
Malam harinya, Anjani seperti orang linglung. Bingung atas keadaan yang tengah berlangsung. Keputusan yang dibuat dalam waktu singkat, nyatanya mencipta rasa sesak. Tak ada pikiran jernih, ketenangan hati, ataupun tempat untuk mencurahkan isi hati.
"Benarkah keputusanku tadi?" Dalam kondisi duduk sendirian di tepi ranjang, batin Anjani justru mempertanyakan ulang.
Logika Anjani tidak jalan sama sekali. Hal lain-lain yang harusnya dijadikan dasar sebelum mengambil keputusan tentang izin kontrak pernikahan, telah terlewatkan tanpa pemikiran matang. Perasaan karena kasihanlah yang lebih dominan. Mau menyalahkan bisikan setan? Tidak! Baik Anjani ataupun Mario sama-sama tergesa dalam mengambil keputusan dan kini keduanya sama-sama telah jatuh dalam lubang kesalahan.
"Nak, sepertinya bunda melupakan satu hal." Anjani mengajak ngobrol buah hati dalam kandungan.
Smartphone diraih. Pesan yang dilayangkan selanjutnya bukan ditujukan untuk seorang teman, melainkan untuk istri dosennya yang begitu Anjani kenal sebagai sosok solihah yang paham banyak hal. Anjani mempertanyakan kontrak pernikahan. Untungnya pesan itu langsung mendapat balasan. Segeralah Anjani paham bahwa apa yang sudah diniatkan Mario dan telah disetujui olehnya, itu semua terlarang.
"Astaghfirullaah. Begitu dangkalnya ilmuku, hingga hal semacam ini pun aku tak tahu."
Anjani keluar kamar, mengintip Mario yang masih menemui salah satu tetangga yang sedang bertamu di teras depan rumahnya.
"Terlambatkah jika bunda mencegah pernikahan daddymu, Nak? Tapi .... Kenapa wajah daddymu tadi begitu cerah saat bunda memberi izin untuk menikah?" Anjani memegangi dadanya. "Ahh, kenapa semakin lama semakin tidak nyaman saja?" Anjani makin menyesali keputusannya.
Anjani memilih kembali ke kamar dan menunggu suaminya. Akan tetapi, menunggu dalam kondisi gelisah sungguh tidak karuan rasanya. Hingga kemudian, Anjani merebahkan badan sebentar. Niat hati memang hanya sebentar, nyatanya Anjani ketiduran hingga pagi menjelang.
"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi." Tepukan pelan di pipi membangunkan Anjani.
"Iya, Mas."
Lelah, itulah yang Anjani rasa ketika bangun dari tidurnya. Bukan lelah fisik, melainkan lelah hati dan pikirannya. Pencegahan yang semalam hendak disampaikan harus tertunda karena Anjani ketiduran. Jelas, Anjani kepikiran dan hal itu membuat beban.
Rutinitas pagi berjalan. Sepanjang itu Anjani mencari kesempatan terbaik untuk berbincang. Anjani masa bodoh andai nanti dibilang plin-plan karena mengubah keputusan. Yang Anjani niatkan sekarang adalah memberi tahu sang suami bahwa pilihan yang telah diputuskan adalah sebuah kesalahan.
Waktunya selalu tidak tepat. Tiap Anjani berniat bicara berdua, selalu saja ada yang datang tiba-tiba. Pak Gun, Mbak Lastri, Mbok Darmi, bahkan tetangga sebelah bergantian menemuinya. Hingga saat Mario hendak berangkat kerja, barulah Anjani kembali mencoba
"Mas, aku mau menyampaikan sesuatu." Anjani berkata usai memasangkan dasi suaminya.
"Apa itu?" Mario tersenyum ramah, mengira kabar baiklah yang akan disampaikan padanya.
"Mas. Maaf, aku ...."
Drrt drr drrt
Kalimat Anjani terpotong lantaran panggilan suara.
"Ayah. Aku angkat dulu, ya?" izin Mario.
"Silakan, Mas."
Begitu panggilan dari sang ayah diterima, yang Mario dengar hanyalah tiga kalimat saja. "Batalkan semua agendamu di kantor. Tunggu di sana! Ayah dan mommy pulang sekarang juga!"
Tut-tut-tut!
Mario mematung. Ada yang aneh karena sang ayah tiba-tiba pulang dari Jerman. Nada bicara sang ayah juga terdengar seperti sedang menahan amarah dan rasa geram.
"Ada apa, Mas?" Anjani mendapati perubahan mimik wajah sang suami.
