
Rumit. Keadaan menjadi lebih sulit diartikan. Usai perdebatan panjang, Mario dan Lovey sama-sama sadar telah masuk ke dalam jebakan. Sosok pembuat ulahlah yang kini sama-sama mereka pikirkan.
"Em, Mario. Sebelumnya aku minta maaf yang barusan. Aku ...." Lovey tak sanggup meneruskan kalimatnya karena malu atas kikisan yang telah dipaksakan sepihak olehnya.
"Jangan dibahas lagi. Aku juga salah mengartikan pertanyaanmu tadi."
"Aku ... malu padamu. Barusan aku begitu menikmati aksiku. Maaf." Semakin dalam Lovey tertunduk.
Mario tidak menyahuti. Yang dilakukan adalah mengedarkan pandang ke sekitar. Memang telat dilakukan, tapi Mario lega karena keadaan sekitar aman. Tidak ada orang.
"Simpan lagi yang barusan, Vey. Rahasiakan. Jangan dibahas-bahas lagi di depan siapa pun. Mengerti?" Sejujurnya Mario juga khawatir. Apalagi saat Lovey melakukan aksi, Mario begitu lemah karena terbuai aroma body mist yang mengingatkannya pada pesona Anjani.
"Iya. Aku mengerti." Lovey mengangguk tanpa berani menatap Mario lagi.
Jeda sebentar. Baik Mario ataupun Lovey sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Keduanya sama-sama sadar tentang jebakan seseorang. Hanya saja nama orang itu tidak terpikirkan. Hingga saat Mario teringat lagi dengan kekasih Lovey, barulah tebakan dimulai.
Mungkinkah ini semua ulah Dewangga? Jika iya, apa motifnya? Mario menebak-nebak.
"Vey, tentang kekasihmu itu, di mana kau mengenalnya?"
"Dia pebisnis juga. Sempat bertemu sebentar saat perjalanan bisnis di luar negeri waktu itu."
Deg!
Ingatan Mario ternyata tidak salah. Kekasih Lovey saat ini adalah lelaki yang dulu dilihatnya bersama Dewangga. Meski belum tahu kebenarannya, tapi Mario sudah bisa mencium aroma sebuah permainan. Mario yakin sekali, cinta yang ditawarkan si lelaki pada Lovey hanyalah sebuah dalih dan menyimpan maksud tersembunyi.
"Vey, maaf aku harus mengatakan ini. Sebaiknya lekas kau sudahi hubunganmu dengan kekasihmu itu."
"Ha? Kenapa memangnya?" Lovey berani menatap Mario kali ini. Tidak lagi malu seperti tadi.
"Aku rasa dia tidak baik untukmu."
Lovey menatap Mario tajam. Hilang sudah rasa malu apalagi perasaan bersalah yang tadi sempat dirasakan. Lovey tidak terima kekasih yang dipilihnya dinilai tidak baik.
"Tau apa kamu tentang kekasihku?! Jelas-jelas dia jauh lebih baik daripada Ken yang hanya memainkan perasaanku!" tegas Lovey.
Deg!
Perkataan Lovey yang keras, terdengar jelas. Bukan hanya oleh Mario, tapi juga oleh Ken yang sedari tadi menguping di balik pintu. Ya, sedari tadi Ken menguping pembicaraan Mario dan Lovey. Sayangnya, Ken mulai menguping saat Mario menyinggung kekasih Lovey. Aksi panas sebelumnya, beserta perdebatan tentang body mist dan suratnya, Ken tidak mengetahuinya.
"Kekasih pilihanku jauh lebih berani menyatakan cinta, daripada Ken yang hanya PDKT saja tapi di belakang itu juga mendekati Marisa."
Lovey semakin menegasnya, sedangkan Ken yang mendengar hatinya semakin tak karuan. Mario, ah ... dia berhasil dibungkam. Mario tidak memiliki kata balasan. Posisi Ken memang salah, dan fakta tentang kekasih Lovey yang mengenal Dewangga, Mario sendiri tidak memiliki bukti apapun tentangnya. Alhasil, untuk sementara ini Mario memilih untuk mengalah.
"Maaf. Aku tidak berniat menjelekkan kekasihmu. Tapi, kuharap kau bisa memikirkan baik-baik kata-kataku barusan." Mario memang mengalah, tapi tetap bertahan memberi saran.
