
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara Arsya masih sibuk dengan segala berkas di mejanya. Pada saat itu, dia meminta agar Diana ikut ambil alih menyelesaikan berkas-berkas itu.
"Iya hallo pak?"
"Segera keruangan ku!"
Ada apa lagi ini? Batin Diana bergegas ke ruangannya. Setelah sampai di ruangan Arsya meminta Diana untuk membuatkannya kopi. Setelah membuatkan kopi, Diana minta izin untuk pulang lebih dulu.
"Mau kemana kamu?"
"Saya mau pulang, pak!" ucapnya pelan.
"Nanti saja. Saya tidak terbiasa memakan makanan seperti itu." Menunjuk makanan yang sudah tersedia di meja.
Trus kalau lo gk terbiasa, gue harus sedih, gitu?
Sedikit mendekati Diana.
"Tolong, kamu bantu pelayan saya menyiapkan makanan untuk saya malam ini. Saya tunggu 30 menit dari sekarang."
"Tapi pak!"
"Jangan berani membantah!"
Diana hanya mengekor bersama pelayan Arya ke asramanya. Ia menanyakan kepada pelayan tentang makanan kesukaan Arya. Diana mendongak tidak mengerti makanan sejenis apa itu. Bahkan selama di jakarta saja dia tidak pernah merasakan makanan aneh itu.
Tanpa harus berfikir panjang, Diana akan menyajikan ayam panggang dengan berbagai macam sambel. "Terserah lah, kalah lo tidak suka, atau apalah segala macam, yang penting gue udah berusaha." ocehnya di dapur. Sementara beberapa pelayan Arsya hanya memandangi Dian beraksi. Mereka bahkan tidak mengerti masakan apa yang ia sajikan.
Setelah selesai, Pak Eki mengantarkan makanan itu untuk Ceo Arsya.
"Dimana, Diana?"
"Nyonya Diana sedang membersihkan dapur tuan!"
Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Arsya memandang tekstur Ayam panggang yang sepertinya sangat gurih. Mengambil sendok dan menyantap daging serta sambel hijo itu.
*Mmm rasanya sangat seger, ternyata cewek itu jago masak. Cocok juga jadi pelayan gue selama disini, batinnya tersenyum.
Sepertinya tuan Arsya menyukai makanan Nona Diana*
*/*/*/*/*/*
Sesampai di asrama, Arsya segera membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, ia hendak keluar menikmati sejuknya malam. Melirik kiri kanan, ok situasi masi aman. Diana mengintip dari jendela. Setelah melihat pria itu sedang berdiri di luar teras kamarnya. Diana segera keluar menggunakan terusan putih dan menggerai rambut panjangnya.
Berdiri santai dengan pandangan ke depan dan membawa boneka. hihihi, bentar lagi lo bakalan pingsan, rasain lo!
__ADS_1
Diana mencoba bernyanyi pelan lagu: tidurlah anak ku. Ketika ingin memejamkan matanya, Arsya mendengar suara perempuan yang sedang bernyanyi. Bulu kudunya mulai merinding. Melihat ke arah selatan dan melihat seorang perempuan berambut panjang itu lagi.
"Aaa... Setaannnnn," ucapnya lagi berteriak membuat seisi rumah menghampirinya.
"Ada apa tuan? katanya Eki segera membantu Arsya bangkit berdiri.
Menunjuk ke arah selatan dengan telunjuknya yang bergetar.
hihihi, rasain lo!
Diana tidak segera pergi ke rumah. Dia kira Arsya masi berdiri di tempat itu. Jadi dengan santainya Dian memainkan bonekanya dan tetap bernyanyi.
Perlahan Eki berdiri dan melirik ke arah selatan. Iya bener, dia melihat seorang perempuan berbaju putih berdiri disana. Menelan salivanya dan segera menarik Arsya masuk kedalam. Sesampai di dalam, Eki menghubungi prajurit untuk segera mengamankan situasi.
Melihat kearah gedung itu dan tidak ada siapa pun lagi disana. "Apa dia sudah pingsan? hihihi akhirnya gue juga berhasil ngerjain lo lagi." Diana segera berlari masuk agar jejaknya tidak di ketahui.
