
Dua bubur disiapkan dalam wadah. Sementara tiga bungkus bubur lainnya diberikan pada Mbak Lastri, Mbok Darmi, dan Pak Gun. Anjani sudah mandi, sudah wangi, dan sudah rapi. Begitu mendengar mobil Mario datang, Anjani segera menuju teras depan.
"Mas, aku barusan beli bubur ayam. Temani makan, yuk!" ajak Anjani sembari menggandeng lengan Mario menuju kamar.
"Ayo kutemani. Mas suapi kamu, ya."
"He'em, Mas."
Setiap hari bagi Mario-Anjani adalah hari romantis berdua. Tidak peduli usia pernikahan mereka semakin bertambah setiap harinya. Momen-momen manislah yang dicipta, demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Akan tetapi, itu tidak berlaku jika Anjani tengah cemburu pada suaminya. Mariolah yang biasanya mengalah, dan sesegera mungkin mencari cara guna meredam kecemburuan istrinya.
"Buburnya enak?" tanya Mario usai dua kali suapan.
"Kamu tanya aku atau anak kita, Mas?"
"Ya tanya bundanya, dong. Anak kita kan masih di dalam." Mario mengusap-usap perut besar Anjani dengan penuh kasih.
"Insya Allah, tiga minggu lagi kamu akan lahir ke dunia, Nak. Ketemu bunda. Ketemu ayah." Anjani menggenggam tangan Mario, lantas menempelkan di pipi kanannya.
Mario meletakkan mangkuk bubur, lantas menyejajari Anjani duduk di tepi kasur. Mario yang peka langsung tahu bahwa Anjani sedang ingin dimanja. Rasa-rasanya tidak seperti biasanya. Sikap Anjani kali ini dirasa terlalu berlebihan manjanya.
"Mas, boleh minta peluk?"
Tak berlama-lama lagi Mario lekas memberi apa yang diinginkan Anjani. Mario memberi dekapan menenangkan hati, membuat Anjani begitu nyaman dan ingin berlama-lama ada di samping sang suami.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, Sayang?" Pertanyaan andalan Mario keluar. Pertanyaan inilah yang selalu dilontarkan bila merasa ada sesuatu hal yang sedang Anjani rasakan.
Anjani tidak menjawab. Yang Mario rasakan justru hanya gelengan singkat. Anjani semakin mempererat pelukan, dan Mario pun semakin memberi rasa nyaman dengan usapan tangan.
"Apa kamu khawatir dengan proses persalinan?" Mario dengan ramah menebaknya.
"Sedikit, Mas. Semoga aku bisa melahirkan dengan normal."
"Aamiin. Yakinlah semua akan dimudahkan. Kamu calon ibu yang kuat, hebat, dan pasti bisa melahirkan anak kita dalam keadaan sehat." Dada Mario bergetar saat terbayang proses melahirkan yang akan tiba sekitar tiga minggu ke depan.
"Temani aku, ya Mas." Kali ini Anjani menatap bola mata Mario dengan penuh harap. Seolah ada sebuah firasat.
"Pasti, Sayang. Aku pasti akan menemanimu saat melahirkan." Mario refleks memberi kecupan di kening. Ada gejolak rasa tegar yang ingin disalurkan pada Anjani.
"Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu. Selamanya akan seperti itu."
Entah apa yang dirasakan Anjani, Mario tidak tahu. Yang dirasakan Mario saat ini adalah getaran merdu, gelisah, dan kekhawatiran yang menjadi satu. Sulit dijelaskan, apalagi saat Mario melihat mata Anjani berkaca-kaca saat memandang.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat-sangat-sangat mencintaimu. Selamanya juga akan seperti itu." Bola mata Mario ikut berkaca-kaca.
Anjani tersenyum. Perasaan sang suami sukses tersalur. Anjani mendekatkan wajah, lantas menempelkan keningnya di bagian yang sama dengan suaminya.
