
Kepercayaan
Sebuah kata penuh makna
Sebuah kata sederhana
Membuat jiwa menjadi percaya diri
Membuat hati menjadi terasa besar
Membuat perasaan selalu bangga
Kepercayaan
Tak tersentuh dan tak terlihat
Namun mampu membuat segalanya
Menjadi lebih nyaman dan tenang
(By:Fanisa/xiaochan520)
...*****...
"Ya, itu benar. Jadi kita tanpa kita sadari, kerajaan Fang sudah memiliki kekuatan setara 1.600.000 pasukan biasa. Tapi sayang.." ucap permaisuri Zhang Lin dengan hati yang sedikit kecewa.
"Ada apa?" tanya kedua kaisar serempak cemas.
Permaisuri Zhang Lin hanya menghela napasnya dan menatap lemah ke arah kedua kaisar itu. Permaisuri Zhang Lin berhenti berbicara dan memijat keningnya dengan sedikit pesimis.
"Tapi apa permaisuri?" tanya kedua kaisar serempak semakin penasaran dan cemas.
"Kalian tahu kekuatan anak-anakku belum seutuhnya khususnya putri Bianzie yang masih kecil, karena itu ketiga anakku belum bisa kita berikan tugas untuk memimpin pasukan Yi. Setidaknya berikan waktu hingga 2 tahun untuk si kembar berlatih denganku." ucap permaisuri Zhang Lin.
"Lalu bagaimana dengan putri Bianzie?" tanya kaisar Xiao San.
"Ijinkan selama 2 tahun ini, dia tinggal bersamaku agar aku bisa melatihnya dengan caraku. Yang mulia bersama dengan suamiku bisa menyusun strategi untuk melindungi semua kerajaan kecil itu." ucap permaisuri Zhang Lin dengan tegas.
"Hm, baiklah. Aku akan menyerahkan putriku disini selama 2 tahun." ucap kaisar Xiao San.
Pembicaraan ketiganya semakin serius dan tanpa sadar matahari sudah mulai meninggi menandakan waktu hampir siang.
__ADS_1
"Yang mulia sepertinya waktu sudah hampir siang, aku akan menyuruh pelayan untuk membawa makanan untuk kalian. Aku juga harus melihat keempat anakku." ucap permaisuri Zhang Lin dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Tak lama kemudian para pelayan membawakan sejumlah makanan lezat dan mereka makan dengan lahap. Perbincangan terus berlanjut seusai mereka makan siang.
...*****...
Permaisuri Zhang Lin menuju ke kamar anak-anaknya. Disana keempat anaknya sedang bersenda gurau dengan gembira.
"Ibunda permaisuri." panggil keempat anaknya dengan kompak.
Melihat ibunya yang sudah sehat, mereka langsung memeluk ibunya dengan sangat erat. Pelukan itu terasa sangat nyaman dan penuh kasih sayang.
"Kalian sedang apa sayang?" tanya permaisuri Zhang Lin dengan lembut.
"Kami sedang bermain catur ibunda permaisuri." ucap Jiantou dengan senyum indahnya.
"Wah, siapa yang menang?" tanya permaisuri Zhang Lin dengan senyum lebar.
"Hahaha.. Jian selalu kalah oleh Qiu. Apakah ibunda permaisuri tahu, jika Qiu sangat hebat dalam strateginya?" ucap Jiantou dengan tertawa penuh kegembiraan.
"Wah, benarkah itu sayang? Nanti Qiu bisa bermain catur denganku? Aku ingin melihat seberapa hebat anakku dalam bermain catur." ucap permaisuri Zhang Lin sedikit menggoda.
"Baiklah, kalian bersenang-senanglah. Aku ada keperluan dengan Hudie." ucap permaisuri Zhang Lin Dan langsung meninggalkan anak-anaknya.
"Hai, sayang. Apa kamu merindukanku?" tanya Hudie dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Cih, siapa yang kangen denganmu. Aku hanya ingin bertanya padamu tentang sesuatu." ucap permaisuri Zhang Lin dengan sikap sedikit sinis.
"Tidak usah sinis-sinis itu muka. Gak sadar itu muka sudah kayak peran tetangga sirik. Hahaha.." ucap Hudie tertawa dengan puas.
"Cih, gak sadar dengan wajah sendiri apa? Lihat tuh muka sudah kayak peran netizen sirik. Hahaha.." ucap permaisuri Zhang Lin tertawa dengan puas.
"Dasar permaisuri instan. Gak pernah mau kalah jika berdebat. Hahaha.." ucap Hudie tertawa senang.
