
Bastian agak gugup. Lebih dulu menarik nafas dalam sebelum memasuki ruangan pimpinan. Masa kerja Bastian memang tergolong masih awal, dan dia belum terbiasa menghadap langsung kepada pimpinan perusahaan.
Tok-tok-tok!
"Bas, langsung masuk aja. Pak Bos udah nungguin," saran si sekretaris.
Bastian menunduk sopan pada sekretaris pimpinan perusahaan, kemudian masuk ke dalam ruangan pimpinan. Tampak Pak Bos sedang tersenyum mengamati email-email masuk di layar, tapi kemudian fokusnya langsung dialihkan ketika Bastian datang.
"Bas, duduk sini dulu!" perintah Pak Bos dengan senyum sumringahnya.
"Iya, Pak."
"Begini, Bas. Saya ingin kamu yang bertanggung jawab membawahi mahasiswa-mahasiswa magang di kantor ini." Pak Bos langsung ke inti.
"Maaf, Pak. Bukankah biasanya Pak Doni, ya Pak?"
"Iya. Biasanya Doni yang kuminta. Tapi sekarang situasinya beda, Bas. Kamu tau kenapa?" Pak Bos semakin sumringah.
"Em, kenapa ya Pak?" Bastian yang tidak tau apa-apa jelas gagal menafsirkan senyum sumringah bosnya.
Pak Bos tidak langsung menjawab. Sambil menunjukkan kontrak yang baru ditandatangani bersama Mario, Pak Bos mengabarkan berita gembira tentang kerjasama.
"Perusahaan kita mulai dilirik perusahaan besar. Pemesanan produk dalam jumlah besar langsung dibayar lunas barusan. Tidak hanya itu, perusahaan besar ini menggelontorkan dana yang lumayan untuk membantu pengembangan perusahaan. Ini awal yang bagus, Bas." Pak Bos menggebu-gebu.
Memang, untuk orang sekelas Mario yang berasal dari keluarga pebisnis dan bergelimangan harta, mudah-mudah saja jika ingin menggelontorkan dana secara cuma-cuma. Apalagi Mario melakukan itu semua demi sang istri tercinta agar tetap nyaman magang di sana.
Mario berpikir, akan sangat tidak lucu bila suatu saat terjadi kebangkrutan pada perusahaan sementara posisi Anjani masih magang. Tentu Anjani akan kepikiran, dan Mario tidak ingin hal yang demikian. Antisipasi Mario terarah jauh ke depan dengan memberi dukungan pada perusahaan tempat Anjani magang. Ya, kerjasama itu dilakukan salah satunya memang untuk Anjani, tapi berkat itu Mario juga menambah relasi dan mendapat kepercayaan lebih. Namanya dan citra perusahaan Mario juga semakin dikenal di sana-sini.
"Oleh karena itu, ada perubahan formasi jabatan. Mulai besok kamu akan menempati posisi Doni, membawahi beberapa karyawan dan tentunya mahasiswa magang. Doni sendiri akan masuk dalam formasi tim unggulan yang langsung bertanggung jawab padaku." Pak Bos lanjut menjelaskan.
Bastian tampak terkejut. Dalam hati, Bastian memang senang. Akan tetapi, perubahan posisi jabatan yang dimaksud Pak Bos sungguh dadakan. Kegamangan Bastian rupanya ditangkap dan dapat dirasakan oleh Pak Bos.
"Jangan kuatir, Bas. Sebelum ini Doni dan beberapa karyawan berkepentingan sudah kupanggil. Mereka semua bersedia. Kamu fokus saja dengan jabatan barumu, ya. Semua karyawan di perusahaan ini sudah tidak meragukan kemampuanmu, kok." Pak Bos menyemangati Bastian.
"Baik, Pak. Sebelumnya terima kasih banyak telah percaya pada saya."
Pak Bos manggut-manggut sambil tetap sumringah. Suasana hatinya benar-benar cerah usai diajak kerjasama oleh Mario.
"Oya, satu lagi. Untuk mahasiswa magang, jangan terlalu mempersulit mereka, ya. Perlakukan mereka dengan baik selayaknya karyawan lainnya. Terutama yang namanya Anjani."
Bastian seketika menajamkan fokusnya begitu nama Anjani disebut. Bukan hanya karena Anjani adalah teman adiknya, melainkan karena sebenarnya Bastian memang peduli padanya.
"Ada apa dengan Anjani, Pak?" tanya Bastian.
"Dia kan sedang hamil, jadi tolong sekalian jaga dia ya. Jika ada apa-apa dengannya tolong juga segera hubungi saya."
Disuruh menjaga? Tentu saja Bastian bersedia. Pak Bos yang tidak tahu lingkar kecemburuan Anjani-Mario-Bastian, tentu saja salah menugaskan. Hal yang dicemburui Mario adalah kedekatan sang istri dengan Bastian, tapi kini Pak Bos justru meminta Bastian untuk memberi penjagaan.
