
Cemburu...
Sebuah kata indah dalam cinta...
Merindukan namun menepisnya...
Merindukan namun berpura-pura...
Cemburu...
Sebuah kata yang mampu merubah...
Cinta menjadi panas...
Rindu menjadi gelisah...
Cemburu...
Kata yang diinginkan dalam cinta...
Penanda adanya musim semi dalam jiwa...
~By:Fanisa/xiaochan520~
*****
Selama perjalanan, Zhang Lin terus memandangi pegunungan yang indah itu. Dia mulai menata hatinya kembali. Dia hanya ingin semua ini cepat selesai. Dia ingin semua ini cepat berakhir. Hidupnya. Cintanya. Keluarganya. Dia merasa mulai serakah untuk tetap bersama mereka. Dia berpikir untuk melupakan dunia asalnya. Dia ingin menetap bersama mereka.
Saat memikirkan semua itu, air matanya menetes. Air matanya mengalir tanpa henti. Ada rasa yang dia takuti. Sanggupkah dia saat dia memutuskan untuk pergi meninggalkan dunia ini? bisakah dia meninggalkan semua orang yang dia cintai?.
Waktu terus berjalan dan akhirnya Zhang Lin beserta kedua anaknya sampai di istana Fang. Mereka langsung berjalan untuk menemui kaisar Fang Yi. Mereka berkeliling mencari kaisar Fang Yi, namun tak melihat sosoknya di istana.
"Salam hormat permaisuri Zhang Lin. Adakah yang bisa hamba lakukan?" tanya salah satu pelayan istana.
"Dimana kaisar Fang Yi? mengapa aku tak bisa menemukan keberadaannya?" tanya Zhang Lin penasaran.
"Jawab permaisuri. Kaisar Fang Yi sedang berada di kediaman permaisuri. Selama permaisuri pergi, kaisar Fang Yi tidur disana" ucap pelayan istana itu.
Mendengar penjelasan para pelayan istana itu, Zhang Lin dan kedua anaknya pergi menuju istana timur. Disana dia melihat kaisar Fang Yi sedang melamun sambil memandangi sisir milik Zhang Lin, karena sisir itu yang biasa digunakan oleh kaisar Fang Yi untuk memanjakan permaisuri Zhang Lin dengan menyisir rambut halusnya.
"Sayangku"
"Ayah"
panggil Zhang Lin dan kedua anaknya secara bersamaan.
Kaisar Fang Yi tersadar dari lamunan sedihnya ketika sayup-sayup mendengar bisikan suara panggilan tidak asing yang memanggil namanya. Kaisar Fang Yi menengok ke arah sumber suara dan sangat terkejut melihat sosok yang disayangi dan dirindukannya selama ini berada di hadapannya.
__ADS_1
Kaisar Fang Yi beranjak dari kursi itu dan menghampiri mereka. Kaisar Fang Yi memeluk kedua anaknya dan mengecup kening mereka. Kemudian kaisar Fang Yi menghampiri Zhang Lin dan memeluk erat istrinya serta mengecup lembut bibirnya yang sangat dia rindukan itu.
"Istriku, kamu sudah kembali? Aku sangat merindukanmu. Lihatlah tubuhku sangat kurus karena selalu merindukanmu siang dan malam. Aku tidak bisa tidur karena merindukanmu." ucap kaisar Fang Yi dengan sikap manja dan sedikit merajuk.
"Maafkan aku. Aku janji akan menemanimu kemana pun." ucap Zhang Lin menggoda suaminya yang sedang manja.
Zhang Lin dan anak-anak beristirahat menghilangkan kelelahan selama perjalanan. Kaisar Fang Yi pergi ke istana barat untuk mengurusi masalah kerajaan dan membiarkan Zhang Lin untuk beristirahat.
Malam hari, kaisar Fang Yi kembali ke istana timur untuk menemui istri dan anak-anaknya. Mereka makan malam bersama, kedua anaknya dengan semangat menceritakan semua yang terjadi selama perjalanan mereka. Awalnya kaisar Fang Yi mendengarkan semua cerita itu dengan gembira dan antusias saat kedua anaknya sedang bercerita. Hingga pada bagian cerita tentang kaisar Xiao San, wajah kaisar Fang Yi mulai berubah. Dia semakin fokus mendengarkan anaknya bercerita tentang kaisar Xiao San dan saat itu pula semakin muram dan masam wajah kaisar Fang Yi. Kedua anaknya tidak mengetahui bahwa ayahnya sedang menahan rasa cemburu yang sangat besar, hingga membuat ayahnya gelisah dan kesal. Rasa cemburu itu terus bergejolak dalam hati kaisar Fang Yi.
