Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 48 : Penjagaan Maksimal


__ADS_3

Sampai di restoran, Mario menahan rasa sebal. Mario geregetan lantaran Ken tidak jujur dari awal. Ternyata, pertemuan dengan Lovey masih pukul tujuh malam. Sementara saat ini jam yang melingkar di tangan masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dengan pakaian gaya casual, Mario dan Ken duduk di restoran dan harus menunggu Lovey setengah jam.


"Nasi goreng pattaya satu. Roti bakar keju coklatnya satu. Terus ... jus alpukatnya dua gelas." Ken menyebutkan pesanannya. "Bro, kau mau pesan apa?"


"Tidak." Singkat, padat, jelas, dan diiringi ekspresi yang tegas.


"Sudah itu aja, Mbak. Teman saya sedang diet sepertinya." Ken menyerahkan kembali buku menu kepada pelayan.


"Baik. Mohon ditunggu sebentar," ucap pelayan restoran dengan ramah.


Seperginya pelayan restoran, Ken memerhatikan Mario yang tampak terpejam. Mario juga bersedekap tangan. Raut wajah tidak ramah pun turut ditampilkan.


"Ehem." Ken berdehem.


Deheman itu membuat mata Mario terbuka. Tak lagi terpejam, bahkan kini menampilkan senyuman.


"Sudah selesai, Ken?" tanya Mario.


"Ya belumlah. Makanannya belum datang."


"Lain kali makanlah di rumahku. Tidak perlu sungkan-sungkan. Anjani juga tidak keberatan." Mario memilih meredam kesal, dan menampilkan keramahan.


"Tenang saja, Bro. Aku jarang sekali sungkan. Apalagi di rumahmu. Aku cuma nggak mau merepotkan Anjani untuk hari ini saja. Besok besok, ya jangan ditanya."


Mario geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Ken. Seperti itulah Ken, menjengkelkan, tapi asyik diajak berteman.


Di luar dugaan, Lovey rupanya datang lebih awal. Makanan pesanan Ken bahkan belum datang.


Ada kecanggungan saat Lovey dan Mario bertemu pandang. Malam ini adalah kali pertama mereka bertemu lagi setelah dosa di bilik perawatan. Sebuah kesalahan memalukan, yang telah disepakati untuk dirahasiakan.


"Duduklah! Jangan bengong begitu!" Ken menegur Lovey, sekaligus memecah kecanggungan yang sempat terjadi.


"Iya." Lovey memilih tempat duduk di sebelah Ken.


"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Lovey kemudian.


"Hanya Ken yang pesan," sahut Mario.


Lovey jadi terdiam. Mendadak kehilangan kata-kata lantaran suara Mario yang mencuri perhatian. Sejujurnya, saat ini perasaan Lovey jadi berantakan. Ada dua pria di meja yang sama dengannya. Salah satunya adalah Ken, incaran hatinya. Akan tetapi, antara Ken dan Mario, yang pesonanya lebih bersinar justru Mario.


"Lovey. Hei ...." Ken mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Lovey.


"Hm. Apa?" Lovey yang semula gusar dalam tundukan kepalanya, seketika mengangkat wajah.


"Aku pesankan jus semangka, ya." Ken ramah, menawari Lovey.


"Jus alpukat saja, Ken. Du ... Em, maksudku satu gelas."


"Cie. Selera kita mulai sama, nih."


"Jangan bilang gitu, ah! Nanti aku baper gimana?" Lovey berterus terang. Perlahan, perhatiannya pada Mario teralihkan. Pesona Mario memang bersinar, tapi pada akhirnya Ken lah yang lebih dominan untuk diperhatikan.


"Ehem. Kamu mau dibaperin, nih?" Ken berani menggoda Lovey.


"Boddoh, ah! Masa kayak gitu ditawarin, sih." Lovey pura-pura sebal, padahal hatinya girang.


"Ehem!"


Itu deheman Mario. Lovey dan Ken yang mendengar deheman itu langsung menoleh bersamaan.


