
Kematian
Sebuah takdir penuh dengan kesedihan
Ketika dia hadir dan menyapa
Semua orang akan merasa kehilangan
Perasaan menjadi tak berdaya
Hati merasa penuh luka
Jiwa terasa hampa
Hanya ada kesedihan
Hanya ada duka
Tetesan air mata terus mengalir
Sebagai saksi jiwa yang merana
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
"Ge, ayah kaisar." teriak Fang Qiu yang membuat Jian terkejut.
Tanpa bertanya, dia langsung berlari menuju ke istana timur. Sampai di kediaman kaisar Fang Yi, dia melihat kaisar Fang Yi terbaring tak berdaya dan napasnya mulai sesak tak terkontrol.
"Fang Qiu, panggil Jiantou cepat!" ucap Jian tegas.
"Ayah kaisar lihat aku, tolong tenangkan dirimu. Aku mohon kamu harus kuat." ucap Jian yang semakin panik, dia sangat takut kehilangan ayahnya. Dia memegang erat tangan ayahnya sambil menatap cemas keadaan ayahnya.
Jian sangat panik, dengan cemas menunggu adiknya yang tak kunjung datang.
__ADS_1
"Ge, ada apa dengan ayah kaisar?" tanya Jiantou dengan panik sambil memeriksa keadaan ayahnya yang sedang sakit karena napas yang tak beraturan.
Jiantou memeriksa keadaan kaisar Fang Yi, dia melakukan akupuntur di beberapa titik tubuh ayahnya untuk menstabilkan pernapasan ayahnya dan memberikan energi ketenangan dalam tubuh ayahnya.
Setelah cukup lama melakukan akupuntur, ayah kaisar kembali tenang dan tidur kembali. Tubuhnya sedikit lebih tenang dan napasnya mulai stabil.
"Bagaimana keadaan ayah kaisar?" tanya Jian sangat cemas.
"Yang mulia sudah lebih baik, tetapi aku mau ke toko obat dulu mencari obat untuk yang mulia. Kalian berjagalah disini." ucap Jiantou dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Jika pernapasan ayah kaisar mulai tidak stabil lagi, berikan energimu kepada ayah kaisar." ucap Jiantou kepada kakaknya pelan dan tegas.
"Hm, percayalah padaku. Aku akan menjaga ayah kaisar dengan baik. Pergilah!" ucap Jian sambil memegang tangan adiknya dengan lembut.
Jiantou berkeliling ke semua toko obat yang ada di kota, dia mencari bahan baku tanaman obat untuk menyembuhkan penyakit ayahnya dan mengawetkan tubuh ibunya. Namun sayang tanaman obat yang dicari adalah tanaman obat langka, sehingga tidak mungkin ada toko obat di ibu kota yang akan menjualnya.
Jiantou memutuskan untuk mencarinya ke hutan terlarang. Permaisuri Zhang Lin pernah menunjukkan dan membawa Jiantou ke hutan terlarang. Permaisuri Zhang Lin pernah memberitahu bahwa disana terdapat banyak tanaman obat langka yang tidak bisa ditemukan oleh sembarang orang. Permaisuri Zhang Lin pernah mengajari Jiantou cara mudah menemukan tanaman obat langka itu yaitu dengan cara menggunakan campuran darahnya yang memiliki kandungan bunga ajaib dan darah ibunya yang berasal dari kekuatan Hudie.
Dia berkeliling hutan terlarang mencari tanaman obat langka itu, namun hasilnya nihil. Sepanjang hari dia berkeliling mencari tanaman obat langka hingga matahari terbenam. Langit mulai gelap, jalan setapak mulai tak terlihat, terdengar bunyi suara binatang buas yang sedang mengawasi setiap langkah Jiantou. Karena sudah terlalu gelap, Jiantou memutuskan untuk menginap di hutan terlarang itu.
Jiantou mendirikan sebuah tenda kecil yang berasal dari akar pohon dan daun-daun di dalam hutan terlarang. Dia mendirikan sebuah tenda kecil yang mampu melindunginya dari kegelapan hutan dan kebuasan binatang yang mencoba untuk menyerangnya. Dia memasang sebuah aray perlindungan yang mampu melindunginya dan dapat tidur dengan tenang.
Menit berganti menit, jam berganti jam, sinar bulan redup dan tenggelam berganti menjadi sinar matahari yang terang. Sinar matahari di pagi hari masuk ke dalam tenda kecilnya. Sinar matahari yang menyilaukan itu mengenai matanya dan membuat matanya terbuka.
"Hm, sudah pagi." ucap Jiantou sambil mengusap lembut kedua matanya.
Dia bangun dan melihat ke arah sekeliling hutan terlarang. Sampai akhirnya matanya tertuju kepada seekor kupu-kupu perak yang sedang terbang ke arahnya. Matanya terus mengikuti arah terbang kupu-kupu perak itu hingga akhirnya kupu-kupu perak itu hinggap di lengan tangannya. Jiantou ingin menyentuhnya, namun tiba-tiba kupu-kupu perak itu terbang kembali dan berubah menjadi sosok wanita cantik.