"Tidak apa-apa." Mario kembali tersenyum ramah. "Tadi kamu mau bilang apa?"
"Em, itu ... Maaf, Mas. Aku ...."
Drrt ... drrt ... drrt ...
Mario mulai terganggu dengan panggilan suara itu.
"Paman Li. Aku angkat lagi, ya?" Mario menunjukkan smartphone yang menampilkan nama Paman Li.
Usai melihat Anjani mengangguk, Mario lekas menerima panggilan suara dari Paman Li.
"Maaf, Tuan. Mohon segera ke kantor sekarang. Ada yang gawat," ujar Paman Li tanpa mengungkap.
"Baik, Paman. Aku segera berangkat." Tanpa tahu apa yang gawat, Mario pun mengiyakan.
Mimik wajah Mario serius kali ini. Lekas diberitahukannya berita dari Paman Li pada Anjani. Tanpa berlama-lama Mario lekas berangkat usai pamit pada Anjani. Alhasil, penjelasan, pengurungan, dan segala hal yang ingin diberitahukan tentang kontrak pernikahan pun harus ditunda lagi.
"Aku akan datang ke kantor Mario saat istirahat makan siang nanti." Anjani membulatkan tekad untuk tidak menunda-nunda lagi.
Selanjutnya, Anjani bersiap berangkat menuju tempat magangnya. Begitu sudah rapi dan siap untuk pergi, smartphone Anjani berbunyi. Tiga pesan masuk berturut-turut. Dari tiga nomor yang berbeda, dan tiga-tiganya Anjani tidak mengenali nomornya. Begitu pesan dibuka, bola mata Anjani membulat seketika.
__ADS_1
Anjani jatuh terduduk di sofa mini dalam kamar usai melihat dua tayangan video memalukan, yang menampilkan sang suami dengan Lovey. Satu video di bilik perawatan, dan video satunya di depan kamar. Yang membuat Anjani sesak adalah link pemberitaan yang disertakan dalam pesan ketiga. Video itu telah menyebar, telah menjadi skandal yang pastinya akan viral di kalangan pebisnis dan teman-teman. Komentar-komentar netizen yang beragam pun membuat hati Anjani terbakar.
Uwwwo! Skandal nih!
Jangan main belakang, langsung aja ajak nikah sekalian!
Jangan kelamaan mikir! Langsung jadikan istri kedua. Mujur betul tuh dapat si Lovey!
Berita viral hari ini. Up!
Up!
Begitulah sebagian komentar yang dibaca Anjani. Komentar di bawah penayangan video memang membuat emosi. Akan tetapi, yang lebih meraja dalam hati Anjani saat ini adalah rasa sakit hati.
"Mas, tega sekali kamu melakukan ini di belakangku."
Air mata Anjani jatuh. Dada Anjani begitu bergemuruh. Sesak, sakit hati, kecewa, semua menjadi satu. Begitu sakit. Sakit. Sakiiiit sekali, hingga air matalah yang menjadi satu-satunya ekspresi yang mampu Anjani wujudkan saat ini.
"Huuuhuhuhuhu."
Bulir berharga itu terus terjatuh. Anjani mengusapnya, tapi lekas terbentuk jejak air mata baru.
"Apakah kontrak pernikahan itu hanya dalih agar nantinya kau bisa leluasa melakukannya dengan Lovey, Mas? Kau memang ingin menikahi Lovey, kan? Iya kan?" Monolog Anjani ditutup dengan isak tangis lagi.
Anjani meyakini, bahwa izin Mario untuk menikah lagi bukanlah atas dasar rasa kasihan, melainkan karena skandal. Makanya Mario cepat-cepat mengambil keputusan untuk menikah lagi, dan kontraklah yang dijadikan perantara untuk meyakinkan Anjani. Seperti itulah kesimpulan Anjani. Tidak hanya itu, pemikiran lain juga tercipta dan semuanya tentang ketidakpercayaan pada sang suami.
"Anjani, kau begitu boddoh."
Tak ada tangis lagi. Cukup sepuluh menit yang menguras emosi. Berperang dengan hati, pikiran, bahkan prasangka macam-macam. Hingga kemudian, sampailah Anjani pada satu keputusan.
"Maaf, Mas. Aku tidak akan sanggup melihat semua ini lebih jauh lagi. Akan kubawa anak kita pergi jauh dari kehidupanmu."
Koper diambil. Baju dan barang-barang dimasukkan, termasuk kebutuhan melahirkan yang sudah jauh hari disiapkan.