"Sayang. Jian. Jiantou. Jika sudah selesai makan malam. Istirahat segera. Kalian harus beristirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan kalian." ucap kaisar Fang Yi yang mencoba untuk menyelesaikan makan malam ini. Kaisar Fang Yi tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari permaisuri kesayangannya itu.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka. Kedua anaknya kembali ke kamar untuk beristirahat dan hanya tersisa kaisar Fang Yi dan permaisuri Zhang Lin. Keduanya diam dan tak bicara. Hanya saling menunggu. Zhang Lin paham dengan kondisi ini. Kaisar Fang Yi sedang cemburu. Zhang Lin tidak berani untuk menggodanya. Lama dalam kebekuan, Zhang Lin mencoba memecah suasana mengerikan ini.
"Sayangku, apakah kamu ingin jalan-jalan ke taman bunga plum?" tanya Zhang Lin lembut.
"Hmm." ucap kaisar Fang Yi datar.
"Apakah benar kau menemuinya?" tanya kaisar Fang Yi secara tiba-tiba dengan suara lirih.
"Hmm, aku tinggal disana selama beberapa hari." jawab Zhang Lin singkat.
"Apakah kau selalu bersama dirinya sepanjang hari selama disana?" tanya kaisar Fang Yi kembali.
"Hmm, aku menemaninya sepanjang malam." jawab Zhang Lin singkat tanpa penjelasan yang bisa menenangkan kecemburuan suaminya.
"Hmm, aku masih mencintainya" ucap Zhang Lin sambil melirik reaksi suaminya.
"Apa? kau serius?" ucap kaisar Fang Yi dengan lantang sambil menekan kencang bahu istrinya.
"Suamiku, tolong lepaskan. Bahuku sakit." teriak Zhang Lin merasakan bahunya ditekan semakin kencang oleh kaisar Fang Yi tanpa sadar karena emosinya yang sedang berada di puncak.
Zhang Lin meringis kesakitan. Air matanya mulai keluar dan bersamaan dengan itu, perutnya juga terasa sakit. Perutnya menjadi keram.
"Ah sakit, lepaskan tanganmu. Ah, tolong yang mulia perutku juga sakit sekali." teriak Zhang Lin dengan satu tangan memukul-mukul tangan kaisar Fang Yi di bahunya dan satu tangan memegang perutnya yang keram. Cukup lama suasana menyeramkan ini. Hingga akhirnya kaisar Fang Yi tersadar, saat permaisuri mulai berjongkok menahan perutnya yang keram.
"Sayang.. Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya kaisar Fang Yi panik.
"Perutku yang mulia. Perutku sakit sekali." ucap Zhang Lin melirih kesakitan sambil memegang perutnya.
Kaisar Fang Yi menggendong permaisuri Zhang Lin dan membawanya ke kediaman timur. Tabib istana datang setelah dipanggil oleh salah satu pelayan istana. Tabib istana memeriksa keadaan Zhang Lin dan mengatakan bahwa kontraksi di dalam perutnya terjadi karena kelelahan. Setelah pemeriksaan, Zhang Lin diperintahkan untuk beristirahat dan hanya kaisar Fang Yi yang menemani dia di tempat tidur.
"Maafkan aku. Aku sudah menyakitimu dan bayi kita. Tapi apakah benar kamu masih mencintainya?" tanya kaisar Fang Yi yang masih terluka hatinya.
"Aku tidak akan pernah berbohong padamu yang mulia, bahwa aku masih memiliki rasa cinta untuknya. Namun saat ini yang benar-benar aku cintai adalah dirimu yang mulia. Aku akan selalu mencintaimu kaisar Fang Yi" ucap Zhang Lin sambil membalikan tubuhnya ke arah suaminya.
Zhang Lin menatap intens suaminya dan tersenyum. Dia menarik tangan suaminya dan mengatakan isi hatinya dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Hilangkan rasa cemburu itu dari hatimu. Percayalah padaku, aku telah memilihmu sebagai pendamping terakhirku" ucap Zhang Lin sambil mengecup bibir suaminya. Dia merasakan kelelahan dan memejamkan kedua matanya.