"Segera periksa disana!" perintah Eki
Sejenak Eki berfikir, kalau itu gedung asrama Diana. Ia segera keluar dan menghubungi Diana. Melihat panggilan di ponsel dengan nama Eki, "Waduh, apa gue ketauan ya? Aduh gimana, nih? angkat gak ya?"
Beberapa kali panggilan, akhirnya Dian memutuskan untuk menyambungkan panggilan. "Hallo, pak!"
"Nona, Diana? apa gedung yang berarah selatan dari gedung kami milik anda?"
"Apa anda tidak pernah melihat sesuatu disana?"
"Maksudnya?"
"Maksud saya, seperti makluk halus, gituh?"
"Aa, yang bener aja pak, mana ada makluk halus disini."
"Bener, nona! Baru saja kami melihat seorang perempuan berambut panjang diluar gedung Anda."
"Apa? pak Eki jangan becanda dong!" ucap Dian menahan perutnya.
Sang surya sudah mulai menyebarkan pancaran sinarnya ke bumi. Diana segera bergegas untuk memasak sarapan pagi dan juga siang untuk di bawa ke kantor. Beberapa menit sudah berlalu, Diana sudah sampai di kantor, bersiap untuk bertempur kembali dengan kertas putih di mejanya.
Disamping itu juga, Arsya melewati ruangannya. Diana segera berdiri dan menunduk memberi salam. Dia melirik wajah Arsya yang lemas denga mata pandanya.
Sepertinya dia misi gue berhasil.
Diana kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Apa anda baik-baik saja, tuan?"
"Mmm, tolong buatkan kopi untuk ku!"
__ADS_1
Sesaat Eki membawakan kopi untuk Arsya. Ketika ingin menyerup kopi itu, dan Arsya menyemburkan air nya ke lantai. "Kopi apa ini? Buatkan yang baru.
Eki mengerutkan keningnya dan mencicipi kopi buatan pelayan tadi. Rasanya sungguh pahit. "Tunggu, suruh gadis kampung itu untuk membuat kopi saya!"
"Baik, tuan!" Sepertinya tuan muda mulai menyukai gadis itu.
"Nona, Dian! Tolong buatkan kopi untuk tuan Arsya."
"Aa saya pak?"
"Iya nona, sepertinya tuan Arsya menyukai kopi buatan anda."
"Baik lah, pak!"
Owalah, tuan itu sepertinya belum kapok-kapok juga!
Perlahan Diana mengetuk pintu dan memberika kopi nya ke Arsya. Sementara Arsya hanya diam saja dan fokus pada laptopnya. Rasa mual didalam perutnya kini sudah mengguncang untuk di keluarkan.
"Wueekkk..," lalu berlari ke toilet.
"Waduh, kenapa dia?"
"Wuueekk,," Arsya memuntahkan semua isi perutnya.
Diana segera menghampirinya dan, "Tuan, apakah anda sakit?" Arsya hanya mengangguk dan bersandar pada dinding toilet. Diana segera membantu memijit pelan punggungnya. "Maafkan saya, tuan!"
Sesaat Arsya memejamkan matanya dan perlahan tubuhnya ambruk di bahu Diana.
"Tuan, bangun!" teriak Diana membuat pak Eki berlari menghampiri mereka.
Mereka segera membawa Arsya ke puskesmas dekat kantor itu. Dokter Riko segera memeriksanya. "Bagaimana, dokter?" tanya Eki tidak sabar.
"Tuan Arsya hanya masuk angin, jadi jangan khawatir. Saya akan memberikan obat dan vitamin untuknya."
Beberapa jam kemudian, Arsya sudah di bawa ke asrama. Eki meminta Diana untuk ikut merawat tuannya. Sebelum Arsya bangun, Diana segera memasak sup iga dan minuman jahe sebagai penghangat badan.
"Tuan, anda sudah sadar?" ketika melihat Arsya yang sudah bersandar di badan kasur.
"Sebaiknya, anda makan dulu, tuan! Saya sudah membuatkan sup dan air jahe untuk anda!"
Tanpa berkomentar, Arsya mengambil sup itu dan mencicipinya. "Kamu lebih cocok jadi pelayan saya!" uangkapnya
Mmm, udah mulai lagi nih mancing emosi gue!
Setelah selesai makan dan minum obat, Diana izin untuk kembali ke kantor melanjutkan aktivitas yang tertunda.
__ADS_1