Anjani diantar Pak Gun ke tempat magang seperti biasanya. Koper yang dibawa memang sempat jadi tanya, tapi Anjani dapat membuat alasan masuk akal agar kaburnya tidak diketahui banyak orang. Sesampainya di depan kantor magang, begitu mobil Pak Gun berlalu pulang, Anjani berganti kendaraan. Dengan lebih dulu membuang sim card dalam ponselnya, Anjani pun pergi tanpa adanya isak tangis lagi.
"Anjani? Apa ada sesuatu yang tertinggal sehingga dia harus pulang?" Bastian tidak sengaja melihat Anjani masuk ke dalam taxi yang tadi ditumpanginya. Bastian yang tidak tahu niatan Anjani, hanya mengabaikan dan memilih untuk bertanya nanti saja ketika Anjani kembali dari urusannya.
***
"Paman, tolong urus penyebaran video itu. Usahakan agar terhapus dan tidak terakses lagi oleh siapapun itu. Satu lagi, tolong lacak pelaku penyebar video. Aku temui Anjani dulu. Semoga dia belum tahu video dan skandal tentangku dan Lovey."
"Baik, Tuan. Tolong lekas kembali begitu Tuan Besar datang." Paman Li mengingatkan kedatangan John dan Mommy Monika, orangtua Mario.
Mario tergesa menuju mobilnya. Mobil dilajukan dengan kecepatan yang tidak wajar. Fokusnya hanya satu, yakni Anjani. Anjani, dan Anjani. Hanya Anjani yang ada dalam pikiran Mario saat ini.
Sampai di rumah. Mario tidak mendapati Anjani ada di sana. Pak Gun yang baru tiba lekas memberi tahu bahwa Anjani ada di kantor magangnya, karena Pak Gun baru saja mengantarnya ke sana. Tentang Anjani yang membawa koper besar disampaikan juga, dan seketika membuat Mario khawatir tentang kemungkinan terburuk yang akan dia terima.
Tanpa berlama-lama lagi, Mario tancap gas. Mobil dilajukan dengan kecepatan maksimal menuju kantor magang. Tapi sayang, Anjani tak ada di sana. Isabel yang ditemui Mario bahkan mengira bahwa Anjani tidak masuk kerja.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Anjani, Pak?" tanya Isabel.
"Istriku kabur dari rumah."
Deg!
Bastian yang hendak masuk ruangan begitu jelas mendengar. Pikirannya langsung melambung jauh, mengingat mimik wajah Anjani saat masuk ke dalam taksi. Bastian sama sekali tidak menyangka bahwa Anjani berniat kabur dari rumah.
"Jika tahu sesuatu tentang istriku, tolong hubungi aku, ya. Bilangkan juga pada kakakmu."
"Iya, Pak. Riko dan Marisa juga akan saya beritahu, siapa tahu Anjani menghubungi mereka."
"Terima kasih, Bel. Kalau begitu aku pamit dulu."
Mario keluar ruangan. Sayangnya, Bastian memilih untuk menghindar agar tidak berpapasan. Yang selanjutnya dilakukan Bastian justru tak disangka-sangka. Bastian mengirim pesan singkat pada si sopir taxi yang kebetulan dia kenal agar mencarikan tumpangan aman lanjutan dan memberitahukan posisinya sekarang. Bastian lebih dulu izin ada keperluan, kemudian melajukan motor ke tempat yang diberitahukan.
***
Sudah berjam-jam lamanya Mario mencari keberadaan Anjani. Ponsel sang istri pun bahkan tidak bisa dihubungi. Mario bahkan tidak bisa melacak posisi. Tampilan Mario saat ini bahkan seperti orang yang tengah frustasi. Terus menyebut nama Anjani.
Menjelang siang, Mario kembali ke kantor karena sang ayah dikabarkan telah datang. Mario langsung menuju ruangannya karena sang ayah telah menunggu di sana. Begitu sampai di ruangan dan menghampiri sang ayah, tiba-tiba saja ....
__ADS_1
Plak!
Dengan kerasnya telapak tangan sang ayah didaratkan. Mario refleks memegangi pipi kanan bekas pendaratan telapak tangan. Perih, meski rasanya tak seperih hatinya yang telah kehilangan jejak Anjani.
"Kau kemanakan akal sehatmu, ha? Bodddohh!"
"Ayah, ada apa ini?" Mario belum mengerti.
Lembaran di atas meja diraih. Itu adalah lembaran-lembaran yang berisi pasal-pasal. Kontrak pernikahan.
"Mau bermain-main dengan pernikahan, ha? Siapa yang mengajarkanmu? Ayah?!" John emosi.
Mario tidak menjawab. Pertanyaan sang ayah barusan telah membuatnya paham alur pembicaraan.
