
Rela Berkorban
Sebuah kata penuh makna
Makna kesetiaan untuk berkorban
Dari rakyat untuk kaisar
Dari kaisar untuk rakyat
Makna kesetiaan untuk melindungi
Dari rakyat untuk raja
Dari kaisar untuk rakyat
Demi kesejahteraan bersama
Demi kebahagiaan bersama
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
Kedua divisi itu menunggu dengan sangat serius, mereka harus hati-hati dalam membuat keputusan untuk melepaskan jebakan itu, mereka berdua ingin meminimalisir kematian anak buah mereka. Jangan sampai mereka salah mengambil keputusan ini.
Setelah menunggu lama, akhirnya para pasukan pemberontak sudah berada di tempat sasaran dan akhirnya kedua jendral itu berkata:
"Lepaskan sekarang!".
Akhirnya kedua divisi melepaskan jebakan mereka. Dari sebelah barat laut, hampir 5.000 pasukan yang masuk ke jebakan ular beracun dan mati seketika karena terkena racun ganas sedangkan sebelah timur laut hampir 6.000 pasukan yang masuk ke jebakan jaring harimau dan mati mengenaskan karena serbuan anak panah dan pedang beracun. Lebih dari separuh pasukan pemberontak yang mati terbunuh.
"Serang!" perintah kedua jendral menyerang kedua kelompok pasukan pemberontak yang masih tersisa.
__ADS_1
Pasukan di bawah pimpinan jendral Zhang Ye dan di bawah pimpinan Chu Hongli mulai menyerang sisa pasukan pemberontak, mereka saling beradu pedang, satu persatu pasukan pemberontak dibunuh oleh jendral Zhang Ye dan Chu Hongli. Secara membabi buta kedua jendral membunuh mereka dengan pedang yang berada di tangannya.
Para pasukan pemberontak satu persatu tumbang tak berdaya. Suasana saat itu terasa sangat mengerikan dan mencekam. Di malam yang sangat sunyi yang hanya terdengar suara jangkrik dan pencahayaan redup di bawah sinar bulan sabit. Ribuan mayat terbaring kaku, tanah yang semula berwarna cokelat ini dibanjiri dan dilapisi oleh darah merah yang sangat banyak hingga membentuk lautan darah.
Kini daerah itu menjadi lautan mayat dan darah. Banyak pasukan jendral Zhang Ye dan Chu Hongli yang juga terbunuh oleh pasukan pemberontak. Mereka terus saling menyerang, mereka terus saling beradu pedang, tidak ada satupun dari mereka yang merasakan kelelahan, mereka benar-benar ingin mendapatkan kemenangan.
Perang terus berjalan, diselimuti udara yang sangat dingin hingga menusuk ke tulang dan tubuh yang semakin lelah, mereka terus bertahan, berjuang, dan pantang menyerah.
"Semua pasukan jangan menyerah, kalian harus menang atau mati disini untuk kaisar." ucap jendral Zhang Ye dengan amarah dan semangat yang masih berkobar.
Menit ke menit, jam ke jam, pedang di tangan mereka masih terus bergerak untuk menyerang dan melindungi satu sama lain. Hingga perang itu terjadi lebih dari 10 jam. Pasukan pemberontak di barat laut seluruhnya terbunuh oleh pasukan di bawah pimpinan jendral Zhang Ye kecuali pemimpin mereka Wen Li yang berhasil melarikan diri, sedangkan pasukan pemberontak di sebelah timur laut, hampir seluruhnya terbunuh oleh pasukan di bawah pimpinan Chu Hongli. Mereka yang masih tersisa beberapa ratus pasukan pemberontak memutuskan untuk mundur dan melarikan diri. Kini kemenangan berada di pasukan kerajaan Fang.
Kedua divisi kembali ke barak. Banyak yang terluka parah saat peperangan itu, termasuk jendral Zhang Ye yang terkena tusukan di perut dan dadanya. Darah terus mengalir dari tubuh jendral Zhang Ye.
"Cepat panggil tabib!" ucap Chu Heng kepada semua pasukan yang ada di sekitarnya.
"Jendral tenanglah, aku yakin kau akan baik-baik saja." ucap Chu Heng dengan sedih dan cemas.
Tabib istana datang dan langsung memeriksa keadaan jendral Zhang Ye. Dia berkata bahwa keadaan jendral Zhang Ye sangat mengkhawatirkan dan harus segera dibawa kembali ke istana agar bisa diobati dengan baik.
Tabib hanya memberikan beberapa obat untuk menghentikan pendarahan, menghilangkan nyeri dan menjahit luka yang tertusuk oleh pedang musuh.
"Jendral istirahatlah! kami akan menjaga barak dengan baik." ucap Chu Heng dengan cemas.
