Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 67 : Takdirku Bersamamu


__ADS_3

Jantung Anjani mendadak berdebar kencang saat sadar Mariolah yang datang. Bola mata Anjani tercekat dalam tatap. Sejenak ada rindu yang tersalurkan, tapi bersamaan pula dengan munculnya bayangan video yang terasa menyakitkan.


Deg!


Ada rasa sakit di hati, kala untuk pertama kali melihat sosok yang selama ini dihindari. Ya, rasa sakit itu masih ada meski beberapa saat lalu Anjani belajar untuk memaafkannya.


Perlahan, mimik wajah Anjani berubah. Mimik keterkejutan berubah menjadi air muka kecewa. Nano-nano rasanya. Sekali waktu Anjani memang merindu, tapi begitu ketemu justru amarahlah yang muncul lebih dulu.


"Sayang, maafkan aku."


Kata itulah yang pertama kali diucapkan Mario pada Anjani. Terdengar tulus dari hati.


Tak ada tanggapan yang membuat hati nyaman. Yang Mario dapatkan justru sikap acuh dari istri yang sangat dirindukan.


Anjani turun dari ranjang dengan mengalihkan pandangan. Anjani berniat keluar kamar, menghindari sang suami. Sayangnya, Mario gesit menutup kembali pintu kamar, menguncinya, hingga Anjani tak memiliki akses keluar.


"Minggir, Mas!" pinta Anjani dengan raut wajah seperti sedang menahan emosi.


"Sayang, mari kita bicarakan baik-baik, ya!"


Mario meraih pundak Anjani, tapi lekas ditepis tanpa banyak berkomentar lagi.


Terdiam. Mario-Anjani sama-sama terdiam kali ini. Berdiri berhadapan, tapi tak ada obrolan lagi. Bedanya, Mario lekat memandangi, sementara Anjani tak kuasa menatap bola mata sang suami. Terus menghindari tatapan dengan cara membuang pandang.


Cukup sudah. Mario tak bisa menunggu lebih lama. Pundak Anjani kembali diraih, lantas membawanya mendekat untuk didekap.


"Lepasin, Mas!" Anjani memberontak.


Mario tetap bertahan. Tidak melepaskan. Dibiarkannya Anjani mendorong-dorong, berusaha menepis tangan.


"Mas! Lepasin!" Seruan Anjani semakin kencang.


"Tolong dengarkan penjelasanku dulu, ya!" Mario tetap bertutur lembut pada istrinya.


"Nggak mau! Lepasin aku, Mas! Lepas!" Anjani semakin kuat memberontak.


Tidak tinggal diam, Mario tetap bertahan sembari terus berusaha memberi dekapan. Hingga kemudian, tenaga Anjani mulai memudar. Seperti biasa, kala diri tak sanggup menyikapi, air mata keluar sebagai tanda gejolak di hati.


Mario mengambil kesempatan untuk membawa Anjani ke dalam pelukan. Dan ... berhasil. Anjani menangis dalam pelukan Mario. Sayangnya, pelukan itu tak berbalas. Hanya air matalah yang sedari tadi mengalir deras.


"Kamu jahat, Mas!"


Tangan Anjani diayunkan. Memukul-mukul dada bidang.


"Kamu tega!" seru Anjani disertai pukulan yang lebih keras.


"Menangislah! Luapkan semuanya!" Mario tidak berniat melepas pelukan, meski tangan Anjani brutal.


Bulir-bulir bening telah membentuk jejak tangisan. Tangisan keras disertai isakan. Seruan kata-kata kekecewaan terus keluar disertai ayunan tangan. Dada bidang Mario terus menjadi sasaran. Dan ... Mario sama sekali tidak keberatan. Tidak membalas dengan kasar, melainkan dengan kelembutan.


Beberapa menit berlalu, Anjani mulai lelah dengan tangisnya. Dalam keadaan hamil besar membuat Anjani tak bisa bebas berbuat macam-macam. Rasa kesal yang diluapkan hanya sebatas tangisan dan ayunan tangan.


"Kamu jahat, Mas!" ucap Anjani untuk kesekian kalinya.


"Sayang, maafkan aku. Maaf."