Lovey tidak menanggapi. Yang dia lakukan justru balik badan, kemudian masuk ke dalam kamar.
Blam!
Pintu tertutup. Keadaan pun semakin carut marut. Masalah perusahaan belum terselesaikan, perdebatan lain muncul tanpa bisa dihindarkan. Kini, Lovey tengah menata emosi di dalam kamar. Ken dengan rasa penyesalannya, juga tengah menata hati. Sedangkan Mario, hati dan pikirannya tetiba dipenuhi Anjani. Dia merasa bersalah karena telah kembali mengulang kesalahan, dan lagi-lagi harus merahasiakan.
***
"Kau keren sekali, Bro!" puji Ken usai menemui pimpinan perusahaan.
"Jangan berlebihan memujiku, Ken. Perusahaan tidak boleh merugi hanya karena sabotase distribusi."
"Kau benar. Ayo makan siang dulu! Dari tadi aku nahan lapar gara-gara kepikiran ini doang!"
"Ayo!"
Makan siang berjalan lebih tenang. Tidak ada candaan seperti yang biasa Ken lakukan. Memang, usai berhasil bernegoisasi dengan pimpinan perusahaan, mimik wajah Ken tampak girang. Akan tetapi, kini wajah Ken kembali masam. Sama seperti tadi saat Ken mengetahui Lovey memiliki kekasih.
"Masih menyesal?" tanya Mario usai makan.
"Sedikit."
Mario memperhatikan Ken. Jarang-jarang sahabatnya itu menampilkan mimik wajah masam seperti saat ini. Secara tidak langsung, Ken telah patah hati. Namun, yang lebih dominan terasa di hatinya adalah rasa penyesalan.
"Jangan lama-lama, Ken. Aku tidak suka melihatmu murung seperti itu."
"Hem," sahut Ken dengan nada malas.
__ADS_1
Mario menyodorkan jus alpukat bagiannya. Berharap wajah Ken akan lebih cerah. Nyatanya, meski jus alpukat telah tandas isinya, wajah Ken tetap sama masamnya.
"Bro, masalah perusahaan kan sudah beres. Jadi kapan kita pulang?"
"Besok saja. Aku masih ada janji temu, dan kau harus temani aku."
"Oke. Terserah kau saja."
Drrt drrt.
Panggilan suara masuk dari Lovey. Mario lekas menerima tanpa menunda-nunda lagi.
"Mario kau benar. Kekasihku hanya mengincar hartaku dan perusahaan," ungkap Lovey via telepon.
Tak ada salam. Tak ada basa-basi pula di awal panggilan. Lovey langsung ke inti pembicaraan, dan seketika membuat Mario tercengang.
"Vey, di mana kau sekarang?"
"Aku di parkiran hotel. Akan kumaki habis-habisan dia!"
Nada Lovey terdengar penuh amarah. Mario jadi khawatir Lovey akan berbuat nekat pada kekasihnya.
"Tunggu. Jangan pergi dulu. Aku ke tempatmu sekarang!"
Mario lekas mengakhiri panggilan usai jawaban singkat yang Lovey iyakan.
"Ikut aku, Ken!"
"Kapan?"
"Sekarang! Cepat!"
Ken yang belum tahu masalahnya, hanya bisa menurut saja. Terus mengekori langkah Mario tanpa banyak bertanya.
Saat sampai di parkiran hotel, Mario dan Ken mendapati Lovey menangis sesenggukan di dekat pintu mobilnya. Penjelasan singkat dari Lovey membuat Mario dan Ken tahu apa yang telah terjadi pada Lovey dan kekasihnya.
Lebihi bagianku 10% dari kesepakatan jika aku berhasil menikahi Lovey kurang dari sebulan. Begitulah bunyi pesan salah kamar yang dikirim oleh kekasih Lovey.
Lovey juga sudah menelepon kekasihnya, dan alasan yang dibuat sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat. Tampak jelas kekasih Lovey kelagapan memberi alasan. Seketika itu Lovey semakin paham bahwa cinta yang ditawarkan hanyalah sebuah jembatan untuk menguasai harta dan perusahaan warisan.
Ken hendak menghampiri Lovey, menenangkan hatinya, tapi Ken tidak memiliki nyali untuk melakukannya. Alhasil, Mariolah yang maju menenangkan Lovey tanpa menunggu lama.
