Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 59 : Buntut Membuntuti


__ADS_3

Pagi pukul setengah 6, Anjani sibuk memasak di dapur kontrakan. Anjani tengah menggoreng tahu tempe ketika Bu Harnum datang. Tak lupa Anjani lebih dulu mematikan api kompor sebelum menemui Bu Harnum di depan.


Sekresek kecil berisi tiga buah pisang goreng, dua ketela goreng, dan empat tahu isi diberikan pada Anjani. Tentu saja Anjani menerimanya dengan senang hati dan tak lupa berterima kasih.


"Perkiraan kapan kamu lahiran?" tanya Bu Harnum.


"Insya Allah sekitaran dua mingguan, Buk."


"Baiklah. Coba ke sinikan ponselmu!" Bu Harnum mengulurkan tangan, dan bersiap menerima smartphone Anjani.


Tak begitu lama Anjani menunggu. Usai Bu Harnum selesai menambahkan kontak miliknya, smartphone Anjani lekas dikembalikan lagi padanya.


"Begitu terasa, langsung hubungi ibuk, ya. Ibuk antar ke klinik bersalin. Ibuk temani kamu di sana." Bu Harnum berpesan.


"Insya Allah, Buk. Terima kasih banyak sudah perhatian sama saya."


Seketika itu mata Anjani berkaca-kaca. Bukan hanya terenyuh karena kebaikan Bu Harnum, melainkan karena seketika itu Anjani teringat Mario. Suami yang harusnya menemaninya, berada di sisinya, menyemangati dan mendoakan dirinya. Ya, begitulah seharusnya, tapi tidak dengan kenyataannya.


"Eits, sudah-sudah. Jangan melow gitu ah!" Bu Harnum mengusap air mata Anjani yang sudah menggenang di sudut mata.


Seutas senyum lekas disuguhkan Anjani pada Bu Harnum.


"Ibuk mau sarapan bareng di sini?" Anjani mengalihkan topik agar tidak baper berlebih.


"Makasih. Kamu aja yang sarapan sana. Itu gorengannya juga dimakan, ya. Ibuk mau bantu-bantu tetangga sebelah rumah yang mau hajatan. Anak gadisnya mau nikah."


"Yaudah kalau gitu, Buk."


Bu Harnum pun pamit. Anjani yang belum selesai memasak berniat ke dapur, tapi urung karena sebuah pesan masuk di smartphone. Anjani memilih duduk lebih dulu, lantas membaca pesan itu.


"Kak Bas mau ke sini lagi?"


Sebelumnya Anjani sudah bisa menebak siapa si pengirim pesan. Jelas Bastian karena tidak ada lagi yang tahu nomor ponsel barunya selain Bastian. Ya, karena Bastianlah yang memberi smartphone itu lengkap dengan sim cardnya. Namun, Anjani tak menyangka bahwa Bastian akan datang lagi untuk ketiga kalinya.


"Om Bas mau datang lagi hari ini, Nak." Anjani mengusap-usap perut besarnya.


"Bunda sih nggak masalah, tapi kalau gini kan bunda jadi merepotkan. Om Bas juga selalu bawain bunda banyak makanan."


Anjani menarik nafas dalam, menghembuskan, tapi tersenyum kemudian.


"Biar sudah. Kita masak lebih biar bisa dimakan bareng Om Bas, yuk Nak. Biar Om Bas nggak perlu repot-repot bawain makanan buat bunda."


Ada gerakan dalam kandungan, seakan-akan sang buah hati mengerti apa yang Anjani ucapkan.


"Utututuuu. Sayangnya bunda manis banget, sih. Yuk ke dapur temenin bunda masak!"


Pada akhirnya, Anjani memilih untuk mengiyakan. Lagipula beberapa hari ini Anjani selalu menerima kebaikan Bastian. Akan sangat tidak enak hati jika tiba-tiba Anjani melarang Bastian untuk berkunjung ke kontrakan.


***


Sementara itu di rumah kakak beradik Bastian-Isabel. Bastian sudah bersiap. Tampak kekinian dengan pakaian casual yang dikenakan. Terlihat tampan dan segar dengan beberapa semprot parfum dan jam yang melingkar di tangan.


