Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 9 : Hatiku Mulai Goyah!


__ADS_3

Dahulu benang merah telah terbentang...


Mengikatkan jari dua insan dalam janji...


Namun janji telah teringkari...


Hingga salah satu hati mulai goyah...


Keraguan...


Kekecewaan...


Kebencian...


Bersatu padu dalam hati yang telah rapuh...


Hingga udara segar hadir di dalam hati...


Mencoba mengobati kerapuhan hati...


Hati yang rapuh semakin goyah...


Mencari pelabuhan hati...


Yang mampu memberi kebahagiaan...


~By:Fanisa/xiaochan520~


*****


"Zhang Lin, aku belum sempat menanyakan kedua nama bayimu. Siapa nama mereka?" tanya putra mahkota.


"Aku belum memberi mereka nama pangeran. Aku hanya memanggil mereka Jian (anak laki-laki) dan Jiantou (anak perempuan)." ucap Zhang Lin dengan pelan.


Setelah lama mereka berbincang. Mereka mulai letih dan akhirnya tertidur sepanjang perjalanan.


****


Saat ini Zhang Lin sedang melakukan misinya yang ke-4 dia harus masuk ke kerajaan kecil di bawah bukit kupu-kupu perak. Kerajaan kecil ini dipimpin oleh kaisar bernama Xiao Jiao. Kaisar memiliki seorang putra mahkota bernama Xiao San. Xiao San merupakan putra mahkota satu-satunya penerus kerajaan kecil ini. Dia merupakan seorang putera mahkotan yang sangat cerdas dan tampan. Wajahnya sangat tampan. Sikapnya sangat lembut dan bijaksana terhadap rakyatnya.


Putra mahkota Xiao San membawa Zhang Lin ke istananya dan menjadikan dia sebagai pelayan istana sekaligus pengawal pribadinya. Dia sangat berhutang nyawa kepada Zhang Lin, karena pertolongannya dia dapat selamat sampai istana.


"Salam hormat ayah kaisar. Hamba menghadap ayah kaisar membawa kabar dari perjalanan." ucap putra mahkota Xiao San memberi hormat.

__ADS_1


"Kami sudah melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Fang. Kaisar Fang Zhao sudah menerima perjanjian damai antara dua kerajaan. Kaisar Fang Zhao memberikan keputusan bijak dengan tidak mengambil banyak upeti untuk diberikan kepada kerajaan kita. Sehingga kerajaan kita tidak akan kesulitan memenuhi upeti tersebut." ucap putra mahkota Xiao San menjelaskan secara rinci.


"Lalu siapa wanita yang kamu bawa ini?" tanya kaisar Xiao Jiao penasaran.


"Wanita ini bernama Zhang Lin, ayah kaisar. Dia seorang petani yang tinggal di daerah bukit kupu-kupu perak. Dia telah menyelamatkan nyawa hamba dan para pengawal istana dari serangan para bandit sakti disana." ucap putra mahkota Xiao San menjelaskan dengan semangat.


Kaisar melirik putra mahkotanya dengan tatapan aneh. Dia merasakan bahwa putra mahkotanya sudah jatuh cinta dengan wanita yang dibawanya ini.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya kaisar Xiao Jiao kembali.


"Maafkan hamba yang mulia. Hamba meminta ijin ingin menjadikan Zhang Lin sebagai pelayan istana dan pengawal pribadi hamba. Karena hamba sudah mengetahui kehebatannya. Hamba yakin dia dapat melindungi hamba." ucap putra mahkota Xiao San dengan wajah yang memerah dan tersipu malu.


"Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan. Tempatkan dia di kediamanmu dan berikan dia pakaian yang layak. Jadikan dia sebagai gurumu, agar bela dirimu semakin terlatih." perintah kaisar Xiao Jiao.


"Hamba terima perintah yang mulia." ucap putra mahkota Xiao San dengan senyum melebar.


Kemudian putra mahkota Xiao San membawa Zhang Lin ke kediamannya. Dia menempatkan Zhang Lin tidak jauh dari kediamannya, agar dia dapat melihat wanita itu dengan mudah. Ada hasrat yang sangat menggebu di hati putra mahkota Xiao San. Dia sangat ingin mendapatkan hati Zhang Lin dan menikahinya suatu hari nanti.


