini semakin deras, petir ini semakin menakutkan. Cepat!" ucap Jian tegas kepada adiknya.
"Fang Qiu bantu jendral Chu membawa abu kakek jendral Zhang Ye. Paham?" ucap Jian dengan tegas kepada adiknya.
Hari ini Jian mengambil alih semuanya. Dia membawa ayahnya kembali ke kediamannya dan membawa jenazah ibunya disemayamkan di istana timur.
Jian bersama jendral Chu Hongli membawa abu jendral Zhang Ye ke ruangan altar leluhur. Dia menaruh abu itu di dekat kakek kaisar Fang Zhao, sesuai dengan titah kakek kaisar Fang Zhao sebelum dia wafat.
"Kakek kaisar, lihatlah aku membawa sahabatmu. Aku menempatkan dia disisimu, aku harap kakek kaisar tenang disana dan bisa bertemu dengan kakek jendral." ucap Jian lirih.
Jendral Chu bersama Jian berdoa untuk ketenangan mereka semua dan langsung pergi setelahnya menuju ke kediaman kaisar Fang Yi.
"Ayah kaisar, bagaimana kabarmu?" tanya Jian pelan namun penuh kesedihan.
Kaisar Fang Yi hanya terdiam dengan tatapan kosong. Dia hanya berbaring di atas ranjangnya sambil menatap kosong ke atas langit ranjangnya. Sesekali tetesan air mata mengalir di pelipis kaisar Fang Yi.
"Ayah kaisar minumlah obat ini, Jiantou membuatnya untukmu." ucap lembut Jian sambil menyuapi obat itu ke mulut kaisar Fang Yi.
"Ayah, aku mohon minumlah. Aku mohon tetaplah kuat untuk rakyatmu." ucap Jian penuh air mata.
Sekali lagi ucapan Jian membuat air mata menetes kembali di pipi kaisar Fang Yi, namun tetap bibirnya tak bergerak dan tatapannya kosong.
"Jendral tolong jaga ayah kaisar. Aku keluar sebentar." ucap Jian pelan dan sedih.
Jian pergi ke taman bunga plum. Dia memainkan pedangnya dan terus berlatih untuk melampiaskan kesedihannya.
"Kenapa? kenapa takdir kami seperti ini? kenapa?" teriak Jian sambil memainkan pedangnya, dia menebas seluruh bunga yang ada di pohon itu.
Air mata terus mengalir di pipi Jian, dia menusukkan pedangnya ke tanah dan dia duduk di samping pedangnya, dia menundukkan kepalanya di atas lututnya dan kedua tangannya melingkari kedua kakinya. Dia menangis, dia melepaskan semua emosinya.
"Ayah kaisar, ibu permaisuri, kakek kaisar, kakek jendral. Kenapa kalian semua jahat? kenapa kalian semua meninggalkan kami? apa salah kami kepada kalian? katakan apa salah kami?" ucap Jian berbisik sambil menangis kencang.
"Aku harus kuat. Aku harus kuat." ucap Jian mencoba menguatkan dirinya.
Dia mengusap air mata yang menetes di pipinya, dia mencoba berdiri dan mengambil pedangnya. Dia menguatkan dirinya untuk tetap kuat untuk ayah dan adik-adiknya.
__ADS_1
"Pangeran Jian, ikutlah denganku." ucap kasim Wen pelan.
Jian mengikuti kasim Wen dan masuk ke sebuah ruangan. Disana sudah duduk para pejabat istana dan jendral Chu bersaudara.
"Ada apa kalian berkumpul disini" tanya Jian bingung.
"Pangeran Jian maafkan kami, kami ingin mendiskusikan masalah ini segera." ucap pejabat istana departemen administrasi istana.
"Apa maksud kalian?" ucap Jian penasaran.
"Pangeran kami tahu ini terlalu cepat, namun melihat kondisi kaisar Fang Yi yang mulai menurun dan tak bisa melakukan apapun, kami takut akan ada pemberontakan di istana. Jadi kami mohon pangeran mau menggantikan kaisar Fang Yi." ucap pejabat istana departemen keamanan istana.
"Lancang kalian semua! Ayah kaisar masih sehat dan ayah kaisar masih kaisar saat ini. Beraninya kalian semua menyuruhku untuk menjadi penghianat!" ucap Jian dengan suara meninggi dan langsung mengeluarkan pedangnya yang hampir memenggal pejabat istana itu.
"Maafkan hamba pangeran. Maafkan kelancangan hamba." ucap pejabat istana departemen keamanan istana.
"Kalian tidak perlu cemas, aku akan tetap menjaga istana ini. Aku bersama dengan pasukan jendral Zhang Ye akan tetap melindungi istana ini dari pemberontakan, tapi jangan pernah menyuruhku untuk duduk di singgasana itu selama ayah kaisar masih hidup." ucap Jian menahan emosinya dan langsung pergi meninggalkan semua pejabat istana.
Jian pergi melihat jenazah permaisuri Zhang Lin. Dia melihat Jiantou yang terlihat sangat menyedihkan, kelopak matanya hitam, tubuhnya kurus dan tatapannya kosong.
"Sayang, makanlah dulu. Biarkan aku yang menjaga permaisuri. Ok." ucap Jian sambil memeluk erat adiknya.
Jiantou sangat mengerti tentang khasiat tumbuhan herbal dari permaisuri Zhang Lin. Dia berusaha membuat ramuan yang tidak membuat jenazah ibunya cepat membusuk. Jiantou tidak ingin mengkremasi ibunya terlalu cepat. Dia masih ingin melihat permaisuri Zhang Lin. Terlebih lagi dia ingin ayah kaisar Fang Yi benar-benar sadar dan bisa mengkremasi sendiri tubuh istrinya.
"Apa kabar permaisuri? Apakah tidurmu nyenyak? tolong bangunlah segera. Lihatlah kaisar sangat menyedihkan. Tubuhnya bagaikan hidup segan mati tak mau." ucap Jian lirih sambil menatap penuh kesedihan di dekat jenazah permaisuri Zhang Lin.
"Apa kau tahu Niang? Bahkan aku sudah memanggil putri Bianzi dan kaisar Xiao San untuk melihatmu. Mungkin ketika kamu melihat mereka, kamu tidak akan marah kepada kami lagi. Pasti permaisuri akan bangun dan menyapa mereka bukan?" ucap Jian sambil mengusap tangan ibunya ke wajahnya.
"Apakah permaisuri mendengar semua ucapanku? Aku benar-benar memanggil mereka untuk membangunkan dirimu. Mungkin 2 hari lagi mereka akan sampai disini." ucap Jian terus menerus berbicara sendiri di hadapan jenazah permaisuri Zhang Lin.
"Ge, ayah kaisar." teriak Fang Qiu yang membuat Jian terkejut.
Tanpa bertanya, dia langsung berlari menuju ke istana timur. Sampai di kediaman kaisar Fang Yi, dia melihat kaisar Fang Yi terbaring tak berdaya dan napasnya mulai sesak tak terkontrol.
"Fang Qiu, panggil Jiantou cepat!" ucap Jian tegas.
"Ayah kaisar lihat aku, tolong tenangkan dirimu. Aku mohon kamu harus kuat." ucap Jian yang semakin panik, dia sangat takut kehilangan ayahnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1