"Idiih. Pakek minyak wanginya berlebihan, tuh. Udah jelas, nih. Kak Bas beneran mau main pacar-pacaran sama cewek."


Sedari subuh Isabel terus memperhatikan gerak-gerik sang kakak. Niatan untuk membuntuti sudah tidak dapat digoyahkan, dan Riko pun bersedia diajak dalam komplotan.


"Begitu kepergok main pacar-pacaran, langsung kuomelin aja di depan ceweknya. Sekalian kupaksa mereka buat cepet nikah. Huh!" Isabel geregetan.


Bersiap pula di dalam kamar, Isabel lebih dulu menelepon Riko demi mengecek kesiapan misi. Karena menuju luar kota, bahan bakar mobil harus dipastikan tercukupi.


"Gimana, Rik? Siap?" tanya Isabel via telepon.


"Mobil beres. Persediaan makanan juga beres. Siapa tahu kita berhari-hari nggak pulang," balas Riko di seberang.


"Lebay, ah. Yaudah buruan! Kutunggu di depang gang, ya. Kak Bas udah pamitan nih."


"Tunggu bentar di sana, Bel. Ini nggak sengaja ketemu Marisa. Mana dia minta ikut lagi. Boleh ikut nggak?"


Isabel melongo. Sama sekali tidak menyangka bahwa Marisa hendak ikut juga.


"Kamu gimana sih, Rik? Ini kan rahasia! Kita mau mata-matain kakakku sama ceweknya! Kok jadi ajak Marisa sih? Ah!" Isabel sebal.


"Yaudah. Kuurus bentar. Kamu tunggu depan gang aja, Bel."


"Oke. Kutunggu!


Tut-tut-tut


Sementara panggilan suara sudah dimatikan. Riko membujuk Marisa agar tidak perlu ikut dengannya. Sebenarnya Riko bukan tidak sengaja berpapasan dengan Marisa, mereka berdua memang bertemu di acara yang sama. Yakni acara pernikahan Ken dan Lovey. Marisa dan Riko sengaja diundang karena mereka adalah mahasiswa magang bimbingan Ken.

__ADS_1


"Rik, aku ikut ya! Kalau nggak dibolehin ikut, aku makin curiga ntar kamu mesra-mesraan berdua sama Isabel di dalam mobil." Marisa ngeyel.


"Pikiranmu kotor amat, sih. Mana berani aku sama Isabel begituan dalam mobil, Ris? Ngaco banget sih kalau ngomong!"


"Lah terus ngapain kok aku nggak boleh ikutan? Jangan-jangan kalian berdua mau nyari Anjani tanpa aku? Iya kan? Sekalian biar bisa berduaan sama Isabel, kan? Makanya perginya berduaan aja." Marisa semakin berpikiran macam-macam.


"Boddoh amat deh. Terserah kau saja mau ngomong apa!" Riko nyelonong pergi.


Dasar Riko yang tadi keceplosan bilang hendak keluar kota berdua sama Isabel saja. Jelas, kata 'berdua' yang dimaksud Riko memancing kecurigaan Marisa. Meski rasa yang dimiliki Marisa pada Riko sudah memudar karena ulah Ken sebelum ini, tapi Marisa tetap kepo dengan apa yang terjadi.


Oke nggak papa. Aku buntutin aja kalian berdua. Batin Marisa.


Riko tidak langsung tancap gas menuju gang dekat rumah Isabel. Yang Riko lakukan justru masuk ke dalam ruangan tempat ijab qobul Ken dan Lovey. Marisa juga demikian, dia pun masuk ke dalam ruangan yang sama.


"Sah!"


Alhamdulillaah, Ken dan Lovey akhirnya sah menjadi sepasang suami istri. Tidak banyak tamu undangan yang hadir saat prosesi. Hanya beberapa kerabat dan teman bisnis yang akrab. Tentu saja, ada Mario, John, dan Paman Li di sana.


"Selamat, Ken. Semoga pernikahanmu selalu diselimuti kebahagiaan," ucap Mario seraya memberi pelukan hangat ala sahabat.


