
Mobil Riko menelusuri jalanan beraspal. Tidak dengan kecepatan tinggi, karena Ma tidak suka kebut-kebutan. Riko akan ditegur Ma saat menaikkan kecepatan laju mobilnya.
Bastian tidak hanya duduk diam. Sesekali dia membuat beberapa obrolan. Hanya percakapan basa-basi, tapi cukup untuk lebih mengakrabkan diri dengan ibu kandung Anjani.
"Kenapa pula sekarang malah kepikiran HP, ya? Ckck. Untungnya bukan HP mahal. Haha. Kasian juga yang ambil tuh HP." Ma teringat smartphone miliknya yang tertinggal dan hilang di toilet saat separuh perjalanan menuju kontrakan Anjani.
"Ma, sebaiknya lain kali sebelum berpergian jauh pipis dulu ya. Biar nggak berhenti di tengah jalan kayak tadi." Riko cari gara-gara.
"Hei kau! Tak pernah mendadak pengen pipis ya?" seru Ma, melontarkan tanyanya.
"Ya pernah sih. Hehe." Riko cengar-cengir.
"Baguslah. Itu artinya kau manusia. Untung tak sampai pipis di celana," jawab Ma dengan santainya.
Jawaban Ma membuat Riko dan Bastian kompak saling lirik. Sejurus kemudian, Riko memberi kode agar Bastian mencari topik obrolan.
"Ibu tadi sudah makan belum?" tanya Bastian.
"Jangan kau panggil ibulah. Dari tadi kau panggil ibu. Panggil Ma saja. Kau juga!" Ma menunjuk Riko juga.
"Iya, Ma. Sudah makan belum?" Bastian mengulang tanya.
"Ya belumlah. Begitu sampai di bandara, aku pecel dulu menantuku yang tampan itu. Untung dia menantuku. Kalau bukan pasti sudah kubikin rujak."
Lagi-lagi Riko dan Bastian saling lirik. Mereka berdua kurang paham dengan apa yang dikatakan Ma barusan. Mau ketawa takut dosa, khawatir dikira tidak menghargai orangtua berbicara. Alhasil, Rikolah yang berinisiatif membuat obrolan lainnya. Namun, urung dilakukan karena Ma lebih dulu memberi perintah.
"Rikorik, dekat kontrakan putriku ada pasar tak?" tanya Ma
"Nama saya Riko tanpa rik, Ma. Iya, ada kok. Mau mampir dulu?" Riko bisa menebak keinginan Ma.
"Iya. Antar Ma ke sana, ya. Mau borong beberapa sayur buat putriku tercinta itu. Pasti dia kurusan."
"Anjani masih terlihat berisi kok, Ma." Ungkap Bastian.
"Eh, gimana kau itu? Ya jelas Anjani berisi. Isi bayi tuh perutnya. Cucuku!"
Bastian auto tersenyum canggung. Semua topik yang dibuatnya tak lagi asyik jadinya. Bastian menduga bahwa Ma sedang lelah pikirannya. Wajar saja, baru datang Ma langsung menasihati Mario habis-habisan. Setelahnya, saat mobil Riko separuh jalan menuju kontrakan, Ma kebelet pipis dan kehilangan HPnya. Ditambah lagi sekarang Ma kepikiran Anjani yang dikira agak kurusan.
"Ma, nanti jalan-jalan yuk!" ajak Riko tiba-tiba.
"Jalan kaki maksudnya? Ogah! Capek pula nanti. Kau saja yang jalan sama Basbas."
"Maaf, Ma. Nama saya Bastian." Bastian sopan meluruskan kemudian menoleh ke arah Riko untuk meminta penjelasan.
"Rik, mau ngapain sih?" tanya Bastian.
"Jalan-jalanlah, Kak. Deket kontrakan Anjani saja. Sekalian ajak Anjani. Biar agak fresh pikirannya." Riko mengambil jeda, kemudian mendekatkan diri ke arah Bastian. "Sst, kita buat Anjani ketawa," imbuh Riko.
Bastian langsung mengiyakan. Tentu saja Bastian ingin melihat Anjani tertawa bahagia.
"Hei, Rikorik, Basbas.Tak baik bisik-bisik ada orangtua macam Ma."
Riko dan Bastian spontan meminta maaf pada Ma. Setelahnya, tak ada lagi obrolan di antara mereka. Yang Bastian dan Riko lakukan adalah mendengarkan cerita Ma tentang Anjani semaca kecilnya. Ada senyum, tawa, dan ada terharunya juga saat Riko dan Bastian mendengar kisah masa lalu Anjani saat di desa.
