Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 6 : Akhirnya Dia Tahu!


__ADS_3

Rembulan menitikkan tetesan embun


Menetes menuju bumi


Terlihat sedih dan putus asa


Namun


Rembulan tetap tegar memberikan sinarnya


Demi bumi tetap bersinar di dalam kegelapan


~By:Fanisa/xiaochan520~


*****


Enam bulan sudah berlalu dan hari ini adalah hari terakhir pengobatan pangeran. Namun...


"Kyaaa.. Apa yang kau lakukan padaku Zhang Lin?" tiba-tiba pangeran Fang Yi terbangun dari tidurnya.


Pangeran melihat seluruh tubuhnya yang tak memakai sehelai pun pakaian. Dia bersembunyi menutupi tubuhnya di dalam selimut tebal itu. Dia melihat Zhang Lin dengan tatapan kejam dan kecewa.


"Apa yang sedang kamu lakukan padaku Zhang Lin?" tanya pangeran Fang Yi dengan marah.


"Maaf, maafkan aku pangeran. Aku tak berusaha untuk melecehkan atau mencelakaimu. Aku hanya.." ucap Zhang Lin dengan sedikit cemas dan ragu.


"Bohong. Kamu berbohong padaku. Katakan! katakan segalanya sebelum aku benar-benar membencimu dan mengusirmu dari istanaku!" teriak pangeran semakin kesal dan mendorong Zhang Lin hingga terjatuh dari ranjang sutera itu.


"Aku.. Maafkan aku pangeran. Aku telah melanggar janjiku padamu. Namun seperti inilah caraku mengobatimu. Aku harus menyatukan energi Yin dan Yang untuk dapat mengeluarkan racunmu dari sana. Itulah mengapa aku tidak pernah memberitahu tentang bagaimana caraku untuk mengobatimu" ucap Zhang Lin mencoba menjelaskan dengan pelan yang menundukkan kepalanya sambil duduk di lantai menahan sakit akibat dorongan keras dari pangeran Fang Yi.


"Jadi.. jadi.. jadi selama 6 bulan, setiap 3 hari sekali kita melakukan itu? Bukan.. maksudku kamu melakukan semua itu pada tubuhku?" tegas pangeran Fang Yi dengan suara lantang.


"Iya. Kita telah melakukannya selama 6 bulan dan hari ini adalah pengobatan terakhir yang sudah aku lakukan." ucap Zhang Lin dengan rasa penyesalan.

__ADS_1


"Lalu setelah ini, apakah masih ada pengobatan lain? ataukah masih ada yang kamu sembunyikan dariku Zhang Lin?" tanya pangeran Fang Yi penuh kekecewaan.


"Tidak. Tidak ada pengobatan lain. Semua racun di tubuhmu sudah menghilang. Tubuhmu sudah bersih dari racun bunga hitam itu. Mulai sekarang kamu sudah bisa mulai untuk berkultivasi pangeranku. Aku sudah berjanji akan mengajarimu bela diri dan strategi berperang." ucap Zhang Lin mencoba memberi semangat kepada pangeran Fang Yi.


"Baik. Baiklah. Karena aku sudah sembuh dan aku sudah bisa berkultivasi. Mulai saat ini, kita putuskan semua perjanjian kita dan kamu bisa pergi dari hadapanku. Aku berharap kamu jangan pernah lagi untuk menampakkan dirimu di hadapanku lagi sebelum aku memanggilmu. Bahkan lebih baik jika kamu menghilang selamanya dari hidupku. Aku sangat membecimu Zhang Lin. Aku sangat membencimu. Sekarang pergilah! Aku butuh waktu sendiri untuk menerima ini semua." perintah pangeran Fang Yi yang terdengar sangat kecewa.


"Tapi pangeran? apakah kamu begitu membenciku? apakah kamu benar-benar membenciku hanya karena aku berbohong demi kesehatanmu dan kebaikanmu? apakah aku benar-benar begitu buruk di matamu pangeran?" ucap Zhang Lin sambil meneteskan air mata.


