
Awan putih namun berkabut...
Langit biru namun mendung...
Bintang hadir namun tertutup awan...
Semua terjadi karena takdir...
Takdir hadir tanpa kata...
Takdir melangkah tanpa jejak...
Mengisyaratkan kepada para insan...
Hanya bisa mengikuti suratan itu...
Tanpa bisa menghindari sepenuh hati...
Karena ada rahasia di balik rahasia...
Yang tersirat dalam takdir ini...
~By:Fanisa/xiaochan520~
*****
Siang berganti malam. Malam berganti siang. Tak terasa sudah empat hari permaisuri Zhang Lin menghilang dari istana. Kaisar Fang Yi semakin cemas memikirkan bagaimana keadaan istrinya yang sedang hamil tua itu.
"Yang mulia" ucap Zhang Lin menyapa suaminya dan menyadarkan kaisar Fang Yi dari lamunannya.
Zhang Lin berdiri di hadapan suaminya, menunjukkan senyuman terindahnya. Kaisar Fang Yi melihat istrinya dengan ragu dan diam membeku tanpa ada reaksi apapun. Tatapannya kosong, tanda tak percaya akan kehadiran istrinya.
"Sayang, apakah suamiku tercinta ini tak merindukan istri nakalmu ini?" tanya Zhang Lin sambil merentangkan kedua tangannya.
Kaisar Fang Yi langsung tersadar dari lamunannya, ketika istrinya bertanya. Kaisar Fang Yi menghampiri istrinya dan memeluk istrinya itu. Tidak ada kata-kata yang terucap dalam bibir sang kaisar. Dia hanya memeluk erat istrinya. Pelukan itu cukup lama. Suaminya diam membisu, membuat Zhang Lin merasa bersalah.
"Suamiku, apakah kau masih marah padaku? mengapa kau tidak berkata apa-apa? mengapa kau tidak memarahiku?" tanya Zhang Lin bingung.
"Maafkan aku." ucap kaisar Fang Yi pelan.
__ADS_1
"Jika memang ini adalah takdir kita tak bisa memiliki putri dalam kandunganmu seutuhnya. Jika memang ini demi kebaikan putri kita. Aku akan menyetujuinya. Tapi berjanjilah satu hal padaku!" ucap kaisar Fang Yi lembut.
"Kau harus menepati janjimu untuk selalu berada di sisiku, meskipun dia menyuruhmu untuk kembali dan meninggalkanku." ucap kaisar Fang Yi semakin erat memeluk istrinya.
"Pergi? kemana aku harus pergi yang mulia? siapa yang berani menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu? Haha" ucap Zhang Lin yang tertawa menyembunyikan kebingungan akan kata-kata kaisar Fang Yi.
"Berjanjilah padaku!" ucap kaisar Fang Yi meminta ketegasan.
"Berjanjilah kau tidak akan pergi meninggalkan dunia ini." ucap kaisar Fang Yi seakan meminta ketegasan dalam jawaban Zhang Lin.
Tatapan mata sedih itu, membuat Zhang Lin kebingungan dan merasa aneh. Apa yang terjadi pada kaisar Fang Yi. Setiap kata-kata yang diucapkannya, seakan mengisyaratkan bahwa dia mengetahui sesuatu.
"Tidak. Tidak mungkin kaisar Fang Yi mengetahui tentang identitas asliku. Tidak mungkin tidak tahu. Ini hanya perasaanku saja." ucap Zhang Lin sedikit cemas.
"Aku berjanji yang mulia, aku tidak akan meninggalkanmu dan anak-anak kita. Jika kau telah menyetujui keinginanku, aku akan menepati janjiku" ucap Zhang Lin penuh keseriusan.
Setelah kata-kata yang sangat diharapkan oleh kaisar Fang Yi keluar dari bibir permaisuri Zhang Lin, kaisar Fang Yi baru melepaskan pelukannya itu dan tersenyum.
Cup..
Bunyi kecupan lembut dari bibir kaisar Fang Yi di dahi istrinya. Zhang Lin terdiam dengan sikap romantis suaminya secara terduga.
"Ayo, kita temui anak-anak. Mereka semua sangat mengkhawatirkanmu." ucap kaisar Fang Yi.
"Sayangnya Ibu." teriak Zhang Lin sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ibu..." teriak ketiga anaknya memeluk Zhang Lin penuh kerinduan. Mereka menangis bersamaan, mereka sangat bahagia bisa melihat ibunya kembali.
"Apakah kalian merindukan Ibumu yang cantik dan baik in, Hm?" ucap Zhang Lin memecah suasana yang penuh kesedihan ini.
Ketiga anaknya menatapnya penuh kerinduan. Zhang Lin memeluk ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Sudah. Sudah. Kita tidak boleh sedih lagi. Lebih baik bantu Ibu untuk mempersiapkan barang-barang hantaran untuk pernikahan paman kaisar Xiao San dan bibi permaisuri Zheng Fei" ucap Zhang Lin penuh semangat.
