Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 63 : Terus Mencari


__ADS_3

Mario terdiam di dekat pintu mobilnya. Smartphone Ma telah ditemukan olehnya, tapi tidak dalam keadaan utuh seperti seharusnya. Smartphone rusak parah. Tidak dapat diaktifkan pula.


Joko, ayah Anjani ada di sana. Tengah berdiri di sisi mobil satunya. Joko tengah melontarkan ragam pertanyaan pada seorang lelaki muda.


"Saya nggak nyolong, Pak. Saya nemu di toilet. Suwer, Pak." Lelaki muda itu terus membela dirinya.


"Ibu yang punya HP ini terus kemana?" tanya Joko.


"Ya mana saya tau, Pak. Saya masuk toilet tuh HP sudah di sana."


"Terus kamu ambil gitu saja HP-nya? Iya?"


"Ya kali aja itu HP rejeki saya hari ini. Makanya saya ambil. Nggak taunya apes juga." Si lelaki muda tampak menyesal.


Joko pusing juga. Tak tahu lagi harus bertanya model apa, karena lelaki muda di depannya sama sekali tidak bisa memberi informasi lebih padanya.


Tak lama kemudian, Mario menghampiri Joko. Mario meminta Joko untuk melepaskan si lekaki muda karena jelas-jelas tidak mengetahui keberadaan Ma.


Sebelum ini, tangan kanan John diminta Mario untuk melacak posisi ponsel Ma. Begitu ketemu, Mario segera ke lokasi yang dituju, yakni lokasi area sekitaran tempat Ma melupakan ponselnya di toilet.


Saat Mario berada di lokasi, ponsel Ma ada dalam genggaman si lelaki muda. Joko yang saat itu setengah emosi langsung meneriaki si lelaki muda dengan sebutan maling HP. Lelaki muda yang merasa ponsel dalam genggamannya bukan miliknya, langsung berlarian begitu mendengar teriakan itu. Saat berlari itulah lelaki muda kelagapan menghindari anak kecil yang naik sepeda. Begitu menghindar, lelaki muda menabrak bahu seseorang dan ponsel Ma pun terlempar. Parahnya lagi, ponsel justru mengarah ke jalanan dan ... langsung hancur terlindas ban kendaraan.


"Ayah, ayo kita pulang dulu. Ayah butuh istirahat."


"Iya, ayo! Nak Mario yang tenang, ya. Ma tidak mungkin diculik orang. Pasti dia cuma kesasar." Joko yang paham suasana hati Mario pun seketika menghibur.


Mario tersenyum simpul demi membuat ayah mertuanya juga tersenyum. Setelahnya, langkah mereka pun diayun menuju mobil. Sebenarnya Mario masih ingin mencari, tapi Mario harus mengantar ayah mertuanya ke rumah. Mario ingin ayah mertuanya istirahat lebih dulu. Andai ingin mencari lagi maka waktu terbaik adalah esok hari ketika tenaga sudah kembali terisi.


***


"Istirahat dulu, Bro."


"Baiklah."


Mobil Mario memelan. Sesuai permintaan Ken, mobil ditepikan di area penjual nasi goreng. Perut Mario dan Ken terasa lapar karena semenjak keluar mulai selepas maghrib tadi mereka berdua belum makan.


Keluarnya Mario dan Ken dengan satu tujuan, yakni dalam misi pencarian. Mereka berdua membuat beberapa list tujuan, lantas menghampiri dan bertanya sana-sini. Itulah yang mereka lakukan. Tetap mencari Anjani.


"Ayah mertuamu akan berapa lama di Jakarta?" tanya Ken usai memesan nasi goreng.


"Sampai Anjani dan Ma ditemukan, Ken. Aku tidak ingin ayah mertuaku pulang dengan membawa beban pikiran."


"Eh, tapi ... kok rasanya ada yang aneh, ya Bro. Ma tiba-tiba ilang setelah ngasih nasihat panjang lebar." Ken merasa ada sesuatu yang mengganjal pikiran.