"Pergilah! Pergilah sejauh mungkin hingga aku tak bisa melihatmu dan mencarimu lagi." ucap pangeran Fang Yi sambil memalingkan wajahnya dengan penuh kekesalan.


"Baiklah.. Baik.. Jika itu semua adalah keinginanmu. Aku akan memenuhi keinginanmu. Jika memang dengan kepergianku, bisa membuat kamu bahagia. Mulai saat ini, aku akan menghilang dan takkan pernah hadir dihadapanmu lagi. Aku akan keluar dari hidupmu selamanya" ucap Zhang Lin yang menangis tersedu-sedu dan pergi meninggalkan kediaman pangeran Fang Yi.


Hari itu merupakan hari pertengkaran pertama dan terakhir bagi mereka. Zhang Lin sangat mencintai pangeran Fang Yi, namun dia sudah terlanjur kecewa dengan ucapan pangeran yang tidak bisa menghargai usahanya dan terdengar sangat menyakitkan hatinya. Zhang Lin merasakan kesedihan yang sangat dalam, pangeran Fang Yi sama sekali tidak bisa merasakan cintanya yang sangat tulus.


Saat ini Zhang Lin benar-benar terluka, dia paham bahwa dia telah berbohong dan melanggar janji itu kepada pangeran Fang Yi. Namun apakah sikap yang seperti ini setimpal dengan pengorbanannya.


Selama 3 hari Zhang Lin terus menangis dan tak pernah sekalipun keluar dari kamar pribadinya. Semua pelayan di kediaman istana bingung dan tak bisa berbuat apa-apa. Mereka semua hanya masuk ketika mengantarkan makanan untuk Zhang Lin dan tak berani bertanya apapun.


Dua minggu sudah berlalu sejak pertengkaran itu. Tiba-tiba saja Zhang Lin memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencoba latihan pedang di taman buah plum di dalam kediamannya, dia terus berlatih tanpa melihat waktu demi melupakan semua yang telah terjadi. Zhang Lin berlatih cukup lama, hingga matahari tenggelam.


Dalam keadaan setengah sadar, Zhang Lin berkata: "Jangan panggil tabib. Tolong bawakan saja aku air hangat." ucap Zhang Lin dengan suara lemas kepada para pelayan istana.


Saat Zhang Lin tak sadarkan diri kembali, Hudie datang menghampirinya. Dia memberikan energi murni kepada Zhang Lin. Setelah mendapatkan energi murni itu, dia tersadar kembali dan melihat Hudie sudah berada di depannya.


"Bagaimana keadaanmu?" ucap Hudie dengan senyuman indahnya.


"Hmm, aku baik-baik saja. Hanya saja kepalaku sedikit pusing dan perutku sedikit keram." ucap Zhang Lin sambil memegang perutnya yang masih terasa nyeri.


"Tenanglah semua baik-baik saja. Perutmu keram karena kamu letih setelah latihan pedang yang cukup lama, sehingga janin di dalam perutmu merasa kesulitan." ucap Hudie dengan pelan.


"Oh, syukurlah." ucap Zhang Lin sambil menutup matanya kembali.


Kemudian dia tersadar dan membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Apa? janin? maksudmu bayi? maksudmu aku hamil?" teriak Zhang Lin terkejut.


"Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi? aku hanya melakukan itu sendiri dan bukan berdua. Aku melakukan itu saat pangeran Fang Yi tertidur pulas, jadi tidak mungkin aku hamil." ucap Zhang Lin menggelengkan kepalanya sambil memijat keningnya tanda tidak percaya.


"Apa yang tidak mungkin di dunia ini. Semua ini adalah takdirmu. Kamu sudah mengandung selama 4 bulan saat dalam pengobatan itu, namun kamu tidak pernah menyadari tanda-tandanya." ucap Hudie meyakinkan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku belum menyelesaikan misiku yang ke-2 dan sekarang aku hamil." ucap Zhang Lin sedih.