Hampir mendekati arah terminal. Mobil Riko memelan karena Ma terus mengingatkan untuk mampir dulu ke pasar. Pasar yang tak jauh dari arah terminal menjadi pilihan. Bastianlah yang disuruh Ma untuk ikut turun membeli beberapa bahan makanan.
Setengah jam saja Ma dan Bastian berbelanja. Tak ingin berlama-lama lagi, mereka bertiga pun pergi ke kontrakan Anjani. Sayangnya saat mereka tiba di sana, Anjani sedang tidak berada di kontrakannya.
"Basbas, kau yakin ini kontrakan putriku?" tanya Ma.
"Iya, Ma. Saya sama Riko sudah pernah ke sini sebelumnya."
"Haaaa! Mungkinkah?" sahut Riko.
Ma dan Bastian kompak memperhatikan Riko yang tengah membuat serius mimik wajahnya.
"Mungkinkah Anjani kabur lagi?" imbuh Riko.
Deg!
Jantung Ma berdegub kencang. Sedangkan Bastian menampilkan mimik tegang. Baik Ma ataupun Bastian tidak sampai kepikiran bahwa Anjani akan meninggalkan kontrakan.
Menit berikutnya, ketika kekhawatiran masih melanda Ma, Riko, dan Bastian, dari arah kejauhan tampak Anjani tengah berjalan perlahan. Anjani belum sadar dengan kehadiran Ma, Riko, dan Bastian. Ketika langkah sudah semakin dekat, barulah Anjani kebingungan.
"Ma?" Anjani kaget melihat Ma.
Anjani tahu sekali bagaimana watak Ma. Ibu kandung Anjani itu pasti akan menasihati Anjani habis-habisan, apalagi Anjani sama sekali tidak memberi kabar.
Di luar dugaan. Ma tidak menampilkan wajah geregetan. Air mata Ma justru tampak berlinang. Ma berdiri, terdiam di teras kontrakan. Tak lama kemudian, kedua tangan Ma melebar, tanda bahwa Ma mengharap sebuah pelukan.
Tes!
Air mata Anjani terjatuh. Dadanya sesak seketika itu. Rindu dan rasa bersalah bercampur jadi satu. Anjani tahu, kaburnya adalah keliru. Tak seharusnya Anjani melakukan itu. Namun, apalah daya hati Anjani yang saat itu begitu rapuh. Tak mampu menahan rasa sakit yang teramat pilu.
Dengan tetap melangkah perlahan, Anjani menuju Ma sambil memegangi perutnya yang terlihat besar. Dibiarkannya air mata berlinang membentuk jejak tangisan. Satu pelukan diberikan, Anjani pun memeluk Ma, menyalurkan semua kerinduan.
Saling memeluk, mencurahkan kasih dan kerinduan. Itulah yang Anjani dan Ma lakukan. Bastian dan Riko yang melihat itupun sampai ikut terharu. Kompak mengalihkan pandang agar tidak ikut larut dalam tangisan.
Pelukan terlepas. Anjani dan Ma kini saling senyum dan menghapus jejak tangis mereka.
"Anjani, kau itu betul betul yaaa!" Ma mencubit pelan hidung Anjani. "Hobi betul kau main kabur-kaburan, Nak. Dulu mau Ma jodohkan sama Juno, kau kabur ke kota. Di kota ketemu Mario, nikah, malah sekarang kabur dari suami kau." Ma menarik pelan lengan Anjani agar duduk di kursi teras.
"Maafkan Anjani, ya Ma."
Hanya itulah yang mampu Anjani katakan. Sejujurnya Anjani tak sanggup menceritakan ulang kejadian yang hingga kini masih sering membayang. Khususnya video skandal, itulah yang lebih sering membuat Anjani menangis tanpa bisa ditahan.
"Sudah-sudah. Jangan sedih gitu muka kau! Ma sudah tau semua ceritanya. Kontrak sama video, Ma sudah tau semuanya"
__ADS_1
Anjani mengangkat wajahnya. Sedikit terkejut karena Ma sudah tau semuanya.
"Basbas, Rikorik. Sana masuk ke dalam dulu. Ma mau ngobrol dulu berdua."
"Maaf, Ma. Kuncinya?" Riko menunjuk pintu yang masih tertutup rapat.
"Biar Anjani buka dulu, Ma. Kita ngobrol di dalam saja. Kak Bas sama Riko tunggu di ruang tamu saja, ya. Aku sama Ma mau naruh ini dulu." Anjani mengambil salah satu kresek berisi sayuran yang tadi dibeli Ma.
