
Awan putih namun berkabut...
Langit biru namun mendung...
Bintang hadir namun tertutup awan...
Semua terjadi karena takdir...
Takdir hadir tanpa kata...
Takdir melangkah tanpa jejak...
Mengisyaratkan kepada para insan...
Hanya bisa mengikuti suratan itu...
Tanpa bisa menghindari sepenuh hati...
Karena ada rahasia di balik rahasia...
Yang tersirat dalam takdir ini...
~By:Fanisa/xiaochan520~
*****
Semua menunggu di depan kamar permaisuri Zhang Lin, namun hanya si kembar yang diperbolehkan masuk ke dalam kamar itu. Semua menunggu dengan cemas. Semua merasa panik, takut terjadi sesuatu dengan permaisuri Zhang Lin. Setelah tiga jam menunggu dengan penuh kecemasan, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang.
Oeeeekkk... Oeeeekkk..
Bunyi tangisan putri kecil membuat semua orang yang mendengarnya langsung merasa tenang dan bahagia. Semua tidak sabar ingin pintu itu dibuka, karena sebelumnya permaisuri Zhang Lin telah memerintahkan jika pintu itu belum dibuka, tidak ada satupun yang boleh masuk termasuk kaisar Fang Yi.
Setelah kelahiran putri kecil itu. Jian dan Jiantou mulai melakukan ritual yang pernah diperintahkan oleh ibunya. Kedua anak kembar itu mulai menyatukan ilmu mereka dan memasukan bunga ajaib ke dalam tubuh adiknya. Setelah adiknya menyerap sempurna bunga ajaib itu, keluarlah cahaya terang dari dalam tubuh adiknya. Dari cahaya terang itu, keluarlah sebuah senjata berupa cambuk ajaib berwarna hijau.
Cambuk hijau ajaib itu langsung menyerang si kembar itu, sehingga si kembar sekarang paham, mengapa ibunya menyiapkan senjata milik mereka saat kelahiran adiknya. Ternyata permaisuri Zhang Lin sudah mengetahui bahwa senjata yang keluar dari tubuh adiknya merupakan senjata hebat yang hanya bisa ditaklukkan oleh pedang dan panah mereka.
Si kembar mulai melakukan pertarungan antar senjata. Panah pink Jiantou dan pedang biru Jian mulai bertarung menyerang cambuk hijau ajaib itu. Ketiga senjata itu bertarung dengan hebat. Ketiga senjata itu memiliki ilmu yang sangat hebat. Ketiga senjata itu memiliki kekuatan yang setara. Tidak ada tanda-tanda bahwa cambuk hijau ajaib itu akan menyerah. Pertarungan senjata terus berlangsung.
__ADS_1
"Jian, satukan darahmu dengan Jiantou dan adikmu. Masukan darah itu ke dalam cambuk hijau ajaib itu. Cepat!" perintah Zhang Lin mulai cemas.
"Jiantou, pastikan aray kamar ini tetap berjalan. Jangan biarkan orang-orang di luar kamar ini, mengetahui kejadian yang sedang terjadi di dalam kamar ini." ucap Zhang Lin memastikan.
Sekuat tenaga, si kembar terus mengeluarkan energi tenaga dalamnya. Mereka berdua bekerja keras mempertahankan aray dan menaklukkan cambuk hijau ajaib itu.
"Ibu, kami sudah tidak bisa menahan ini. Tenaga dalam kami semakin melemah. Apa yang harus kita lakukan Ibu?" tanya Jian mulai ketakutan.
"Hudie.. Hudie.." panggil Zhang Lin yang masih dalam keadaan lemah.
"Hudie... Hudie.." panggil Zhang Lin sekuat tenaga.
Tak lama kemudian, Hudie datang untuk membantu si kembar menaklukkan cambuk ajaib itu.
"Jian. Jiantou. Satukan pedang dan panah kalian. Zhang Lin berikan darahmu ke senjata mereka. Cepat!" ucap Hudie.
Mereka semua terus bekerja keras. Mereka semua terus bertarung dengan cambuk hijau ajaib itu. Cambuk hijau ajaib terus menyerang pedang biru dan panah pink si kembar. Pertarungan terus berlangsung selama tiga jam, sampai akhirnya cambuk hijau ajaib itu mulai melemah dan tak bisa melawan lagi. Akhirnya cambuk hijau itu kehilangan energi dan akan jatuh ke lantai.
"Jiantou, cepat ambilkan kantung senjata ibumu. Cepat masukan cambuk hijau ajaib itu ke dalam kantung pink Ibumu." perintah Hudie.
Jiantou langsung memasukan cambuk hijau ajaib itu ke dalam kantung pink ajaib milik ibunya. Mereka juga memasukan pedang biru dan panah pink ke dalam kantung itu. Setelah semua senjata sudah dimasukan, kantong pink ajaib itu dikunci kembali dan akan terbuka saat usia si kembar sudah 17 tahun.
"Pakaikan gelang giok pink ini kepada anakmu dan jangan biarkan gelang ini lepas dari pergelangan tangannya. Ini akan membantunya untuk saling terhubung denganmu sekaligus menekan energi dari bunga ajaib yang belum stabil di dalam tubuhnya." ucap Hudie menjelaskan secara rinci.
