Takdir Cinta Zhang Lin

Takdir Cinta Zhang Lin
Chap 27 : Wanita Untuknya!


__ADS_3

Musim semi yang mulai sirna...


Hadir musim gugur sebagai pengganti...


Meskipun hati telah terjerat dalam satu nama...


Namun mencoba mencari sang pengganti...


Hati yang telah retak menjadi butiran...


Hanya mampu memberikan kehampaan...


Demi keinginan sang pujaan hati...


Berpura-pura mencari pelampiasan hati...


~By:Fanisa/xiaochan520~


*****


"Yang mulia, aku mempunyai sesuatu untukmu" ucap Zhang Lin sambil memakaikan sebuah mantel dingin pada kaisar Xiao San.


"Ini untukmu. Aku sengaja membuatnya khusus untukmu. Pakailah saat dirimu mulai merasakan udara yang dingin. Jangan biarkan udara dingin menyentuh kulit lembutmu" ucap Zhang Lin tersenyum lebar.


Kaisar Xiao San sangat bahagia bisa mendapatkan perhatian terakhir dari pujaan hatinya. Bahkan Zhang Lin memberikan hadiah khusus berupa mantel dingin untuknya.


"Terima kasih. Aku akan memakai ini selama hidupku." ucap kaisar Xiao San sambil menyentuh mantel dingin itu dengan penuh kelembutan.


Zhang Lin sangat senang melihat kebahagiaan di mata kaisar Xiao San. Matanya berbinar menampakkan kebahagiaan yang tak terungkapkan. Mungkin bagi kaisar Xiao San, satu mantel dingin yang dijahitkan khusus untuknya, bisa menjadi obat rindu seumur hidupnya.


Saat keduanya sedang menikmati sinar bulan yang sangat tenang dan damai, tiba-tiba terdengar seorang pelayan istana melaporkan dengan suara lantang.

__ADS_1


"Yang mulia. Yang mulia kaisar. Maafkan hamba lancang. Hamba pantas mati yang mulia. Ada masalah yang sangat penting yang harus hamba sampaikan kepada yang mulia." ucap pengawal istana mencoba menjelaskan dengan posisi berlutut dan menunduk penuh kecemasan karena kelancangannya.


"Ada apa? berani sekali kamu membuat keributan" ucap kaisar Xiao San dengan nada tinggi penuh kekesalan.


"Maafkan hamba yang mulia. Hamba pantas mati. Maafkan hamba yang mulia kaisar. Ada seorang putri yang sedang ketakutan menunggu di luar" ucap pengawal istana mencoba menjelaskan lebih detail.


Kemudian kaisar Xiao San dan Zhang Lin berjalan menghampiri putri malang itu. Setelah sampai di pintu gerbang, mereka melihat keadaan putri malang itu dalam keadaan luka berat dan terpuruk sangat menderita.


Mereka membawa putri itu ke kediaman Zhang Lin. Disana putri itu dibersihkan seluruh tubuhnya dan diobati. Mereka berdua menunggu hingga putri itu tersadar.


"Ah. Jangan. Jangan lakukan itu. Tolong. Tolong!" teriak wanita itu dan terbangun dari mimpinya.


Putri itu tersadar dari pingsannya dan melihat ke sekelilingnya. Dia terlihat sangat ketakutan. Zhang Lin paham kondisi wanita itu dan mencoba menenangkan dia.


"Tuan putri, siapa namamu? dari mana kamu berasal?" tanya Zhang Lin penuh kelembutan sambil menggenggam erat tangan wanita itu.


"Aku. Namaku Zheng Fei. Aku berasal dari kerajaan kecil di bagian utara bernama kerajaan Zheng" ucap Zheng Fei sambil menunduk penuh ketakutan.


"Apa yang terjadi padamu? mengapa kamu bisa sampai di kerajaan Xiao?" tanya Zhang Lin lembut.


Kaisar Xiao San dan Zhang Lin mendengarkan semua cerita pemberontakan itu dengan penuh kemarahan. Putri itu bernama Zheng Fei. Dia merupakan seorang gadis yang sangat polos dan lembut. Siapa pun yang melihat sosoknya akan jatuh hati dan merasa iba dengan kondisinya saat ini.


"Baiklah. Kau bisa tinggal di kediaman ini. Kau bisa tinggal disini sampai kau berani untuk keluar dari istana ini. Sekarang istirahatlah" ucap kaisar Xiao San dengan sikap dinginnya.


"Istirahatlah putri. Kami disini akan selalu melindungimu" ucap Zhang Lin sambil merebahkan tubuh Zheng Fei dan menyelimuti tubuhnya.


Mereka berdua meninggalkan kamar Zheng Fei. Mereka duduk berdua kembali di taman bunga persik.