Akhirnya kaisar Fang Yi beserta ketiga anaknya membantu Zhang Lin untuk mempersiapkan bawaan untuk pernikahan kaisar Xiao San dan permaisuri Zheng Fei. Semua dipersiapkan dengan sangat rapi dan terlihat sangat indah dan mewah. Tak terasa sudah empat bulan lebih kerajaan Fang mempersiapkan barang-barang untuk pernikahan kaisar Xiao San dan permaisuri Zheng Fei.
"Ibu, kapan kita akan berangkat ke kerajaan Xiao?" tanya Jian.
"Sebulan lagi sayang. Kita akan berangkat kesana. Saat ini kalian bantu Ibu untuk mempersiapkan kehadiran adik kalian ya" ucap Zhang Lin lembut.
__ADS_1
"Jian. Jiantou. Ikut Ibu ke kamar. Ada yang mau Ibu bicarakan. Fang Qiu ikut dengan pelayan istana, kamu beristirahatlah dulu ya sayang." ucap Zhang Lin dengan lembut.
Fang Qiu dibawa pelayan istana ke dalam kamarnya, sedangkan Jian dan Jiantou mengikuti Zhang Lin ke kamar ibunya.
"Ibu permaisuri, ada apa? kenapa Fang Qiu tidak boleh mendengar pembicaraan kita?" tanya Jian dengan wajah bingung.
"Dengarkan Ibu, apakah kalian masih ingat peristiwa di bukit kupu-kupu perak? Disana kita sama-sama mencari bunga ajaib. Adik kalian juga akan memakan bunga ajaib seperti kalian sewaktu kecil." ucap Zhang Lin dengan wajah serius.
"Adik perempuan kalian sudah ditakdirkan untuk dirawat dan diasuh oleh paman kaisar Xiao San dan setelah dewasa nanti ditakdirkan untuk membantu kerajaan Xiao. Beberapa tahun lagi kalian berusia 17 tahun dan berhak menerima pedang dan panah itu. Dengarkan Ibu, bantu adik kalian saat kelahirannya nanti. Satukan ilmu kalian untuk membantu adik kalian mendapatkan senjata dalam tubuhnya dan kalian harus menjaga adik kalian saat berada di kerajaan Xiao." ucap Zhang Lin menjelaskan.
"Jaga adik kalian, jangan lupa untuk selalu memantau keberadaan dan keamanan adik kalian melalui mata batin kalian. Karena mata batin kalian bertiga berasal dari bunga ajaib itu dan sudah saling terhubung. Kalian bisa menemui adik kalian kapanpun dan dimanapun, jika kalian ingin membantu atau merindukannya. Kalian bisa bertemu dengannya dengan menyatukan senjata kalian nanti. Satu pesan Ibu, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu tentang ini semua, termasuk Ayah kaisar. Kalian paham?" ucap Zhang Lin meminta anaknya untuk berjanji.
Si kembar pun memenuhi janji itu dengan melakukan penyatuan darah mereka. Kini mereka harus menepati janji itu dengan nyawa mereka.
Sebulan telah berlalu. Persiapan untuk kelahiran putri mereka sudah rampung. Mereka hanya tinggal menunggu kelahiran putri kecil itu.
"Ibu, semua persiapan sudah selesai. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Jiantou.
"Ambil kantong pink milik Ibu di dalam lemari itu." perintah Zhang Lin.
"Bukalah dan ambil barang itu." ucap Zhang Lin.
Akhirnya kantong pink itu dibuka dan memperlihatkan senjata berupa pedang dan panah ajaib. Jian dan Jiantou mengambil senjata mereka masing-masing dan memegang bunga ajaib itu.
"Dengarkan Ibu, setelah satu jam adikmu lahir. Masukan bunga ajaib itu ke dalam tubuh adikmu. Setelah adikmu memakan bunga ajaib, tubuhnya akan mengeluarkan sebuah senjata. Tugas kalian adalah mengambil senjata itu dan masukan ke dalam kantong pink itu bersama dengan kedua senjata kalian. Paham?" ucap Zhang Lin dengan serius dan sedikit cemas.
Saat Zhang Lin sedang menerangkan semua kepada si kembar, perutnya terasa sangat keram dan berkontraksi dengan sangat kencang.
"Aduh. Aduh." teriak Zhang Lin kesakitan.
"Ibu.. Ibu.." panggil Jiantou panik.
"Fang Qiu cepat panggil tabib istana." teriak Jian dari dalam kamarnya dengan ilmu suara menuju telinga adiknya.
"Jiantou cepat panggil ayah kaisar kesini" perintah Jian dengan tegas.
Semua menunggu di depan kamar permaisuri Zhang Lin, namun hanya si kembar yang diperbolehkan masuk ke dalam kamar itu. Semua menunggu dengan cemas. Semua merasa panik, takut terjadi sesuatu dengan permaisuri Zhang Lin. Setelah tiga jam menunggu dengan penuh kecemasan, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang.
Oeeeekkk... Oeeeekkk..
__ADS_1
Bunyi tangisan putri kecil membuat semua orang yang mendengarnya langsung merasa tenang dan bahagia.
~Bersambung~