"Jian. Jiantou. Masukan darah kalian ke dalam gelang giok pink ini. Darah kalian akan terhubung dengan aliran nadi adik kalian dan kalian bisa kapanpun menolong adik kalian." ucap Hudie dengan serius.
Akhirnya permaisuri Zhang Lin dan kedua anaknya sudah tenang. Semua hal yang harus dilakukan setelah kelahiran adiknya sudah dilaksanakan dengan baik. Mereka sangat senang tidak ada satupun yang rusak atau terjadi hal buruk.
"Jiantou, buka aray kamar ini. Biarkan Ayah kaisar melihat adikmu." perintah Zhang Lin sambil melirik ke pintu kamar.
Jiantou membuka pintu kamar itu. Kaisar Fang Yi sangat senang dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Putri kecilku. Putriku sayang. Ini ayah kaisar sayang" ucap kaisar Fang Yi sambil menggendong putri kecilnya.
"Sayang, siapa nama putri kita?" tanya kaisar Fang yang sedang bahagia.
"Bianzi. Nama putri kita Bianzi yang mulia." ucap Zhang Lin tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Putriku Bianzi, kamu sangat cantik seperti ibumu. Ayah kaisar akan selalu melindungimu, meskipun kau tidak tinggal disini nanti. Sayangnya ayah kaisar. Ayah kaisar berjanji akan selalu menjagamu, nak." ucap kaisar Fang Yi mengecup lembut kening putrinya.
Zhang Lin merasa sangat sedih saat kaisar Fang Yi mengucapkan kata-kata itu kepada putrinya yang baru lahir. Di dalam hati Zhang Lin, dia juga merasa sangat terluka. Ibu kandung mana yang tidak sedih, jika harus melepaskan bayi yang baru dilahirkannya. Dia sangat sedih karena hanya bisa merasakan pelukan putrinya selama beberapa hari saja. Namun Zhang Lin harus kuat dan tidak boleh menampakkan kesedihannya di depan kaisar Fang Yi, karena itu akan menambah kesedihan kaisar Fang Yi.
"Yang mulia, percayalah padaku. Kita masih dapat melihat perkembangan putri kita dari jauh. Jika kau merindukannya, aku akan membantumu melihat putri Bianzi." ucap Zhang Lin mencoba menenangkan hati kaisar Fang Yi.
Cup.
"Iya sayang. Aku selalu percaya padamu. Aku percaya putri kita akan baik-baik saja. Aku yakin dia akan mencintai kita sebagai orang tua kandungnya." ucap kaisar Fang Yi sambil mengecup kening istrinya dan memeluk istrinya yang masih lemah karena melahirkan.
Esok harinya, kaisar Fang Yi mengadakan pesta menyambut kelahiran putrinya. Mereka mengadakan pesta bersama seluruh rakyat di kerajaan Fang. Semua terlihat sangat bahagia.
*****
Di balik kebahagiaan itu, pangeran Fang Tse menatap penuh dendam dari atap istana. Pangeran Fang Tse terus memantau semua peristiwa yang terjadi di kediaman istana itu.
"Salam pangeran, semua sudah diatur." ucap mata-mata istana anak buah pangeran Fang Tse.
"Lakukan seperti perintahku. Jangan sampai gagal lagi" ucap pangeran Fang Tse.
"Kakak, lihatlah apa yang akan aku lakukan kepadamu dan keluargamu nanti. Aku tahu hatimu sudah mulai cemas, semenjak putra angkatmu terkena racun. Lihatlah bagaimana anak buahku akan bekerja keras untuk melukaimu secara perlahan-lahan. Hahaha" ucap pangeran Fang Tse tertawa penuh dendam.
"Selama orang itu masih berada di sisimu. Aku akan mudah untuk melukaimu. Dia sudah menjadi orang kepercayaanmu, namun suatu hari kau akan terluka karena ternyata dia juga yang telah mengkhianatimu. Hahaha" ucap pangeran Fang Tse tertawa semakin jahat.
"Zhang Lin, lihatlah bagaimana aku akan membunuh anakmu satu persatu. Aku akan membuatmu terluka, seperti kau sudah membunuh ibuku. Kamu akan menyaksikan anakmu mati satu persatu di hadapanmu" ucap pangeran Fang Tse sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ibu, tunggulah hadiah dari anakmu. Aku akan membawakan Zhang Lin ke neraka untuk menemanimu. Dia akan merasakan semua balasan karena telah membunuhmu." ucap pangeran Fang Tse yang menitikkan air mata penuh kesedihan dan terluka.
Setelah itu pangeran Fang Tse meninggalkan istana dan bersembunyi kembali untuk melancarkan setiap rencana jahatnya. Pangeran Fang Tse sudah menaruh banyak mata-mata di dalam istana dan dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan secara besar-besaran untuk merebut tahta dari tangan kaisar Fang Yi.
*****
"Ibu, lihatlah Bianzi tersenyum. Sepertinya dia bahagia dengan pesta ini." ucap Jian yang sedang bermain dengan adiknya saat digendongan permaisuri Zhang Lin.
"Besok kita akan pergi menuju ke istana kerajaan Xiao. Kita akan mengunjungi paman kaisar Xiao San dan menghadiri pernikahan mereka" ucap Zhang Lin kepada semua anak-anaknya.
"Asik." ucap ketiga anaknya sambil melompat-lompat gembira. Bianzi juga tersenyum indah saat mendengarkan nama kaisar Xiao San.
__ADS_1
~Bersambung~