Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 40 : Tempat Magang


__ADS_3

Segala persiapan untuk magang telah dibahas tuntas dan akan dilanjut via grup chat obrolan. Usai setengah jam diskusi ringan bersama kelompoknya, Anjani dan Isabel pun pamit pulang. Tak lupa Anjani menawari Isabel tumpangan. Awalnya diiyakan, tapi sesaat kemudian Riko meminta bantuan Isabel. Jadilah Anjani pamit duluan, sementara Isabel dijanjikan akan diantar pulang oleh Riko setelah selesai urusan.


Langkah Anjani menuju parkiran di bagian depan. Di sana sudah terparkir mobil yang Pak Gun kemudikan. Anjani tidak tergesa. Memilih untuk melangkah perlahan sembari ada yang sedang dipikirkan.


"Maaf agak lama, Pak."


"Ndak papa, Non. Mau langsung pulang atau mampir-mampir dulu?"


"Langsung pulang aja, Pak."


"Siap laksanakan."


Mobil melaju perlahan dengan hati dan pikiran Anjani yang semakin tidak tenang. Smartphone dikeluarkan, sembari Anjani tetap menimbang. Jemari sudah terarah untuk mengetik pesan, tapi sesaat kemudian diurungkan. Anjani bimbang, antara akan mengabarkan lewat pesan atau langsung membicarakan.


Mobil melaju baru sekitar seperempat jalan menuju arah pulang. Pikiran Anjani kemudian mantap mengambil keputusan. Anjani akan menemui Mario langsung di kantornya, mumpung masih di jam istirahat makan siang.


"Maaf, Pak. Putar arah ke kantor suami saya bisa?"


"Bisa, Non. Mari saya antar."


"Terima kasih, Pak. Oya, lima menit saja mampir dulu di toko keripik pisang di kiri jalan sana, ya Pak."


"Siap, Non."


Anjani tersenyum. Hatinya mantap untuk membicarakannya langsung. Tidak lewat pesan singkat apalagi via telepon.


Beberapa menit berlalu, Anjani pun sampai di kantor Mario. Begitu menapakkan kaki di lobby, beberapa karyawan yang mengenali Anjani langsung menyapa dan menunduk sopan padanya. Terus melangkah, di lantai tempat ruangan Mario berada, Anjani berpapasan langkah dengan Ken.


"Ada istrinya bos, nih!" goda Ken.


"Ish, Kak Ken apaan sih. Suamiku ada di ruangannya nggak, Kak?"


"Ada, tuh. Belum makan siang. Dari pagi kerja melulu. Tegur dia sana. Ntar kurusan, lho." Ken malah melebih-lebihkan.


"Oke, deh. Aku ke sana dulu. Eh, Kak. Ini kubawain keripik pisang."


"Anjani baik banget, deh. Peka amat, sih. Tau aja kalau aku lagi pengen cemilan."


Ken menerima bungkusan keripik dengan mimik wajah terlampau bahagia. Jauh berbeda dengan Anjani yang bersikap sewajarnya.


"Dimakan, ya Kak. Aku mau ketemu suamiku dulu."


"Okey. Eit, jangan terlalu mesra ya di sana." Ken memelankan suaranya. "Atut ada yang ngintipin," imbuh Ken dengan suara lirihnya.


"Hehe. Paling-paling Kak Ken yang ngintipin."


"En- ...." Ken hendak menanggapi, tapi Anjani buru-buru pamit pergi.


"Aku duluan, Kak. Daa!" Anjani nyelonong pergi sebelum Ken menambah panjang obrolan, sahutan, bahkan sikap berlebihan.


Tok-tok-tok!


Anjani tetap sopan, mengetuk lebih dulu sebelum masuk ruangan. Sesaat kemudian suara Mario terdengar. Anjani pun masuk dengan lebih dulu mengucap salam.


"Sayang?! Ayo masuklah!" Mario menyambut Anjani dan mempersilakan.


"Tuan Mario, saya permisi dulu." Paman Li menghentikan obrolannya, kemudian pamit pergi.


"Iya, Paman. Silakan."

__ADS_1


"Nona Anjani selamat siang. Silakan mengobrol bersama suami kesayangan. Saya permisi dulu." Paman Li menyapa sekaligus pamit pada Anjani.


Anjani tersenyum, menunduk sopan, kemudian menghampiri Mario. Yang dilakukan pertama kali adalah mencium punggung tangan sang suami. Sedikit berbeda, kini Anjani justru langsung menjatuhkan diri di pelukan Mario.


"Loh-loh? Sayang, ada apa denganmu?"


