Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
bab 35


__ADS_3

jangan lupa dukung ya gaes, maaf jika masi banyak typo. Selamat membaca😊


*/*/*/*/*/*/*/*/


Arsya dan juga rekan bisnisnya akan tinggal di indonesia selama beberapa minggu kedepan. Sebenarnya kota yang kumuh ini jauh dari level Seorang Arsya, namun demi mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin di Ogana group, dia rela mengambil alih merancang Wahana ini.


Tidak ada yang namanya perawatan, kasur yang serba empuk, dan tidak yang menyediakan makanan mewah seperti di Amerika. Ini sungguh cobaan yang membuat bara emosinya akan meledak setiap harinya.


"Makanan apa ini? apa kau kira aku ini seekor hewan? katanya berontak saat Eki dan pelayan lainnya menyajikan beberapa sayur hijo dan ikan gurame sambel.


"Maaf tuan muda, kita hanya bisa mendapatkan makanan seperti ini!"


Prengg...


"Percuma saja aku membawa mu dan beberapa pelayan kalau tidak bisa melayani ku." Maafkan kami tuan muda, di desa ini tidak memiliki banyak pilihan makanan seperti di Amerika."


"Singkirkan ini dari hadapan ku!"


"Tapi anda harus makan tuan!"


"Sajikan ramen untuk ku!"


"Ee baik tuan."


Beranjak dari meja makan dan pergi keluar untuk merilekskan pikirannya. Mengambil sebuah teropongan untuk melihat kondisi desa itu dari arah kejauhan. Tampak lah sebuah desa yang hanya menggunakan api sebagai penerang.


Desa itu tidak jauh dari tempatnya berada. Jarak pembatas antara Barak A ke desa itu adalah sebuah pagar kayu yang lumayan tinggi. "Sepertinya ada ke hidupan disana!" katanya melihat kembali ke segala arah menggunakan teropong.


Ketika mengarahkan teropongnya ke arah selatan lantai 3, Arsya melihat seseorang berambut panjang tengah menyisir rambutnya.


"Waaa, setan!!"


katanya sedikit terkejut dan menjatuhkan teropong itu. Perlahan berdiri dan berlari masuk ke dalam dengan tergesa gesa.


"Ada apa tuan, kenapa anda berteriak?"


"Aa ada setan disana!" menunjuk ke arah selatan. Segera keluar dan melihat kiri kanan dari gedung itu, namun tidak melihat apa-apa.


"Dimana tuan? tidak ada orang disini."


Keluar dan melihat ke selatan lantai 3 itu namun penampakan itu sudah hilang.

__ADS_1


"Tadi ada disana!"


Beberapa menit kemudian, setelah pikirannya sedikit tenang, Arsya kembali ke ruang tamu untuk menonton acara di Tv. Terdengar suara ketukan dari pintu dan hatinya langsung terkejut. "Siapa disana?"


"Saya tuan, Diana!"


"Siapa Diana?" Aku tidak mengundang wanita malam ini!


Diana mengerutkan keningnya mendengar ucapan Arsya dari dalam. Mengundang wanita? Itu orang udah gila kali ya.


Mengetuk pintu sekali lagi. "Maaf tuan, saya mau memberikan makanan yang anda pesan!" Saya juga tidak memesan makanan!"


"Maaf nona Diana, sudah membuat anda menunggu di luar, kata Eki yang segera menghampirinya. "Oh, tidak masalah pak, sepertinya tuan Arsya, tidak bisa diganggu."


Pagi harinya mereka sudah mulai di sibukkan aktivitas yang padat. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. "Diana, tolong, kamu berikan berkas ini ke pak Arsya!" kata pak Retno memberikan sejumlah berkas yang baru saja kami selesaikan.


"Saya pak?"


"Iya, kamu!"


Males banget gue, ketemu sama orang itu lagi. Mudah-mudahan tu orang moodnya lagi stabil.


tok..tok...tok..


"Masuk!"


"Selamat siang pak, ini berkas yang anda minta!" Meletakkan berkas di meja tepatnya dihadapan Arsya. Melirik Dian dengan tatapan tajam. Dasar gadis kampungan.


Kemudian mengambil berkas yang bertumpuk dan meletakkan dengan kasar diatas meja itu. Terkejut dan memandang Arsya.


"Kerjakan itu selama 3 jam!"


Melalakkan matanya ketika melirik berkas bergantian dengan Arsya. "Semua ini pak?"


"Mm," melambaikan tangannya menyuruh Dian segera keluar dari ruangan itu.


Kalau saja dia bukan bos, udah gue tonjok ni orang.


"Kenapa masi berdiri disana?"


sambil membolak balikkan sebuah berkas di tangannya.

__ADS_1


"Baa baik pak!"


Setelah keluar dari ruangan itu, Diana segera berjalan cepat ke ruangannya. Proyek ini sungguh menguras tenaga dan pikiran nya. Andai saja dia tidak ikut mengambil alih mengerjakan ini, mungkin Dian masih sempat bersantai disaat jam istrahat.


"Diana, kamu sangat sibuk?" kata Ema menghampirinya. "Iya, ini berkas harus selesai dalam 3 jam."


Ema melihat berkas yang bertumpuk di meja Dian dan menelan salivanya. Uuhh buset, banyak banget. Itu bos gila kali ya?


Beberapa jam mengerjakan tugas nya, Diana sejenak ke kamar mandi kebelet pipis. Setelah keluar dari kamar mandi, Dian menyandarkan tubuhnya dan menghembus nafas lelah.


Kembali lagi dengan komputer yang sudah menunggunya beberapa menit lalu. Mendengar ponsel yang bergetar, Dian melihat di layar ponsel nya tertera nama Niko.


Mengerutkan keningnya dan menggeser tombol hijo untuk menyambungkan panggilan.


~Hallo?


~Dian, apa kamu sedang sibuk?


~Iya, Nik. Nanti aku telfon ya!


Diana segera memutuskan panggilan itu. dan sekarang fokus pada berkas yang siap ia pegang. Beberapa menit berlalu, Dian segera berjalan ke ruangan Arsya dengan tergesa-gesa.


"Maaf, pak, ini berkas yang anda minta!"


"Kamu terlambat 10 menit." katanya melirik jam di tangannya. "Maafkan saya pak!"


"Tolong, buatkan saya kopi?"


"Apa?" Dian melalakkan matanya menatap Arsya yang kini duduk di sofa memeriksa berkas itu.


"Buatkan saya kopi! katanya sekali lagi dengan tegas


oh god, ini orang bener-bener tidak punya perasaan kali ya.


"Maaf, pak, itu bukan tugas saya!"


"Jangan membantah, lakukan apa yang saya suruh, kalau kau masih ingin bekerja disini."


"Baa baik pak!"


Keluar dari ruangannya dan segera menuju dapur. Sepertinya dia sengaja mengerjaiku. Ok kita liat saja, nanti. Aku akan menakutimu nanti malam. kata Dian tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2