Sementara Bastian dan Riko duduk menunggu di ruang tamu, Anjani dan Ma menuju dapur kontrakan. Di dapur, Anjani bilang bahwa dirinya baru saja dari bidan. Cek kandungan dan konsultasi tentang perkiraan lahiran. Ya, Anjani datang sendirian, dan itu dilakukan dengan penuh ketegaran.
Di dapur, Anjani juga sedikit menyinggung permasalahannya dengan Mario. Hanya sedikit cerita, karena jika terlalu detil Anjani khawatir air matanya akan tumpah.
"Jadi kau izinkan suami kau nikah pakai kontrak, ha? Apa kau punya niat nyemplung neraka juga? Main-main sama pernikahan itu dosa, Nak. Tak boleh. Kau paham tak?" Ma serius menasihati.
Anjani tertunduk, kemudian menjelaskan bahwa mulanya dia pun tak tahu dasar hukumnya. Keputusan yang diambil Anjani saat itu pun dapat dikatakan keputusan tergesa, karena tak sampai hitungan menit keputusan itu tercipta.
"Sebelum makan saja kita harus berdoa. Tak boleh pula terburu-buru. Tersedak pula kau nanti. Itu hal sederhana. Makan. Ada aturannya. Apalagi hal besar seperti pernikahan."
Anjani hanya mampu menunduk, sambil sesekali mengiyakan dan minta maaf pada Ma.
"Nasihat Ma sama seperti suami kau. Jangan lagi tergesa. Pikir matang. Jika bimbang musyawarahkan. Kau punya keluarga, Nak. Kau bisa minta pendapat tanpa bercerita detil permasalahan. Paham kau?" Ma terus menasihati.
Anjani mengangguk, lantas memeluk. Berulang kali Anjani melontarkan kata maaf pada Ma.
"Istighfar kau, Nak!" perintah Ma sambil membalas pelukan.
Anjani terus mengangguk, tapi kali ini dia beristighfar. Dan .... Air mata pun kembali mewarnai keadaan.
Menit berikutnya, Ma membiarkan Anjani menenangkan dirinya. Segelas air putih diambil, lantas diberikan pada putri semata wayangnya. Begitu tenang, Ma menyuruh Anjani membantu memasak dan membuatkan minuman untuk Riko dan Bastian.
Saat itulah Ma menceritakan kronologi hingga sampai di kontrakan. Anjani terkejut saat tahu HP Ma hilang.
"Kalau ayah bingung nyariin Ma, gimana?" Anjani khawatir juga.
"Tak ingin ayah kau bingung? Ayo pulang sekarang!" ajak Ma.
Deg!
Ajakan Ma membuat Anjani tak mampu membalas kata. Sungguh, Anjani masih belum siap bertemu suaminya. Adegan video sang suami dengan Lovey masih jelas membayang di benaknya, membuat rasa sakit hati hingga kecewa masih betah bertahta.
Anjani menggeleng. "Maaf, Ma. Anjani masih ingin di sini. Tolong tetap rahasiakan dari Mario, ya Ma." Anjani dengan nada lirihnya serius meminta.
"Terus mau sampai kapan kau menghindar? Anak kau dalam perut butuh ayah. Ingat itu, Nak. Maafkan sajalah. Utuhkan lagi rumah tangga kau. Belum terlambat, Nak."
Terdiam. Anjani berpikir begitu dalam. Kata-kata Ma memang benar. Itulah yang beberapa hari ini Anjani pikirkan. Namun, Anjani masih belum bisa melakukan.
Kembali Anjani menggeleng. "Tidak untuk saat ini, ya Ma. Anjani ingin sendiri dulu di sini."
Menarik nafas dalam, Ma memperhatikan betul keseriusan di wajah Anjani. Ma tidak ingin mendesak, memaksa, apalagi sampai membuat Anjani menitihkan air mata. Ma memahami hati Anjani. Untuk sementara, Ma akan menuruti keinginan sang putri.
"Baiklah. Perlahan saja. Tapi kau tak boleh sendirian di sini. Ma akan temani sampai kau mau menemui Nak Mario lagi."
Anjani mengangguk. Dia setuju Ma menemaninya tinggal di kontrakan. Akan tetapi, ada satu hal yang menjadi kekhawatiran.
"Ayah bagaimana, Ma?"
"Biar kusuruh Basbas sama Rikorik buat kasih tau ayah kau."
"Jangan, Ma. Nanti kalau Mario tau aku di sini, pasti dia ke sini. Anjani belum siap ketemu Mario, Ma."