"Kamu pasti pahamlah bagaimana memperlakukan Anjani dengan sebaik-baiknya. Jangan buat dia terlalu lelah, tapi juga jangan berlebihan mengistimewakannya. Paham maksudku, kan?" Pak Bos menambahkan, yang langsung mendapat anggukan dari Bastian.
"Bagus. Kalau begitu kau boleh kembali dan silakan tempati ruangan barumu."
"Baik, Pak. Saya permisi dulu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."
"Ya-ya. Sama-sama."
Bastian keluar dengan mimik wajah girang. Senyum cemerlang sama sekali tidak dapat dia sembunyikan. Mendapat kenaikan jabatan dan berkesempatan lebih dekat dengan orang yang spesial, merupakan keberuntungan tersendiri untuk Bastian.
__ADS_1
"Ah, jangan berpikir berlebihan, Bas. Kau hanya disuruh untuk menjaga Anjani, bukan untuk lebih dekat dengan Anjani." Perasaan inilah yang seringkali datang. Kadang Bastian sadar dengan status Anjani, tapi kadang Bastian juga lupa diri.
Bastian mengalihkan pikirannya. Fokusnya kini terarah pada jabatan yang baru disandang. Lebih dulu menemui Pak Doni untuk berbincang, kemudian Bastian memindahkan barang-barangnya ke ruangan baru yang lebih menjanjikan.
***
Siang hari, sekitar pukul dua, Anjani dan Isabel pergi ke mall untuk membeli kebutuhan magang mereka. Berulang kali Isabel memegangi lengan Anjani saat menaiki eskalator dan saat di kerumunan. Isabel pula yang mengingatkan Anjani untuk selalu berhati-hati demi calon buah hati dalam kandungan.
"Duduk sini dulu, ya. Bentar kupesankan minuman." Isabel perhatian.
Anjani tersenyum. Begitu beruntung memiliki teman sebaik Isabel. Benar-benar sosok sahabat yang pengertian. Mengingatkannya pada Meli, sahabat baiknya yang kini tengah menjalani takdir bersama sang suami di kota Jogja. Anjani rindu padanya, tapi rindu pada sahabat baiknya itu selalu terbungkus dalam doa.
"Semoga kamu selalu bahagia bersama suamimu di Jogja, Mel. Seperti aku di sini. Mario selalu membuatku senyum-senyum sendiri. Benar katamu, nikah itu enak."
Anjani masih senyum-senyum sendiri, hingga kemudian Isabel datang dengan sedikit mengejutkan.
"Hayyo. Lagi keinget suami, ya. Sampai senyum-senyum gitu." Isabel memberikan segelas lemon tea untuk Anjani.
"Lagi keinget sahabatku di Jogja, nih. Meli. Aku pernah cerita ke kamu, kan?"
"Iya. Kamu pernah cerita ke aku. Kapan-kapan kenalin ke aku juga, dong."
"Insya Allah kapan-kapan akan kukenalkan. Oya, jadi nyari tas?" Anjani tetiba teringat keinginan Isabel sebelum sampai mall.
"Nggak jadi, deh. Ntar dibayarin lagi sama kamu. Aku kan sungkan. Baju dibayarin, sepatu dibayarin, jilbab sama brosnya juga dibayarin."
Anjani tertawa ringan melihat ekspresi Isabel yang cemberut tapi terlihat lucu. Nada bicara Isabel terdengar campuran, antara rasa sungkan dan sebal, tapi akhirnya justru tertawa ringan dan merasa beruntung karena Anjani membayar semua belanjaan.
"Ini amanah lho, Bel. Aku nggak mau jadi istri durhaka karena membantah perintah suami."
"Aamiin. Udah ah, Bel. Jangan dipuji berlebihan."
"Biarin. Kalian berdua itu memang pantes buat dipuji. Eh-eh. Bentar, ya."
Isabel menjeda, karena getar smartphone penanda panggilan suara. Satu isyarat diberikan, agar Anjani menunggu sebentar.
Lemon tea yang baru saja dibelikan Isabel pun dinikmati. Anjani terus tersenyum sekaligus bersyukur atas segala kebaikan hari ini.
"Siapa, Bel?" tanya Anjani begitu Isabel kembali.
"Kak Bas. Dia pamer karena dapat promosi jabatan."
"Eit. Jangan gitu ah ngomongnya. Kak Bas bukan pamer, tuh. Cuma pengen dipuji sama kamu." Anjani mengedipkan sebelah matanya kemudian tertawa ringan.
"Hihi. Tapi syukurlah. Ayah sama ibuk di rumah pasti bangga sama Kak Bas. Tinggal adiknya ini yang masih magang." Isabel akhirnya mengubah mimik wajah.
"Semangat, ya Bel. Jejak sukses Kak Bas pasti akan menular."
Isabel manggut-manggut. Menyesap lemone tea miliknya, lantas mengabarkan bahwa Bastian akan mentraktir makan sepulang kerja.
