
"Pak Ken," sapa Marisa untuk kedua kalinya sembari berjalan mendekati meja tempat Ken berada.
Lebih dulu membetulkan letak kacamatanya, Ken pun segera mengubah mimik wajah dan tersenyum pada Marisa. Rasa kecewa akibat berakhirnya adegan jerat tatapan mata, lekas diganti dengan rasa acuh ala Ken seperti biasanya. Ken mencoba acuh pada rasa yang sebelum ini bergejolak dalam dada. Akan tetapi, acuh yang dipilih rasanya sungguh jauh berbeda, tak seperti dulu lagi. Rasa-rasanya bola mata Ken masih ingin menatap manik mata Lovey. Ya, menatap seperti tadi, tapi Ken gengsi.
"Ekhem." Ken berdehem pelan seraya mengalihkan pandang dari Lovey yang tampak sedang mengambil gelas jus di lantai.
"Pak Ken di sini juga ternyata. Lagi makan siang ya, Pak?" Marisa mendekat, mencoba akrab.
"Iya, nih. Lagi makan siang." Ken melihat ke arah Marisa sembari tersenyum ke arahnya.
klik!
Fokus Ken kini lebih jelas memperhatikan Marisa. Tetiba saja debar aneh muncul begitu saja. Ken sampai bingung bagaimana cara mengatasinya. Gestur Marisa, wajah hingga cara berpakaiannya benar-benar mirip sekali dengan mantan kekasihnya.
Kok jadi serem gini, ya? Lihat Lovey, aku deg-degan. Lihat Marisa, malah kebayang mantan. Duh! Ken terjebak rasa.
"Helloo. Pak? Kok bengong, sih?" Marisa mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ken.
Ken kelagapan sampai-sampai terbata dan hilang kepedean.
"Eng-nggak, kok."
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung ke arah Marisa. Sementara Lovey, dia tampak sedang mempersilakan seorang pelayan untuk membersihkan gelas yang tadi isinya tumpah.
"Pak, itu calon istrinya ya?" Marisa menunjuk Lovey.
Lovey mendengarnya dengan jelas. Tanpa sepengetahuan Ken, jantung Lovey sampai lompat-lompat karena sebutan yang disematkan. Namun, rasa girang Lovey seketika berubah jadi rasa geram akibat jawaban Ken yang asal.
"Eit, jangan salah! Lovey ini bukan calon istri, tapi teman ribut. Tiap ketemu dia nih, pasti ribut. Adaaa aja barang yang dilempar. iiih. Serem kan kayak dedemit nyasar. Kayaknya perlu ada pawangnya biar agak ka ...."
"Keeeeen!" seru Lovey, geregetan.
Kalimat Ken disela dengan seruan kata. Lovey geram. Hilang sudah debar merdu yang tadi dirasakan. Berlembar-lembar tisu dikumpulkan, dibentuk jadi gumpalan, lantas dilayangkan hingga mengenai pipi Ken.
"Wadaaw! Loveeeey! Apa salahku, sih?" Ken protes.
"Salah. Pokoknya salah. Sejak aku bertemu denganmu banyak sekali yang salah!" seru Lovey.
"Busyeeet, dah! Kenapa jadi galak gini, sih? Untung yang dilempar tisu, bukan sepatu." Ken menggosok-gosok pipinya yang habis diserang.
"Mau pakai sepatu ha?" Lovey bersiap melepas high heelsnya.
"Et-et-et. Kalem, dong. Oke, aku salah. Aku minta maaf. Sorry!"
Lovey bersedekap sambil membuang muka. Sementara Ken masih berusaha membujuk Lovey agar lebih bersikap lembut lagi padanya.
Marisa yang melihat itu semua jadi tidak enak hati karena telah menyapa di saat yang salah. Padahal, niat hati Marisa hanya ingin menyapa Ken agar terlihat lebih akrab, supaya saat magang tidak ada kecanggungan.
"Sepertinya Pak Ken sedang ada masalah rumah tangga, ya. Maaf sudah mengganggu, Pak. Saya permisi dulu," pamit Marisa.
"Eh? Bu-bukan seperti yang kamu kira kok." Lagi-lagi Ken terbata saat melihat ke arah Marisa. Aura sang mantan benar-benar melekat pada diri Marisa.
"Ehehee. Iya sudah, Pak. Saya permisi dulu kalau begitu."
Marisa pamit, dan Ken hanya mampu mengiyakan dengan anggukan. Ken benar-benar dibuat bingung dengan sosok Marisa yang justru mampu membuat jantungnya berdebar lantaran teringat mantan.
Ken kembali duduk di meja yang sama dengan Lovey. Seutas senyum lekas disuguhkan sembari diimbuhi dengan usaha untuk berbaikan.
"Jangan ngambek gitu dong! Entar makin keliatan cantik gimana?"
"Percuma cantik kalau dapat julukan dedemit," celetuk Lovey.
"Iya, deh. Aku demitnya dan kamu ratunya."
"Apa?! Maksudmu aku ratu demit? Begitu?" Lovey makin sebal.