"Zhang Lin. Zhang Lin." panggil putra mahkota Xiao San sambil berlari kecil.


"Apakah kalian melihat Zhang Lin?" tanya putra mahkota Xiao San kepada pelayan istana yang sedang lewat.


"Jawab putra mahkota. Nona Zhang Lin sedang berlatih pedang di taman bunga persik sambil mengajak kedua anaknya bermain, yang mulia." ucap pelayan istana dengan pelan.


"Baik. Hamba melaksanakan perintah yang mulia." ucap pelayan menundukkan kepala dan pergi meninggalkan putra mahkota Xiao San.


Sesampainya di taman bunga persik. Putra mahkota Xiao San melihat senyum kebahagiaan Zhang Lin dan anak-anaknya. Mereka bermain dengan sangat riang.


"Zhang Lin." panggil putra mahkota Xiao San dengan berlari kecil.


"Hati-hati yang mulia. Kenapa anda berlari seperti itu. Jaga sikapmu yang mulia. Apa kata para pelayan istana nanti, saat melihat seorang putra mahkota tidak menjaga sikapnya." ucap Zhang Lin sedikit mengomel.


"Hahaha. Baiklah. Baiklah. Aku ingin mengajakmu minum teh. Pelayan istana sudah menyiapkan untuk kita. Biarkan anak-anakmu dibawa oleh pelayan istana untuk tidur siang. Sudah waktunya mereka istirahat." pinta putra mahkota Xiao San dengan melas dan sedikit manja.


Kemudian Zhang Lin menyerahkan kedua anaknya kepada pelayan istana dan menemani putra mahkota Xiao San minum teh di bawah pohon bunga persik yang sangat indah.


"Yang mulia. Apakah anda ingin berlatih pedang denganku?" tanya Zhang Lin dengan lirikan.


Putra mahkota Xiao San menganggukkan kepala tanda setuju. Setelah kegiatan minum teh. Mereka berlatih bersama hingga matahari tenggelam. Mereka menyadari hari mulai malam dan mengakhiri latihan mereka. Mereka kembali ke kediaman masing-masing.


Tak terasa, sudah cukup lama Zhang Lin bersama kedua anaknya tinggal di istana. Mereka lalui kehidupan mereka dengan bahagia. Layaknya seperti keluarga kecil, mereka lalui semua itu dengan penuh kasih sayang. Hingga hati Zhang Lin mulai goyah. Dia mulai merasakan perasaan aneh kepada putra mahkota Xiao San. Ada rasa yang sama seperti yang dia pernah rasakan kepada pangeran Fang Yi. Walaupun terasa sama, namun sebenarnya rasa itu tetaplah sedikit berbeda.


*****

__ADS_1


Tak terasa sudah setahun usia anak kembar Zhang Lin. Efek bunga ajaib mulai terlihat. Kedua anaknya dapat melakukan latihan beladiri dengan sangat fasih bersama Zhang Lin dan putra mahkota Xiao San meskipun usia kedua anaknya yang masih sangat kecil. Terkadang putra mahkota Xiao San sendirilah yang mengajari mereka bermain pedang dan panah.


"Yang mulia. Yang mulia." panggil Jian sambil berlari memeluk putra mahkota Xiao San.


"Yang mulia bisakah membawaku bermain ke luar istana? aku sangat bosan bermain pedang disini." rayu Jian sambil menunjukkan wajah imutnya.


"Yang mulia. Yang mulia. Aku juga mau ikut bersamamu." panggil Jiantou memeluk manja putra mahkota Xiao San.


"Hahahaha. Baiklah. Baiklah. Tapi kalian harus ijin dengan Ibu kalian atau Ibu kalian akan menghukum kalian nanti karena pergi diam-diam." tawa putra mahkota Xiao San mencoba menakuti mereka.


Saat putra mahkota Xiao San menyuruh mereka meminta ijin kepada Zhang Lin. Tiba-tiba kepala mereka tertunduk takut. Mereka tahu pasti ibunya tidak akan mengijinkan mereka pergi ke luar istana.