"Maaf. Bisakah kemesraan kalian ditunda?" Mario sengaja berkata demikian.


"Siapa yang mesra, sih?" Lovey gerogi.


"Iya, siapa yang mesra sih!" Ken ikut-ikutan gerogi.


"Terserah kalian. Sekarang, aku ingin mendengar penjelasan." Mario menatap Lovey. Tidak ada kegusaran, yang ada hanya mimik keseriusan.


Lovey paham arah pembicaraan. Meski tadinya Lovey hanya memberi tahu Ken soal Anjani yang dibuntuti lelaki bertopi, pastinya Ken juga sudah memberi tahu Mario. Apalagi Mario berstatus sebagai suami Anjani. Dialah yang lebih berhak untuk tahu hal ini.


"Aku yakin sekali itu Dewangga. Yang membuntuti Anjani wajahnya sangat mirip dengan Dewangga. Aku bisa mengenalinya meskipun dia pakai topi dan pakaiannya biasa."


"Kau yakin tidak salah lihat, Vey?" Mario semakin serius.


"Aku yakin sekali itu Dewangga. Dua kali. Yang pertama sepulang dari restoran saat aku ketemuan sama Anjani. Yang kedua, kemarin saat Anjani pulang dari magang. Aku tidak sengaja melihatnya saat mau bertemu relasi."


"Dewangga, ya? Tapi untuk apa dia melakukan itu?" Mario tampak berpikir.


"Entahlah. Aku pun tidak tau. Tapi, kita juga tidak bisa asal menuduh karena tidak punya bukti. Lebih baik untuk sementara ini beri penjagaan khusus untuk Anjani." Lovey serius berpendapat, karena dia pun khawatir pada Anjani.


"Pasti akan kulakukan," sahut Mario.


Sedari tadi Ken menjadi pendengar. Hatinya terusik dengan nama Dewangga yang disebutkan.


"Kemiripan nama bisa saja terjadi. Tapi, bolehkah aku tau seperti apa tampang si Dewangga yang kalian maksudkan? Sebenarnya aku sendiri juga punya kenalan yang namanya Dewangga." Ken ikut bersuara pada akhirnya.


Lovey menggeleng, kemudian berkata bahwa dia tidak menyimpan fotonya. Penjelasan Mario juga tidak jauh berbeda. Baik Lovey ataupun Mario sama-sama tidak memiliki foto Dewangga. Akan tetapi, Mario memiliki cara tersendiri untuk bisa mendapatkan fotonya. Tak begitu lama setelah panggilan suara yang dibuat Mario, satu foto yang menampilkan wajah Dewangga pun diterima.

__ADS_1


"Sudah kudapatkan!"


Mario melakukan panggilan suara lagi, dan di seberang sana sudah ada Paman Li yang siap menjalankan misi.


"Aku butuh dua, Paman. Minta saja para bodyguard suruhan paman mengawasi dari jarak jauh. Anjani pasti tidak suka jika dikawal berlebihan." Ada jeda sebentar karena Paman Li memberi penjelasan. "Mulai besok pagi saja. Aku percayakan semua pada Paman Li. Sebelumnya, terima kasih banyak atas bantuannya." Mario pun mengakhiri panggilan.


Lovey dan Ken hanya bisa memasang wajah takjub dengan kesigapan Mario dalam mengatur penjagaan untuk Anjani. Tidak sampai bermenit-menit segala yang diinginkan langsung terpenuhi. Termasuk bodyguard dan strategi penjagaan untuk Anjani.


"Gillaa, Bro. Kau mirip Mr.Jin botol. Sekali klik telepon, langsung goal. Kuasa orang berduit memang gillaa!" Ken geleng-geleng kepala.


"Terima kasih atas pujiannya, Ken."


"Eh, mana foto si Dewangga? Lihat dong!"


