Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 8 : Bayiku Telah Lahir!


__ADS_3

Lama hati ini rapuh...


Putus asa mulai menghampiri...


Tak kenal bahagia tak kenal asa...


Ingin hati diam membeku dalam tiada...


Namun...


Takdir berkata tidak...


Namun...


Waktu berkata jangan...


Kelahiran dua insan kecil...


Mengobati kerapuhan hati...


Asa mulai menghampiri kembali...


Hati mulai tertata kembali...


~By:Fanisa/xiaochan520~


****


"Cepat. Siapkan pengawal sebanyak mungkin. Aku akan meminta ijin kepada ayah kaisar untuk membawa istriku kembali. Tak peduli apapun, jika putra mahkota itu tidak mau mengembalikan istriku, kita musnahkan kerajaan kecil itu." ucap pangeran Fang Yi penuh dengan niat jahat.


Akhirnya pangeran Fang Yi bersama sepuluh ribu pengawal datang ke kerajaan kecil tersebut.


"Tunggu aku Zhang Lin. Tunggu aku istriku. Aku akan menjemputmu dan membawamu kembali." ucap pangeran Fang Yi dalam hatinya.


****


Hampir dua tahun yang lalu saat Zhang Lin meninggalkan istana dan ingin berkultivasi di bukit kupu-kupu perak. Dia sudah berjanji dalam hatinya bahwa dia harus melupakan perasaan ini kepada pangeran Fang Yi.


Selama berkultivasi dia sangat menderita. Dia selalu sendirian di gua itu. Dia mencoba bertahan demi janin di dalam kandungannya. Setiap malam Zhang Lin menangis meratapi penderitaannya. Dia merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Rapuh, ya itu keadaan Zhang Lin saat ini.


"Ya Tuhan, mengapa ini terjadi padaku? apakah begitu besar dosaku di dunia asalku? aku tak bisa menahan semua ini lagi? rasanya sungguh sakit, benar-benar terasa sangat sakit." ucap Zhang Lin dengan tangisan yang pecah sambil memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak.


Dia menangis dengan isak tangis yang mampu membuat seluruh penghuni gua mengetahui kesedihannya. Terlalu dalam dan sedih. Terlalu besar luka di hatinya. Rasa cintanya yang terlalu besar dan pengorbanan yang terlalu dalam, membuat dia sangat terluka.

__ADS_1


Saat dia sedang menangis pilu. Namun tiba-tiba...


"Aduh.. Aduh.. Aduh.. Hhhh. Aduhh.. Perutku. Perutku sakit sekali. Kenapa ini? Kenapa ini? Hhh.." teriak Zhang Lin sambil memegang perutnya terasa sangat sakit.


"Hudie. Hudie. Tolong aku, Hudie. Dimanakah kamu, Hudie? Tolong aku. Ini sakit sekali. Perutku sakit sekali." teriak Zhang Lin dengan putus asa.


Hudie mendengar teriakan Zhang Lin dan hadir di depannya. Hudie panik, dia melihat Zhang Lin sangat kesakitan. Ternyata dia akan melahirkan. Air ketuban sudah pecah dan membasahi seluruh kakinya.


Dengan sigap dia membantu kelahiran Zhang Lin. Butuh waktu lebih dari 2 jam untuk melahirkan bayi ini. Rasa letih dan takut melanda pikiran Hudie dan Zhang Lin. Tiba-tiba...


"Oekk.. Oekk.. Oekk.." suara bayi itu muncul ketika keluar dari rahim Zhang Lin.


Bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu memiliki tanda lahir seperti ayahnya yaitu tanda lahir bunga plum berwarna pink 🌺 yang berada di punggung kanan atas. Hudie segera membersihkan bayi itu, bayi itu menangis dengan kencang karena tubuhnya mulai kedinginan. Tak lama kemudian bayi itu terdiam dalam kehangatan yang diberikan oleh Hudie dengan sihirnya.


"Aduh. Aduh. Hudie, tolong aku. Hudie kenapa perutku masih sakit?" ucap Zhang Lin memegang perutnya kembali. Rasanya ada yang ingin keluar kembali.


Hudie terkejut dan mencoba memeriksa kembali perut Zhang Lin. Dan benar ternyata masih ada satu lagi bayi di dalam perut itu. Hudie sekuat tenaga mencoba mengeluarkan bayi itu. Dan...


"Oek.. Oek.. Oek.." suara tangisan bayi kedua itu muncul ketika keluar dari rahim Zhang Lin.


Sekarang bayi berjenis kelamin perempuan. Bayi itu terlihat sangat cantik dengan matanya yang sangat indah. Namun bayi ini terlihat lebih kuat dari bayi laki-laki itu. Secara sepintas Hudie sudah memahami, bahwa bayi perempuan ini yang akan selalu melindungi bayi laki-laki itu di masa depan. Bayi ini juga


memiliki tanda lahir seperti ayahnya yaitu tanda lahir bunga plum berwarna pink 🌺 yang berada di punggung kiri atas.


"Ini, simpanlah!" Hudie memberikan dua buah bunga ajaib kepada Zhang Lin.


"Berikan bunga ajaib ini kepada kedua bayimu saat berusia 5 bulan. Saat kedua bayimu memakan ini, akan ada energi yang masuk ke dalam tubuh mereka. Dan mereka akan memiliki kekuatan yang dapat melindungi dirimu dan ayahnya di masa depan." ucap Hudie menjelaskan dengan rinci.


"Setelah anakmu berusia setahun, datanglah ke sebuah kerajaan kecil di bawah bukit ini. Carilah cara agar kamu dapat masuk ke istana itu dan menjadi orang kepercayaan putra mahkota." perintah Hudie sambil memberikan senyuman indahnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Zhang Lin.


