
Takdir
Ketika dia hadir semua manusia gelisah
Apakah takdir itu membawa suka
Ataukah takdir itu membawa duka
Hidup seorang insan penuh misteri
Hanya takdir yang kan menjawabnya
Semua insan hanya mampu menunggu
Apakah suka atau duka yang dibawa
Faktanya takdir itu akan mempermainkan
Mempermainkan hati terdalam seorang insan
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
"Hahaha, aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi. Kondisiku semakin memburuk dan mungkin ini hari terakhirku bersama kalian." tawa jendral Zhang Ye dengan kata-kata yang masih terdengar mencoba mencairkan suasana.
"Katakan pada putriku untuk memenuhi janjinya menyambutku di gerbang istana ketika aku sampai di istana." ucap jendral Zhang Ye dan kembali memuntahkan darah hitam dan kental.
"Dan katakan bahwa aku sangat menyayangi putriku dan cucu-cucuku selama.." ucap jendral Zhang Ye dinapas terakhirnya.
"Jendral.." teriak Chu Hongli yang sangat terkejut.
Dia menutup kedua mata jendral Zhang Ye dengan tangannya. Dia menutup seluruh tubuh jendral Zhang Ye dengan selimut.
"Selamat jalan jendral. Anda adalah jendral kami yang sangat kami cintai. Anda adalah jendral terhebat yang pernah kami miliki. Istirahatlah dengan tenang." ucap Chu Hongli meneteskan air matanya ketika selimut itu menutup wajah jendral Zhang Ye.
"Chu Heng kirimkan kabar ke istana bahwa pemberontak sudah dibinasakan tanpa sisa dan kabarkan juga kematian jendral Zhang Ye." ucap Chu Hongli pelan penuh kesedihan.
"Baik." ucap Chu Heng berusaha kuat.
"Jangan lupa siapkan peti untuk tubuh jendral Zhang Ye. Kita akan membawanya hari ini menuju ke istana. Kita akan memenuhi keinginan terakhir jendral." ucap Chu Hongli bersikap tenang.
Hari itu seluruh pasukan di barak sangat sedih. Hati mereka terasa tersayat-sayat. Mereka sangat kehilangan sosok jendral Zhang Ye yang sudah mereka anggap sebagai ayah, saudara, guru, teman dan pemimpin mereka yang sangat hebat dan berwibawa.
"Jendral, kami tidak akan melupakanmu. Beristirahatlah dengan tenang. Kami tahu anda sudah lelah dan kami tahu anda sudah senang disana bersama dengan istri yang sangat anda cintai. Kami disini akan menjaga kaisar dan permaisuri dengan baik. Kami berjanji. Tidurlah dengan tenang." ucap Chu Heng ketika menutup peti mati tempat jenazah jendral Zhang Ye disimpan.
Semua pasukan menitikkan air matanya. Bagi mereka kemenangan perang kali ini akan sangat membawa kenangan yang sangat mendalam.
__ADS_1
Sebagian pasukan pergi mengantar jenazah jendral Zhang Ye menuju ke istana dan sisanya ditugaskan menjaga perbatasan utara demi keamanan di perbatasan utara.
...*****...
Sebuah surat sampai di istana dan diterima oleh penjaga gerbang istana.
"Salam hormat yang mulia. Hamba ingin mengantarkan surat dari perbatasan utara." ucap penjaga istana sambil memberikan gulungan surat itu.
Kaisar Fang Yi menerima surat itu dan membacanya. Dia membaca surat yang pertama dan dia tersenyum sangat bahagia saat mengetahui bahwa para pemberontak sudah ditangani dengan baik namun diakhir surat dia terkejut dan sangat marah saat mengetahui bahwa dalang dari pemberontakan ini adalah adiknya sendiri yaitu pangeran Fang Tse.
"Mengapa kamu tidak pernah menyerah pangeran Fang Tse? apakah tahta ini benar-benar telah membutakan mata dan hatimu." ucap kaisar Fang Yi yang sangat marah dan sedih.