Ken menerima smartphone Mario. Begitu wajah Dewangga tampil di layar, Ken langsung mengenalinya sebagai Dewangga yang dia kenal. Ken auto heboh sendirian.


"Sejak kapan kau mengenalnya?" Mario meminta kejelasan.


"Aku sih kenal Dewangga sejak perjalanan bisnis di luar kota. Itu, lho. Yang kau kena lempar high heels sampai pingsan. Yang sore itu kalian ... Ehem."


Lovey langsung tersedak jus alpukat. Penegasan Ken membuatnya teringat segala hal tentang dirinya dan Mario. Tentang hutang nyawa karena penyelamatan, hingga dosa di bilik perawatan.


"Sudah-sudah jangan dibahas lagi yang itu." Lovey menyodorkan segelas jus alpukat agar Ken meminumnya.


Sikap Mario beda lagi. Tidak baper seperti Lovey. Mario masih fokus dengan pertanyaannya tentang Ken yang mengenal Dewangga.


"Berapa kali kau ketemu Dewangga setelah itu, Ken? Di mana saja kalian bertemu, dan apa yang kalian bahas saat bertemu?" Mario memberondong Ken dengan tanya.


Melihat keseriusan Mario, membuat Ken serius juga dalam menjawabnya. Ken mengaku baru empat kali bertemu Dewangga usai awal pertemuan mereka. Karena Ken menganggap Dewangga sebagai teman yang jago bisnis perdagangan, obrolan mereka pun tak jauh-jauh dari bisnis yang sedang mereka jalankan.


"Aku sering menunjukkan rancangan presentasi yang kubuat padanya. Sekedar meminta saran," aku Ken.


"Apaa?!" Mario benar-benar kaget kali ini.


"Eh? Sebenarnya Dewangga ini siapa, sih? Apa dia berbahaya?" Ken belum tau kalau Dewangga adalah mantan relasi Mario dan Lovey yang suka menghalalkan cara licik untuk meraup keuntungan di pihaknya.


"Ken, mulai sekarang jangan pernah menunjukkan rancangan presentasi perusahaan pada siapa pun. Kita tidak pernah tahu musuh perusahaan sedang memakai topeng apa. Lebih aman jika terus waspada." Kekhawatiran Mario mulai merembet kemana-mana, termasuk pada perusahaannya.


Lovey sedikit menambahkan, menegaskan pula bahwa Dewangga adalah mantan relasinya yang telah bersikap curang pada kontrak kerjasama. Lovey juga bercerita tentang sikap Dewangga yang sama sekali tidak patut untuk diajak bekerjasama.


"Waduh. Berarti aku salah pilih teman, dong." Ken jadi panik sendiri setelah tahu fakta tentang Dewangga.


"Kau hanya belum mengetahuinya saja, Ken. Sudah, jangan merasa bersalah." Lovey meredam kepanikan Ken.


"Huft. Untung ada kamu di sini. Jadi ada yang membelaku. Kalau nggak, Mario pasti sudah ngomel-ngomel tidak jelas karena aku kurang awas." Ken tersenyum manis, dan seketika dibalas dengan senyuman yang manis pula oleh Lovey.


"Ehem."


"Lebih baik kalian menikah saja. Tatap-tatapan seperti itu membuat setan makin semangat menggoda," ujar Mario.


"Ha?" Ken dan Lovey kompak berkata ha.


"Me-menikah?" Ken yang bar-bar, yang punya banyak stok kata untuk membuat balasan, seketika terbata karena deg-degan.


"Huss. Ngomong apaan sih. Kita kan sedang ngomongin Anjani. Kok jadi ngomongin nikah segala, sih." Jantung Lovey berdebar-debar saat berkata demikian. Sedikit menyesal dengan pilihan kata yang diucapkan. Lovey pun merutuki diri sendiri karena tidak bisa jujur atas perasaan.


"Iya, tuh. Lovey betul. Kita sedang ngomongin Anjani." Ken merasa plin-plan dengan apa yang dia lakukan. Tadi gencar membuat pendekatan, sekarang justru tidak mengakui perasaan.