"Entahlah, Ken. Aku sendiri tidak menyangka Ma akan pergi dari rumah. Tapi kau benar. Aku pun merasa ada yang aneh."

__ADS_1


Mario menoleh, hingga benar-benar menghadap ke arah Ken.


"Mungkinkah Ma sudah tahu di mana Anjani berada?" Tetiba saja Mario kepikiran seperti itu.


"Bisa jadi, Bro. Tapi untuk apa juga Ma menutup-nutupi posisi Anjani darimu? Kau kan menantu kesayangannya."


Untuk pertanyaan Ken yang satu itu, Mario tidak bisa menjawabnya. Ada banyak kemungkinan, dan semua itu hanya sebatas dugaan.


Sejenak, Mario terdiam. Satu tarikan nafas dalam sedikit mengurangi kegelisahan. Dengan harapan besar membentang, Mario tetap pada jalan ikhtiar untuk bisa kembali bersama-sama dengan sang istri yang sangat dirindukan.


"Bro, sorry. Apa kau keberatan kalau cari Anjaninya dilanjut besok lagi?"


Mario tersenyum, kemudian menggelang.


"Silakan. Pulanglah! Vey mencarimu, ya?" tebak Mario.


"Ya ... begitulah. Maklum masih pengantin baru. Hahaa. Kau tau sendiri kan, Bro." Ken menepuk-nepuk bahu Mario.


Mario memahami. Ken dan Lovey baru sah menjadi pasutri. Pastilah keduanya sama-sama ingin malam mereka tidak ada yang menganggu apalagi terkurangi.


"Bro, nasgornya kubungkus, ya. Sebentar lagi sopir istriku jemput di sini."


"Ya. Silakan. Terima kasih sudah menemaniku mencari Anjani. Maaf, aku merepotkanmu."


Sepuluh menit kemudian, sopir Lovey datang. Ken pamit pulang dengan membawa bungkusan. Sementara Mario, dia tetap tinggal. Dia memilih menikmati nasi goreng di bawah langit berbintang.


"Pukul setengah sepuluh malam. Anjani sayang, apa kamu sudah tidur?"


Mario mulai bermonolog, sambil sesekali menyuap nasi goreng ke dalam mulut.


"Anaknya daddy sama bunda apa kabar? Daddy rindu kalian."


Mata Mario berkaca-kaca. Yang namanya terjerat rasa bersalah dan penyesalan, air mata pasti sesekali membayang. Termasuk yang saat ini Mario alami. Tak peduli posisi saat ini. Yang namanya hati, sungguh tak bisa diajak berkompromi bila sudah terasa perih.


Kurang dari dua minggu kamu akan melahirkan. Akan kumaksimalkan usahaku untuk mencarimu. Aku sayang kamu. Sayaaaang sekali. Maafkan suamimu, ini. Kali ini Mario membatin karena tak mampu bermonolog lagi.


Nasi goreng sudah tandas setengah. Mario masih saja menyuap sambil sesekali memikirkan opsi-opsi lain dalam pencarian Anjani, juga ibu mertuanya yang kini belum diketahui keberadaannya.


Tak lama kemudian, ada pelanggan lain datang. Mario begitu familiar karena yang datang adalah Riko dan Bastian.


Riko dan Bastian baru saja kembali dari kontrakan Anjani usai menempuh beberapa jam perjalanan. Riko yang menawari Bastian traktiran nasi goreng, tak menyangka rupanya di sana ada Mario juga.


Ada rasa terkejut di pihak Riko dan Bastian. Wajar, karena yang mereka temui adalah suaminya Anjani. Mereka berdua menyimpan rahasia tentang posisi Anjani, sementara Mario sama sekali tidak mengetahui.


Tersenyum lalu menyapa, itulah pilihan mereka. Riko dan Bastian langsung bisa memposisikan diri agar tampak biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Mau beli nasi goreng juga?" tanya Mario basa-basi.


"Iya, Pak." Riko sopan, karena statusnya masih mahasiswa magang.


