
Pengorbanan
Satu kata penuh misteri
Kata itu mampu membuat cinta semakin besar
Kata itu mampu membuat luka semakin dalam
Dan kata itu
Mampu membuat kenangan
Kenangan manis menjadi pahit
Kenangan pahit menjadi asam
Pengorbanan
Kata yang sangat mendalam
Penuh suka jika disertai cinta
Penuh duka jika disertai dendam
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
Note : Visualisasi scene diambil dari internet, bukan karya penulis.
...*****...
Pagi itu persiapan pernikahan telah selesai dan kedua pengantin dibawa ke depan altar untuk melaksanakan upacara pernikahan yang sakral ini dengan disaksikan oleh banyak orang yang mencintai kaisar Xiao San.
Keduanya melakukan upacara pernikahan itu dengan sakral, mereka saling memberikan penghormatan sebanyak lima kali. Penghormatan yang pertama dilakukan kepada sang pencipta, yang kedua penghormatan kepada alam, penghormatan yang ketiga kepada leluhur, penghormatan yang keempat ditujukan kepada orang tua mereka dan kelima kedua pengantin saling memberikan penghormatan kepada pasangannya.
...
"Selamat yang mulia. Selamat permaisuri. Semoga yang mulia dan permaisuri bahagia. Semoga yang mulia dan permaisuri diberikan pangeran kecil yang cerdas." ucap seluruh rakyat yang menyaksikan pernikahan itu....
__ADS_1
Seluruh rakyat berbahagia dan mengikuti pesta dengan gembira. Kedua pengantin menemani mereka berpesta hingga tengah malam. Kemudian kedua mempelai dibawa ke kamar kaisar Xiao San dan melaksanakan upacara berikutnya yaitu meminum anggur pengantin dan menyempurnakan pernikahan.
Kedua pengantin diantarkan ke dalam kamar dan diberikan kesempatan untuk menyempurnakan malam pengantin mereka.
Kaisar Xiao San membuka penutup wajah permaisuri Zheng Fei dan menatapnya dengan lembut. Dia menatap permaisurinya cukup lama dan permaisuri hanya terdiam melihat suaminya yang hanya menatap dirinya.
"Permaisuri." ucap kaisar Xiao San membuka suara dan berkata dengan lembut.
"Maafkan aku belum bisa menyempurnakan pernikahan kita. Berikan aku waktu. Jika aku sudah siap menyentuhmu, aku akan mendatangimu." ucap kaisar Xiao San tersenyum tipis dan memegang tangannya dengan lembut.
"Yang mulia." ucap permaisuri Zheng Fei terkejut dengan kata-kata yang didengarnya.
"Sekarang tidurlah di ranjangku dan aku akan tidur di ruang bacaku." ucap kaisar Xiao San dan pergi meninggalkannya tanpa menoleh.
Permaisuri Zheng Fei sangat terkejut dan terluka, air matanya langsung menetes di pipi lembutnya.
"Yang mulia, mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" ucap permaisuri Zheng Fei dalam hati dengan penuh kesedihan.
Malam itu di balik pesta pernikahan yang penuh dengan kebahagiaan, justru sang pengantin sudah saling menyakiti.
Permaisuri Zheng Fei berbaring di atas ranjang suaminya, tidur dengan posisi miring ke arah dalam ranjang, mengelus-ngelus ranjang di sebelahnya yang kosong dan terus menangis tanpa henti. Dia sangat terluka, di malam pengantin dia ditinggalkan oleh suaminya.
"Tapi ternyata mimpi indah itu hanya mimpi buruk. Kamu pergi meninggalkanku dan mengatakan kata-kata kejam itu. Apakah aku memang tak pernah ada di hatimu yang mulia?" ucap permaisuri Zheng Fei semakin terluka.
"Apakah pantas semua ini aku dapatkan yang mulia? mengapa di hatimu hanya ada permaisuri Zhang Lin? apakah aku memang benar-benar tidak bisa menggantikannya?" ucap permaisuri Zheng Fei lirih dan merasakan dadanya semakin sesak.
Sepanjang malam dia terus menangis dan berpikir tentang sikap suaminya. Dia sangat mencintai suaminya dan ingin memilikinya secara utuh.
Pagi itu dia membuka matanya, air mata sudah mengering di pipinya dan luka hatinya berusaha untuk ditutupi.
"Yang mulia, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan menghilangkan nama permaisuri Zhang Lin di hatimu dan mengukir namaku di hatimu." ucap permaisuri Zheng Fei dalam hati meneguhkan hatinya agar tidak terluka lagi.
Dia membersihkan diri untuk bertemu dengan suaminya. Keduanya menampakkan kepura-puraan mereka. Mereka memperlihatkan rona bahagia di depan keluarga kaisar Fang Yi dan para pejabat istana.
"Yang mulia karena pernikahan ini telah dilaksanakan dengan sangat baik dan penuh kegembiraan, besok siang kami mohon pamit untuk kembali ke kerajaan Fang." ucap kaisar Fang Yi dengan sopan.
"Hm, apakah itu tidak terlalu terburu-buru?" ucap kaisar Xiao San.
