Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 39 : Kabar Dari Perbatasan Utara!


__ADS_3

Rela Berkorban


Sebuah kata penuh makna


Makna kesetiaan untuk berkorban


Dari rakyat untuk kaisar


Dari kaisar untuk rakyat


Makna kesetiaan untuk melindungi


Dari rakyat untuk raja


Dari kaisar untuk rakyat


Demi kesejahteraan bersama


Demi kebahagiaan bersama


(By:Fanisa/xiaochan520)


...*****...


Entah kehidupan apa yang akan dialami oleh putri Bianzi, misi apa lagi yang akan diterima oleh Zhang Lin, atau takdir apa yang akan diberikan kepada mereka. Semua masih menjadi misteri.


Apakah takdir itu akan menjadi sebuah kegembiraan atau kesedihan? Apakah takdir itu akan menjadi jalan keluar atau kebuntuan?


Semua tidak ada yang tahu. Semua masih penuh misteri. Hanya takdir sendirilah yang akan mengatakan dan menunjukkannya.


Setelah perjalanan yang cukup lama dan sangat melelahkan, mereka sampai di Kerajaan Fang. Kasim kepercayaan dan jendral besar menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


"Salam hormat yang mulia kaisar, salam hormat  yang mulia permaisuri." sapa jendral Zhang Ye.


"Bagaimana kabarmu jendral?" sapa kaisar Fang Yi.


"Hamba baik-baik saja." ucap jendral Zhang Ye dengan sopan.


"Salam hormat yang mulia kaisar, salam hormat yang mulia permaisuri." sapa kasim Wen.


"Bagaimana kabarmu kasim? Apakah semua baik-baik saja selama aku pergi?" ucap kaisar Fang Yi.


"Hamba baik-baik saja yang mulia. Hamba sangat senang atas perhatian yang mulia. Semua urusan istana baik-baik saja. Jendral besar Zhang Ye sangat hebat membantu hamba untuk mengurus semua urusan istana." ucap kasim Wen dengan pelan.

__ADS_1


Kaisar Fang Yi dan permaisuri Zhang Lin menuju ke kediaman masing-masing. Mereka menuju ke istana timur dan istana barat untuk beristirahat. Permaisuri Zhang Lin beserta anaknya kembali ke kediaman ditemani dengan para pelayan istana, sedangkan kaisar Fang Yi ditemani kasim Wen dan jendral Zhang Ye menuju kediaman kaisar.


"Jendral Zhang Ye apakah ada yang ingin kau katakan padaku? mengapa wajahmu terlihat sangat cemas?" tanya kaisar Fang Yi saat melihat ekspresi aneh dari wajah jendral saat mereka berjalan berdampingan.


"Maafkan hamba jika membuat yang mulia khawatir. Hamba pantas mati. Maafkan hamba yang mulia." ucap jendral Zhang Ye panik dengan pertanyaan kaisar.


"Katakan ada apa?" ucap kaisar Fang Ye sambil memperlambat langkah kakinya.


Namun jendral Zhang Ye tidak mengatakan satu kata pun. Dia hanya tertunduk dan terdiam.


"Baiklah. Besok pagi datanglah ke kediamanku. Biarkan aku istirahat malam ini." ucap kaisar Fang Yi yang paham isi hati jendral Zhang Ye yang tidak ingin mengganggu istirahatnya.


Setelah jendral Zhang Ye dan kasim Wen mengantarkan kaisar Fang Yi ke kediamannya, mereka berdua undur diri dan pergi meninggalkan kamar kaisar. Hanya ada pengawal istana yang menjaga di depan pintu kamar kaisar.


Kaisar Fang Yi dan keluarganya malam itu tertidur sangat lelap. Mereka benar-benar sangat letih, hingga tak mampu untuk beraktivitas lagi.


Di pagi hari para pelayan istana membangunkan dan melayani kaisar Fang Yi dan permaisuri dengan baik. Tubuh mereka terasa segar kembali. Permaisuri Zhang Lin bersama kedua anaknya bersama Jian dan Jiantou berlatih kemampuan pedang dan panah mereka sedangkan Fang Qiu masih dalam masa penyembuhan penyakit dalamnya.


Pagi itu kaisar Fang Yi bertemu dengan jendral Zhang Ye di kediamannya. Mereka berbicara dengan sangat serius.


"Apa? ada pemberontakan di perbatasan utara?"   ucap kaisar Fang Yi sangat terkejut dengan berita yang disampaikan oleh jendral Zhang Ye.


"Lalu bagaimana dengan keadaan pasukan kita disana?" tanya kaisar Fang Yi cemas.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jendral?" tanya kaisar Fang Yi sedikit cemas.


"Berikan hamba titah untuk ke perbatasan utara dan membawa setidaknya 5000 pasukan untuk membantu pasukan disana yang mulia." ucap jendral Zhang Ye penuh harap.


"Baiklah. Jika memang itu adalah solusi terbaik. Aku akan berikan titah kepadamu untuk pemimpin pasukan di perbatasan utara dan melawan semua pemberontak disana." ucap kaisar Fang Yi dengan penuh semangat.


"Baik yang mulia, hamba terima titah yang mulia. Lusa hamba akan berangkat bersama pasukan menuju ke perbatasan." ucap jendral Zhang Ye penuh semangat.