Mengetahui tenaga Anjani yang mulai melemah, Mario mengambil kesempatan untuk membuat Anjani nyaman dalam dekapannya. Mario sungguh tak ingin melepaskan Anjani begitu saja. Ini adalah kesempatannya, dan Mario tidak akan menyia-nyiakannya.


Anjani masih terisak, meski sudah terdengar samar. Saat itulah Mario mengambil kesempatan untuk memulai penjelasan.


"Sayang, tolong dengarkan penjelasanku, meski terdengar menyakitkan bagimu. Aku akan menjelaskan semuanya."


Tak ada sahutan. Yang Mario dengar masih saja suara tangisan.


"Pertama-tama kamu harus tau dulu ... Ken dan Lovey sudah menikah beberapa minggu lalu."


Deg!


Penjelasan pertama Mario membuat tangis Anjani seketika mereda. Tak terdengar lagi isak tangis darinya. Pertanda baik, dan Mario semakin menggencarkan penjelasannya.


"Ken dan Lovey sudah sah menjadi suami istri."


Tangis Anjani benar-benar mereda. Fakta tentang Ken dan Lovey benar-benar tidak Anjani sangka.

__ADS_1


"Maafkan kebodohanku, ya Sayang. Karena ketidaktahuanku, karena kebodohanku, karena keputusan tergesa dan ketidaktegasanku, rumah tangga kita hampir saja hancur. Tidak seharusnya waktu itu aku main-main dengan pernikahan. Kontrak pernikahan, tidak seharusnya aku melakukan. Maafkan aku, ya Sayang."


Untuk penjelasan yang satu itu, Anjani pun merasa bersalah karena sempat memberi izin suaminya.


"Maaf juga ... atas video itu."


Deg!


Disinggung soal video, ada rasa nyelekit yang tercipta. Sekilas Anjani terbayang adegan mesra Lovey dan suaminya. Mata Anjani terpejam sebentar. Berniat lepas dari pelukan, tapi gagal karena Mario bertahan. Alhasil, Anjani tetap terkungkung dalam dekapan.


Tak lama kemudian, Mario melepas pelukan. Namun, Mario tidak benar-benar berniat melepaskan. Mario memegangi pundak Anjani, lantas menatap manik mata sang istri. Mario menatap begitu dalam, karena ada yang sedang ingin dia jelaskan. Mario melakukan itu agar Anjani bisa mencari kebenaran ucapan lewat tatapan.


"Adegan dalam video itu, aku memang melakukan. Tapi saat itu yang ada dalam benakku adalah kamu. Bukan Lovey. Video pertama di bilik perawatan, setelah aku terkena lemparan high heels. Saat aku sadar dari pingsan, begitu buka mata yang kulihat adalah kamu. Aku mengira Lovey adalah kamu, hingga kemudian ... terjadilah adegan yang kamu lihat dalam video itu."


Sesak dada Anjani saat mendengar penjelasan Mario. Namun, saat menatap jauh ke dalam, Anjani tidak menemukan kebohongan.


"Sungguh, yang kulihat saat itu adalah kamu. Bukan Lovey. Dan ... mantan relasiku diam-diam merekamnya demi balas dendam dan mempermalukanku. Termasuk video yang kedua. Aku dan Lovey masuk dalam jebakannya."


Mario meyakinkan. Terus menatap dan memberi penjelasan.


"Aku dijebak Dewangga, mantan relasiku, dan sekarang ayah sudah berhasil menangkapnya."


Anjani masih terdiam. Tidak memberi tanggapan. Bola matanya masih tetap menatap jauh ke dalam.


"Sayang, tolong percayalah padaku. Maafkan aku. Harusnya aku menjelaskan dari awal, bukan malah menyembunyikan."


Ada perubahan. Mimik wajah Anjani berubah. Bahkan, ada tanggapan kata darinya.


"Iya, Mas. Harusnya kamu jujur dari awal." Itulah kata pertama yang Anjani ucapkan usai menatap jauh ke dalam.


"Iya. Maafkan aku, ya. Adegan dalam video itu sama sekali tidak kusengaja. Video itu ...."


"Ssut." Anjani menempelkan telunjuknya di bibir Mario.


Satu senyum diberikan. Hati Anjani mulai ditumbuhi kepercayaan.