"Ah, ngomong sama wanita susah juga ternyata." Ken tampak frustasi.
Terdiam. Ken dan Lovey sama-sama memilih untuk diam. Satu menit, dua menit, dan tiga menit pun berlalu dengan mereka berdua yang masih sama-sama bungkam.
"Sorry, ya." Ken lebih dulu memulai kata usai bungkamnya. "Gini aja, deh. Kamu traktir aku jus alpukat, dan hutang yang kamu maksudkan langsung lunas, masuk hitungan traktiran ketiga. Setelah itu kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertemu denganku."
"Jangan!"
Spontan saja Lovey menolaknya. Dengan gejolak rasa baru yang masih bertahan di hatinya, menyudahi pertemuan akan membuat Lovey semakin kecewa karena kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan dengan Ken. Tapi masalahnya, Lovey terlalu gengsi untuk mengakuinya. Itulah sebabnya Lovey meminta Mario untuk datang menemuinya, demi sebuah saran tentang perasaannya. Nyatanya, yang datang justru pemeran utama atas gejolak hatinya.
__ADS_1
"Ma-maksudku. Jangan dulu, Ken. Biarkan aku membayar hutangku sesuai kesepakatan." Lovey menambahi penjelasan.
"Terserah kau saja, deh. Oya, mau minta bantuan apa? Mario sedang sibuk mesra-mesraan sama Anjani, jadinya aku yang disuruh ke sini."
"O."
"O doang nih jawabannya? Mau minta bantuan apa sama Mario? Sini kuwakilkan."
Tentu saja Lovey tidak akan berterus terang. Rasa malu, itulah yang Lovey rasakan andai perasaan itu terungkap sekarang. Akhirnya, Lovey memutuskan untuk memendam.
Sebaiknya aku fokus dulu saja untuk memperbaiki hubungan. Nggak baik juga sih kalau terus bertengkar. Ya, seperti itu saja. Jangan terburu-buru, Vey. Pastikan Ken juga menyukaimu. Kalau tidak, kamu bakalan malu. Batin Lovey.
"Hei! Malah ngelamun. Ntar kesambet demit malah jadi ratu beneran, lho!"
"Ih, jangan sebut-sebut demit terus, Ken."
Nada bicara Lovey berubah manja, membuat Ken jadi bertanya-tanya. Ken mengira bahwa Lovey sedang bimbang hatinya, makanya sikapnya jadi tidak biasa.
"Terus mau minta bantuan apa, nih?" Ken bertanya lagi.
"Em ... bantu bilangkan ke Mario, ya. Sepertinya saran Mario agar aku segera menikah akan segera kuwujudkan jadi nyata. Aku sudah tau siapa yang bisa kuajak nikah."
Deg!
Gejolak rasa yang baru tercipta seketika patah. Ken kecewa karena rasa yang baru terbentuk indah justru harus musnah. Ken yang tidak tau siapa yang dimaksudkan Lovey, hanya bisa menghargai penuturan dengan berusaha menampilkan dukungan.
"Kamu yang ngajakin nikah? Wah-wah! Good luck, deh. Eh, siapa orangnya?" Ken berlagak kepo.
"Kamu kenal, kok. Nanti kamu juga bakal tau. Hatinya masih akan kuperjuangkan." Lovey terlihat girang
"Oh. Oke, deh. Berarti ini nggak jadi minta bantuan, nih?"
Lovey menggeleng.
"Baiklah. Jadi ... sebaiknya aku langsung kembali ke kantor atau gimana?"
"Jangan terburu-buru, Ken. Duduk di sini dulu temani aku makan siang. Aku traktir, tapi bukan bagian dari pembayaran hutang. Mau, ya?" Lovey menjelma lebih ramah.
Lantaran Ken tak ingin menolak rezeki, tawaran Lovey pun dipenuhi. Lebih dari itu, Ken juga mau membiasakan diri dengan gejolak rasa baru terhadap Lovey. Ya, meski sudah patah, tapi Ken tetap menikmati, dan akan terus menikmati rasanya sampai Ken tahu siapa lelaki yang dipilih Lovey.
"Dewa? Hai." Ken menyalami Dewangga.
"Hai juga. Lama kita tidak bertemu, ya. Kapan-kapan ngobrol, yuk!" ajak Dewangga.
"Oke, siap. Tinggal telepon saja."
Dewangga mengangguk-angguk senang. Dirinya memang berharap bisa lebih akrab dan mengenal Ken lebih dalam, apalagi setelah tahu bahwa Ken adalah sahabat baik Mario. Ditambah lagi, barusan Dewangga juga melihat Ken dengan Lovey.
"Oya, maaf. Aku nggak bisa lama-lama . Harus balik kantor, nih."
"Nggak masalah. Hati-hati di jalan."
Sekali lagi Ken menyalami Dewangga dengan ramah, kemudian pamit kembali ke kantornya. Begitu Ken pergi, Dewangga juga bergegas pergi agar keberadaannya tidak diketahui Lovey.
