Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 40 : Pemberontakan di Perbatasan Utara! (Part 1)


__ADS_3

Rela Berkorban


Sebuah kata penuh makna


Makna kesetiaan untuk berkorban


Dari rakyat untuk kaisar


Dari kaisar untuk rakyat


Makna kesetiaan untuk melindungi


Dari rakyat untuk raja


Dari kaisar untuk rakyat


Demi kesejahteraan bersama


Demi kebahagiaan bersama


(By: Fanisa/xiaochan520)


...*****...


Jendral Zhang Ye akhirnya pergi meninggalkan istana dan pergi bersama pasukannya. Semua keluarga yang sangat dicintainya masih terus berdiri di gerbang istana hingga sosok jendral Zhang Ye tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Ayah, aku pasti akan merindukanmu. Aku mohon kau harus kembali dengan selamat." ucap Zhang Lin dalam hati dan tanpa sadar air mata sudah menetes di pipi lembutnya.


Kaisar Fang Yi yang berada di samping istrinya sangat khawatir saat mengetahui istrinya menangis, dia memegang erat tangan istrinya sebagai ekspresi menghibur hati istrinya yang sedang cemas.


Setelah sampai di barak perbatasan utara kerajaan Fang, jendral Zhang Ye langsung pergi menemui tangan kanannya yang bernama Chu Hongli di tendanya.


"Salam hormat jendral." ucap Chu Hongli saat melihat sosok jendral besar Zhang Ye berdiri di hadapannya.


Semua anak buahnya yang sedang serius membicarakan strategi selanjutnya terkejut saat melihat jendral Zhang Ye berdiri di hadapan mereka. Mereka semua langsung berdiri tegap menghadap ke arah jendral Zhang Ye dan menyapanya secara bersamaan.


Jendral Zhang Ye langsung menghampiri mereka dan berdiri bersama mereka sambil melihat miniatur wilayah perbatasan utara dan mendengarkan arahan Chu Hongli untuk strategi selanjutnya.


"Sebaiknya kita dibagi menjadi tiga divisi, kau Chu Hongli bersama 5.000 pasukan memantau sebelah timur laut barak pemberontak dan mencari tahu siapa pemimpin mereka agar kita bisa memutuskan strategi yang tepat, kau Chu Heng bersama 5.000 pasukan tetap di barak dan jaga persenjataan kita, dan aku bersama 5.000 pasukan yang lain akan memantau di arah sebelah barat laut barak pemberontak untuk memantau pergerakan mereka." ucap jendral Zhang Ye sambil menunjuk miniatur wilayah perbatasan utara dengan serius.


"Sedangkan kalian yang bertugas di barak, tetap terus berjaga jangan sampai barak kita dimasuki oleh pihak musuh, dan terus laporkan ke istana mengenai pergerakan kita, jangan lupa tetap pantau persediaan logistik dan persenjataan serta kuda-kuda perang kita, jangan sampai ada satupun kekurangan." ucap jendral Zhang Ye dengan tegas.


"Cheng Ao kau bersama sepuluh pasukan khusus yang sudah dilatih oleh permaisuri Zhang Lin masuk ke dalam barak pemberontak dan menyamar menjadi pasukan mereka. Sedangkan sepuluh pasukan khusus yang lain tetap berjaga untuk melindungi dan memberikan informasi kepada 3 divisi yang lain. Kalian paham?" ucap jendral Zhang Ye dengan sangat tegas dan terlihat sangat berwibawa dan hebat.


Kita mulai pergerakan kita malam ini, ingat kebersamaan, kerja sama dan kepercayaan sangat diperlukan, jika salah satu dari kalian merasa terjebak jangan ragu untuk menginformasikan kepada pasukan yang lain. Ini bukan siapa yang paling hebat, aku tidak butuh itu. Namun disini aku hanya melihat siapa yang paling hebat dalam melindungi satu sama lain. Ingat kemenangan nomor satu namun nyawa kalian yang selamat juga sangat aku harapkan. Kalian paham?" ucap jendral dengan tegas dan penuh semangat yang membara.