"Boleh aku memelukmu sebentar, Mas?"


Mario berusaha tetap tenang, meski sebenarnya sudah kepo dengan sikap Anjani yang mendadak ingin berada dalam pelukan.


"Tentu saja boleh. Kamu bisa memelukku kapanpun dan selama apa pun kamu mau." Mario membalas pelukan Anjani dan memberinya rasa nyaman.


Beberapa menit berlalu. Mario-Anjani tampak berdiam diri sambil tetap berbalas pelukan. Mario sengaja membiarkan Anjani tetap tenang. Tidak mendesaknya untuk segera mengungkapkan apa yang sedang menjadi beban.


"Mas, aku mau bilang sesuatu." Anjani melepas pelukannya.


"Katakan saja. Jangan ragu, ya."


Anjani mengangguk. Seutas senyum disunggingkan demi memantapkan hati dan pikiran.


"Mas, apa kamu percaya padaku? Percaya bahwa aku tidak akan menduakan cintamu?" Anjani menatap lekat ke arah bola mata Mario.


"Hei, kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini, Sayang? Apakah terjadi sesuatu?" Mario mengusap pelan pipi Anjani. Nada bicara Mario begitu lembut, mampu menenangkan hati Anjani.


"Tolong jawab dulu, Mas. Apa kamu percaya padaku?"


Mario terdiam sebentar. Sorot matanya terarah begitu dalam, menyelidik tatapan Anjani yang penuh keseriusan.


Mario akhirnya mengangguk. "Iya. Aku percaya padamu. Sekarang ...." Mario menjeda kalimatnya, menarik pelan lengan Anjani, lantas menyuruh duduk bersamanya di sofa. "Coba ceritakan apa yang terjadi." Mario tersenyum lembut pada Anjani.


"Mas, aku dapat tempat magang di kantornya Kak Bas."


Itulah yang sedari tadi mengganggu hati dan pikiran Anjani. Kekhawatiran Anjani bukanlah tempat magang yang sudah ditetapkan. Yang dikhawatirkan justru kecemburuan Mario akan terpatik lagi gara-gara Anjani sekantor dengan Bastian selama tiga bulan ke depan.


Mario yang tidak lekas memberi jawaban, membuat hati Anjani semakin tidak karuan. Jantung pun sampai berdebar-debar.


"Mas," panggil Anjani dengan mimik wajah gelisahnya.


Seutas senyum ditampilkan. Semakin lama semakin mengembang. Setelahnya bukan jawaban yang Mario berikan, melainkan sebuah kikisan. Anjani hanya menerima perlakuan, meski tak tahu maksud Mario tetiba melakukan. Antara modus siang-siang, atau hanya memberi rasa nyaman.


Mario melepas usai puas. Yang tertinggal dan dirasakan Anjani saat ini adalah setitik rasa nyaman yang menjalar dari bibirnya. Apalagi, senyum Mario yang ditampilkan membuat debar khawatir jantung Anjani memudar. Anjani pun mulai bisa bersikap tenang.


"Apa yang kamu khawatirkan? Tempat magangnya, atau justru Bastian?" Nada Mario terdengar ramah.


"Aku khawatir kamu cemburu dan berpikiran macam-macam." Anjani memilih jujur dengan apa yang dirasakan.


"Sayang, aku izinkan kamu magang sekantor dengan Bastian. Aku sungguh tidak apa-apa." Mario tersenyum, menenangkan.


"Benarkah?"


Mario mengangguk. "Maganglah sungguh-sungguh dengan hati tenang. Andai ada hal yang aku cemburui, itu artinya ada sesuatu yang di luar batas wajar. Tapi aku yakin sekali Bastian bukan tipe perebut istri orang. Aku percaya padanya. Terlebih lagi, aku percaya padamu. Kamu istriku, dan aku tau kamu mencintaiku."


Tutur lembut Mario terngiang-ngiang di telinga Anjani. Sebuah jawaban yang melegakan, dan seketika menenangkan hati dan pikiran yang tadinya dipenuhi kekhawatiran. Komunikasi antar pasangan memang sangat diperlukan. Seperti saat ini, Anjani memulai masa magangnya dengan restu sang suami dan sebuah kejujuran.


"Terima kasih," ucap Anjani, lirih.


"Iya, Sayang."


Tatapan Mario-Anjani semakin dalam. Keduanya sama-sama tersenyum, hingga mampu menorehkan debaran. Perlahan, wajah mereka saling didekatkan. Terus mendekat hingga jarak mereka pun terkikis dengan penuh kelembutan. Akan tetapi, romantisme Mario Anjani harus buyar karena Ken masuk ruangan dengan sembarangan.