"Aku ingin selalu dekat denganmu. Maaf, aku egois, Mas. Tapi aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang menjadi istrimu." Begitu lirih Anjani berkata, tapi teramat jujur dari hatinya.
"Tentu saja. Kamu akan menjadi satu-satunya, Sayang. Jangan berpikiran macam-macam lagi, ya. Tenangkan dirimu. Singkirkan kekhawatiranmu. Demi dirimu, dan buah hati kita dalam kandunganmu."
"Iya, Mas."
Dengan kening yang masih sama-sama tersatukan, tatapan mata dilayakangkan dari jarak dekat disertai senyuman. Mario-Anjani saling memberi penguatan dan berbagi rasa nyaman.
Sedikit banyak Anjani pasti kepikiran proses melahirkan. Baiklah, Ma akan kuudang datang ke Jakarta menjelang hari persalinan Anjani. Batin Mario.
Malam hari pun tiba. Sekitar pukul setengah sembilan malam, Mario dihubungi direktur perusahaan. Kabar yang disampaikan membuat hati dan pikiran tidak tenang. Ada beberapa masalah kerjasama dan itu di luar kota. Produk yang didistribusikan tidak sesuai. Ada potensi besar perusahaan akan merugi jika masalah tidak segera diatasi.
Direktur meminta Mario turun tangan langsung. Mario diberi pilihan akan pergi bersama Ken atau Paman Li. Lantaran pihak perusahaan yang kerjasamanya bermasalah juga memiliki kontrak kerja dengan Lovey, besar kemungkinan Mario juga akan bertemu Lovey di sana. Alhasil, Mario memilih Ken untuk menemaninya dalam mengatasi masalah di luar kota.
Keputusan sudah dibuat. Mario akan pergi besok pagi. Jika lancar, masalah akan bisa teratasi dan hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga hari. Akan tetapi, jika ada proses alot yang ditemui, Mario butuh berkali-kali bertemu untuk bernegosiasi. Paling tidak, butuh waktu sekitar satu minggu seperti yang pernah terjadi beberapa bulan lalu, sebelum Mario menjabat sebagai wakil direktur perusahaan.
Ya, semua rencana sudah terpikirkan demi keberlangsungan dan nama baik perusahaan. Akan tetapi, masih ada satu hal lagi yang mengusik hati. Anjani akan melahirkan sekitar tiga minggu lagi, dan Mario harus pergi ke luar kota besok pagi. Meski perkiraan tidak sampai berminggu-minggu lamanya, Mario tetap kepikiran dengan Anjani.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Pergilah. Jika perusahaan merugi, imbasnya juga bisa dirasakan seluruh karyawan." Anjani memaklumi kondisi sang suami.
"Mas, aku percaya padamu. Kamu juga harus percaya padaku. Aku baik-baik saja." Anjani menatap lekat manik mata Mario, tersenyum meyakinkan.
"Baiklah, Sayang. Akan kuusahakan urusan kantor cepat selesai. Jika ada apa-apa, kamu harus segera menghubungiku. Minta Isabel untuk menemanimu. Boleh menginap di sini. Marisa. Ya, ajak dia juga." Mario menggenggam tangan Anjani
"Iya, Mas. Kasih pesan buat baby, dong!" Anjani menyempatkan diri untuk meminta perhatian lebih bagi sang calon buah hati.
Mario lebih dulu mengusap pelan pipi Anjani, lantas mencondongkan badan agar lebih dekat ke perut Anjani yang besar. Diberinya satu kecupan, lantas diusap-usapnya perlahan. Mario menghayati peran, karena tahu tidak akan bisa melakukannya dalam beberapa hari ke depan.
"Anaknya daddy nggak boleh rewel, ya. Baik-baik di dalam perut bunda. Daddy tinggal pergi beberapa hari. Jaga bunda untuk daddy, ya Nak."
"Iya, Daddy. Tapi aku jagain bundanya pas udah lahir aja, ya. Kalau sekarang bunda dulu yang jagain aku. Daddy kerja aja. Aku doain Daddy sama Om Ken kerjaannya lancar. Aamiin."