"Kamu harus pergi dari sini, karena misimu yang ke-2 dapat diselesaikan jika misimu yang ke-3 sudah terselesaikan." ucap Hudie dengan tenang.


"Lalu maksudmu untuk apa aku pergi? bagaimana caraku menyelesaikan misi ini? sebenarnya apa misi ke-3 yang harus aku lakukan?" Ucap Zhang Lin semakin penasaran.


"Misi ke-3 mu adalah membuat pangeran menyadari bahwa dia telah jatuh cinta padamu dan itu terjadi jika dia merasa kehilanganmu. Jika pangeran sudah jatuh cinta padamu, dia akan bersedia melakukan apapun untukmu bahkan untuk belajar kultivasi denganmu." Hudie menjelaskan penuh semangat.


"Baiklah aku mengerti. Lalu kemanakah aku harus pergi?" tanya Zhang Lin sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan putus asa.


"Pergilah ke bukit bunga perak. Disana ada gua yang bagus untukmu berkultivasi dan disana pula kamu harus melahirkan anakmu. Pergilah selama 2 tahun. Setelah itu kamu boleh kembali menemui pangeran Fang Yi." ucap Hudie dengan tegas.


"Baiklah aku mengerti. Aku akan melakukan semua ini dengan baik." ucap Zhang Lin dengan pasrah.


Sejak Zhang Lin mengetahui tentang kehamilannya, dia merasa hatinya semakin sedih. Dia masih berharap pangeran Fang Yi akan datang menemuinya sebelum dia benar-benar pergi dari istana ini. Namun sudah sebulan pangeran Fang Yi tak pernah menampakkan dirinya. Zhang Lin merasakan bahwa pangeran benar-benar membencinya dan tidak akan pernah mau mengunjunginya.


Akhirnya malam itu Zhang Lin memutuskan untuk pergi secara diam-diam. Dia hanya meninggalkan secarik surat untuk pangeran Fang Yi. Bagi Zhang Lin semuanya sudah berakhir dan bahkan dia tidak tahu apakah dia akan benar-benar ingin menyelesaikan misi ini agar dia bisa pulang ke tempat asalnya ataukah benar-benar pasrah hidup di dunia ini bersama anaknya yang akan dia lahirkan nanti.


Empat bulan setelah kepergian Zhang Lin. Pangeran memutuskan untuk mengunjungi istrinya. Dia berharap istrinya mau memaafkan kesalahannya. Kesalahan karena telah bersikap kasar padanya dan pangeran berharap Zhang Lin masih mau menjadi temannya dan mengajarinya untuk berkultivasi.


"Zhang Lin... Zhang Lin.. Zhang Linn.. Dimana kamu? ini aku Fang Yi." teriak pangeran sambil tersenyum di depan kamar Zhang Lin.


Namun Zhang Lin tidak menjawab panggilannya, dia mencoba mengetuk kamar istrinya, namun sekali lagi tak ada respon balasan dari dalam kamar istrinya. Cukup lama menunggu, istrinya tak kunjung membukakan pintu kamarnya. Pangeran Fang Yi merasa ada yang janggal, akhirnya dia mendobrak kamar istrinya dan mencari ke sekeliling kamarnya. Hasilnya kosong. Pangeran Fang Yi tak menemukan apapun. Dia terus berteriak memanggil nama Zhang Lin sambil berkeliling dengan cemas, tanpa sengaja dia melihat sebuah surat di atas kasur dan di sampingnya ada sebuah pedang berwarna biru. Pedang itu sangat indah dan tertulis nama pangeran Fang Yi di permukaan pedang itu.


Pangeran Fang Yi mengambil surat itu dan membacanya. Tiba-tiba surat itu terjatuh dan pangeran Fang Yi menitikkan air matanya untuk pertama kali.


"Mengapa? mengapa kamu benar-benar pergi? apakah aku sudah sangat melukaimu?" ucap pangeran Fang Yi dengan kesedihan yang mendalam, dia terus menangis dan merasakan dadanya yang sesak.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2