__ADS_1


"Wadaaaaw! Sorry-sorry. Em, lanjutkan lagi! Pura-pura saja aku tidak melihat yang tadi." Ken garuk-garuk kepala, menghadap ke tembok, tapi tak kunjung beranjak dari tempatnya.


"Keeeen!" seru Mario.


"Iya? Kau memanggilku? Aku sudah di sini, nih." Ken sama sekali tidak merasa bersalah.


Anjani terkekeh pelan. Sementara Mario, wajahnya masih terlihat sebal.


"Eh, Anjani. Jadi magang di mana?" Ken tidak memedulikan Mario, dan beralih fokus pada Anjani.


"Dahliatex Flowerin Tbk."


"Bukankah itu perusahaan baru di bidang tekstil, yang semua produk unggulannya berdesain bunga. Benar begitu?" Ken tampak mengingat-ingat. "Hei, kamu nggak ditempatkan di pabriknya, kan?" imbuh Ken.


"Nggak, kok. Aku sama teman-teman magang yang lain ditempatkan di kantornya. Kami kan dari jurusan ekonomi, jadi fokus yang kami pelajari nanti seputar itu-itu aja. Nggak sampai terjun ke pabriknya, kok Kak. Kalau berkunjung untuk mengenal, mungkin nanti akan kami lakukan."


Anjani menerangkan dengan antusias sekali, membuat Mario semakin mendukung masa magang sang istri.


"Bagus deh. Mario jadi nggak perlu kuatir-kuatir lagi padamu dan kandunganmu. Oya, Bro. Di tempat magang Anjani apa ada yang kamu kenal? Kalau ada kan enak, sambil titip-titip Anjani." Ken ganti bertanya pada Mario


"Istriku yang punya kenalan di kantor itu, Ken. Namanya Bastian. Kakak angkatannya. Dan lagi, Anjani sudah besar. Tidak perlu dititip-titipkan!" tegas Mario.


"Tunggu-tunggu! Kamu bilang tadi namanya Bastian? Apa dia Bastian yang pernah kau cemburui itu, Bro?" Ken tiba-tiba ingat karena Mario pernah curhat.


"Hm."


"Huahahaha." Tawa Ken meledak. "Bakal seru, nih. Siap-siap cemilan dulu, ah. Siapa tau ada yang curcol lagi karena cemburu buta."


"Keeeeen!" Mario sebal.


"Kabuuuuur!" Ken nyelonong pergi, tanpa khawatir pada reaksi yang ditunjukkan Mario saat ini.


Mario semakin dibuat kesal oleh tingkah laku Ken yang blak-blakan. Ken tidak salah dengan pengucapannya. Ken hanya salah memilih waktu untuk melontarkan kata. Sedari tadi Mario memberi kode agar Ken tidak melanjutkan kata karena ada Anjani, tapi yang dilakukan Ken justru semakin menegaskan, dan sekarang malah nyelonong pergi.


"Mas," panggil Anjani.


"Iya, Sayang? Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?"


Anjani menggeleng. "Ayo makan siang! Kata Kak Ken tadi aku harus menegurmu biar nggak kurusan. Jadi ..." Anjani menggandeng lengan Mario, lantas mengajaknya berdiri. "Jangan kerja terus! Ayo aku temani makan siang!"


"Ken. Dia itu ada-ada saja, tapi ada benarnya juga. Ayo sayang, kita makan."


Menuju kantin kantor, Mario-Anjani beriringan langkah. Saat Mario mengantri untuk mengambilkan Anjani makanan, ponsel Mario terus bergetar. Diintipnya sebentar, ternyata nama Lovey yang tampil di layar. Mario memilih untuk mengabaikan. Jika itu menyangkut urusan bisnis, Lovey sudah tau ada Ken yang sudah mengambil alih bagian jika ingin berurusan. Makanya, Mario tidak ragu untuk mengabaikan panggilan.


Jeda sebentar, ponsel Mario kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan suara, melainkan sebuah pesan singkat yang diterima. Mario membuka pesan, kemudian membaca isi pesannya. Tak lama usai membaca, mimik wajah Mario langsung berubah.


Mario, aku ingin bertemu.


Help me, please!


Bersambung ....


Apa yang terjadi pada Lovey sampai harus meminta bantuan Mario? Lalu, bagaimana masa magang Anjani di kantor Bastian selama tiga bukan ke depan? Nantikan! 😉


Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.


NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!


***

__ADS_1


__ADS_2