"Haha.. Tidak apa-apa permaisuri instan. Tapi tetap hebat kan?" ucap permaisuri Zhang Lin menampakkan wajah sedikit sombong.
Tiba-tiba keduanya terdiam dan saling menatap penuh rasa rindu yang besar. Sampai akhirnya keduanya saling berpelukan dan meluapkan semua kerinduan mereka.
"Aku sangat merindukanmu, Hudie." ucap permaisuri Zhang Lin yang tiba-tiba menitikkan air matanya.
"Aku juga sangat merindukanmu. Aku masih tak percaya pernah kehilanganmu." ucap Hudie menangis dengan kencang.
__ADS_1
Meskipun keduanya selalu berdebat ketika bertemu, namun di hati mereka yang paling dalam, keduanya sangat saling menyayangi dan keduanya sangat saling membutuhkan. Hudie yang terlihat sangat sinis kepada permaisuri Zhang Lin, faktanya dia sangat menyayangi permaisuri Zhang Lin.
"Apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Hudie pelan.
"Hm, aku sudah mengatakan semuanya kepada suamiku dan kaisar Xiao San sesuai perintahmu. Lalu apa perintahmu selanjutnya?" tanya permaisuri Zhang Lin dengan serius.
"Berikan senjata itu kepada ketiga anakmu dan latih si kembar selama 2 tahun ini." ucap Hudie dengan tegas.
"Lalu bagaimana dengan putri Bianzie?" tanya permaisuri Zhang Lin.
"Putri Bianzie dan Qiu langsung aku yang akan mengajarinya. Kamu berikan tenaga murnimu kepada keempat anakmu sebelum mereka semua berlatih." ucap Hudie pelan.
"Apa? Putraku Qiu juga ikut berlatih?" tanya permaisuri Zhang Lin bingung.
"Hm, meskipun pangeran Fang Qiu lemah secara fisik dan tidak memiliki ilmu dasar untuk bertarung, namun pangeran Fang Qiu sangat hebat dalam strategi berperang." ucap Hudie pelan.
Perkataan Hudie membuat permaisuri Zhang Lin sangat terkejut, dia merasa bersalah karena tidak bisa mengetahui lebih awal mengenai kemampuan yang dimiliki oleh putra angkatnya ini.
"Jadi, ingatlah perintahku. Mulai besok kamu akan melatih si kembar dan aku melatih kedua anakmu yang lain. Selain itu, jangan lupa kamu tetap mengarahkan kedua kaisar untuk mengatur strategi yang tepat untuk menghambat rencana pangeran Fang Tse." ucap Hudie dengan tegas.
"Baiklah, aku mengerti." ucap permaisuri Zhang Lin.
Hudie langsung menghilang dari hadapan permaisuri Zhang Lin. Setelah pembicaraan yang sangat serius itu, permaisuri Zhang Lin mulai berpikir untuk mencari strategi yang tepat agar semua pasukan yang dimiliki dapat melindungi semua kerajaan kecil dan menghambat rencana jahat pangeran Fang Tse.
Matahari terus bergerak hingga akhirnya berada tepat di arah barat. Matahari mulai menghilang dan digantikan oleh sinar bulan yang sangat indah. Permaisuri Zhang Lin dengan sangat serius terus menuangkan pemikirannya ke dalam kertas itu. Dia terus bekerja keras dalam memikirkan setiap langkah yang akan dilakukan agar langkah itu tidak merugikan rakyat mereka.
"Hah, andai saja ayah ada disini." ucap lirih permaisuri Zhang Lin sambil menghela napas panjang.
Permaisuri Zhang Lin langsung menepis lamunannya dan kembali memikirkan secara matang strategi yang tepat.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ibunda permaisuri, apakah kamu ada di dalam?" tanya Jiantou sambil mengetuk pintu dengan pelan.
"Aku di dalam sayang. Masuklah." ucap permaisuri Zhang dengan lembut.
"Ada apa sayang?" tanya permaisuri Zhang Lin dengan senyum indahnya.
"Aku membawakanmu makanan. Ayah kaisar bilang, bahwa permaisuri belum makan." ucap Jiantou dengan lembut.
Permaisuri Zhang Lin tersenyum dan menaruh kuasnya. Dia mulai memakan makanan yang dibawa oleh putrinya. Dia tidak ingin membuat putrinya khawatir. Dengan lahap permaisuri Zhang Lin menghabiskan semua makanan itu. Jiantou hanya tertawa bahagia melihat tingkah lucu ibunya saat makan dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ibunda permaisuri, mengapa kamu makan seperti itu? Lagipula tidak akan ada yang merebut makanan itu darimu. Hahaha.." ucap Jiantou sambil tertawa senang.
...~Bersambung~...