"Maafkan kami yang mulia, hanya saja kami baru dikabarkan oleh Jendral Zhang Ye ada kondisi darurat di istana yang harus segera kami tangani." ucap kaisar Fang Yi dengan sopan.
"Hmm, baiklah jika memang itu tidak bisa ditunda lagi. Aku tidak akan menahan kalian disini lebih lama lagi." ucap kaisar Xiao San dengan pelan sambil melihat ke arah permaisuri Zhang Lin.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan perjanjian kita sebelumnya?" tanya kaisar Xiao San tanpa basa-basi.
"Janji apa yang mulia?" tanya kaisar Fang Yi sedikit bingung.
"Hm, janji permaisuri Zhang Lin untuk memberikan putri kalian kepadaku." ucap kaisar Xiao San yang membuat semua orang terkejut.
Kaisar Fang Yi dan permaisuri Zhang Lin terkejut, mereka melupakan janji itu dan akhirnya waktu untuk menepati janji itu telah datang. Kedua suami istri itu terdiam dan tidak menjawab pertanyaan kaisar Xiao San.
"Yang mulia apa maksud semua ini?" ucap permaisuri Zheng Fei yang tiba-tiba memecah suasana mencekam itu.
"Kita akan merawat anak mereka, putri mereka akan menjadi putri angkatku. Kau harus menerima dan menjaga putri angkatku dengan baik." ucap kaisar Xiao San yang membuat hati yang sudah terluka separuh kini menjadi luka menyeluruh di hati permaisuri Zheng Fei.
"Hmm, aku tidak akan mengingkari janjiku. Besok aku akan menyerahkan putriku padamu." ucap permaisuri Zhang Lin sambil menundukkan wajahnya yang sudah terlihat bersedih.
"Terima kasih. Besok kita akan mengadakan upacara pengangkatan putriku." ucap kaisar Xiao San yang terdengar sangat bahagia.
Mereka melanjutkan makan mereka hingga selesai, kemudian kaisar Xiao San meninggalkan tempat itu dan kembali ke balai pertemuan dengan para pejabat untuk membicarakan masalah urusan negara sekaligus mengumumkan pengangkatan putri Bianzi sebagai putri angkatnya.
Saat rapat terjadi perselisihan yang pro dan kontra terhadap keputusan kaisar Xiao San. Namun dia tetap yakin pada pendiriannya dan tidak membiarkan siapapun yang menolak keputusannya.
Permaisuri Zheng Fei hanya bisa terdiam di kamarnya dan meratapi kehidupan yang sudah sangat menderita di hari kedua setelah dia menikah.
"Aku tidak boleh sedih. Aku harus kuat. Aku akan membuat suamiku mencintaiku meskipun harus berpura-pura menyayangi anak itu." ucap permaisuri Zheng Fei yang tersenyum sinis dengan hati yang mulai memiliki nilai jahat.
Ternyata kesedihan dan kekecewaan serta takut kehilangan membuat hati permaisuri menjadi hitam dan perangainya yang lembut berubah menjadi topeng obsesi untuk melukai siapapun yang ingin mengambil suaminya, meskipun dia harus melakukan segala cara agar semua perhatian dan cinta suaminya bisa dia dapatkan.
Permaisuri Zhang Lin dan suaminya berada di dalam kamar sedang duduk melamun mengingat bahwa dia akan kehilangan putrinya besok. Permaisuri Zhang Lin terus menggendong putri Zhang Lin dan tidak melepaskannya.
"Maafkan Niang nak. Maafkan Niang yang harus menyerahkanmu padanya." ucap permaisuri Zhang Lin menangis sambil memeluk erat putrinya.
"Ini sudah jalan takdirmu. Niang hanya ingin mengatakan bahwa Niang , Die dan saudaramu sangat mencintaimu dengan tulus. Kami tidak pernah membuangmu. Kami tidak bermaksud meninggalkanmu. Kamu tahu itu kan sayang?" ucap permaisuri Zhang Lin dengan lirih dan menitikkan air matanya tak terbendung lagi.
"Niang sayang kamu. Niang mencintaimu. Niang benar-benar mencintaimu, nak." ucap permaisuri Zhang Lin sambil mengecup kening putrinya cukup lama hingga air mata itu jatuh ke pipi putrinya.
Putri Bianzi dapat merasakan sentuhan ibunya yang penuh kesedihan. Tangan mungil putrinya menyentuh pipinya dan tersenyum lebar. Permaisuri Zhang Lin merasakan sentuhan tangan mungil itu yang membuat dia merasa sedikit tenang.
Kaisar Fang Yi bergantian menggendong putrinya dan memeluknya dengan erat. Dia hanya bisa menghela napasnya dan menatap putri kecilnya dengan tatapan penuh kesedihan.
Malam itu seluruh keluarga Fang tidur menemani putri Bianzi. Mereka semua ingin menemani putri Bianzi untuk terakhir kalinya. Malam itu terasa sangat panjang dan sedih yang mendalam. Seluruh hati merasa terasa terluka dan mencoba bertahan menerima takdir ini.
...~Bersambung~...
__ADS_1