Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 5 : Kami Berteman Dengan Syarat!


__ADS_3

Takdir benang merah telah terbentang...


Mengikat janji kedua insan...


Walau raga telah menyatu...


Namun hati masih tak berpihak...


Tuk menyatu dalam kebersamaan...


Biarlah waktu yang berkata...


Dua insan tuk bersua dalam lingkaran hati...


~By:Fanisa/xiaochan520~


*****


Salam pangeran. Ini aku Zhang Lin. Hamba datang untuk mengunjungi pangeran." ucap Zhang Lin dengan sopan.


"Pergi! aku tak membutuhkanmu. Kamu hanya istriku di hadapan kaisar. Aku tidak pernah mengakuimu sebagai istriku." ucap pangeran Fang Yi dengan  kesal.


"Hmm, berani-beraninya dia bermain kata-kata ya sama aku. Baiklah. Kamu yang memulai dan aku yang akan melanjutkan." ucap Zhang Lin dengan penuh semangat.


"Pangeran jika kamu tidak mengganggap aku sebagai istrimu, bisakah kita berteman saja? jika kamu setuju bukalah pintu kamarmu." ucap Zhang Lin penuh intrik.


Namun tidak ada respon balasan apapun dari dalam kamar itu. Zhang Lin tidak menyerah, sekali lagi dia memanggil pangeran dengan lantang.


"Pangeran, bukalah. Bisakah kita berteman dengan baik?" ucap Zhang Lin.


Merasa lelah dengan kebisingan yang ditimbulkan oleh Zhang Lin, akhirnya pangeran membuka pintu kamarnya dan melirik istrinya ini. Dalam hati pangeran, dia merasa pernah melihat istrinya ini. Namun, dia lupa mengingat dimanakah dia pernah melihatnya.


Pangeran melihat istrinya penuh kecurigaan. Dia tak pernah percaya dengan siapapun di dalam istana ini. Dia merasa bahwa istrinya adalah salah satu mata-mata yang dikirimkan oleh dari ibu tirinya yaitu selir Wen Jie. Dia sangat membenci ibu tiri dan adik tirinya. Karena merekalah yang menyebabkan ibu kandungnya dilengserkan dari posisi permaisuri dan akhirnya dibunuh dengan racun.


Permaisuri yang sekarang bukanlah ibu kandungnya. Namun seorang selir utama yang merebut posisi permaisuri dari ibunya. Namanya selir Wen Jie. Dia merupakan permaisuri yang terkenal kejam kepada para pelayan di kediaman para selir raja. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kekuasaan di istana bahkan dia berencana untuk merebut posisi putra mahkota untuk anak kandungnya sendiri yaitu pangeran Fang Tse.


Permaisuri Wen Jie memiliki putra bernama Fang Tse. Dia merupakan adik tiri dari pangeran Fang Yi. Usianya hanya terpaut 3 tahun. Pangeran Fang Tse memiliki wajah yang tampan, namun memiliki tempramen yang buruk seperti ibunya. Dia sangat kejam dan selalu menyiksa siapapun yang membuat dia kesal.


Pangeran Fang Tse sangat menginginkan posisi kaisar. Dia berusaha membuat pangeran Fang Yi tidak bisa berbuat apa-apa untuk merebut posisi tersebut. Walaupun pangeran Fang Yi mengetahui kekejaman dan kejahatan yang sudah dilakukan oleh mereka, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya sekarang.


"Masuklah. Tutup pintu itu!" perintah pangeran Fang Yi dengan curiga dan sinis.


"Siap pangeran." ucap Zhang Lin dengan senyum menggoda.


"Apa yang kamu inginkan? apa maksudmu dengan berteman?" tanya pangeran Fang Yi dengan penasaran.


"Walaupun kita sudah menjadi suami istri dan kita belum melakukan penyempurnaan pernikahan. Aku menganggap itu semua biasa aja. Kita lupakan saja semua ritual dan tradisi itu. Aku tidak akan marah. Karena kita tahu, kita berdua tidak saling cinta. Benarkan?" Zhang Lin menjelaskan sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


Kedipan itu entah mengapa membuat pangeran Fang Yi menjadi malu dan membuat seluruh wajah pangeran memerah.


"Hmm, lalu apa yang kamu inginkan?" Ucap pangeran Fang Yi menunduk dengan wajah tersipu malu.


"Aku hanya ingin berteman denganmu karena kita memiliki usia yang sama dan aku ingin membantu kesulitanmu. Anggap aku sebagai penjagamu di istana ini. Aku akan selalu berada disisimu sebagai teman baikmu" tegas Zhang Lin sambil menampakan senyum gigi putihnya.


"Bagaimana caramu membantuku?" tanya pangeran Fang Yi yang mulai nyaman dengan pembicaraan ini.


"Aku akan mengobati lukamu sampai sembuh, aku juga akan mengajarimu beladiri dan strategi berperang. Kemampuan ini yang akan membuatmu bisa menjadi seorang kaisar nantinya." ucap Zhang Lin dengan semangat.