Sikap Ken dan lovey tidak luput dari perhatian Mario. Meski sama-sama mengelak, Mario bisa merasakan bahwa ada rasa tak biasa di dalam hati mereka. Namun, Mario tidak bisa lancang mencampuri urusan hati mereka. Mario pun memilih untuk membiarkan saja.


"Terserah kalian. Saranku cuma satu. Berhenti membohongi perasaan. Mengakui lebih baik dari pada diam-diam memendam."


Mario dengan bijak memberi saran. Dalam posisi ini, Mario telah berpengalaman, dan telah berhasil menakhlukkan hati Anjani dengan cara berani mengutarakan perasaan.


"Maksudnya?" Lagi-lagi Ken dan Lovey kompak berkata.


Mario tersenyum. "Kalian pikirkan sendiri. Aku pamit dulu. Permisi."


Baru saja berdiri dari duduknya, Mario pun menambahi. "Vey, terima kasih. Mulai sekarang, berteman baiklah dengan Anjani."


Lovey mengangguk. Ada perasaan lega pada diri Lovey usai Mario berkata demikian. Mungkin, inilah saatnya untuk melupakan semua hutang dan dosa bersama Mario. Ya, harus segera dilupakan. Batin Lovey.


"Ken, kau ikut aku pulang. Sekarang!" perintah Mario.


"Nasi goreng pattaya pesananku baru datang, nih." Ken protes.


"Vey, apa kau mau menghabiskan nasi goreng pesanan Ken? Aku khawatir dia gendutan karena terlalu banyak makan." Mario tiba-tiba saja berkata demikian.


"Oke. Dengan senang hati." Lovey merebut piring nasi goreng yang masih dalam genggaman Ken.


Ken kebingungan. Tidak habis pikir dengan yang Mario lakukan. Ken hendak protes lagi, tapi Mario lebih dulu menarik lengan, membuat Ken mau tidak mau harus mengikuti langkah daripada membuat keributan.


"Yaelah, Bro. Kau kan sudah ngatur penjagaan buat Anjani. Terus mau nyuruh aku apa lagi? Janji deh, habis ini aku bakal lebih waspada sama yang namanya Dewangga." Ken baru protes saat di parkiran.


"Bagus jika kau paham. Sekarang, ikut aku ambil pesanan."


"Huh. Manja! Tumben nggak minta anter Anjani," celetuk Ken.

__ADS_1


"Jika kuajak Anjani, tidak akan jadi surprise lagi, Ken."


"Surprise?" Ken tampak berpikir, dan seketika paham dengan apa yang Mario pikirkan. "Aha, kalau gitu mampir toko bunga juga, ya. Aku juga pengen ngasih sesuatu." Ken bersemangat kali ini.


Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan malam. Mobil Mario melaju dengan kecepatan sedang, menuju sebuah toko untuk mengambil pesanan barang. Tak lupa, Mario juga mampir ke toko bunga, mengantar Ken untuk membeli sesuatu di sana.


Sesampainya di rumah, Mario tidak langsung pergi ke kamar. Mario lebih dulu berbincang dengan Pak Gun, sekaligus mencari informasi tentang seseorang yang mungkin dicurigai.


"Mas, aku sudah menyelesaikan desainnya. Sesuai saranmu tadi. Coba lihat!" Anjani menyambut kedatangan Mario dengan antusias sambil menunjukkan hasil desainnya.


"Bagus sekali, Sayang. Aku yakin sekali desainmu pasti akan dipilih." Mario memuji Anjani.


"Makasih, Mas."


"Ohya, Sayang. Kenapa kamu tidak cerita kalau ada orang aneh yang membuntuti?"


"Kamu kok bisa tau?"


"Barusan Pak Gun cerita."


Anjani terdiam. Dirinya memang sengaja tidak bercerita karena takut menambah pikiran Mario. Lagipula Anjani tidak tau pasti apakah mobil tempo hari benar-benar membuntuti atau hanya kebetulan searah dengan mobil Anjani.