"Anjani harus segera mengetahui statusku ini. Kubantu kau mencarinya setelah ini, Bro!" Ken membalas pelukan.


Setelah pelukan itu terlepas, Lovey menjadi perhatian. Sedari Anjani menghilang, Lovey minim kata bahkan terkesan murung. Selalu menunduk saat berpapasan langkah dengan Mario. Namun, setelah akad berlangsung, Lovey sudah bisa tersenyum.


"Vey, selamat." Hanya itu yang mampu Mario katakan.


"Terima kasih, Mario. Kami berdua akan membantumu mencari Anjani setelah ini."


Mario tersenyum. "Nikmati saja dulu kebahagiaan kalian malam ini. Tapi mulai besok, suamimu ini harus menemaniku mencari Anjani."


"Anjani pasti akan segera ketemu dan akan terus berada di sisimu." Ken menepuk-nepuk bahu Mario, menyemangati.


Anggukan kecil dan senyuman tercipta. Keakraban Mario dan Ken begitu kentara. Akan tetapi, tidak berlangsung lama karena kehadiran Riko yang buru-buru menyela.


"Maaf-maaf. Sebelumnya saya ucapkan selamat. Sekalian saya langsung pamit karena ada perlu di luar kota," ungkap Riko dengan sopan seperti saat magang.


"Thanks, Rik. Semoga kamu dan Isabel segera menyusul."


Didoakan seperti itu, Riko auto salah tingkah. Memang, sejauh ini Ken sudah mengetahui perasaan Riko pada Isabel. Itu terjadi karena tempo hari Riko keceplosan di depan Ken.


"Pak-Pak. Saya juga pamit duluan, ya!" Marisa ikutan maju usai melihat Riko pergi.


"Penting, Pak. Riko sama Isabel mau keluar kota nggak ngajakin saya. Ya saya curiga dong. Udah dulu, ya Pak. Saya mau buntutin mereka."


Fix, Marisa ember. Selalu asal main lontar, padahal masih menjadi niatan dan belum tentu dugaannya benar.


Ken dan Lovey geleng-geleng kepala. Akan tetapi, tidak dengan Mario yang merasa ada yang aneh dengan keburu-buruan Riko dan Marisa.


Deg!


Apa ini ada hubungannya dengan Anjani? Batin Mario.


Tetiba saja pikiran Mario mengarah ke sana. Riko, Isabel, Marisa, mereka bertiga adalah teman baik istrinya. Ketiganya bahkan terburu-buru ke luar kota, meski tampaknya ada ketidakakuran di antara mereka.


Selama ini, usaha Mario dalam mencari Anjani hanya sebatas di area Jakarta, dan di tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Anjani. Namun, Mario tidak dapat menemukannya. Bahkan orang suruhan yang biasa baik kinerjanya pun tidak bisa melacak istrinya.


Jangan sia-siakan kesempatan sekecil apapun. Siapa tahu kepergian mereka memang ada kaitannya dengan Anjani. Baiklah, akan kubuntuti Marisa. Batin Mario lagi.


Mario tidak banyak menimbang. Lekas diwujudkan niatannya tanpa ada siapa pun yang jadi penghalang. Atas niatannya itu, Mario lebih dulu menjelaskannya secara singkat pada John, sang ayah. Tentu, John mendukung niatan Mario dengan mudah.


Dan .... Jadilah. Aksi buntut-membuntuti terlaksana juga. Mario membuntuti mobil Marisa. Marisa membuntuti mobil Riko dan Isabel. Sementara Riko dan Isabel sendiri membuntuti bus yang ditumpangi Bastian.


Dua jam pertama, semua berjalan baik-baik saja. Namun, semua berubah saat Bastian harus ganti bus. Jarang sekali terjadi, tapi berkat hal ini Bastian jadi tahu kalau ada yang membuntuti.


Mobil Riko begitu mencolok, dan sangat dihafal oleh Bastian. Dari sanalah Bastian langsung sadar bahwa telah dibuntuti oleh Isabel dan Riko. Lebih dari itu, dengan sedikit bermain drama, Bastian juga melihat mobil Marisa yang terparkir tak jauh dari mobil Riko. Hanya mobil Mario saja yang tidak disadari oleh Bastian.