"Benarkah? apa kamu tidak membohongiku? apa kamu bisa melakukan semua yang kamu katakan padaku?" tanya pangeran Fang Yi sambil memegang kedua tangan Zhang Lin.


"Hmm" Zhang Lin berdehem sambil melirik tangan pangeran Fang Yi yang sedang memegang erat kedua tangan Zhang Lin.


Tersadar karena lirikan mata Zhang Lin, secara spontan pangeran Fang Yi melepaskan tangannya dan menundukkan kepalanya kembali.


"Tetapi aku mempunyai 3 syarat!" ucap pangeran Fang Yi dengan tegas.


"Apa? aku akan melakukannya dengan baik, aku janji. Yang terpenting tidak menganggu prinsip hidupku." ucap Zhang Lin dengan tersenyum.


"1. Kita hanya sebagai teman dan tidak akan pernah melakukan penyempurnaan suami istri. 2. Kita tidak boleh memasuki kehidupan pribadi masing-masing. 3. Kita tidak boleh menghalangi cinta masing-masing saat sudah menemukan orang yang kita cintai." ucap pangeran Fang Yi dengan tegas.


"Hmm, baiklah. Aku akan menyanggupinya. Tetapi aku juga mempunyai 3 syarat yang harus kamu penuhi. Apakah kamu sanggup melakukannya?" tanya Zhang Lin dengan tegas.


"1. Kamu harus mengikuti perkataanku selama pengobatan. 2. Kamu harus membiarkanku tetap di sampingmu selama pengobatan 3. Jika suatu saat aku pergi, jangan pernah mencariku sampai kapanpun." ucap Zhang Lin dengan tatapan sedikit sedih.


Saat mengucapkan janji tersebut, pangeran Fang Yi tidak pernah menyadari bahwa persyaratan yang diajukan Zhang Lin suatu hari akan menjadi penyesalan terbesarnya. Janji yang dia buat akan melukai hatinya sendiri.


Mulai saat kedua insan ini berteman dengan diawali syarat mereka masing-masing. Setelah dimulainya pengobatan pangeran. Zhang Lin mulai intens datang ke kediaman pangeran Fang Yi. Pengobatan hanya dapat dilakukan di malam hari. Sehingga biasanya Zhang Lin datang saat matahari mulai tenggelam. Sebelum melakukan pengobatan mereka berbincang-bincang bersama dan makan malam bersama. Setelah cahaya rembulan hadir di antara mereka. Barulah Zhang Lin memulai pengobatannya.


Pengobatan yang dilakukan Zhang Lin adalah mengeluarkan racun yang dilakukan melalui penyatuan Yin dan Yang. Dan penyatuan ini tidak diketahui oleh pangeran Fang Yi. Setiap 3 hari sekali Zhang Lin akan melakukan pengobatan tersebut, di saat pangeran dibuat tidur oleh Zhang Lin. Zhang Lin tahu bahwa dia telah melanggar janjinya yang pertama. Namun, hanya cara ini yang bisa membuat semua racun di dalam tubuh pangeran keluar, yaitu keluar melalui cairan dari Mr.P nya.


Dari sinilah Zhang Lin paham kenapa misi pertama harus masuk ke istana dan menikahi pangeran Fang Yi. Karena cara ini hanya dapat dilakukan oleh istrinya sendiri. Tanpa sadar, Zhang Lin merasa sangat kasihan kepada pangeran. Dia memikirkan betapa kejam ibu tiri dan adik tirinya. Dia sangat paham bahwa bahwa pangeran Fang Yi pasti sudah sangat putus asa bahwa seumur hidupnya takkan ada satupun tabib yang dapat mengobatinya.


Setelah dua bulan melakukan pengobatan, tubuh pangeran mulai mengalami perubahan. Pangeran sangat bahagia dengan pengobatan itu. Dia merasa terlahir kembali.


"Zhang Lin, terima kasih. Terima kasih temanku." ucap pangeran Fang Yi sambil memeluk Zhang Lin tanpa sadar.


Zhang Lin hanya tersenyum bahagia melihat pangeran sangat bahagia.


"Berapa lama lagi pengobatan ini akan berlangsung?" tanya pangeran Fang Yi dengan penasaran.


"4 bulan lagi. Anda harus bersabar. Setelah itu, aku akan mengajarimu beladiri dan ilmu strategi peperangan." ucap Zhang Lin sambil memegang tangan pangeran Fang Yi.


"Baik. Baiklah, aku akan selalu sabar. Terima kasih sekali lagi temanku." peluk pangeran Fang Yi kembali.