"Jangan sakiti dirimu, Vey!" Mario menahan dua tangan Lovey agar tidak terus memukul pintu mobil.
"Lepas!"
"Akan kulepas jika kau tenang!" tegas Mario.
Lovey justru semakin menangis sesenggukan. Tak disangka-sangka Lovey justru menghambur memeluk Mario.
Ken kaget melihatnya. Ingin memisah tapi siapa dirinya.
"Vey-vey! Kumohon jangan seperti ini Vey! Tenangkan dirimu!" Mario tegas kali ini. Dia melepas pelukan Lovey.
"Ken, tolong ambilkan tisu dan minuman di mobil Lovey!" perintah Mario.
Ken menurut. Lekas diambilkan apa yang diperintahkan. Lebih dulu tisu yang diberikan, Ken melihat Lovey menatapnya sekilas sebelum akhirnya membuang pandang.
Tak lama kemudian, kekasih Lovey menelepon. Tanpa ada yang meminta, Lovey mengaktifkan mode loudspeaker agar Ken dan Mario mendengar langsung.
"Lovey sayang, kenapa kau minta putus?" Kekasih Lovey mengawali panggilan dengan tanya.
"Kukira tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Hubungan kita memang tidak seharusnya ada dari awal."
"Hei. Kau harus tetap menjadi kekasihku. Aku tidak mau melepasmu. Kau harus menikah denganku. Jika tidak ...."
"Jika tidak apa? Kau mau mengancamku?"
"Hahahaa. Untuk apa aku mengancammu, Sayang. Aku akan tetap jadi kekasihmu selama statusmu masih sama. Tidak ada yang mau menikahi wanita sepertimu kecuali aku."
"Dasar kau gillaaaa! Kita putus!"
Lovey mengakhiri panggilan. Kesal, geregetan, ingin terus melontar makian, itulah yang Lovey rasakan. Akan tetapi, perasaan itu lekas menjadi kekhawatiran. Pikiran Lovey jauh melayang menuju beberapa waktu silam, saat Mario menyelamatkannya malam-malam, memberi donor, hingga terciptalah sebutan hutang. Lovey teringat aksi sang paman yang nekat menyewa orang demi bisa menguasai harta warisan.
__ADS_1
"Bagaimana jika kekasihku nekat seperti pamanku dulu," ucap Lovey.
Mario dan Ken saling pandang. Mereka telah mendengar jelas penuturan kekasih Lovey barusan, dan kini baik Mario ataupun Ken sama-sama melihat wajah khawatir yang Lovey tunjukkan.
"Vey, tenang! Lebih baik kau istirahat dulu. Biar kutelponkan sekretarismu untuk membantumu di sini."
Lovey pun menggangguk. Setuju dengan itu. Sementara Lovey mulai melangkah menuju ke kamar hotelnya, Mario meminta Ken untuk membuntuti Lovey. Hanya untuk memastikan bahwa Lovey benar-benar kembali ke kamarnya.
"Kenapa harus aku, sih?" bisik Ken.
"Cukup buntuti saja dari belakang, Ken. Cepatlah. Aku hubungi sekretaris Lovey dulu."
"Oke."
Dan ... Mario pun sibuk sendiri. Awalnya sekretaris Lovey tidak bisa datang dalam waktu cepat. Namun, keputusan itu lekas berubah usai Mario sedikit berbagi cerita tentang kondisi Lovey dan kekasihnya. Berhasil, sekretaris Lovey juga tidak mau terjadi apa-apa dengan bosnya.
***
Malam hari pun tiba. Sejauh ini, semua berjalan dengan semestinya. Mario mulai bisa melihat Ken tertawa, tidak sepenuhnya masam seperti sebelumnya. Sekretaris Lovey juga sudah menghandle masalah perusahaan. Tentunya tidak sendirian. Ada Lovey yang masih bisa menggunakan pikiran jernih demi perusahaan, meski hatinya sedang patah-patah karena ulah kekasihnya.
Pukul delapan malam, Mario memenuhi permintaan Lovey untuk bertemu di restoran dekat hotel. Mario sendirian, tidak bersama Ken. Lovey pun tampak duduk sendirian, tidak bersama sang sekretaris yang biasa diandalkan.