"Adikku ini mau mata-matain aku rupanya. Untung ketahuan. Kalau nggak, kontrakan Anjani pasti ketahuan."


Bastian berpikir cepat. Tujuan pemberhentian pun diubah secepat kilat. Begitu bus kembali melaju, tak lama setelah itu Bastian turun sambil berpura-pura tidak tahu.


Bastian turun di tepi jalan. Sudah direncanakan pula setelah ini dia akan bertemu seorang teman. Tentunya bukan di daerah kontrakan Anjani. Bastian sengaja mengubah posisi agar keberadaan Anjani tidak banyak diketahui. Dalam kondisi Anjani yang masih sakit hati, Bastian benar-benar menjaga kenyamanan hati Anjani.


Berhenti di sebuah warung kopi. Itulah yang Bastian lakukan. Begitu kopi dipesan, tak lama kemudian datanglah kenalan Bastian. Ada yang dibawa oleh sang teman, yakni kamera DLSR bekas yang hendak dipinjam Bastian.


Dasarnya Bastian memang cerdik. Pertemuan dengan sang teman dibuat seolah-olah seperti COD barang. Usai berhasil meminjam kamera, Bastian mempostingnya di status pribadinya agar Isabel bisa membacanya.


"Yaah. Ternyata Kak Bas cuma CODan kamera bekas. Ternyata uangnya buat ini. Huft." Isabel merasa kecewa karena telah salah sangka.


"Tuh. Makanya, Bel. Harus berprasangka baik, terutama sama kakak. Jangan cemberut gitu, ah. Jelek !" ujar Riko.

__ADS_1


Isabel yang kecewa, hatinya tidak lapang menerima nasihat Riko. Bibir Isabel makin cemberut.


"Kamu ngatain aku jelek, Rik?! Oke, aku pulang sendiri naik bus!" Isabel turun dari mobil.


"Loh-loh, Bel. Duh, nih anak kayaknya lagi PMS deh. Baperan amat sih."


Isabel terus melangkah tanpa mengindahkan cegahan Riko yang menyejajari langkah. Kejadian itu begitu tak terduga oleh Marisa, hingga mobilnya pun tak sempat dihindarkan menjauhi dua sahabatnya.


"Marisa?" Isabel berhenti sebentar, kemudian berlarian menghampiri mobil Marisa.


Riko juga sama, ikut berlarian menuju mobil Marisa.


"Kok kamu ada di sini, sih?" tanya Isabel.


"Hehe, sorry ya Bel. Aku kepo sama kalian. Makanya kubuntutin." Marisa memilih jujur.


"Udah sana pulang, Ris! Gangguin aja, sih!"


"Kok kamu ngusir aku, sih Rik?!" Marisa tidak terima.


"Sudah kalian jangan ribut di sini. Marisa, aku pulang bareng kamu, ya. Tuh, Kak Bas, yang dari tadi kita buntutin ternyata cuma CODan kamera bekas." Isabel menunjuk warung kopi di ujung.


"Oh. Jadi yang kalian buntutin dari tadi itu Kak Bas." Marisa manggut-manggut.


"Yaudah yuk balik aja. Aku nebeng mobilmu, ya? Riko nggak asik!" Isabel menjulurkan lidah lantas masuk ke mobil Marisa.


Marisa oke-oke saja. Lagipula dirinya sudah tidak penasaran lagi karena telah mendengar penjelasan Isabel tentang Bastian dan kameranya.


"Jadi aku ditinggalin gitu aja, nih?" Riko berkacak pinggang.


"Suut! Isabel lagi PMS mungkin. Daa Riko! Aku duluan!" Marisa memelankan suaranya, kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya menuju mobilnya.


Mario menyaksikan semua itu dari kejauhan. Ada kekecewaan yang dirasakan. Kemungkinan yang dia maksudkan, rupanya tidak bersambut dengan pertemuan.


