Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
bab 37


__ADS_3

Selamat minggu gaes, tetap dukung kisah mereka ya, tinggalkan Like, beri saran, dan juga vote nya😊. Maaf jika awal ceritanya masi banyak typo. Penulis akan berusaha lebih teliti lagi menulis dibab-bab selanjutnya.


Selamat membaca!!


*/*/*/*/*/


Sudah beberapa minggu pembangunan Wahana itu berjalan dengan lancar. Siang ini Diana dan juga rekan kerjanya di utus oleh pak Retno untuk menghadiri rapat di luar kota selama tiga hari ke depan.


Arsya melihat dari jendela kantornya ketika Diana bergegas berjalan terburu-buru. Mau kemana gadis itu?


Dia memanggil Eki untuk menanyakan apakah makan siang nya sudah di siapkan atau belum.


"Semua sudah beres tuan. Sebelum bu Diana berangkat siang ini, beliau sudah menyediakan makan siang anda." ucapnya dengan tegas.


"Pergi?"


"Iya, tuan. Bu Diana akan menghadiri rapat di luar kota selama tiga hari kedepan."


"Lalu bagaimana dengan makan, saya?" ucapnya mencekal kerah baju Eki.


"Tapi, tuan, ini adalah printah dari managernya yaitu, pak Retno!


"Saya tidak peduli dengan si Retno itu, sekarang, cepat cegah dia pergi! Cepat, tunggu apa lagi?


Owalah? ada si bos gila kali, ya?


Eki bergegas berlari keluar lapangan kantor. Disana dia tidak menemukan siapa pun. Aduh, bisa gawat ini. Mereka udah pada pergi lagi. Ketika ingin berbalih arah, Eki melihat seorang gadis yang sangat seksi yang tidak asing di matanya berdiri di tempat.


"Nona, Iska?"


"Hello, Eki? segitu terkejutnya melihat ku berada disini?" ucapnya sambil menyodorkan tas nya ke Eki.


"Aa, tentu saja nona. Aa maksud saya, tuan muda pasti senang melihat anda ada disini."


Eki mengantarkan Iska ke ruangan calon suaminya. Sesampai di depan pintu, Eki mengetuk pintu dengan pelan.


"Apa kau berhasil mencegah nya?" tanya Arsya masih membelakangi Eki.


"Sayang?"

__ADS_1


sayang?


"Beraninya kau memanggil ku sayang!" Berbalik arah dan melihat Iska yang sudah menyambutnya dengan merentangkan tangan untuk di peluk. Seketika Arya melalak dan terdiam di tempat.


"Sayang, aku kangen kamu!" Memeluk Arsya yang masih termenung diam. Dia melihat Eki yang sudah menunduk. Arsya melepaskan pelukan Iska dan dia tatap wajah Iska dengan baik. "Ngapain kamu datang, kemari?"


"Emang salah? Aku kan kangen sama calon suami aku!"


"Kita sudah tidak punya hubungan lagi!" jawabnya cuek.


"Dady kamu yang menyuruhku untuk datang kesini. Apa kau tidak rindu dengan ku?"


Masi memeluk tubuh Arsya dari belakang.


"Dady juga sudah mencampakkan ku. Jadi kau tidak perlu buang-buang waktu mu untuk berjumpa lagi dengan ku. Apa kau sudah lupa?" Perlahan Arsya mendekati Iska, "Kau lebih memilih kakak ku yang lebih mapan dari ku, bukan?"


"Bukan begitu, Ar?"


"Pergi lah, aku tidak membutuhkan dukungan atau apa pun dari mu!"


"Tapi Ar, dady kamu yang nyuruh aku untuk mengurus kamu disini!" masi berjalan menghadap wajah Arsya.


Mendengar kata ranjang, Eki segera keluar dari ruangan itu dan membiarkan mereka berbicara.


"Sayang, kamu jangan begitu, dong!"


"Cukup! Sekarang keluar dari ruangan saya!"


"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini!"


Buar!!


Arsya membanting vas bunga yang ada di meja nya. Ia tatap tajam mata Iska membulat, "Jangan sempat saya, menyeretmu dari sini.Keluar!!"


Tanpa ada rasa takut, Iska mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan ke Om Ogawan yaitu dedi Arsya.


"Hallo, Iska. Apa kau sudah bertemu Arsya?"


"Iya, om. Arsya tidak menginginkan ku dan mengusir ku dari sini." ucap nya dengan nada sedih.

__ADS_1


Sementara emosi Arsya sudah di ujung tanduk. "Berikan ponselmu padanya, om akan bicara!"


"Kluar!!!" hentaknya sekali lagi. Dengan terkejut dan ponsel itu terjatuh di lantai. Tentu saja dady Oga mendengar teriakan putranya itu. Nyali Iska semakin menciut dan tidak berani bergerak dari tempatnya.


Yang ia ketahui, seorang Arsya yang dulu mencintainya, tidak pernah membentak atau pun marah terhadapnya.


Arsya mengambil ponsel itu dan membantingnya di depan Iska. Kaki gadis itu sudah bergetar tak karuan. "Kluar, lo!"


Ada apa dengan mereka? apa mereka berantem? batin Ekin segera membuka pintu.


"Maaf tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Eki dengan terbata-bata ketika melihat ruangan itu yang sudah berserak barang pecah.


"Saya baru saja melihat hantu, apa kamu tau itu? teriaknya dengan keras.


Hantu? apa ada hantu di siang bolong begini?


"Kenapa masi berdiri disana? apa kau juga tidak mengerti dengan ucapan saya?" sambil melirik Iska yang sudah menunduk.


Eki segera membawa Iska keluar dari ruangan bosnya dan menyuruh supir untuk mengantarkan Iska ke bandara. Awalnya Iska tetap bertahan, namun dia juga tidak ingin mendapat perlakuan dingin demi uang.


*/*/*/


Malam pun telah tiba. Para pelayan sudah menyiapkan berbagai macam makanan di meja makan. Arsya duduk dan menatap semua makanan itu, namun tidak seperti


tekstur yang biasa dimasak Diana. "Saya tidak mau makan!"


"Makan sedikit saja, tuan! Nanti anda bisa sakit kalau tidak makan." ucap Eki yang berdiri di sampingnya.


"Ini semua gara-gara gadis kampung itu, dan kamu juga." Arsya beranjak dari kursi tanpa menyentuh makanan nya sedikit pun.


Mengirim pesan singkat ke Diana.


~ Hei gadis kampung, Kau sudah puas membuatku kelaparan, kan?


Beberapa menit menunggu balasan, Arsya membaringkan tubuhnya di kasur sambil membayakan makan opor ayam buatan Diana. Melirik ponsel nya beberapa kali, namun tidak ada balasan juga.


Berani sekali mengabaikan pesan ku.


~Ayo, balas, kalau tidak aku akan memotong gajimu!

__ADS_1


__ADS_2