"Kalian dari mana?" tanya Mario tiba-tiba.


Deg!


Tanpa ada aba-aba, baik Riko ataupun Bastian merasakan keterkejutan yang sama. Padahal mimik wajah Mario saat bertanya terlihat baik-baik saja. Hanya perasaan Riko dan Bastian saja yang berlebih menanggapi pertanyaan yang terlontar tiba-tiba.


"Ini .... kami habis dari lu- aw!" Riko tidak melanjutkan kata-katanya karena kakinya diinjak Bastian. Hampir saja Riko keceplosan bilang dari luar kota.


"Kami baru saja menyelesaikan keperluan. Tiba-tiba saja Riko ngajakin traktiran. Langsung saja aku iyakan." Bastian lebih pintar menjawab pertanyaan tanpa keceplosan.


"Mario, aku pesan nasi goreng dulu, ya." Bastian pamit sebentar.


Meski kecil, tapi Mario dapat mencium sikap tak biasa. Baik dari Riko ataupun Bastian, Mario sama-sama menaruh curiga. Bukan maksud berburuk sangka. Hanya saja Mario sudah terbiasa menghadapi relasi yang berlebit sampai yang menyimpan maksud terselubung sekalipun. Mario sudah terbiasa membaca sikap. Dan, itulah yang dia tangkap dari Riko dan Bastian saat tadi mengamat.


Sambil menunggu pesanan, Riko dan Bastian menemani Mario makan. Obrolan di antara mereka pun tak dapat dihindarkan.


"Maaf, Bas, Rik. Apa kalian ada informasi baru tentang Anjani?" tanya Mario, dengan maksud memancing reaksi.


Riko dan Bastian saling lirik lebih dulu sebelum akhirnya bergantian menjawab.


"Maaf, Pak. Saya tidak."


"Begitu pula denganku, Mario. Tapi percayalah, kalian akan kembali bersama." Bastian tersenyum, menyemangati.


Bukan jawaban dan kepedulian Riko dan Bastian yang Mario amati. Mario memperhatikan sikap sebelum jawaban-jawaban itu mereka buat. Klik! Mario pun yakin bahwa ada sesuatu yang Riko dan Bastian sembunyikan terkait Anjani.


Meski demikian, Mario tidak mau langsung mendesak. Mario menahan dirinya untuk tidak tergesa, seperti nasihat Ma padanya. Yang terpenting untuk saat ini, Mario sudah mengantongi sikap tak biasa. Selanjutnya, sebuah misi baru akan segera diupayakan olehnya.


Mario tidak berlama-lama. Usai nasi gorengnya habis, tanpa menunggu Riko dan Bastian, Mario pun pulang. Begitu sampai di rumah, Mario lekas menghubungi seseorang. Bukan John, Paman Li, atau orang-orang suruhan yang biasa Mario kerahkan. Yang Mario hubungi saat ini adalah sahabat Anjani, yakni Isabel.


"Maaf menghubungimu malam-malam, Bel. Tentang Anjani, aku butuh bantuanmu. Besok temui aku di cafe dekat kantormu pagi-pagi, ya. Tapi tolong rahasiakan pertemuan kita dari Riko, Marisa, ataupun Bastian."


Begitulah yang Mario sampaikan. Tak perlu panjang lebar, dan seketika itu maksud tersampaikan.


"Anjani Sayang, langkahku kali ini pasti akan membuatku menemukanmu. Aku yakin sekali. Tunggu aku! I love you!"


Bersambung ....


Semoga selalu suka dengan jalan ceritanya. Like dan Komentari 😉 Dukungan kalian untuk author dan novel ini sungguh berarti. Salam Luv dariku 💙💙 Eit, merapat juga ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Sahabat baiknya Anjani apa kabar di Jogja sana, ya?? Uhhmm ... author jadi pengen jalan-jalan lagi ke sana. Hehe. Ups, masih #dirumahsaja ya. Yaudah yuk #bacanovelsaja.


***

__ADS_1


__ADS_2