Getir, itulah yang Mario rasakan. Lekas tertunduk dan matanya pun terpejam. Usahanya gagal. Yang dibuntuti sedari tadi rupanya tidak sejalan dengan apa yang Mario harapkan.


Anjani sayang. Kamu di mana? Kumohon maafkan aku. Kembalilah. Demi anak kita. Kumohon .... Kumohon. Batin Mario menjerit pilu.


Merasa tak ada lagi yang bisa diharapkan dari aksi membuntuti barusan, mobil Mario pun dilajukan. Mario akan menyusun strategi lagi demi bisa secepatnya menemukan Anjani.


Sementara itu, Riko. Dia memperhatikan mobil Marisa pergi. Cukup lama dia berdiam diri, hingga kemudian menuju mobilnya lagi. Riko tidak baper, apalagi sampai sakit hati karena Isabel pergi. Riko begitu memaklumi.


Hanya saja, begitu mobil Riko baru dilajukan beberapa meter saja, mendadak ada niatan untuk pergi ke warung kopi yang sama dengan Bastian. Sekedar iseng dan siapa tahu bisa lebih dekat dengan calon kakak ipar. Begitu pikir Riko. Akan tetapi, hal lainnya pun terjadi.


"Loh, Kak Bas kok naik bus lagi ke arah sana sih? Bukannya harusnya ke arah sana, ya?" Riko terheran.


Merasa ada yang aneh, Riko pun membuntuti Bastian. Seorang diri dilakukan, dan kali ini dengan kehati-hatian. Riko begitu fokus pada bus yang dinaiki Bastian. Hingga kemudian bus itu pun sampai di terminal. Riko melihat Bastian berganti kendaraan.


Bastian naik ojek, itulah yang Riko lihat. Riko terus bersabar, menjaga jarak aman. Terus membuntuti Bastian tanpa ketahuan. Hingga kemudian sampailah mobil Riko di sebuah gang. Di sinilah Riko kehilangan jejak Bastian karena mobilnya terhalang oleh gerobak nasi goreng yang hendak menyebrang jalan.


"Waduh. Nanggung banget, sih. Kak Bas ilang deh!" Riko kebingungan.


Usai gerobak berpindah posisi, mobil Riko pun dilajukan kembali. Riko tengok kanan tengok kiri, tapi tidak ketemu juga yang dicari. Hingga kemudian, Riko melihat abang ojek yang tadi dinaiki Bastian.


Cepat-cepat Riko menuju arah yang diyakininya. Di bawah sebuah pohon besar, di situlah Riko memarkir mobilnya. Riko memilih jalan kaki, karena begitu yakin sudah dekat dengan tujuannya. Dan .... sosok cantik yang dilihat setelahnya sungguh tak pernah Riko duga.


"Anjani?" ucap Riko, lirih.


Riko menajamkan pandangan. Tak salah lagi, yang sedang bersama Bastian di teras depan saat ini adalah Anjani.


"Jadi selama ini Kak Bas yang nyembunyiin Anjani di sini?" Mendadak saja Riko kesal.


Riko melangkah mendekat. Semakin dekat. Terus mendekat. Dan ....


"Kak Bas! Rupanya kaulah dalang di balik semua kegaduhan ini!" seru Riko dengan emosi.


Deg!


Deg-deg-deg!


Anjani dan Bastian kompak menoleh. Keduanya sama-sama tidak menyangka dengan kehadiran Riko yang tiba-tiba. Lalu, apa yang akan terjadi usai Riko melontarkan tuduhannya? Nantikan lanjutannya, ya!


Bersambung ....


LIKE-nya dong 😉 Jika suka, silakan rekomendasikan novel ini ke teman, saudara, atau pacar halal kakak-kakak pembaca ya. Biar author makin bahagia karena pembacanya bertambah. Hehe, maunya 😄


Cinta Strata 1. dari sanalah kisah Mario-Anjani bermula. Jika berkenan, baca juga ya. Eits, kepoin sahabat baiknya Anjani juga. Ada Meli di Jogja dalam novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Kepoin dan dukung kami, ya. Salam Luv luv luv buat semuanya deh 💙💙


***

__ADS_1


__ADS_2