Kembali Ma memperhatikan keseriusan di wajah Anjani. Lagi-lagi, Ma berusaha memahami. Akhirnya, Ma memutuskan untuk menuruti keinginan Anjani. Ma ikut-ikutan merahasiakan posisi Anjani. Lagipula, Ma dalam kondisi kehilangan ponselnya, dan Ma sama sekali tidak hafal nomor ponsel suaminya. Jadilah, kebingungan Mario dan suami Ma dapat dipastikan akan berlanjut hingga yang menjadi rahasia rela untuk dibuka.
Anjani menuju ruang tamu usai obrolan. Dia membawa nampan berisi dua gelas minuman untuk Riko dan Bastian.
"Kak Bas, Riko. Maaf merepotkan kalian. Jangan pulang dulu, ya. Ma ingin kalian makan di sini."
Riko dan Bastian mengiyakan. Sekalian saja Bastian mengutarakan keinginan untuk mengajak Anjani jalan-jalan. Awalnya Anjani menolak, karena enggan. Namun, Bastian terus membujuk hingga akhirnya Anjani pun bersedia.
"Ke taman dekat sini saja ya Kak. Agak sorean saja biar nggak panas," pinta Anjani.
"Oke. Aku setuju. Sekarang, aku sama Riko boleh bantu Ma masak nggak?"
"Boleh, Kak. Silakan."
"Kok aku juga sih Kak? Capek nih habis nyetir." Riko protes.
"Kalau nggak mau, nanti nggak dapat jatah makan!" Usai berkata demikian, Bastian melangkah menuju dapur kontrakan.
Anjani tertawa pelan. Sudah mulai terbiasa dengan keributan yang Riko dan Bastian lakukan.
"Anjani, ayo kamu ikutan juga ke dapur. Kamu bagian icip-icip aja, ya." Riko akhirnya bersedia juga ikut ke dapur.
"Iya, ayo!"
Tidak ada lagi pembahasan tentang permasalahan. Anjani, Ma, Riko dan Bastian masak di dapur sambil sesekali membuat candaan. Sengaja suasana dibuat demikian, karena Bastian ingin melihat senyum Anjani mengembang.
***
Pukul setengah empat sore, taman di area dekat kontrakan menjadi tujuan. Ada beberapa anak kecil, tua muda, dan abang penjual di sana. Tidak terlalu ramai, tapi sudut sudut taman ditempati beberapa orang.
Bastian usul mengambil tempat di tengah taman. Selain ada air mancur, bunga-bunga di tengah taman dirasa mampu menyegarkan pandangan. Ada ayunan dan jungkat-jungkit pula tak jauh dari bangku taman. Terlihat sepi, karena beberapa pengunjung taman memilih bercengkrama dan foto-foto bersama pasangan.
"Anjani, kau mau taku kres atau jagung rebus?"
"Jagung rebus aja, Ma. Anjani suka."
"Yaudah. Kau duduk sini bentar. Biar Ma belikan. Rikorik, kau ikut Ma. Biar Basbas yang nunggu di sini. Eh, Basbas. Kau tegur saja Anjani kalau dia melamun, ya."
__ADS_1
"Iya, Ma."
Disuruh menemani Anjani, tentu saja Bastian melakukannya dengan senang hati. Bastian pun langsung duduk di bangku yang sama dengan Anjani, tapi tetap berjarak karena sadar status diri.
"Sudah lebih tenang?" tanya Bastian, mencari topik obrolan.
Anjani tidak berkata. Hanya mengangguk kemudian tersenyum. Tak lama kemudian, Anjani menoleh. Sebuah tanya dilontarkan pada Bastian.
"Apa Kak Bas yang menghubungi, Ma?"
"Iya. Maaf, ya. Aku hanya ingin ada yang menemanimu di kontrakan," ungkap Bastian.
Anjani tersenyum, kemudian mengubah pandang ke arah air mancur taman.
"Tidak apa-apa, Kak. Justru aku yang harusnya berterima kasih. Kak Bas selama ini begitu perhatian pada kondisiku di sini."
Usai berkata demikian, Anjani tersenyum. Dan ... Bastian melihat senyuman itu.
Deg-deg Deg-deg
Senyum Anjani memabukkan. Jantung Bastian sampai berdebar-debar. Dasar hati Bastian yang memang menyimpan perasaan. Hingga kini pun Bastian tak sanggup mengabaikan debaran.
Sesekali Bastian sadar tentang status Anjani yang sudah memiliki suami. Akan tetapi, itu hanya sesekali. Bastian seringkali lupa, bahkan pura-pura lupa. Bastian teramat menikmati perasaannya, meski yang demikian dapat menimbulkan percikan dosa.