"Kak Ken sudah menikah dengan Lovey?" Anjani kembali menyinggung yang tadi.


"Iya. Di hari pertama kamu menghilang, ayah datang dari Jerman. Ayah mendudukkan Ken dan Lovey. Sempat berdebat, tapi akhirnya Ken mengakui perasaannya pada Lovey. Saat itu juga Ken mengajak Lovey untuk menikah, dan Lovey bersedia."


"Mas, boleh aku tanya sesuatu? Pertanyaan ini sangat menggangguku sejak melihat video itu."


"Apa itu? Katakan saja, Sayang."


"Video itu .... hanya cuplikan atau ada adegan lain yang kalian lakukan sampai kalian sama-sama merasa terpuaskan?"


Mario menggeleng tegas. Karena memang yang terjadi tidak sejauh itu.


"Tidak sejauh itu. Sungguh. Pecayalah padaku." Mario mantap berucap.


Senyum Anjani semakin lebar. Bola matanya masih terus menatap ke dalam. Lega, itulah yang kini Anjani rasakan usai sama sekali tidak mendapati kebohongan.


"Meski penjelasanmu benar, tapi melihat video itu tetap menyakitkan, Mas. Hari-hariku terasa perih saat terbayang adegan mesra yang kalian lakukan. Rasanya perih. Di sini sakiiiiit sekali." Anjani memegang dadanya.


Deg!


Giliran hati Mario yang sesak usai mengetahui rasa sakit Anjani selama ini.


"Maafkan aku, Sayang. Sungguh, aku tidak berniat melakukannya dengan Lovey."


Anjani tidak menanggapi. Masih saja tersenyum sembari terus menatap bola mata sang suami.


"Apa saat itu kamu menikmatinya, Mas?"


Deg!


Pertanyaan Anjani kali ini sulit untuk dijawab. Mario tidak bisa asal memberi jawaban. Khawatir yang tercipta justru salah paham.


"Tolong jawab saja, Mas."


"Aku menikmatinya karena yang ada di benakku saat itu adalah kamu."


Getir hati Anjani usai mendengar jawabannya. Sempat menyesal kenapa juga barusan dia bertanya. Seolah tidak ada pertanyaan lainnya. Tapi itulah pertanyaan yang sering muncul sejak Anjani kabur dari rumah. Kini, Anjani lega karena sudah bisa melontarkan tanya.

__ADS_1


"Kamu menikmatinya karena mengira itu aku? Iya?"


Mario mengangguk pelan. Dirinya tak sanggup mengulang penjelasan meski dirinya sama sekali tidak menutup-nutupi kebenaran.


Untuk sesaat, keduanya kembali terdiam. Mario, dia sedang menunggu tanggapan. Sedangkan Anjani, dia sedang menata hati. Hingga kemudian, Anjani sampai pada satu keputusan.


"Aku kabur dari rumah karena rasa sakit hatiku. Sekarang .... kuputuskan untuk kembali percaya padamu, Mas. Bukan berarti rasa sakit hatiku telah hilang sepenuhnya. Akan kuminta kamu membantuku menyembuhkannya pelan-pelan setelah ini."


Senyum Mario merekah. Hatinya lega.


"Alhamdulillaah. Iya. Terima kasih, Sayang."


Anjani tersenyum. Kemudian, kedua tangannya maju menangkup pipi Mario. Anjani membawa wajah sang suami mendekat ke arahnya. Ditatapnya bola mata Mario dari jarak dekat.


"Bismillaah. Kamu adalah suamiku. Suami yang kucintai. Ayah dari bayi yang kukandung saat ini. Aku memaafkanmu, Mas."


Ada jeda sebentar. Anjani menatap bola mata Mario dengan penuh ketulusan.


"Takdirku Bersamamu. Aku yakin takdir bahagia telah dan akan selalu menyelimuti rumah tangga kita. Ujian yang sempat menggoyahkan, sama-sama kita ambil hikmahnya, ya Mas."


"Iya, Sayang. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Terima kasih .... Terima kasih."


Mario tak henti-hentinya berucap terima kasih atas keputusan yang Anjani buat. Maaf dari Anjani sangat berharga, dan selamanya akan Mario jaga kepercayaan yang telah kembali diberikan padanya.