"Ada apa yang mulia? apakah kamu baik-baik saja?" ucap kasim Wen.
"Aku baik-baik kasim. Hanya saja aku merasa telah gagal sebagai seorang kakak. Aku telah membuat adikku seperti ini, karena aku adalah kakak yang lemah. Aku tak mampu membantu adikku kembali ke jalan yang lurus." ucap kaisar Fang Yi terlihat sangat sedih dan kecewa.
Kemudian dia membuka gulungan kedua dan membacanya. Dia terkejut dengan isi surat itu dan tanpa sadar dia menjatuhkan gulungan surat itu. Dadanya sesak, tubuhnya gemetar, hatinya sangat sakit dan air matanya menetes di pipinya.
"Jendral" ucap kaisar Fang Yi lemas.
"Ada apa yang mulia? apakah ada berita buruk dari perbatasan utara?" ucap kasim Wen sambil memapah kembali tubuh kaisar yang sangat lemah.
"Aku ingin ke istana timur." ucap kaisar Fang Yi yang langsung berdiri dan pergi menuju ke kediaman istrinya.
Kaisar Fang Yi berjalan dengan tergesa-gesa, dia ingin bertemu dengan istrinya. Dia ingin menghibur istrinya.
"Permaisuri." ucap pelan kaisar Fang Yi saat melihat istrinya yang sedang berkumpul bersama ketiga anaknya.
Kaisar duduk di samping istrinya. Dia memegang erat istrinya dan menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Ada yang mulia? kenapa wajahmu sangat sedih? apakah ada sesuatu yang buruk di perbatasan utara." ucap Zhang Lin pelan.
Kaisar hanya tersenyum tipis namun sedih. Permaisuri Zhang Lin melihat ekspresi wajah suaminya dan memahami apa yang sedang terjadi.
"Apakah itu berita tentang jendral Zhang Ye?" ucap Zhang Lin pelan dan terlihat sedih.
"Hm" ucap kaisar Fang Yi singkat dan memberikan gulungan surat itu.
Zhang Lin mengambil gulungan surat itu dan membacanya. Air matanya menetes dengan deras saat membaca isi gulungan surat itu. Dia menangis dengan kencang membuat ketiga anaknya terkejut.
"Ayah.. Ayah.." teriak Zhang Lin menangis sangat kencang sambil memeluk erat gulungan surat itu.
Kaisar memeluk istrinya dari belakang, dia mencoba menahan tubuh istrinya yang sedang menangis sangat sedih.
"Ayah.. Ayah.. Kenapa kamu meninggalkanku? ayah kenapa kamu meninggalkan putrimu?" ucap Zhang Lin yang menangis dengan penuh kesesakan.
"Sayang, tenangkan dirimu. Aku mohon tenangkan dirimu." ucap kaisar Fang Yi yang masih memeluk istrinya dengan erat mencoba menahannya yang sedang kacau.
__ADS_1
"Yang mulia, ayahku yang mulia. Dia pergi yang mulia. Ayahku pergi." ucap Zhang Lin semakin histeris.
Ketiga anaknya hanya menangis dan sangat sedih saat melihat keadaan ibunya yang sedang terluka.
"Ayah..." ucap Zhang Lin pelan, dia memegang dadanya yang sangat sesak dan akhirnya tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya.
Kaisar Fang Yi terkejut ketika istrinya tak sadarkan diri. Dia membawa istrinya ke ranjangnya dan menyelimuti dengan lembut.
"Jian, panggilkan tabib istana untuk memeriksa ibumu." perintah kaisar Fang Yi.
"Fang Qiu beritahu kasim Wen untuk mengabarkan ke seluruh istana tentang kabar kematian jendral Zhang Ye." perintah kaisar Fang Yi.
"Jiantou beritahu seluruh pelayan istana untuk menyiapkan upacara kematian untuk jendral Zhang Ye." perintah kaisar Fang Yi.