"Maaf memintamu menemuiku malam-malam."
"Ada apa, Vey?"
Lovey tidak langsung menjawab. Bola mata Lovey justru menatap Mario lekat. Ada rasa khawatir dan ketakutan yang hendak Lovey bagikan. Lovey tidak ingin sendirian, apalagi jika sampai kejadian malam itu terulang.
"Mario, maukah kau menolongku sekali lagi seperti malam itu andai ada yang berniat mencelakaiku?" Pertanyaan Lovey terucap dari hati. Ada rasa trauma yang membuat Lovey gelisah seperti saat ini.
Terdiam. Mario berusaha memahami isi hati Lovey saat ini. Jelas sekali tergambar di wajah Lovey rasa takut yang mendalam. Wajar, kejadian malam itu pastilah menyisakan rasa tidak nyaman.
"Usai kejadian malam itu, aku sudah memberimu saran untuk segera menikah agar ada yang menjagamu, Vey."
"Tapi kau tahu sendiri, Mario. Tidak ada yang serius mencintaiku. Ken hanya main-main saja, sementara kekasih pilihanku hanya mengincar harta. Semua itu membuatku tidak percaya lagi dengan yang namanya lelaki. Kecuali ...."
Lovey menelan ludah, seolah tengah memantapkan hati untuk mengatakannya. Meski Lovey tahu ini salah, tapi Lovey tetap harus mengatakannya.
"Kecuali apa?"
"Kecuali dirimu. Aku hanya percaya padamu, Mario. Makanya waktu itu aku bilang kalau aku rela jadi istri keduamu. Itu pun jika kamu mau."
"Aku mencintai Anjani, Vey."
"Ya. Benar. Itulah faktanya. Dan ... aku sama sekali bukan siapa-siapa." Lovey menunduk.
Sejenak, Mario dan Lovey terdiam. Mereka berdua sengaja mengambil jeda demi menjernihkan pikiran.
"Mario, kira-kira apa yang harus kulakukan saat ini agar harta dan perusahaan yang diwariskan orangtuaku tidak ada lagi yang bisa mengincar?" Lovey yang putus asa, kembali meminta saran pada Mario.
Mulanya, beberapa detik lamanya Mario hanya diam saja. Mario seolah tengah berpikir, menimbang, dan memastikan. Dengan lebih dulu menatap Lovey, Mario pun menyampaikan apa yang baru saja menjadi keputusan.
"Vey, menikahlah denganku!"
Deg!
Lovey terpaku. Mencoba menyangkal, tapi di wajah Mario sama sekali tidak terlihat candaan. Dan ... ajakan Mario itu didengar Ken yang spontan menghentikan langkah, membuatnya langsung bersembunyi demi bisa menguping obrolan lanjutan.
Pesan salah kamar tadi siang adalah bagian dari rencana Dewangga. Reaksi dan ketakutan Lovey sudah bisa ditebak Dewangga dan memang itulah yang diharapkan olehnya. Akan tetapi, ajakan menikah itu sama sekali bukan bagian dari rencana Dewangga. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya???
"Astaghfirullah, kenapa tiba-tiba aku kepikiran suamiku, ya?" Anjani mengusap-usap perut besarnya.
"Em .... Pasti kamu rindu daddy, ya Nak. Sabar, ya. Daddymu masih kerja. Begitu pulang nanti pasti daddymu membawa kabar bahagia."
Anjani senyum-senyum sendiri sambil sesekali mengajak ngobrol calon buah hati. Anjani sama sekali tidak tahu kerumitan yang sedang dialami sang suami. Bahkan, malam ini Mario mengajak nikah si Lovey.
Bersambung ....
Yang penasaran sama lanjutan ceritanya, hayuk mana suaranya??? Geregetan, geram, tidak terima, tidak suka sama jalan ceritanya, okey nggak papa. Yang penting LIKE-nya jangan lupa, ya 😁 Enjoy reading kakak-kakak online yang berbahagia. Maafkan kehaluan author yang terlalu ekstrim ya. Salam Luv dariku 💙
Cinta Strata 1, Ikatan Cinta Alenna, Menanti Mentari, Cinta yang Terpendam .... Hayyuuuk, kepoin semua novel itu. Fav-kan biar bisa jadi stok bacaan. Hehe.
#bacanovelajadirumah
__ADS_1
***