Krek! Kreeeek! Kontrak disobek-sobek, dihamburkan, bahkan diinjak-injak dengan kesal.
"Jangan kau samakan cara mengikat relasi dengan cara mengikat seorang wanita untuk dijadikan istri! Ini kesalahan besar! Terlarang! Tidak seharusnya sebuah pernikahan dijadikan permainan." John semakin emosi.
Mario bungkam. Jelas-jelas posisinya sekarang sama sekali tidak menguntungkan. Mario tersudutkan karena tertangkap melakukan kesalahan.
"Satu lagi." John membuka smartphone dan menunjukkan dua video skandal. Itulah alasan John menelepon Mario dengan nada emosi pagi tadi. "Memalukan! Ayah malu, terutama pada besan, mertuamu!"
"Ayah. Aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Video yang kedua, ada yang sengaja menjebakku dan Lovey."
"Jika ini adalah jebakan, seharusnya segera kau selesaikan. Sekarang, di mana Anjani?"
Mario menunduk. Hatinya kembali perih begitu teringat belum menemukan jejak sang istri.
"Anjani kabur dari rumah."
John kaget mendengarnya. Fakta tentang ini memang belum dia ketahui.
"Kau fokus saja cari Anjani. Ayah bantu mancari dalang penyebaran video-video itu. Satu lagi. Jangan pernah ada lagi kontrak pernikahan. Jangan campuri lagi urusan Lovey! Baru saja Lovey sudah membuat keputusannya sendiri. Dia akan segera berbahagia."
"Benarkah? Dengan siapa, Ayah?"
"Yang pasti bukan dengan seseorang yang sudah beristri sepertimu!"
John telah berhasil membungkam sang putra. Bagi John, sebuah kesalahan tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Apalagi yang terjadi menyangkut sebuah rasa.
Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Ken menjadi saksi ketegasan ayah Mario pada sang putra. Sebagai sahabat, Ken turut merasakan apa yang tengah Mario derita. Namun, Ken tidak bisa membantu apa-apa. Yang Ken bisa lakukan saat ini hanyalah jujur tentang perasaannya. Meneruskan langkah agar di kemudian hari rasa penyesalan tidak menghantuinya.
"Ken," panggil seorang wanita dengan nada pelan agar tidak mengagetkan.
"Lovey. Kau sudah di sini."
"Iya." Lovey tersenyum ramah. "Apa orangtuamu sudah tiba?" tanyanya kemudian.
"Beberapa menit lagi. Ayo ikut aku! Akan kukenalkan kau pada mereka."
"Ayo!"
Lovey dan Ken beriringan langkah. Meninggalkan Mario yang masih saja dinasihati sang ayah. Bukan bermaksud untuk bahagia di atas derita yang tengah Mario rasa. Hanya saja, Ken dan Lovey sedang memperjuangkan cinta mereka.
Kebersamaan Ken dan Lovey bukan serta merta tercipta. Sebelum ini mereka berdua saling mendustai rasa di depan John yang mendudukkan mereka berdua. Hingga kemudian, sampailah Lovey pada satu keputusan untuk tidak lagi melanjutkan kontrak pernikahan yang penuh kesalahan. Selanjutnya, Lovey menerima hubungan yang ditawarkan Ken padanya. Cukup sederhana. Keputusan itu diambil sesaat setelah Ken jujur atas perasaannya.
"Ken, benarkah kau mau berhenti kerja di sini?"
"Tentu saja. Aku akan berada di kehidupanmu, di perusahaanmu, melindungimu, dan akan selalu mencintaimu."
Lovey tersipu.
"Mario dan Anjani. Aku adalah penyebab retaknya hubungan mereka, Ken. Tolong bantu aku mencari keberadaan Anjani. Aku mau menebus kesalahanku."
"Pasti akan kubantu. Kita cari Anjani bersama-sama. Tapi sebelum itu, mari kita menikah dulu!"
"Terima kasih, Ken."
Bersambung ....
Bagaimana dengan takdir Mario-Anjani? Apakah mereka berdua akan terpisah dalam waktu yang cukup lama? Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Semoga kakak-kakak semua masih setia membaca kehaluan author dengan alurnya yang muter-muter kayak roda. Alurnya agak author cepetin biar gregetnya nggak lama-lama ππ Enjoy reading kakak-kakak online yang berbahagia. Salam Luv π
__ADS_1
Merapat-merapat-merapat, yuk! Ada novel Menanti Mentari karya Cahyanti yang harus dikepoin, nih! Ada juga novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Harus n kudu mampir π Danke shΓΆn π
***