"Yang mulia apakah dirimu tidak lelah? mari kita beristirahat." ucap Zhang Lin sambil tersenyum tipis.


"Aku mohon temani aku malam ini. Ini hari terakhir aku bisa bersamamu" ucap kaisar Xiao San sambil menarik tangan Zhang Lin.

__ADS_1


Zhang Lin menuruti keinginan kaisar Xiao San. Mereka berdua benar-benar menghabiskan malam ini di bawah keindahan sinar bulan dan mekarnya bunga persik.


"Yang mulia. Maukah kau memenuhi keinginanku?" tanya Zhang Lin lembut tanpa menatap kaisar Xiao San.


"Hmm, apa pun itu aku akan berjanji akan mengabulkannya." ucap kaisar Xiao lembut sambil melirik wajah Zhang Lin yang terlihat sedih.


"Maukah kau menikahi gadis itu? jadikan dia permaisuri kerajaanmu. Berbahagialah dengannya" ucap Zhang Lin pelan dan ragu.


"Apa? apakah kau yakin? apakah kau ingin aku menikahi dia hanya karena kasihan?" tanya kaisar Xiao San sedikit kesal dan kecewa.


"Kamu sudah berjanji padaku, yang mulia. Kamu akan menikah dan hidup bahagia. Saat kamu sudah menikah, aku pun sudah berjanji akan memberikan putriku untuk menjadi anak angkatmu" ucap Zhang Lin yang suaranya terdengar serak menahan tangisan.


"Aku akan berkorban memberikan putriku untukmu. Namun kamu pun harus berjanji padaku, bahwa kamu akan membuka hatimu untuk wanita lain yang mulia. Setidaknya menerima wanita lain di hatimu. Aku yakin putri Zheng Fei cocok untukmu" ucap Zhang Lin yang tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.


"Ini bukti cintaku yang pernah ada untukmu. Keinginanku ingin melihatmu bahagia. Agar suatu saat, jika aku sudah tidak ada di sisimu lagi. Tidak ada lagi penyesalan di hatiku, karena sudah melukai hatimu." ucap Zhang Lin semakin pelan dan hanya terdengar isak tangis.


"Aku tahu kau masih peduli padaku. Aku tahu kita tak akan mungkin bersatu. Tapi apakah ini caramu untuk menjauhiku dan secara halus menginginkan aku untuk berhenti mencitaimu? ucap kaisar Xiao San dalam hati yang kecewa dengan keputusan Zhang Lin untuk dirinya.


"Baiklah. Aku akan menepati janji itu." ucap kaisar Xiao San pelan.


Malam itu keduanya diliputi dengan hati yang terluka. Keduanya tidak ingin saling menyakiti, namun akhirnya keduanya benar-benar terluka dan tersakiti.


Pagi itu, Zhang Lin berusaha berbicara secara pribadi dengan putri Zheng Fei. Zhang Lin mengutarakan semua rencana dan keinginannya. Setelah perbincangan yang cukup intens. Akhirnya putri Zheng Fei bersedia untuk menikah dengan kaisar Xiao San.


Mereka akan melaksanakan pernikahan itu dalam waktu enam bulan ke depan. Dan pernikahan itu tepat dilaksanakan setelah calon putri Zhang Lin lahir.


Waktu sudah menunjukkan siang hari. Matahari sudah bersinar tepat di atas kepala mereka. Zhang Lin dan kedua anaknya memutuskan untuk kembali ke istana Fang. Zhang Lin berencana untuk mempersiapkan keperluan pernikahan kaisar Xiao San dan keperluan kelahiran putri kecilnya.


"Sayang. Putri kecilku. Maafkan Ibu. Jika nanti Ibu harus memberikan dirimu pada paman kaisar Xiao San. Ibu percaya bahwa paman kaisar akan menjagamu dan mencintaimu dengan tulus" ucap Zhang Lin sambil mengelus perutnya dengan hati yang terasa sesak.


Selama perjalanan, Zhang Lin terus memandangi pegunungan yang indah itu. Dia mulai menata hatinya kembali. Dia hanya ingin semua ini cepat selesai. Dia ingin semua ini cepat berakhir. Hidupnya. Cintanya. Keluarganya. Dia merasa mulai serakah untuk tetap bersama mereka. Dia tidak ingin melepaskan semua ini. Dia berpikir untuk melupakan dunia tempat asalnya dan menetap di dunia ini.

__ADS_1


Saat memikirkan semua itu, air matanya menetes. Air matanya mengalir tanpa henti. Ada rasa yang dia takuti. Sanggupkah dia saat dia memutuskan untuk pergi meninggalkan dunia ini? Bisakah dia meninggalkan semua orang yang mencintainya?


~Bersambung~


__ADS_2