Deg-deg Deg-deg
Jantung Bastian terus berdebar. Pandangan mata Bastian bahkan tak sanggup teralihkan. Terus memperhatikan Anjani yang tengah tersenyum melihat air mancur taman. Terlihat maniiisss sekali di mata Bastian.
"Kak."
Anjani menoleh, membuat Bastian kelagapan dan lekas memperbaiki pandangan.
"Iya?"
"Terima kasih, ya?" Anjani terus tersenyum.
Bastian membalas senyum itu. Tak begitu lama, Bastian pun mengangguk pelan.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa membantumu," imbuh Bastian dengan penuh ketulusan hati.
Terdiam. Anjani dan Bastian terdiam. Keduanya dalam posisi saling tatap dan senyum yang mengembang. Bastian menatap Anjani dengan penuh cinta. Seolah tengah menyalurkan rasa yang sejak awal tak sanggup terungkapkan karena status Anjani adalah istri orang.
Ya, itulah yang saat ini Bastian lakukan. Terus menatap Anjani dengan penuh cinta kasih. Akan tetapi, maksud tatapan Anjani tidaklah sama dengan Bastian. Anjani tengah mencari kebenaran lewat tatapan mata terdalam. Dan ... Anjani pun yakin bahwa Bastian melakukan semua kebaikan itu atas dasar perasaan.
"Maaf," ucap Anjani kemudian.
Dahi Bastian sedikit berkerut. Agak terkejut karena maaf yang Anjani sebut.
"Maaf? Untuk apa?"
"Maaf, karena aku tidak bisa membalas perasaan Kak Bas."
Deg!
Jantung Bastian memang masih berdebar-debar. Namun, ada rasa lain yang nenelusup membubuhkan panah yang menghujam. Bukan panah asmara, melainkan panah yang membuat hati jadi patah-patah.
Bastian menelan ludah, kemudian tetap berusaha tersenyum meski ada rasa lain di dada.
"Maksudnya?" Bastian berpura-pura tidak mengerti.
"Aku tau Kak Bas menyukaiku."
Deg!
Rasa di dada Bastian makin cekit-cekit. Rasanya kini semakin sakit. Bastian sama sekali tidak menyangka akan kesinilah alur pembicaraan mereka berdua.
"Kamu tau, ya?" Bastian tidak menutup-nutupi lagi. Dirinya telah sadar bahwa Anjani begitu peka pada sebuah rasa.
"Iya, aku tau. Terima kasih atas perhatian dan perasaan Kak Bas. Maaf, aku sungguh tidak bisa membalasnya."
Anjani semakin menegaskan, dan itu membuat Bastian semakin tidak memiliki harapan.
"Maaf, Kak."
Bastian berusaha tegar. Tak ingin terlihat rapuh hanya karena perasaan.
"Aku mengerti." Bastian tersenyum. Terlihat manis yang ditunjukkan, tapi terasa getir di dalam.
Ada canggung antara Anjani dan Bastian usai penolakan. Lantaran Bastian tak ingin Anjani kepikiran, Bastian pun lekas memulai obrolan yang menjurus pada jalan damai atas perasaan yang sudah mengalami penolakan.
"Anjani, bisakah kita tetap berteman setelah ini?"
Anjani mengangguk. "Tentu saja, Kak."
"Terima kasih. Em ... sebentar. Aku susul Ma dulu, ya. Sepertinya Ma dikerjain sama Riko tuh di sana." Bastian menunjuk Ma dan Riko yang seperti sedang main tebak-tebakan di dekat penjual jagung rebus.
"Iya, Kak. Aku tunggu di sini saja, ya."
Bastian mengangguk, tersenyum, lantas melangkah perlahan menghampiri Ma dan Riko. Sejujurnya Bastian hanya sedang mencari alasan. Jujur, penolakan tanpa lebih dulu membuat pernyataan membuat hati Bastian dipenuhi retakan-retakan. Patah hati, itulah yang Bastian rasakan saat ini.
Perlu waktu untuk bisa move on darimu, Anjani. Tapi aku tetap akan melanjutkan misiku. Menjagamu sampai kau mau kembali pada suamimu. Batin Bastian.
Bersambung ....
Mohon dukungannya untuk author dan novel ini, ya. LIKE dan KOMENTARI, yuk! 😉
Part Anjani kabur saat mau dijodohkan, itu ada di novel Cinta Strata 1. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kepoin, ya. Merapat juga ke Jogja, yuk. Ada sahabat baiknya Anjani di sana. Capcus ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Mohon dukungannya untuk kami.
__ADS_1
Salam Luv-Luv 💙
***