Ketika malam tiba semua divisi yang sudah dibagi mulai bergerak dan menjalankan misi mereka. Pasukan yang sudah dilatih oleh jendral Zhang Ye bukan hanya terlatih secara kuantitas tetapi juga secara kualitas. Fisik dan mental mereka sudah terlatih dengan tempaan yang sangat kuat.


Hari demi hari mereka sudah lalui dengan terus memantau pergerakan sekecil apapun. Hingga sudah sebulan berlalu. Saat itu jendral Zhang Ye sedang memantau barak pemberontak yang terlihat sangat aneh, hari itu banyak pasukan yang sedang memeriksa semua persenjataan mereka, jendral Zhang Ye menduga bahwa mereka akan menyerang kembali barak pasukan jendral Zhang Ye. Saat sedang memantau dengan serius seekor merpati terbang dan hinggap di lengan kanan jendral, dia melihat sebuah gulungan di kaki merpati itu. Jendral Zhang Ye membuka isi gulungan itu dan ternyata benar dugaannya, Cheng Ao memberitahukan bahwa pasukan pemberontak akan bergerak menyerang barak di malam hari.


Jendral Zhang Ye langsung bergerak memimpin pasukannya dengan membuat jebakan panjang. Seluruh pasukan sebelah barat laut di bawah pimpinan jendral membuat jebakan ular beracun yang sudah diberikan oleh Zhang Lin berupa saluran parit yang panjang dan dalam serta di bawahnya banyak ular beracun, kemudian pasukan sebelah timur laut yang dipimpin oleh Chu Hongli membuat jebakan jaring harimau besar berupa serbuan panah dan pedang beracun. Sedangkan di barak pasukan sudah bersiap dengan persenjataan yang hebat.

__ADS_1


Seluruh divisi sudah siap dengan senjata dan jebakan mereka sesuai arahan jendral Zhang Ye. Semua sudah bersiap-siap menunggu kedatangan pasukan pemberontak.


Malam itu seluruh pasukan pemberontak yang berjumlah 20.000 bergerak menjadi dua bagian yaitu ke arah timur laut dan barat laut menuju barak pasukan jendral Zhang Ye. Mereka semua sudah siap mati dan dengan penuh keberanian menuju ke barak jendral Zhang Ye.


Ketika semua pasukan pemberontak bergerak, jendral Zhang Ye terkejut saat melihat sosok pemimpin pasukan itu. Ternyata yang memimpin pasukan itu adalah Wen Li yang tidak lain adalah paman dari keluarga ibunya pangeran Fang Tse.


"Berengsek, ternyata pemberontakan ini didalangi oleh keluarga Wen." ucap jendral Zhang Ye penuh amarah sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Pangeran Fang Tse kau benar-benar tidak tahu diri, aku yakin dalang dibalik pemberontakan keluarga Wen adalah kamu. Padahal kaisar sangat menyayangimu, namun kau sudah termakan racun kata-kata dari ibumu sendiri." ucap jendral Zhang Ye dalam hati dengan emosi yang sudah memuncak.


"Salam jendral, pasukan pemberontak sudah semakin dekat. Apakah kita sudah bisa melepas jebakan itu?" ucap salah satu anak buah jendral yang menyadarkan jendral dari lamunannya.


"Tidak, waktunya belum tepat. Kalian sabarlah. Tunggu sedikit lagi" ucap jendral Zhang Ye dengan tenang.


Di sebelah timur laut, Chu Hongli juga menunggu pasukan pemberontak menuju jebakan jaring harimau mereka.


"Tunggulah hingga mereka benar-benar berada sangat dekat dengan jebakan itu, baru kita lepaskan jebakan itu." ucap Chu Hongli dengan tenang dan sangat fokus.


Kedua divisi itu menunggu dengan sangat serius, mereka harus hati-hati dalam membuat keputusan untuk melepaskan jebakan itu, mereka berdua ingin meminimalisir kematian anak buah mereka. Jangan sampai mereka salah mengambil keputusan ini.


Setelah menunggu lama, akhirnya para pasukanĀ  pemberontak sudah berada di tempat sasaran dan akhirnya kedua jendral itu berkata:


"Lepaskan sekarang!".


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2