"Dan ... ini untuk menghapus jejak Lovey. Jejak dariku, semoga bisa semakin menumbuhkan kesetiaan di hatimu."


Tanpa sempat menanggapi, Mario sudah mendapati kikisan bibir dari Anjani. Barulah Mario menyadari arti kata yang diucapkan Anjani barusan. Anjani benar-benar menghapus jejak Lovey. Mengganti dengan jejak miliknya, dan entah kenapa Mario sangat menyukainya. Perlakuan Anjani malam ini meninggalkan kesan manis yang pasti akan membekas dalam ingatan Mario.


Setelah sekian menit, Mario-Anjani menyudahi aksi kikisan. Kini, keduanya saling pandang.


"Aku merindukanmu. Sangat-sangat rindu."


"Aku juga, Mas. I love you."


"I love you too, istriku."


Senyum manis keduanya sama-sama merekah. Cinta kasih mereka kembali tersalurkan lewat kata dan kikisan bibir mereka. Mario-Anjani, lagi-lagi merasakan indahnya cinta. Jatuh lagi, untuk kesekian kali. Tak mengapa, karena yang jatuh adalah hati mereka. Jatuh dalam kubangan cinta yang teramat manis rasanya, hingga rasa-rasanya dunia seperti milik mereka berdua.


"Mas, temani aku tidur, ya. Aku lelah, tapi aku bahagia." Nada Anjani terdengar manja.


"Tentu saja. Aku suamimu, akulah yang akan menemanimu. Berbaringlah, akan kuceritakan kisah cinta yang indah. Agar kamu bisa bermimpi indah."


Lagi-lagi senyum Anjani merekah. Dunia benar-benar seakan milik mereka. Mereka berdua sama sekali tidak ingat bahwa di ruang tamu sana ada Ma, Ken, Bastian, Riko, dan Husen yang harap-harap cemas menanti kabar dari mereka. Sayangnya, Mario-Anjani terlupa, dan terlanjur menikmati waktu bersama.


"Nak, bunda sudah berbaikan sama daddy." Anjani membawa tangan Mario menuju ke perut besarnya.


"Anaknya daddy apa kabar?"


"Aku baik, Daddy. Aku udah jagain bunda lho. Aku suka bikin senyum bunda waktu bunda rindu sama daddy." Anjanilah yang menjawab.


Mario menyentil pelan hidung Anjani karena gemas mendengar nada suaranya yang dibuat menyerupai anak kecil yang tengah manja.


"Terima kasih sudah menjaga bunda selama ini, ya. Sekarang, daddylah yang akan menjaga kalian. Daddy akan terus menyayangi bundamu."


"Eeemm ... daddy cuma sayang sama bunda aja, nih?" Bibir Anjani dibuat cemberut.


"Tentu saja daddy sayang sama kamu, Nak." Mario mendekatkan wajah dan mengecup perut besar Anjani.


"I lop yu, daddy. Aku juga sayang daddy. Boleh minta peluk ya, daddy. Aku kangen sama daddy." Anjani benar-benar manja.


"Daddy juga kangen kalian." Mario merengkuh Anjani dalam dekapan.


Dan ... betapa manis cinta kasih yang mereka rasakan. Hati keduanya sama-sama lapang memaafkan. Kerinduan telah bersambut pertemuan dan luapan sayang. Hati yang semula jauh, kini sudah berdekatan. Ikatan cinta yang sempat goyah, kini sudah diambil hikmahnya. Mario-Anjani, kembali bersama menjalani takdir mereka.


Bersambung ....


Suka? Silakan LIKE, VOTE, dan lempari author dengan hadiah, ya. Ehehehe. Dipersilakan bagi yang mau memberi dukungan. 😉 Sebarkan dan rekomendasikan novel ini agar semakin banyak yang memetik pelajaran lewat bacaan.


Masih mau dilanjutkah????????


Terima kasih sudah mampir juga ke novel Cinta Strata 1 dan novel Ikatan Cinta Alenna. Kurang lengkap nih kalau nggak kepoin sahabat baik Anjani di Jogja. Capcus ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti, yuk. Mohon dukungannya untuk kami.


Salam Luv 💙

__ADS_1


***


__ADS_2