"Cup" kaisar Fang Yi membalas kecupan lembut istrinya.
Sepanjang malam mereka tidur dalam posisi berpelukan. Rasa cemburu kaisar Fang Yi terhadap kaisar Xiao San masih besar. Namun dia berusaha untuk menutupinya. Mencoba untuk menekan perasaannya. Dia masih mempercayai ketulusan cinta istrinya.
*****
Pagi hari, sinar matahari masuk ke dalam kamar Zhang Lin. Keduanya terbangun saat sinar matahari mengenai mata mereka.
"Bangun yang mulia. Apakah kau tak ada pertemuan pagi ini dengan para pejabat istana. Lihatlah ini sudah siang." ucap Zhang Lin mencoba membangunkan kaisar Fang Yi.
"Hmm, biarkan aku tidur lebih lama lagi. Aku ingin tetap disini bersamamu. Sudah lama aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan dirimu yang jauh disana bersama pria itu" ucap kaisar Fang Yi sambil memeluk erat pinggang permaisurinya.
"Kasim Wen, apakah kau di luar?" tanya Zhang Lin
"Jawab permaisuri. Hamba di luar yang mulia permaisuri" ucap kasim Wen.
"Katakan kepada para pejabat istana untuk menunda pertemuan pagi ini. Yang mulia sedang kurang sehat." ucap Zhang Lin memerintahkan.
Akhirnya keduanya kembali tidur. Mereka tidur dalam posisi berpelukan kembali. Keduanya terlelap hingga waktu makan siang. Para pelayan istana mencoba memberanikan diri untuk membangunkan mereka. Mereka terbangun dan bersiap-siap untuk makan bersama dengan kedua anaknya.
"Ayah kaisar, bolehkah aku dan kakak berlatih pedang dan memanah di rumah kakek jendral?" ucap Jiantou dengan nada manja kepada kaisar Fang Yi.
"Baiklah. Jika sudah bosan berlatih disana, pulanglah. Minta kakek jendral untuk mengutus anak buahnya untuk mengantarmu kembali istana" ucap kaisar Fang Yi.
Selama beberapa hari ke depan, hanya ada kaisar Fang Yi dan permaisuri Zhang Lin tanpa adanya gangguan dari kedua anaknya.
"Yang mulia, kenapa wajahmu berubah lagi? Masih cemburukah?" tanya Zhang Lin merayu.
"Ayolah. Aku hanya mencintaimu. Kamulah satu-satunya pujaan hatiku" rayu Zhang Lin dengan manja kepada kaisar Fang Yi.
"Ingatlah yang mulia, rasa cemburu di hati itu tidak baik untuk kesehatanmu. Cup" ucap Zhang Lin sambil merayunya kembali dengan sebuah kecupan lembut.
Kaisar Fang Yi yang tidak tahan dengan godaan seperti itu, membuatnya luluh dan menepis rasa cemburu di hatinya. Dia menarik permaisurinya, memegang tekuk leher istrinya dan mencium bibir merah itu dengan hangat. Ciuman demi ciuman lembut dilakukan dengan intens. Tak ingin melepaskan wanita yang sangat dicintainya ini. Tak ingin memberikannya kepada siapapun. Dia terus melanjutkannya. Dan menandai bahwa permaisurinya hanyalah miliknya. Dia terus mencium bibir manis istrinya.
"Bisakah?" tanya kaisar Fang Yi.
Zhang Lin hanya mengangguk pasrah dan hari itu menjadi malam yang sangat indah untuk keduanya melepaskan kerinduan mereka. Tanpa kata hanya ada pelepasan tindakan agresif keduanya. Melepaskan hasrat mereka dan mengakhiri malam itu dengan musim semi yang indah.
"Kaisar Fang Yi. Permaisuri Zhang Lin. Maafkan hamba. Bisakah hamba bicara?" teriakan kasim Wen yang membangunkan keduanya di pagi hari.
"Ada apa? katakan!" ucap kaisar Fang Yi dari dalam kamarnya.
"Jawab Kaisar. Maafkan hamba yang pantas mati ini. Namun hamba ingin memberitahukan bahwa pangeran Fang Qiu sakit. Tubuhnya sangat lemah dan demam tinggi" ucap kasim Wen membuat keduanya terkejut.
~Bersambung~
__ADS_1