Meski gemas dengan nada suara Anjani yabg dibuat menyerupai anak kecil, Mario tidak memberi cubitan gemas seperti biasanya. Mario lebih memilih untuk memberi dekapan mesra. Begitu lama, keduanya seolah tak ingin berpisah.
***
Keesokan harinya, Mario dan Ken sampai di kota tujuan. Tidak langsung menuju perusahaan, tapi lebih dulu menuju penginapan. Sebuah hotel menjadi pilihan, karena letaknya yang lebih dekat dengan perusahaan.
__ADS_1
"Ken, kenapa kau memesan tiga kamar, ha?" Mario terheran.
"Satu lagi buat Lovey. Ada masalah juga dengan produk yang didistribusikan dari perusahaannya. Rasa-rasanya sangat tidak mungkin ini kebetulan. Apa ada yang usil, ya?" Ken jadi kepikiran.
"Itu PR kita, Ken. Aku juga sudah meminta bantuan Paman Li untuk menyelidiki karyawan kantor yang menangani distribusi. Secara jumlah selisih kekurangan banyak sekali, Ken. Sementara produk yang terdistribusi, rata-rata tidak layak lagi. Jelas-jelas ada yang sengaja melakukan ini."
Ken diam sebentar. Pikirannya jadi berfantasi membayangkan penyelidikan kasus yang harusnya ditangani oleh pihak kepolisian.
"Bro, kenapa nggak lapor polisi, detektif, atau semacamnya, sih? Biar kita nggak repot-repot datang ke sini. Tinggal duduk manis di kantor, lalu menunggu semua tertangani.
"Sayangnya aku bukan tipe orang yang suka duduk diam sambil menunggu semua terselesaikan, Ken. Kau tau betul bagaimana diriku. Aku tidak sama dengan ayahku." Mario menepuk bahu Ken.
"Ah, iya-iya. Kau bosnya dan aku hanya karyawan biasa."
Naik lift, Mario dan Ken menuju lantai sembilan. Di sanalah kamar tempat mereka menginap sampai beberapa hari ke depan.
"Kau kamar yang itu saja, Bro. Biar kamarku sama Lovey hadap-hadapan."
Mario terdiam sebentar. Bukan karena pilihan kamar yang dibuat Ken, tapi terheran karena Lovey hanya dipesankan satu kamar.
"Lovey datang sendirian? Tidak ditemani sekretarisnya?" tanya Mario, memastikan.
"Entahlah. Mungkin iya."
"Selalu saja nekat pergi sendiri," gumam Mario, sempat teringat malam penyelamatan, adegan donor darah, hingga hutang nyawa yang dilabelkan Lovey atas tindakan kemanusiaannya.
Mario dan Ken menuju kamar masing-masing. Mereka istirahat sebentar sebelum siang nanti bertemu pimpinan perusahaan untuk menyelidiki kesalahan sekaligus bernegosiasi demi kebaikan masing-masing perusahaan.
Tanpa mereka ketahui, mantan relasi juga menginap di hotel yang sama, lantai yang sama, dan hanya terpisah jarak beberapa kamar saja. Lebih dari itu, dia pun sudah tahu permasalahan yang Mario dan Lovey hadapi.
"Ada Mario, Lovey, dan Ken di sini. Sementara Anjani .... Hahahaha." Dewangga tertawa. Bersiap memulai rencananya.
Bersambung ....
Yang penasaran, tahaaaaan! 😁😉 Moga kehaluan authornya tidak berlebihan dan masih bisa menghibur pembaca sekalian. Enjoy! Eits, LIKE-nya dong!
Merapat ke novel my best partner, yuk! Ada sahabat baiknya Anjani di novel MENANTI MENTARI karya kak Cahyanti. Tiyang Jogja, Lur! Monggo merapat! Dijamin mantap! Dan .... novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri, hayyuuuk kepoin lagi. Dukung kami.
Salam Luv
💙
__ADS_1
***