Zhang Lin menerima pelukan itu dengan hati yang sedikit resah, dia dapat merasakan detak jantungnya berdetak kencang. Mereka berpelukan cukup lama. Tanpa sadar, Zhang Lin meneteskan air matanya. Dia tahu sebentar lagi akan menjalankan misi ketiganya dan itu terasa berat. Hatinya sangat berat untuk melakukan misi ketiganya. Dalam hatinya dia mulai sadar bahwa diam-diam dia sudah mulai mencintai pangeran Fang Yi. Dia sudah mencintai suaminya sendiri. Sebelum pangeran melepaskan pelukan itu, Zhang Lin langsung menyeka air matanya. Dia tidak ingin pangeran Fang Yi mengetahui isi hatinya yang sedang sedih itu.

__ADS_1


"Pangeran, maukah kamu menemaniku jalan-jalan?" ucap Zhang Lin dengan penuh intrik.


"Bagaimana kalau kita keluar istana? aku akan membawamu ke banyak tempat." rayu Zhang Lin dengan mata puppy dan sikap manjanya.


"Hmm, baiklah." pangeran Fang Yi menganggukkan kepalanya.


"Zhang Lin.. Bisakah kamu pelan-pelan membawa kuda ini? aku rasanya ingin muntah." ucap pangeran Fang Yi ketakutan


"Hahahaha.. Pangeran inilah seni berkuda. Semakin kencang kudanya semakin asik berkudanya" Zhang Lin sedikit menggodanya.


"Hentikan, hentikan, tolong hentikan! Zhang Lin.." teriak pangeran Fang Yi penuh ketakutan.


"Haihhh.. Cupu banget sih ini pangeran. Awas nanti  aku kerjain kamu." Ucap Zhang Lin dalam hatinya sambil tersenyum jahat.


Saat Zhang Lin menghentikan kudanya. Tiba-tiba saja pangeran turun dari kuda itu, dia berlari menjauh dan memuntahkan isi perutnya. Wajahnya memerah karena kesal dan ketakutan. Dia benar-benar dibuat kesal oleh Zhang Lin. Saat dia membalikan tubuhnya ke arah Zhang Lin. Dia terkejut saat mengetahui Zhang Lin menghilang. Pangeran Fang Yi bingung. Dia mulai panik dan ketakutan.


"Zhang Lin... Zhang Lin... Dimana kamu?"  teriak pangeran sambil berlari berkeliling mencarinya.


Pangeran terus berlari mencari Zhang Lin, namun dia tak menemukannya. Tiba-tiba saja...


"Kyaaaa... Pangeraaannnn..." teriak Zhang Lin dengan kencang.


Pangeran Fang Yi sangat terkejut dengan teriakan itu dan tergesa-gesa berlari menuju sumber suara. Pangeran terkejut bercampur kesal ternyata dia melihat Zhang Lin sedang bermain dengan seekor kelinci. Dia berteriak bukan karena meminta pertolongan namun karena melihat kelinci yang sangat menggemaskan.


"Ampun, ampun, ampun pangeran. Bisakah kamu lepaskan tanganmu dari telingaku. Ini sakit." ucap Zhang Lin memohon dengan suara lemah saat ditarik telinganya oleh pangeran Fang Yi.


"Kemana saja kamu. Kenapa kamu meninggalkanku? apakah kamu ingin aku ketakutan setengah mati dan bahkan mati disini? Hah?" ucap pangeran Fang Yi dengan mata berkaca-kaca menahan ketakutan dan kecemasan.


"Ya ampun, ternyata pangeranku baper banget. Hahahaha.." tawa Zhang Lin semakin kencang.


Pangeran yang tidak mengerti ucapan istrinya ini hanya diam dan tersenyum melihat istrinya tertawa lepas. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang membuat jantungnya berdetak kencang. Apakah dia mulai jatuh cinta dengan istrinya ini. Sang pangeran masih belum menyadari perasaannya sendiri.


"Baiklah, ayo kita pergi mencari cemilan" ucap Zhang Lin sambil menarik tangan pangeran Fang Yi kembali ke kuda mereka.


"Pangeran, apakah kamu ingin nyaman saat berkuda?" ucap Zhang Lin menggoda.


Kemudian dia menaikkan pangeran di depan dan Zhang Lin memeluk tubuh pangeran dari belakang punggungnya sambil mengendarai kuda tersebut.


"Bagaimana pangeran, apakah sekarang sudah membuatmu nyaman?" ucap Zhang Lin sambil membisikan pelan di telinga pangeran.


Wajah pangeran langsung memerah dan jantungnya berdetak sangat kencang. Dia hanya terdiam tersipu malu.


"Ada apa denganku? kenapa aku merasa sangat nyaman saat berada dipelukannya? Tidak, tidak, ini tidak boleh. Aku tidak boleh melanggar janjiku padanya. Aku hanya berteman dengannya." ucap pangeran Fang Yi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Enam bulan sudah berlalu dan hari ini adalah hari terakhir pengobatan pangeran. Namun...


"Kyaaa.. Apa yang kau lakukan padaku Zhang Lin?" tiba-tiba pangeran Fang Yi terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2