"Hai, cantik." sapa Hudie dengan lembut.
"Kamu? Kamu Hudie teman ibunda permaisuri?" tanya Jiantou terkejut.
"Hm, aku Hudie. Bagaimana kabarmu?" tanya Hudie lembut.
"Aku baik-baik saja. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Jiantou sedikit terbata-bata karena masih terkejut dengan kedatangan Hudie.
__ADS_1
"Hm, ini wilayahku. Aku disini untuk membantumu mencari tanaman obat langka untuk ibu dan ayahmu." ucap Hudie pelan.
"Hudie, ibuku." ucap Jiantou lirih dan terdengar sangat sedih.
"Aku ingin mengawetkan tubuh ibuku. Aku ingin melihat jenazah ibuku lebih lama sebelum dikremasi. Apakah ada tanaman yang bisa membuat jenazah ibuku bisa bertahan?" tanya Jiantou sambil menahan tangis dan sedikit ragu.
"Semenjak ibuku meninggal, kondisi ayahku juga semakin lemah. Apakah pada akhirnya mereka berdua akan meninggalkan kami?" ucap Jiantou yang pada akhirnya meneteskan air mata.
Hudie sangat sedih melihat kesedihan yang begitu besar dirasakan oleh Jiantou. Hudie berusaha untuk menghiburnya dan memeluknya dengan erat.
"Hudie, ibuku sudah pergi. Dia sudah meninggal. Ibuku sudah pergi. Tak bisakah dia kembali? Tak bisakah ibuku kembali kepada kami?" ucap pelan Jiantou dipelukan Hudie sambil menangis dengan tersedu-sedu.
"Mari kita cari dulu tanaman untuk ayah dan ibumu. Ayo kita cari dulu tanaman obat langka itu untuk menyelamatkan ayahmu dulu." ucap Hudie sambil mengusap lembut punggung Jiantou memberikan ketenangan.
Mereka berdua berjalan dan sekali lagi berkeliling menelusuri hutan terlarang untuk mencari tanaman obat langka itu. Hingga mereka sampai di sebuah sungai dengan aliran air yang sangat deras. Di sekeliling tepi sungai itu, tumbuh subur dua buah tanaman dengan kelopak bunganya berwarna hitam dan putih yang di tengah kelopaknya berwarna merah jambu dan biru dengan tangkai berwarna hijau. Tanaman itu dikelilingi oleh lebah madu berwarna emas.
"Hudie, tanaman apa itu?" tanya Jiantou bingung.
"Tanaman dengan kelopak hitam untuk ayahmu dan kelopak putih untuk ibumu. Rebus tanaman itu dengan air sungai ini dan campurkan dengan madu yang berasal dari lebah emas itu. Kemudian tambahkan sedikit darahmu dan darah Jian lalu diamkan ramuan itu di dalam tanah yang dibungkus dengan daun teratai selama sehari. Setelah itu baru minumkan ramuan itu ke kaisar dan permaisuri. Setelah 7 jam, kamu dan Jian alirkan energi yin dan yang kepada kaisar dan permaisuri" ucap Hudie menjelaskan perlahan.
"Gunakan darah yang sudah dicampur darah ibumu, untuk menaklukkan lebah emas itu dan membuat bunga itu tidak mati saat dicabut dari akarnya." ucap Hudie menjelaskan perlahan.
Jiantou berhasil mencabut tanaman obat langka itu dan menyimpannya dalam kantong ajaib milik permaisuri Zhang Lin. Jiantou tanpa bertanya mengikuti Hudie berjalan menelusuri tepi sungai yang tadi ditemukan. Mereka terus berjalan cukup lama hingga sampai di sebuah gua kecil yang disekelilingnya dipenuhi dengan akar merah mencolok dan disekitar akar itu dihinggapi oleh kupu-kupu perak seperti wujud kupu-kupu Hudie.
"Ayo masuk." ucap Hudie pelan tanpa menoleh dan terus berjalan memasuki gua kecil itu.
Jiantou berjalan menelusuri gua kecil itu, di kanan dan kiri dinding gua terdapat banyak akar merah yang menempel dan dikelilingi oleh kupu-kupu perak. Jiantou terus berjalan hingga sampai di dalam gua, disana terdapat sebuah kolam kecil yang airnya berwarna hitam dan putih namun ditepi airnya berwarna emas.
"Hudie, kolam apa itu?" tanya Jiantou penasaran.
"Kolam kehidupan." ucap Hudie singkat
"Kolam kehidupan? Apa maksudnya?" ucap Jiantou pelan sambil menunjukkan ekspresi bingung.
"Kolam kehidupan untuk menghidupkan jiwa yang sudah pergi dari jasadnya." ucap Hudie tersenyum sambil mengedipkan matanya ke arah Jiantou.
__ADS_1
"Apa?" ucap Jiantou terkejut.
...~Bersambung~...