Selama seminggu jendral Zhang Ye terus diawasi dan diobati oleh tabib istana. Lukanya terus dirawat oleh anak buahnya. Namun luka yang ada di tubuh jendral Zhang Ye tidak juga membaik, justru semakin buruk dan akhirnya mengeluarkan nanah yang sudah melebar.
Chu Hongli memutuskan untuk membawa jendral Zhang Ye kembali ke istana dengan dikawal oleh 1.000 pasukan. Namun belum sempat berangkat, tiba-tiba terdengar suara pasukan berkuda ke arah barak.
"Jendral, pasukan pemberontak kembali lagi" teriak salah satu anak buah jendral Zhang Ye.
"Semuanya bersiap di posisi" perintah jendral Zhang Ye dengan lantang.
Jendral Zhang Ye yang masih terluka memaksakan tubuhnya untuk memimpin pasukan agar dapat menghadapi serangan pasukan pemberontak yang sudah mendekat.
__ADS_1
"Semuanya bersiap. Apapun yang terjadi seluruh pasukan pemberontak harus dimusnahkan dan jangan biarkan satupun yang melarikan diri lagi termasuk pemimpin mereka." ucap jendral Zhang Ye dengan tegas.
Pasukan pemberontak sudah berada di hadapan mereka dan semua pasukan kembali saling menyerang dan bertarung. Di bawah pimpinan jendral Zhang Ye semua menyerang sekuat tenaga, satu persatu pasukan pemberontak dibunuh dan tidak diberikan kesempatan lagi untuk menang.
Semua pasukan sudah terbakar emosi dan mereka ingin membalas dendam karena sudah melukai jendral kesayangan mereka. Hari itu semangat dan kegilaan para pasukan menjadi dua kali lipat, mereka benar-benar ingin mengalahkan pasukan pemberontak.
Di tengah tekanan perang dan penuh dengan sungai mayat dan darah. Kekuatan jendral Zhang Ye semakin lemah, rasa sakit di tubuhnya semakin besar. Saat itu Wen Li mendapatkan kesempatan untuk menyerang jendral Zhang Ye, mereka berdua bertarung, kedua pedang saling bertemu dan menyerang satu sama lain.
"Zhang Ye, kau harus mati. Aku akan membalaskan dendam permaisuri Wen Jie karena ulah putrimu." ucap Wen Li dan langsung menusuk bagian luka jendral yang sudah bernanah.
Jendral Zhang Ye kesakitan dan tersungkur. Dia merasakan kesakitan yang luar biasa, darah terus mengalir dari perutnya. Dia mencoba berdiri kembali dan membalas serangan Wen Li.
"Kau yang harus mati. Kau penghianat yang pantas untuk mati." ucap jendral Zhang Ye dan dengan cepat menusukan pedang secara bertubi-tubi ke tubuh Wen Li.
Jendral Zhang Ye benar-benar sangat marah dan di detik terakhir usahanya dia membunuh Wen Li dan akhirnya terjatuh ke tanah. Seluruh pasukan terkejut dan sangat marah dengan para pemberontak.
"Lindungi jendral!" ucap Chu Heng dengan tegas dan penuh kecemasan.
Pasukan terus bertarung dan akhirnya memenangkan peperangan ini. Semua pasukan pemberontak tanpa tersisa satupun dibunuh. Seluruh pasukan meninggalkan mayat para pemberontak itu dan menghampiri jendral Zhang Ye yang sudah terbaring lemah.
Di pangkuan Chu Hongli, tubuh jendral Zhang Ye terbaring sangat lemah, luka lama dan luka baru menjadi satu membuat pendarahan semakin banyak. Tubuhnya semakin lemah dan kondisinya sangat kritis.
"Hongli, dengarkan aku. Jika aku mati, katakan kepada putriku untuk menjadikan Jian sebagai jendral muda penggantiku." ucap jendral Zhang Ye semakin melemah dan mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya.
"Tidak. Katakan sendiri kepada permaisuri ketika kau kembali ke istana. Aku yakin kamu akan baik-baik saja." ucap Chu Hongli sedih melihat keadaan jendral.
"Hahaha, aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi. Kondisiku semakin memburuk dan mungkin hari ini adalah hari terakhirku bersama kalian." tawa jendral Zhang Ye dengan kata-kata yang masih terdengar mencoba mencairkan suasana.
"Katakan pada putriku untuk memenuhi janjinya menyambutku di gerbang istana ketika aku sampai di istana." ucap jendral Zhang Ye pelan dan kembali memuntahkan darah hitam dan kental.
"Dan katakan bahwa aku sangat menyayangi putriku dan cucu-cucuku selama.. " ucap jendral Zhang Ye dinapas terakhirnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1