Tapi tiba-tiba...


"Ayo, Ibu juga ikut. Ibu sangat ingin sekali memakan ayam bakar kaki lima hihihi." ucap Zhang Lin tertawa senang.


"Yeayyyy... Ayo kita pergi." teriak kedua anak itu bersamaan.


Mereka pun pergi ke luar istana dan jalan-jalan hingga malam. Mereka mengelilingi semua toko di pasar itu. Si kembar membeli banyak mainan dari toko-toko tersebut. Saat malam tiba mereka memandangi kembang api yang dinyalakan dengan sangat indah. Mereka seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Putra mahkota Xiao San pun memiliki niat lebih untuk tetap bersama mereka. Mereka memutuskan untuk tidur di penginapan.


"Tok.. Tok.. Tok.. Zhang Lin bisakah keluar sebentar? ada hal yang ingin aku bicarakan." ucap putra mahkota Xiao San sambil mengetuk pintu kamar Zhang Lin. Zhang Lin membuka pintu itu dan mengikuti putra mahkota ke suatu tempat.


"Ada apa yang mulia? apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Zhang Lin dengan penasaran.


"Aku ingin menanyakan suatu hal yang penting. Dan mungkin kamu juga sudah menyadarinya sejak lama, bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama. Maukah kamu menjadi permaisuriku?" tanya putra mahkota Xiao San dengan ragu.


"Aku tahu ini terlalu cepat. Jika kamu belum bisa melupakan ayah dari anak-anakmu. Aku bersedia menunggumu selama apapun hingga kamu bisa mencintaiku?" ucap putra mahkota Xiao San dengan suara sedih.


Zhang Lin bingung. Hatinya memang sudah lama goyah. Dia tidak tahu siapa yang benar-benar dia cintai. Dia ragu dengan hatinya sendiri. Dia menundukkan kepalanya tanda kegelisahan dan kebingungan di hatinya. Zhang Lin terus melamun dan memikirkan perkataan putra mahokta Xiao San.


Namun tiba-tiba saat masih dalam lamunan, putra mahkota Xiao San menyentuh dagu dan sedikit mengangkat wajah Zhang Lin. Tanpa aba-aba dia mencium bibir Zhang Lin. Zhang Lin terkejut dan membeku menatap mata putra mahkota Xiao San yang sedang mengecup bibirnya.


Tak lama kemudian Zhang Lin menutup matanya dan merespon ciuman itu. Mereka berpelukan dan melakukan ciuman yang sangat intim. Mereka melakukan itu cukup lama, hingga akhirnya putra mahkota Xiao San menghentikan ciuman itu dan membisikkan sebuah kata yang membuat Zhang Lin tersadar.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." bisik putra mahkota Xiao San di telinga Zhang Lin dengan lembut.


Saat kata itu terucap, terlintas wajah pangeran Fang Yi yang membuat air matanya menetes. Hatinya benar-benar goyah. Saat itu di depannya adalah putra mahkota Xiao San dengan penuh kelembutan yang benar-benar tulus mencintainya. Namun yang terlihat di matanya adalah pangeran Fang Yi yang sedang menatapnya dengan penuh kesedihan seakan dalam tatapan itu pengeran Fang Yi mengatakan kepada Zhang Lin bahwa dia sangat ingin bertemu dengannya.


"Maaf. Maafkan aku yang mulia. Aku. Aku harus pergi." ucap Zhang Lin beranjak meninggalkan putra mahkota Xiao San.


Malam itu udara terasa dingin dan sangat panjang. Zhang Lin bingung dengan hatinya. Siapakah yang harus dia pertahankan dalam hatinya. Kedua pria itu sudah terukir di dalam hatinya.


Misi ke-4 sudah selesai. Putra mahkota sudah jatuh cinta padanya. Namun misi ke-2 dan ke-3 belum terlaksana. Dia bertanya dalam hatinya, apakah suaminya sudah mulai mencintainya? ataukah mungkin misi ke-3 tak akan pernah terselesaikan? Haruskah Zhang Lin berhenti sampai disini saja dan hidup bahagia bersama dengan putra mahkota Xiao San?

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2