"Tuh, bagus kan. Kakakmu itu peduli sama adik cantiknya ini. Udah sana, baikan sama kakak. Jangan suka bertengkar lagi." Nasihat Anjani.
"Kalau nggak tengkar lagi, hehe ... nggak bisa janji, dehh."
Anjani geleng-geleng kepala. Hendak menanggapi lagi, tapi urung karena pesan masuk di smartphonenya. Itu pesan dari Bastian. Mengabarkan hal yang sama seperti yang Isabel kabarkan. Dalam pesan, Bastian juga mengajak Anjani untuk traktiran.
"Bel, Kak Bas ngabarin aku juga, nih."
__ADS_1
Anjani menunjukkan pesan dari Bastian.
Dasar Kak Bas. Masih sempet-sempetnya modus sama Anjani. Lupa atau pura-pura lupa sih kalau Anjani udah punya suami. Isabel membatin. Agak geregetan pada kakaknya karena terkesan caper sama Anjani.
"Kakakku modus, nih." Sangking geregetannya, Isabel sampai nyeletuk begitu saja.
"Ssut. Jangan suudzon gitu ah. Kak Bas mungkin hanya sedang bahagia, jadi ngajakin siapapun buat gabung."
"Ah, Anjani. Prasangkamu baik betul, sih." Isabel terus memuji.
"Udah cukup pujiannya, Bel. Ayo kita cari masjid dulu. Habis solat asar kita tunggu Kak Bas di tempat traktirannya."
"Hayyuk. Eh, kamu perlu ijin Pak Mario apa nggak?"
"Nanti biar kuceritain aja, Bel."
"Oke, deh."
Pukul empat sore, Anjani dan Isabel sudah stand by di warung lalapan. Mereka berdua diminta pesan duluan. Tak lama kemudian, Bastian datang. Auranya diselimuti kebahagiaan. Mimik wajahnya semakin bertambah cerah saat Anjani dan Isabel menyambutnya dengan ucapan selamat dan doa.
"Anjani, makan yang banyak, ya. Jangan sungkan buat nambah." Bastian tau kalau Anjani doyan makan.
"Sudah, Kak. Ini sudah cukup."
"Ehem. Adiknya nggak ditawarin, nih." Isabel nyeletuk.
"Jangan banyak-banyak, Bel. Sepertinya Riko nggak bakal suka sama cewek gendutan." Bastian sengaja bicara demikian. Dia pun tau perasaan sang adik meski tak diungkapkan.
"Kaaaak!" desis Isabel, memberi kode agar Bastian tidak melanjutkan.
Anjani dan Bastian kompak tertawa ringan melihat ekspresi Isabel yang demikian.
"Nih, kamu nambah kerupuk aja." Bastian masih membuat canda dengan Isabel, adiknya.
"Iya, deh. Daripada nggak sama sekali."
Isabel merebut kerupuk yang disodorkan Bastian padanya. Usai candaan dan tawa yang menyertai mereka, kegiatan makan-makan pun berakhir sudah.
Tak lupa, Anjani kembali berterima kasih pada Bastian. Lagi-lagi doa atas kesuksesan Bastian kembali diucapkan. Barulah, setelahnya Anjani pulang setelah Isabel dan Bastian melajukan kendaraan mereka duluan.
Anjani sudah bersiap pulang. Sudah di dalam mobil dan Pak Gun siap mengemudikan. Namun, tetiba saja Anjani meminta Pak Gun mengubah haluan. Tempat yang dituju selanjutnya adalah sebuah restoran. Bukannya Anjani belum kenyang makan lalapan. Anjani hanya memenuhi permintaan seseorang untuk ketemuan.
Meja di dekat jendela menjadi pilihan. Anjani duduk diam sembari menunggu kedatangan seseorang. Anjani melirik jam. Masih lima belas menit lagi menuju jam lima sore. Untungnya acara makan-makan tadi tidak lama, sehingga Anjani punya waktu untuk memenuhi permintaan seseorang yang sangat ingin bertemu dengannya.
Yang ditunggu Anjani akhirnya datang. Tampak seorang wanita cantik melambaikan tangan. Anjani membalas lambaian sembari menampilkan senyum mengembang. Begitu si wanita cantik mendekat, tangan Anjani pun menjabat. Di luar dugaan, si wanita cantik itu lanjut memberi pelukan.
Bersambung ....
Siapa yang ditemui Anjani?? Em ... yang menunggu part Ken-Lovey-Marisa sabar dulu, ya.
Hayuuk, Like dan Vote novel ini. Vote yang banyak juga nggak apa-apa. Author akan berlapang hati menerima vote dan hadiah mawar poinnya. Dilemparin hadiah kopi poin juga boleh. Hehe 😁 #modusnyaauthor 😁 Dukung novel ini bila kalian suka ya 😉 Salam Luv 💙
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Ada Meli dan Azka di sana. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!
***
__ADS_1