"Jendral, hati-hati. Aku ingin kamu kembali dengan selamat. Aku tidak ingin permaisuri sedih dan cemas." ucap kaisar Fang Yi sedikit cemas dan memeluk erat jendral Zhang Ye.


"Aku berjanji akan membunuh semua pemberontak dan menjaga keamanan di perbatasan utara. Aku juga berjanji akan baik-baik saja." ucap jendral Zhang Ye sambil membalas pelukan kaisar.


Setelah pembicaraan itu, jendral Zhang Ye pergi meninggalkan istana untuk mengatur pemberangkatannya. Jendral Zhang Ye sangat mencintai kerajaan Fang dan selalu menunjukkan kesetiaannya. Tidak ada satu pun yang mampu menandingi kehebatan jendral Zhang Ye dalam keahlian strategi perangnya dan juga tidak akan ada yang mampu menandingi kesetiaannya kepada kerajaan Fang.


Hati kaisar Fang Yi terasa sangat cemas ketika melihat sosok jendral yang pergi meninggalkannya. Ada perasaan aneh saat melihat jendral Zhang Ye, namun kaisar Fang Yi mencoba menepis perasaan cemas dan aneh itu.  Dia pergi menuju ke kediaman permaisurinya.


"Salam yang mulia, apakah kau sudah makan?" ucap permaisuri Zhang Lin saat melihat sosok suaminya yang sedang berdiri melihatnya berlatih.


"Ayah kaisar." panggil si kembar sambil menghampiri dan memeluk ayahnya yang masih berdiri melihat mereka latihan.

__ADS_1


Kedua anaknya menarik tangan kaisar Fang Yi dan membawanya untuk duduk di sebuah meja batu giok yang indah tepat di bawah pohon plum.


"Ayah kaisar, apakah ayah kaisar ke sini untuk melihat kami latihan?" ucap Jian penuh semangat.


"Ayah kaisar, lihatlah ilmu panahku yang sudah aku kembangkan?" ucap Jiantou senang dan mulai menunjukkan keahliannya.


"Ayah kaisar, lihat aku juga. Lihatlah Niang sudah mengajarkan ilmu pedang baru padaku. Lihatlah aku bisa terbang dengan pedangku." ucap Jian dengan semangat sambil menunjukkan ilmu pedang barunya.


Kedua anaknya memang sangat hebat dan semakin bertambah usia, keduanya semakin menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa.


"Wahai anak-anakku. Bisakah kalian memberikan waktu kepada ayah kaisar untuk berbicara dengan ibumu?" ucap kaisar Fang Yi dengan lembut.


"Baiklah ayah kaisar. Kami pamit" ucap si kembar menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa suamiku? mengapa kamu terlihat sangat cemas?" ucap permaisuri Zhang Lin dengan cemas.


"Ada pemberontak di perbatasan utara. Aku sudah mengutus jendral Zhang Ye untuk memimpin pasukan disana." ucap kaisar pelan.


"Aku mengerti. Kamu tidak perlu khawatir yang mulia. Jendral sangat hebat dalam berperang, dia pasti akan memenangkan perang ini. Para pemberontak pasti akan dibinasakan sampai habis." ucap permaisuri Zhang Lin mencoba menenangkan hati suaminya.


Kaisar Fang Yi berusaha tersenyum agar istrinya tidak cemas. Dia tidak mengatakan kecemasannya tentang jendral Zhang Ye.


"Sudahlah kita makan dulu. Aku sudah membuat es buah yang sangat segar." ucap permaisuri Zhang Lin mencoba bersikap tenang.


Kaisar Fang Yi selalu memantau persiapan pasukan jendral Zhang Ye agar tidak ada yang kurang disana. Akhirnya waktu keberangkatan tiba. Kaisar Fang Yi bersama keluarganya mengantarkan sampai pintu gerbang istana.


"Yang mulia, hamba pamit. Tolong jaga putri dan cucu-cucu hamba." ucap jendral Zhang Ye.


"Ayah, jaga dirimu baik-baik. Jika ada hal yang tidak dapat kau tangani, beritahu aku. Aku akan menyusulmu kesana." ucap Zhang Lin dengan sedih dan memeluk erat ayahnya. Dia menitikkan air mata seperti tidak rela dengan kepergian ayahnya.


"Kakek jendral, semoga kamu bisa memenangkan perang ini.  Semangat kakek jendral." ucap si kembar sambil memeluk kakeknya dengan erat.


"Kakek jendral, aku akan merindukanmu." ucap Fang Qiu dengan sedih.


"Haha, kalian harus menyambutku ketika aku memenangkan perang ini. Kalian semua bersama-sama harus menyambutku di gerbang istana ini." ucap jendral Zhang Ye sambil tertawa dengan bahagia.


Jendral Zhang Ye akhirnya pergi meninggalkan istana dan pergi bersama pasukannya. Semua keluarga yang sangat dicintainya masih terus berdiri di gerbang istana hingga sosok jendral Zhang Ye tidak terlihat lagi.


"Ayah, aku pasti akan merindukanmu. Aku mohon kau harus kembali dengan selamat." ucap Zhang Lin dalam hati dan tanpa sadar air mata sudah menetes di pipi lembutnya.


Kaisar Fang Yi yang berada di samping istrinya sangat khawatir saat mengetahui istrinya menangis, dia memegang erat tangan istrinya sebagai ekspresi menghibur hati istrinya yang sedang cemas.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2