***
Di kantor, Anjani tidak diperbolehkan pulang oleh Mario. Anjani diminta duduk di sofa ruang kerja Mario, sementara Mario sendiri masih menghadiri pertemuan bersama direktur dan kepala divisi lainnya. Sambil menunggu Mario, Anjani berbalas pesan dengan beberapa teman. Obrolan pun tak jauh-jauh dari persiapan magang.
Tok-tok-tok! Suara ketukan pintu.
Anjani sedikit terkejut. Tanpa ragu Anjani menyuruh seseorang yang mengetuk itu untuk masuk.
"Kak Ken?"
"Hai."
"Salamnya mana, Kak?"
"Assalamu'alaikum istrinya Mario yang solihah."
"Wa'alaikumsalam, Kak Ken. Hihi. Makasih pujiannya."
Usai drama sebentar dengan Anjani, Ken masuk ruangan kemudian menghela nafas dalam.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Nggak papa. Lega aja karena nggak mergokin kalian mesra-mesraan."
"Ish. Salah sendiri tadi Kak Ken nggak ngetuk pintu. Oya, mau ketemu suamiku, ya? Masih di ruang pertemuan tuh."
"Oke deh. Aku tunggu."
Ken duduk-duduk. Sama seperti Anjani, Ken memilih untuk membalas pesan yang masuk.
"Anjani, boleh tanya nggak?"
"Apa, Kak?"
"Marisa udah punya cowok belum?"
"Cowok? Maksud Kak Ken, bapaknya?"
"Eit, bukanlah. Maksudnya kekasih."
"Oh. Kenapa kok tiba-tiba tanya? Hayoo! Mau ngincer hati Marisa, ya? Terus Lovey gimana dong, Kak?"
Ken terdiam sebentar. Mendadak dia teringat perkataan Lovey yang akan segera mengajak nikah seseorang. Agak perih rasanya di hati, tapi Ken sudah memutuskan untuk tetap menikmati gejolak rasa di hati sampai dia tahu siapa lelaki yang diincar Lovey.
"Aku cuma nanya, Anjani. Marisa punya kekasih nggak?"
"Nggak punya, tuh. Kalau seseorang yang disuka sih ada. Tapi nggak mau cerita banyak ah." Anjani langsung menahan dirinya untuk tidak bercerita banyak tentang Marisa.
"Oke, deh nggak papa. Ntar waktu magang kutanyain sendiri aja."
"Heeei. Kak Ken jangan coba-coba modusin Marisa loh, ya."
Ken langsung tertawa melihat ekspresi Anjani yang sebal karena serius dengan kata-katanya.
"Bercanda doang. Jangan serius gitu, ah! Ntar aku diomelin Mario karena bikin kamu sebal."
"Hehe. Maaf, Kak. Oya, mumpung Kak Ken di sini. Aku tinggal ke kamar mandi bentar, ya Kak. Tolong jagain ruangan suamiku."
"Oke."
Tak lama kemudian, Mario datang. Senyum simpul disuguhkan pada Ken yang mimik wajahnya awut-awutan. Mario langsung menduga bahwa sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Namun, saat ini Mario sedang tidak tertarik membahasnya, apalagi membahas hasil pertemuan Ken dengan Lovey. Mario lebih tertarik dengan smartphone Anjani yang tergeletak di sofa.
"Anjani ke mana?" tanya Mario.
"Lagi mandi." Ken menjawab dengan asal.
"Mandi? Tumben?"
Ken tidak menyahuti dan masih fokus pada smartphonenya. Sementara Mario juga tidak memperpanjang pertanyaannya. Mario memilih duduk di sofa, dan pas sekali smartphone Anjani menyala karena sebuah pesan masuk.
"Bastian? Apa Anjani tanya-tanya tentang magangnya, ya?"
Mario tidak ingin menebak-nebak. Langsung saja pesan-pesan Anjani dan Bastian dibacanya dari awal. Mario pun tersenyum kemudian. Tebakannya betul. Anjani memang sedang tanya-tanya seputar magang.
"Ken, lusa kau ikut aku, ya. Setelah istirahat makan siang." Mario berkata usai meletakkan smartphone Anjani di tempatnya lagi.
"Kemana lagi, Bro?"
"Ke kantor tempat Bastian bekerja."
"What? Mau ngapain?"
"Tidak perlu pakai what-what. Cukup ikut aku dan nanti kau juga tau," terang Mario.
"Haah. Oke deh. Siap!"
Mario semakin mengembangkan senyumnya. Ikatan dasi direnggangkan, dan Mario pun bersandar. Matanya terpejam. Sejenak, Mario memilih untuk mengistirahatkan pikiran sembari menunggu Anjani selesai mandi.
Bersambung ....
LIKE-nya dong 🌷 Apa yang akan dilakukan Mario di kantor Bastian? Em, Ken-Lovey-Marisa bagaimana tuh? Eit, Dewangga ... apakah dia memiliki rencana? Nantikan lanjutannya, ya. Semoga selalu setia kepoin setiap episodenya. 😊
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!
***
__ADS_1