Ketiga anaknya pergi meninggalkan mereka berdua dan segera melakukan yang diperintahkan oleh kaisar Fang Yi.
"Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Aku mohon kamu bisa menerima ini semua. Aku yakin kamu kuat." ucap kaisar Fang Yi mengusap lembut kepala istrinya yang masih tak sadarkan diri.
Kaisar hanya terdiam menatap istrinya dengan penuh kesedihan. Dia sangat cemas dengan keadaan istrinya saat ini. Dia sudah kehilangan putri kecilnya dan kini dia juga harus kehilangan ayahnya dalam waktu yang sangat singkat. Kaisar merasakan kesedihan yang sangat mendalam, mengapa istrinya harus merasakan takdir yang sangat buruk seperti ini.
"Ayah kaisar, tabib istana sudah datang." ucap Jian.
Tabib istana memeriksa keadaan permaisuri Zhang Lin dan wajahnya terlihat sangat cemas. Habib istana terlihat sangat sedih dan tak berdaya.
"Bagaimana tabib? apakah permaisuri baik-baik saja?" ucap kaisar Fang Yi cemas.
"Maafkan hamba yang mulia. Kondisi permaisuri sangat mengkhawatirkan. Dia harus beristirahat dengan tenang dan jangan sampai berpikir terlalu berat." ucap tabib istana pelan.
"Apakah permaisuri sering sesak saat dia menangis atau bersedih?" tanya tabib istana pelan.
"Iya. Niang selalu merasakan sesak di dadanya saat menangis berlebihan." ucap Jian yang sangat cemas.
"Ada apa sebenarnya tabib?" ucap kaisar Fang Yi penasaran.
"Maafkan hamba yang mulia. Hamba pantas mati. Hamba lalai terhadap kesehatan permaisuri." ucap tabib istana yang ketakutan dan langsung berlutut dihadapan kaisar Fang Yi.
"Katakan yang sebenarnya tentang keadaan permaisuri!" ucap kaisar Fang Yi lantang yang mulai kesal dengan sikap tabib istana.
"Yang mulia. Permaisuri telah banyak melewati hal-hal buruk yang membuat dia terluka. Dia menyimpan luka itu sendirian di hatinya, sehingga perasaan itu membuat kesehatannya selalu menurun. Apalagi yang mulia permaisuri pernah tak sadarkan diri selama 2 tahun. Ini juga menjadi faktor penyakit yang mulia. Kesehatan jantung yang mulia tidak stabil dan sudah mulai melemah. Hamba khawatir jika yang mulia terus menerus seperti ini, hidup yang mulia tidak akan bertahan hingga usia 50 tahun. Maafkan hamba. Maafkan kelalaian hamba yang mulia." ucap tabib istana yang terus bersujud meminta pengampunan.
"Kau boleh pergi. Aku tidak akan menghukummu." ucap kaisar Fang Yi pelan.
"Jian antarkan kembali tabib istana." ucap kaisar Fang Yi singkat.
Kaisar kembali duduk di samping istrinya dan hanya menatap penuh kesedihan. Dia tak menyangka sosok istrinya yang terlihat kuat dan selalu melindungi dia dan anak-anaknya ternyata sangat lemah dan tak berdaya.
"Apakah begitu banyak kesedihan di hidupmu, sayang? mengapa kamu tidak membagi kesedihanmu kepadaku? apakah kamu tahu bahwa aku juga sangat takut kehilanganmu? mengapa kamu menyimpan semua kesulitan dan kesedihan itu sendirian?" ucap kaisar Fang Yi menggenggam kedua tangan Zhang Lin dan menundukkan kepalanya di tubuh Zhang Lin.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mohon sadarlah. Aku mohon jangan membuatku khawatir. Sudah cukup aku banyak kehilangan orang yang aku sayang. Aku mohon kamu jangan ikut bersama mereka untuk meninggalkanku juga. Aku mohon bangunlah. Aku mohon.." ucap kaisar Fang Yi yang menangis sambil memeluk istrinya.
...~Bersambung~...