"Maaf, Mas."


"Lain kali ceritalah. Komunikasi kita harus tetap terjaga. Bukan hanya tentang hal manis saja, yang seperti ini pun harus tetap disampaikan juga." Mario menasihati Anjani.


"Iya, Mas. Lain kali aku akan cerita."


"Mulai besok, aku sudah menyiapkan penjagaan maksimal untukmu. Tidak akan mencolok. Mereka hanya akan menjagamu dari jarak jauh."


Anjani mengangguk. Dirinya menurut saja karena pernah merasakan pengalaman diculik sebelumnya. Tentu saja Anjani tidak ingin hal serupa terulang untuk kedua kalinya. Anjani sungguh menghargai usaha Mario yang menyiapkan penjagaan untuknya.


"Terima kasih, Mas. Tapi, tetap serahkan penjagaan maksimal hanya pada-Nya. Dia, Yang Maha Melindungi. Dan ... jangan lupakan juga kekuatan doa, ya Mas. Kita saling percaya. Insya Allah semua akan baik-baik saja."


Mario tersenyum, kemudian mengiyakan.


"Tunggu di sini sebentar, ya. Aku punya sesuatu yang mau kutunjukkan."


"Iya, Mas."


Mario keluar kamar. Menuju ke mobil guna mengambil beberapa barang yang telah disiapkan. Ada kue, buket bunga, dan beberapa hadiah yang telah terbungkus kertas berwarna cerah.


Ceklek!


Mario membuka pintu kamar dan ...


"Surprise!" ujarnya kemudian.



"Maasss!" Anjani sontak menutup mulutnya lantaran bahagia karena kejutan dari suaminya.


"Happy milad, Sayang."


Anjani terharu.


"Kuenya kecil, Mas."


"Sengaja kupilihkan yang kecil. Karena yang besar adalah rasa cintaku padamu. I love you, istriku."


"Hihi. Hatiku tersentuh. Kamu benar-benar pintar merayu."


Selanjutnya, hadiah-hadiah untuk Anjani diberikan. Bukan sesuatu yang mewah, hanya sebuah kalung biasa dengan desain sederhana. Mario memakaikan kalung itu dengan sikap mesra. Hadiah-hadiah lain juga ada. Ada beberapa body mist aroma Bunga Moringa dan sebuket bunga mawar merah.


"Maaf, aku tidak pandai membuat kejutan. Semoga hadiah kecilku ini bisa sedikit membuatmu senang."


Tidak ada kata-kata lagi yang terucap dari mulut Anjani. Perlakuan Mario benar-benar membuatnya happy, sekaligus dipenuhi rasa syukur yang bertubi. Sebagai balasan spontan, Anjani pun memberi pelukan.


"Oya, Sayang. Ken juga memberimu hadiah."


"Benarkah? Waaaah." Anjani menampilkan wajah semangat.


Dikiranya Ken akan memberikan sesuatu yang spesial, seperti tahun lalu. Nyatanya, yang Ken berikan justru setangkai bunga sepatu. Ya, hanya setangkai, dan tampak sudah layu.


"Ini dari Ken. Maaf, tadi bunganya sempat kejepit pintu."


Anjani menerima bunga pemberian Ken dengan cemberut. "Kak Ken peliiiiit."


"Haha." Mario tertawa renyah.


Barakallah Fii Umrik 🎂


Bersambung ....


Happy milad untuk Anjani dan authornya. Adakah someone yang mau memberikan ucapan atau hadiah kejutan?? Hehe #penuhharap 😁


Salam Luv dari author yang tengah bertambah usia 💙

__ADS_1


Suka dengan novel ini? LIKE-nya dong. Merapat ke novel my best partner juga, yuk. Novel Menanti Mentari karya Cahyanti dan novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami, karena dukungan kalian begitu berarti.


***


__ADS_2