"Buatlah putra mahkota itu percaya padamu dan buatlah dia jatuh cinta padamu. Karena itulah misi ke-4 mu" ucap Hudie dan langsung terbang menghilang tanpa penjelasan lebih rinci.


Tak terasa lima bulan sudah usia bayi Zhang Lin. Seperti perintah Hudie, Zhang Lin harus memberikan makan kedua bayinya bunga ajaib itu. Saat kedua bayinya sudah memakannya, tiba-tiba ada energi yang sangat besar yang membungkus mereka dan ada cahaya sangat terang yang keluar dari tubuh mereka. Cahaya itu mengeluarkan dua senjata ajaib berwarna biru dan pink.


"Simpanlah kedua senjata ini dan berikan kepada kedua anakmu. Berikan pedang ini (berwarna biru) kepada putramu. Dan berikan panah ini (berwarna pink) kepada putrimu." suara itu langsung menghilang bersamaan dengan cahaya itu.


Setelah itu, Zhang Lin turun gunung dan mencoba mencari cara agar dapat masuk ke istana bertemu dengan putra mahkota. Dia sangat beruntung bahwa tiga hari setelah Zhang Lin mencari informasi. Putra mahkota akan melewati jalanan dekat tempat tinggal Zhang Lin. Di tempat itu terkenal dengan para bandit sakti yang suka merampok para bangsawan yang lewat.


Hari itu putra mahkota melewati jalan itu bersama pasukan pengawal istana. Sesuai prediksi Zhang Lin, para bandit sudah bersiap untuk merampok mereka. Saat mereka sudah terkena jebakan para bandit. Mereka semua bertarung untuk melindungi putra mahkota. Zhang Lin mencari momen yang tepat untuk membantu putra mahkota. Dan...


"Awas!" teriak Zhang Lin sambil menghalau pedang salah satu bandit yang akan menyerang putra mahkota.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zhang Lin dengan panik.


"Hmm" putra mahkota menjawab dengan anggukkan.


Zhang Lin membantu para pengawal istana membunuh semua bandit jahat itu. Zhang Lin sekuat tenaga membantai semua bandit itu. Setelah lama bertarung. Para bandit telah terbunuh semua dan para pengawal istana membersihkan semuanya setelah pertarungan.


Tiba-tiba karena kelelahan, tubuh Zhang Lin terjatuh dan ditangkap oleh putra mahkota. Mata mereka berdua bertemu, tatapan putra mahkota begitu tenang dan penuh kasih sayang. Mereka bertatapan sangat intens. Membuat detak jantung putra mahkota berdetak sangat kencang. Tiba-tiba Putra mahkota tersadar dan melepaskan pelukan dari Zhang Lin.


"Apakah kamu baik-baik saja? apakah kamu terluka?" tanya putra mahkota dengan panik.


Zhang Lin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda dia baik-baik saja.


"Terima kasih sudah menolongku. Siapa namamu?" tanya putra mahkota dengan lembut.


"Nama hamba Zhang Lin. Hamba petani di sekitar sini. Kebetulan hamba lewat dan melihat pangeran sedang kesulitan." ucap Zhang Lin mencoba membohongi putra mahkota.


"Sebaiknya pangeran menunda perjalanan, dan beristirahat di gubuk hamba. Karena di wilayah ini sangat menyeramkan ketika malam hari. Hamba tidak tahu apa lagi yang akan menyerang pangeran nanti." ucap Zhang Lin mencoba meyakinkan.


"Baiklah. Aku akan beristirahat di tempatmu. Terima kasih atas tawarannya." ucap putra mahkota tersenyum.


Akhirnya semua rombongan itu beristirahat di kediaman Zhang Lin. Mereka disuguhkan banyak makanan dan minuman serta tempat tidur meskipun sedikit tidak nyaman.


"Siapa dia?" tanya putra mahkota penasaran saat melihat ada dua bayi kembar yang sedang terlelap.


"Oh, mereka bayi-bayi hamba pangeran." ucap Zhang Lin dengan pelan.


"Ayahnya?" tanya lagi putra mahkota penasaran.


"Tidak ada. Ayahnya tidak mau mengakui anaknya. Jadi hamba yang merawatnya sendiri." ucap Zhang Lin penuh kesedihan.


"Apakah kamu mau tinggal di istanaku bersama kedua bayi kembarmu? disana kamu bisa menjadi pelayan istanaku sekaligus pengawal pribadiku. Dengan kemampuan bela diri yang kamu miliki, aku yakin ayah kaisar setuju mempekerjakanmu." ucap putra mahkota berharap penuh.


"Benarkah? benarkah hamba bisa tinggal di istanamu pangeran?" ucap Zhang Lin dengan senyum indahnya.


Senyum itu membuat perasaan putra mahkota semakin aneh. Detak jantungnya semakin kencang. Putra mahkota hanya menganggukkan kepala disertai senyuman yang lebar tanda setuju.


Pagi harinya Zhang Lin bersama pasukan istana putra mahkota pergi menuju istana. Di dalam kereta kuda Zhang Lin tertawa bahagia bersama putra mahkota membicarakan banyak hal yang sudah dilalui mereka. Namun Zhang Lin tidak pernah memberitahu dengan jujur tentang masa lalunya, bahkan tak pernah menyebutkan nama suaminya.


"Zhang Lin, aku belum sempat menanyakan kedua nama bayimu. Siapa nama mereka?" tanya putra mahkota.


"Aku belum memberi mereka nama pangeran. Aku hanya memanggil mereka Jian (anak laki-laki) dan Jiantou (anak perempuan)." ucap Zhang Lin dengan pelan.


Setelah lama mereka berbincang. Mereka mulai letih dan akhirnya tertidur sepanjang perjalanan.

__ADS_1


~ Bersambung~


__ADS_2